
Merry masih duduk terkulai lemas, karena dirinya yang masih shock dengan keadaan. Kedua kakinya ia tekuk sambil di peluk. Bibirnya bergetar. Air matanya sudah benar-benar membuat penglihatannya buram.
"Apa kau tidak apa-apa?" Suara lelaki ini, begitu familiar di telinga Merry. Lelaki yang menolongnya itu tak lain ialah Dion. Dion berjongkok tepat di hadapan wanita yang sedang duduk, menunduk karena ketakutan. Dan ketika Merry mendongakkan kepalanya. Dion sedikit terperanjat, karena wanita yang ia tolong itu tak lain ialah teman dari istri sahabatnya sendiri.
"Merry," ucap Dion.
"Siapa kau! Kenapa kau mengenaliku!" Merry masih begitu ketakutan, bahkan ia memundurkan tubuhnya untuk menjauh. Ia masih belum bisa melihat dengan jelas siapa wajah lelaki yang kini sedang berjongkok di depannya.
"Hey tenanglah, ini aku Dion, sekretarisnya Bara," ucap Dion, sambil memegang kedua bahu Merry. Merry dengan cepat mengusap kedua matanya dengan punggung telapak tangannya. Dan benar saja, kini ia bisa melihat wajah Dion dengan jelas.
Tapi tiba-tiba, Merry menangis, ia menangis begitu kencang. Membuat Dion bingung harus berbuat apa.
"Merry, jangan menangis, a-aku–"
"Tolong aku Tuan, a-aku takut. Aku ingin pulang," Merry berucap sambil menangis sesenggukan.
"Baiklah tenanglah, aku akan mengantarkanmu pulang." Dion melepaskan jasnya dan membalutkannya di tubuh Merry. Lalu merangkulnya dan segera membawa Merry berjalan sedikit jauh, menuju tempat mobilnya terparkir.
Selagi fokus menyetir mobil, Dion sesekali melirik ke arah Merry, yang terlihat begitu menyedihkan.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Dion, yang sedari tadi hanya bisa diam. Merry menganggukkan kepalanya pelan.
Kini Dion menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah tantenya Merry. Ia segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Merry. Kemudian membopong Merry berjalan pelan menuju teras rumah.
Namun ketika Dion hendak mengetuk pintu, seseorang dari dalam terlebih dahulu membukakan pintu rumah itu.
"Merry! Kamu kenapa?" tanya Tantenya, begitu cemas, melihat keponakannya yang terlihat begitu lusuh dan pias.
"Tante." Merry seketika memeluk tantenya, sambil menitikkan air matanya. Ia masih begitu tak percaya bahwa malam ini akan menjadi malam yang begitu menakutkan baginya.
"Tenanglah, apa yang terjadi?" sang Tante melepaskan pelukannya. Merry masih tidak menjawab pertanyaan tantenya itu.
"Tuan Dion, terima kasih sudah menolong saya maaf, jadi merepotkanmu malam-malam begini," ucap Merry menatap sendu ke arah Dion.
Dion melebarkan senyumannya. "Tidak apa-apa, lain kali berhati-hatilah. Aku pamit ya," ucap Dion, kepada Merry.
"Mari Tante," ucap Dion kepada Tantenya Merry, kemudian ia segera berlalu, dan kembali masuk ke dalam mobilnya untuk pulang.
***
Lima hari berlalu, setelah kejadian malam itu. Siang harinya Merry datang mengunjungi toko kue Fira. Dua hari yang lalu Merry baru saja resign dari tempat magangnya. Ia memilih untuk mencari pekerjaan lain yang waktu kerjanya sampai sore hari.
__ADS_1
"Ini nomornya," ucap Fira, memberikan nomor Dion kepada Merry. Dan segera mendudukkan tubuhnya tepat di samping Merry, di atas sofa di ruang kerja pribadi Fira.
"Oke, makasih bumil," ucap Merry. Segera mencatat nomor ponsel Dion di handphone-nya.
"Mer, coba ngelamar di kantor suamiku aja," usul Fira. Merry sejenak terdiam.
"Malu ah, perusahaan suamimu kan perusahaan bergengsi. Gak pede aku yang cuma lulusan S1," ujar Merry, memasang wajah lesunya.
"Jangan malu gitu, D3 aja bisa lulus kok. Bukan hanya masalah lulusannya saja, yang terpenting kinerja dan tanggung jawab yang kamu miliki Mer. Kalo kamu mau, nanti aku tanya-in sama Mas Bara syarat masuknya apa aja," ucap Fira. Merry pun mengangguk semangat.
Sore harinya, Bara dan Dion pergi ke Zupa Cake. Sebenarnya Bara sudah melarang Fira untuk mengurus toko kuenya itu, tapi karena Fira merasa bosan di rumah seharian, maka hari ini Bara memperbolehkannya untuk mengecek tokonya itu.
"Mas, kamu udah datang," sapa Fira, yang kebetulan baru keluar dari dapur kerjanya.
"Eh Kak Dion," sapa Fira, yang ternyata ada Dion yang mengikuti suaminya.
"Jangan terlalu ramah padanya." Bara menutup mata Fira menggunakan sebelah telapak tangannya, dan membawa istrinya itu masuk ke dalam ruang kerja pribadi Fira.
Dion hanya menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum miring melihat tingkah laku bosnya itu.
Merry yang tengah duduk bersantai di atas sofa, sedikit terkejut saat melihat Fira dan Bara masuk ke dalam ruangan. Ia pun menyapa terlebih dahulu Bara, sebelum ia keluar sambil menjinjing satu paper bag yang berisi baju.
"Hai," sapa Merry sedikit malu, sambil membenarkan rambutnya ke belakang telinga.
"Oh hai." Seulas senyuman terlihat dari bibir Dion.
"Maaf jadi merepotkanmu untuk datang kemari," ucap Merry, sambil mendudukkan tubuhnya tepat di bangku yang satu meja dengan Dion.
"Em... ini, terima kasih. A-aku sudah mencucinya kok." Merry menyodorkan satu paper bag yang berisi jas milik Dion, yang malam itu sempat dipinjamkannya.
"Oke sama-sama." Dion menerimanya.
"Oh ya, apa kamu sedang buru-buru?" tanya Merry. Dion sejenak menatapnya, dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kenapa dia malah menatapku!" batin Merry, sambil membuang wajah ke sembarang arah, karena merasa tak enak diperhatikan seperti itu.
"Tidak," ucap Dion, dengan wajah datarnya.
Merry menarik kedua sudut bibirnya dengan paksa. "Hehe ... bagaimana kalau aku mentraktirmu. Sebagai balasan karena kamu telah menolongku," tutur Merry, berharap mendapat respons baik dari Dion.
"Balasan? Mentraktirku?" tanya Dion, menaikkan sebelah alisnya, sambil menatap Merry dengan tatapan yang seakan membunuhnya.
__ADS_1
"I-iya, apa kau mau?" Dion masih terdiam, seperti memikirkan sesuatu.
Tak lama Bara dan Fira keluar dari ruang kerja. Menghampiri Merry dan Dion, yang tengah duduk dengan suasana yang cukup terlihat canggung.
"Hey, kenapa hanya diam saja? Ayo pesan makanan," ucap Bara. Fira yang ikut bergabung satu meja dengan mereka, meminta Mbak Siti untuk mengambilkan beberapa camilan, kue dan minuman.
Tak lupa Fira memberi tahu Bara, perihal Merry yang ingin melamar pekerjaan di perusahaannya. Bara cukup menanggapinya dengan bagus. Dan memberi tahu Merry apa saja yang harus dipersiapkan sebelum ia melamar pekerjaan di perusahaannya.
"Dia mau melamar pekerjaan di perusahaan Bara?" gumam Dion, sejenak menatap Merry yang masih asyik mengobrol dengan Fira.
"Baiklah, kurasa aku bisa memanfaatkan keadaan ini," batin Dion.
Tak lama kemudian, mereka semua mengakhiri obrolan hangat mereka di sore itu. Fira dan Bara pulang terlebih dahulu. Sementara Dion dan Merry mereka berdua masih duduk di meja yang sama, karena ada obrolan yang belum terselesaikan.
"Kau benar-benar ingin mentraktirku?" tanya Dion. Merry mengangguk pelan.
"Baiklah, besok sore temui aku di Amuz Gourment. Tepat pukul 17.00 Jangan sampai telat." Dion pun segera berdiri dari duduknya, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Zupa Cake.
"Amuz Gourment? Itu kan restoran elite?" gumam Merry.
"Huft... apa tidak ada tempat lain gitu untuk mentraktirnya selain di restoran mahal itu? Di tukang ketoprak misalnya, atau di kafe biasa gitu," gerutu Merry yang seakan kebingungan dengan hari esok.
Merry pun melangkahkan kakinya keluar dari toko Zupa Cake dengan langkah kaki yang terlihat seakan malas berjalan. Tapi, tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk terdengar di ponselnya. Ia pun segera membuka notifikasi pesan masuk itu.
Merry membulatkan kedua matanya, saat melihat notifikasi pesan masuk itu tak lain ialah dari Dion.
[From Dion — Tenang saja, besok aku yang akan mentraktirmu. Kau besok hanya harus membantuku saja.]
Merry mengerutkan kedua alisnya, sesaat setelah membaca pesan singkat dari Dion. "Membantunya? gumam Merry.
.
.
.
Bersambung.
Wah kira-kira Dion mau minta bantuan apa ya sama Merry?
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan votenya ya.
__ADS_1