Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Lelaki Mana Paham


__ADS_3

Tengah malam, di kamar.


Fira masih terus saja berguling ke kanan dan ke kiri, hingga saat ini, ia masih terjaga dan belum bisa memejamkan matanya. Dilihatnya Bara, yang sudah tertidur pulas, sambil memeluknya.


"Mas Bara tidurnya pulas sekali," gumam Fira. Menatap Bara.


Tiba-tiba, pikirannya terbayang akan semangkuk minuman segar.


"Em, sepertinya malam-malam begini enak deh, kalau makan sop buah," gumamnya sambil membayangkan. Fira pun perlahan menjauhkan tangan Bara dari tubuhnya. Dan dengan begitu pelan, Fira bangun kemudian segera berlalu keluar dari kamar, menuju ke dapur.


Dapur di villa ini hanya ada di lantai bawah. Fira pun turun perlahan meniti tangga. Dengan keadaan ruangan yang gelap, karena lampu ruangannya yang dimatikan.


Fira menerangi langkah kakinya menggunakan flash, yang ada di hand phonenya. Dan sampailah ia di dapur. Fira segera menyalakan lampu dapur. Dan membuka kulkas, yang ada di pojok, dekat kompor.


Di lihatnya, berbagai macam sayur, daging dan buah, tersusun rapi di dalam kulkas. Fira pun mengambil satu buah naga, apel dan beberapa buah stroberi yang ada di kulkas. Tak lupa ia juga mengambil satu kotak susu full cream, dan satu kotak keju chedar.


***


Sementara itu, Dion baru saja pulang dari rumah Pak Dori. Karena setelah selesai acara barbaque, Dion sengaja mengantar beberapa makanan ke rumah Pak Dori. Ia juga ke asyikan mengobrol dengan keluarga Pak Dori, sehingga membuatnya, tengah malam seperti ini baru pulang.


Dion masuk ke dalam villa. Dilihatnya, lampu dapur yang masih menyala.


"Apa semua orang di rumah ini lupa tidak mematikan lampu dapur," gumam Dion, bergegas pergi ke dapur.


Dan ketika ia hendak melangkah, mendekati stop kontak, tiba-tiba Fira muncul dari bawah kolong meja. Membuat Dion terkejut sejadi-jadinya.


"Hua...." Dion berteriak, refleks. Fira pun dibuat terkejut, oleh teriakan Dion.


"Fira! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Dion, masih dengan perasaan berdebar.


"Hehe, a-aku lagi bikin sop buah," ucap Fira, menyengir kuda, sambil memperlihatkan apel yang sempat terjatuh tadi di tangannya.


"Malam-malam seperti ini mau bikin sop buah?" Fira menganggukkan kepalanya cepat.


"Haih...." Dion menggelengkan kepalanya, ia hendak pergi meninggalkan Fira. Namun Fira meneriakinya hendak meminta bantuan.


"Kak Dion," panggilnya.


Dion pun menoleh. "Apa?"


"Bisa tolong bantu ambilkan wadah besar itu," tunjuk Fira ke arah mangkuk plastik yang cukup besar, berada di atas kitchen set.


Dion pun berbalik, dan membantu Fira untuk mengambilkan mangkuk itu kemudian segera memberikannya kepada Fira.


"Terima kasih," ucap Fira. Kini ia kembali melanjutkan niatnya, untuk mengupas dan memotong buah-buahan yang sudah dipersiapkannya.


"Fira, Dion!" Gelegar suara Bara, yang cukup membuat Fira dan Dion sedikit terkejut. Membuat keduanya segera menoleh ke arah sumber suara.


Terlihat Bara yang berdiri mematung di ambang pintu dapur, seolah menatap tak suka.


"Mas Bara, ka–"


"Sedang apa kalian malam-malam begini berduaan!" seru Bara, memotong ucapan Fira.


"Hah? A-aku hanya ing–"


"Bara, jangan salah paham dulu. Aku di sini hanya membantu Fira saja, dia katanya mau bikin sop buah," timpal Dion.


Bara pun berjalan mendekati mereka berdua, dengan sedikit amarah yang bergejolak dihatinya. Karena ia merasa sedikit kesal, kenapa harus Dion yang membantu istrinya.


"Kenapa tidak membangunkanku hah? Dan kenapa meminta bantuan Dion?" tanya Bara, dengan nada kesal.


"Bara, jangan memarahi istrimu. Tadi aku dan Fira–"


"Aku tidak bertanya kepadamu! Aku bertanya pada istriku!" tegas Bara. Bagaimanapun Bara masih merasa kesal, karena mengetahui Fira dan Dion yang berdua di dapur.


"Mas, tadi aku memang berniat untuk bikin sop buah, dan tak sengaja bertemu dengan Kak Dion, jadi aku meminta bantuan Kak Dion untuk mengambilkan mangkuk ini. Itu saja kok, kita gak ngapa-ngapain," tutur Fira, dengan jujur.

__ADS_1


Sejenak Bara, menatap ke arah mangkuk yang di tunjuk oleh Fira. "Ya sudah, kemarikan aku akan membantumu membuat sop buah." Bara segera mengambil alih, buah apel yang ada di tangan Fira. Ia segera mengupas buah apel itu, dengan raut wajah yang ditekuk.


Sejenak Dion memperhatikan tingkah laku Bara, yang terlihat sekali sedang cemburu. Dion hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Ya sudah, aku balik ke kamar dulu," pamit Dion, berlalu meninggalkan Fira dan Bara.


"Mas." Fira mengusap sebelah pundak Bara, yang berdiri di sampingnya.


"Hm...."


"Apa kau marah?"


"Tidak! Siapa yang marah!"


Fira berdiri diam, memperhatikan Bara, yang masih fokus memotong buah apel ditangannya.


Brak.


Bara, menyimpan keras pisau yang dipegangnya di atas meja. Kemudian berbalik menghadap Fira.


"Mas, a-apa kamu baik-baik saja?" tanya Fira, sedikit gugup.


"Fira... sudah berapa kali aku bilang, kalau kamu membutuhkan sesuatu itu bilang padaku! Jangan meminta bantuan orang lain!"


"Aku tidak suka jika ada orang lain yang membantumu, apalagi itu laki-laki, entah itu Bima, Dion, atau siapapun aku tidak suka!" tegasnya, sambil memegang kedua bahu Fira.


"Tapi Mas, aku tidak tega jika harus membangunkanmu, makanya tadi aku–" Belum selesai Fira berbicara, Bara sudah memotongnya.


"Fira, aku ini suamimu! Aku akan merasa lebih di hargai jika kamu selalu meminta bantuanku, aku akan senang jika yang meminta itu adalah kamu."


Kedua mata Bara menatap teduh wajah Fira. Rasa kesalnya seakan menghilang sudah, ketika ia menatap kedua manik bola mata istrinya.


"Ma-maafkan aku Mas," ucap Fira terbata. Bara kemudian memeluk Fira, mendekapnya dengan begitu erat. Dan kini, sedikit rasa penyesalan tiba-tiba muncul dihatinya.


"Maafkan aku juga, sudah marah-marah seperti ini, padamu. Tapi kuharap ke depannya, jika kau membutuhkan sesuatu, kau harus bilang padaku ya," ucap Bara, sambil melepas pelukannya. Fira pun mengangguk tersenyum.


***


Cahaya mentari pagi, masuk ke celah-celah ventilasi, riuh suara burung berkicau pun terdengar begitu merdu.


Fira membuka jendela kamar, melihat deburan ombak kecil yang berada jauh di laut sana. Dilihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Ia baru saja bangun dari tidurnya, dengan mata yang masih berat.


Dilihatnya Bara yang masih meringkuk di tempat tidur. Karena setelah selesai solat subuh, Fira dan Bara memutuskan untuk tidur kembali, dikarenakan semalam Ia dan Bara terjaga semalaman, sehingga mereka baru tertidur sekitar jam 03.00 pagi.


Fira kembali mendekati Bara, di tatapnya wajah sang suami yang terlihat begitu tampan, meskipun dalam keadaan tertidur.


"Apa sudah puas menatap ketampananku?" tanya Bara, tiba-tiba, yang masih memejamkan matanya.


Fira tersenyum kecil. "Huh, terlalu percaya diri kamu Mas."


"Sayang," panggil Bara pelan.


"Apa?"


"I love you," ucap Bara, dengan suara khas orang baru bangun tidur. Fira hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya itu.


Sejenak, Fira terdiam menatap wajah Bara. Namun, entah kenapa, tiba-tiba Fira merasakan mual yang cukup hebat, perutnya seakan di aduk. Ia menggembungkan mulutnya dan segera berlari ke kamar mandi. Diikuti oleh Bara dari belakang yang begitu panik.


"Hoek ... hoek," Fira memuntahkan sedikit cairan asam berwarna kuning, di atas westafel. Kemudian ia segera berkumur, untuk menghilangkan rasa asam di mulutnya itu.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Bara begitu khawatir. Fira tak menjawab, ia masih merasakan mual yang begitu dahsyat. Namun tak ada makanan yang dapat dimuntahkannya. Ia hanya membuang salivanya berkali-kali.


Bara ikut mengurut-urut pundak Fira. Ia terlihat sangat khawatir ketika Fira, kembali mual, dan terlihat seperti kesulitan untuk muntah.


Tangan Fira tiba-tiba bergetar, ia seperti kehilangan tenaga, karena tiba-tiba tubuhnya terkulai lemas, dan hampir saja terjatuh. Namun, Bara dengan sigap menahannya. Dan segera memboyong Fira kembali ke atas kasur.


"Mas, kepalaku pusing sekali Mas," gumam Fira.

__ADS_1


Bara mengelus-elus kepala Fira, ia segera membalutkan kerudung di kepala istrinya, berniat untuk membawanya keluar, untuk pergi ke dokter. Namun, Bara kembali berpikir, dan ia mengurungkan niatnya.


"Lebih baik, aku meminta Pak Dori agar memanggilkan dokter kemari," batin Bara. Sejenak ia melihat ke arah Fira, yang tiba-tiba wajahnya sudah memucat.


"Sayang tunggulah sebentar di sini, aku akan keluar mencari bantuan," tutur Bara, mencium kening Fira sebelum ia benar-benar pergi.


***


Dion, Merry dan Selly, tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur. Kini perhatian mereka teralihkan ke arah Bara, yang terlihat begitu panik.


"Dion, apa kau tahu dimana Pak Dori?" tanya Bara, berdiri di ambang pintu dapur.


"Hah? Ada apa? Kenapa kau terlihat panik sekali?" tanya Dion.


"Fira sedang sakit, aku mencari Pak Dori untuk menanyakan dokter padanya."


"Tuan ada apa?" suara lelaki paruh baya terdengar dari arah belakang. Bara segera menoleh, dan benar saja, Pak Dori tengah berdiri tepat satu meter di belakang Bara. Dengan memangku satu box berisi ikan segar ditangannya.


"Pak ... Pak apa di sini ada dokter yang bersiaga? Istri saya tiba-tiba sakit, dia muntah-muntah Pak," tutur Bara.


"Ada, ada. Nanti biar saya telepon," ucap Pak Dori.


"Baiklah, tolong ya Pak, kalau bisa secepatnya agar dokter segera kemari," sambung Bara. Pak Dori mengiyakan, dan pamit terlebih dahulu untuk menyimpan ikan segar yang baru di bawanya itu, ke dalam freezer.


Merry dan Selly pun saling beradu pandang, mereka berdua seakan mengartikan sesuatu, saat Bara mengatakan Fira muntah-muntah.


"Merry, apa kau sependapat denganku? Fira dari semalam sudah aneh sekali, bahkan pagi ini dia muntah-muntah," bisik Selly, sambil fokus mengiris bawang.


"Iya benar Sell, apalagi saat tadi Tuan Dion bilang kalau Fira membuat sop buah tengah malam," timpal Merry.


Keduanya pun saling menatap dan melebarkan kedua matanya.


"Berarti, Fira–"


"Hamil," ucap Merry, tanpa mengeluarkan suara.


Selly dan Merry tiba-tiba, berteriak kegirangan, dan saling menyatukan jari mereka berdua, dengan sedikit meloncat-loncat kecil di tempat, karena begitu senang.


"Hey! Ada apa dengan kalian?” tanya Dion begitu heran, melihat tingkah aneh kedua wanita itu. Merry dan Selly seketika, kembali menjaga sikapnya.


"Wanita-wanita aneh, temannya sakit malah kegirangan seperti itu," gerutu Dion.


"Lelaki mana paham, kami senang seperti ini bukan karena Fira sakit, justru kami senang karena sebentar lagi kita semua akan mendengar kabar baik dan mengejutkan dari Fira," ujar Merry begitu saja, dengan raut wajahnya yang terlihat sangat bersemangat.


"Apa yang kalian maksud, kabar baik apa? Dan apa yang mengejutkan? Fira di kamar sedang terbaring sakit, kalian sebagai temannya malah bertingkah seperti ini," timpal Bara, yang merasa kesal mendengar ucapan Merry.


"Tuan Bara, apa bulan kemarin atau bulan ini Fira sudah datang bulan?" tanya Selly.


Bara sejenak terdiam. "Memangnya kenapa? ... Lagi pula aku tidak tahu kapan Fira datang bulan," jawab Bara.


"Anda kan suaminya, seharusnya tahu Fira sudah datang bulan atau belum setiap bulannya," sambung Selly. Bara hanya terdiam, ia masih tak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh kedua teman istrinya itu.


"Bersiaplah Tuan, mungkin sebentar lagi Fira junior akan segera hadir," timpal Merry tersenyum cengengesan.


"Fira junior?" Bara mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna kata-kata yang di ucapkan oleh Merry.


"Ah... sudahlah, lelaki memang sulit untuk memahami masalah wanita, lebih baik Anda temani saja Fira di atas, nanti biar dokter saja yang menjelaskannya," ujar Selly, kembali melanjutkan aktivitas memasaknya.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya yang banyak wkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2