
Siang itu, Fira tengah di sibukkan dengan dekorasi kamar untuk anak-anaknya, kamar anaknya masih satu ruang dengan kamar pribadinya dengan Bara, hanya ada tempat khusus yang memang sudah di rancang akan menjadi tempat bayi-bayi mereka nantinya.
"Fira, sudahlah istirahat dulu jangan terlalu kecapek-an," ucap Alex begitu memasuki kamar yang pintunya terbuka lebar itu.
"Ayah." Fira menoleh ke arah Ayahnya.
"Bagaimana menurut Ayah, apa kamarnya bagus?"
Alex mengedarkan pandangannya ke semua penjuru ruangan yang berwarna biru putih layaknya langit di siang hari itu.
"Bagus, indah sekali. Ah ... Ayah sudah tidak sabar ingin segera menggendong cucu-cucu Ayah ini," ucap Alex seraya mengusap lembut perut Fira yang sudah membuncit besar.
"Oh ya Ayah, aku mau izin pergi ke kantor Mas Bara ya," ucap Fira meminta izin, karena semenjak kandungan Fira menginjak usia 7 bulan, ia kalau ingin keluar meski mendapat izin dari Alex atau Bara terlebih dahulu.
"Tidak boleh, Ayah tidak mengizinkan. Untuk apa kamu pergi ke kantor suamimu," ucap Alex, sambil menggendong kedua lengannya di belakang punggung.
"Tapi Ayah, aku bosan," rengek Fira. Alex tetap kukuh dengan keputusannya, bagaimana pun ia harus mengekang Fira untuk beberapa minggu ini, karena ia begitu khawatir jika Fira terlalu sering bepergian keluar, itu akan berdampak buruk bagi kehamilan dan keselamatannya.
"Sudah bantu Tantemu saja di dapur tuh!" ujar Alex sambil berlalu meninggalkan kamar itu. Fira pun hanya memanyunkan bibirnya merasa kesal.
***
Di kantor, sore itu Bara masih terlihat sibuk dengan laptop dan beberapa berkas kerjanya. Akhir-akhir ini dirinya di sibukkan dengan beberapa design perhiasan terbaru yang akan dikeluarkan oleh perusahaannya.
Pintu ruangan terdengar ada yang mengetuk, beriringan dengan pintunya yang terdorong. Dan ternyata Dion lah yang masuk.
"Bara, ada undangan dari Reza dan Raina, dua minggu lagi mereka akan segera menikah," ucap Dion sambil menyodorkan kartu undangan berwarna merah dengan aksen pita gold yang mengiasinya.
Bara pun menerima kartu undangan itu. "Terima kasih."
"Oh ya Bar, aku titip aja ya di kamu undangan yang milik Selly, aku gak tahu dia tinggal di mana," ucap Dion.
Sejenak Bara mengerutkan dahinya. "Memang kau pikir aku tahu di mana dia tinggal! Bukankah pacarmu itu tahu tempat tinggal temannya ini, ajak saja Merry untuk mengantarkan undangan ini padanya," ujar Bara. Dion baru tersadar.
"Oh iya ya, benar .. kau memang pintar sekali! Kenapa aku baru ke pikiran ya." Dion tersenyum lebar, kemudian segera berlalu dari ruang kerja Bara, dan segera beralih ke ruang kerja Merry untuk mengajaknya pergi menemui Selly.
***
"Apa benar ini rumah sakitnya?" tanya Dion pada Merry begitu mereka sampai di salah satu rumah sakit yang diketahui Merry bahwa rumah sakit itu adalah rumah sakit tempat sahabatnya sekarang bekerja.
Mereka pun masuk ke lobby utama, dan menanyakan keberadaan Selly kepada staf pekerja di sana.
Salah satu pekerja dari staf pendaftaran itu memberi tahukan mengenai ruang Selly bekerja. Dion dan Merry pun segera bergegas menuju ruang itu. Namun, belum juga mereka sampai di ruang yang akan di tujunya, mereka berdua terlebih dahulu mendapati Selly yang tengah berjalan sendirian di lorong rumah sakit ini.
Merry pun dengan semangat memanggil nama sahabatnya tersebut, sambil mempercepat langkahnya. Selly sedikit terkejut saat mendapati Merry dan Dion di rumah sakit ini.
"Merry, Tuan Dion kalian sedang apa di sini?" tanya Selly terheran-heran.
"Menemui mu lah, apalagi," jawab Merry sambil bergelayut di sebelah lengan Selly.
"Ada apa kalian mencariku?"
"Ini." Dion menyodorkan satu kartu undangan kepada Selly.
"Wah jadi benar ya, Pak Reza dan Nona itu jadi menikah," gumam Selly sambil membaca dengan teliti kartu undangan itu.
"Benar sekali, eh iya ... ngomong-ngomong kamu sama Pak Dokter kapan rencana nikahnya?" tanya Merry.
"Kalau mengikuti hitungan sesepuh dari ibuku, harusnya tahun depan aku bisa menikah dengan Damas. Tapi karena Damas tak ingin menunggu lebih lama lagi, jadi keluarga memutuskan untuk menikahkan kita sekitar empat bulan lagi," jawab Selly, sambil terus berjalan menuju pintu keluar.
"Benarkah? Aku dan Dion juga sama, empat bulan lagi," pekik Merry seolah terkejut.
"Kalau begitu, kita bisa sama-sama mempersiapkan pernikahan kita bersamaan dong, nanti aku akan mengajak kamu untuk bertemu WO yang bagus deh," ujar Merry penuh semangat, sambil membayangkan pernikahan impiannya itu. Sementara Selly ia hanya tersenyum sendu sekan memikirkan banyak hal.
Ketika mereka sampai di parkiran, Dion tak sengaja melihat Damas yang tengah mengobrol dengan seorang perempuan berambut pendek dan terlihat seperti sedang hamil.
"Hey, Selly bukankah itu pacarmu ya," tunjuk Dion ke arah Damas yang berdiri di dekat pohon plum.
Merry dan Selly seketika mengalihkan pandangan mereka ke arah Damas. "Iya benar, sedang apa Mas Damas di situ," gumam Selly.
"Siapa wanita itu?" tanya Merry pada Selly.
__ADS_1
Selly menggelengkan kepalanya pelan. "Entahlah, mungkin pasiennya."
"Oh ya Sell, mau pulang bareng?"
"Hah? Enggak, kalian pulanglah terlebih dahulu, aku akan menemui Damas dulu," ujar Selly sambil mengembangkan senyumannya. Merry dan Dion pun berpamitan untuk pulang.
Sementara Selly ia segera menghampiri Damas dan wanita berambut pendek itu. Namun sebelum Selly sampai, wanita itu terlihat sudah pergi terlebih dahulu.
"Selly," sapa Damas, yang mengetahui keberadaan Selly sejak tadi.
"Siapa tadi?" tanya Selly sambil membenarkan tas selempangnya.
"Hah." Damas melebarkan kedua matanya, "oh itu, tadi ... dia pasienku," jawabnya.
Selly pun mengangguk, kemudian ia menunjukkan kartu undangan pernikahan Reza dan Raina kepada Damas, dan mengajaknya untuk menemaninya nanti. Damas pun dengan senang hati menerima ajakan Selly.
"Kamu mau pulang?" tanya Damas. Selly mengangguk.
"Ayo, aku akan mengantarkanmu," ajak Damas, namun Selly menolak.
"Tidak perlu repot-repot Mas, aku akan pulang sendiri, lagi pula aku ada kepentingan dulu di luar. Kau juga kan masuk sif malam, jadi tidak perlu mengantarkanku. Kau segera-lah masuk, pasti sudah banyak pasien yang membutuhkanmu," ucap Selly kemudian ia pun segera berlalu meninggalkan Damas.
***
Selly memasuki sebuah kafe favorite-nya. Ia memesan secangkir moccachino dan satu kotak bitter sweet kesukaannya. Selly pun mendudukkan tubuhnya, di salah satu kursi meja kosong yang ada di pojokkan kafe ini.
Selagi menunggu pesanannya selesai di buat, ia di fokuskan dengan memainkan ponselnya. Mengecek setiap sosial medianya yang terasa begitu sepi.
Tak lama kemudian pesanannya pun datang. Selly pun segera menikmati moccachino dan bitter sweet kesukaannya itu, sambil mendengarkan alunan musik dari ponselnya via ear phone.
Melihat rintik hujan di luar membuat Selly semakin merasa begitu tenang, setelah seharian lelah bekerja. Namun tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menepuk pundaknya.
Dan sontak membuat dirinya menoleh. "Pak dokter," ucap Selly begitu melihat Andre yang tengah berdiri di belakangnya.
Selly pun segera mematikan musik yang masih terputar di ponselnya.
"Sendirian aja, boleh ikut duduk?" tanya Andre.
"Tak lama kemudian pesanan satu cangkir kopi miliknya sudah datang.
Kini mereka berdua pun duduk sambil menikmati minuman mereka masing-masing.
"Baru pulang kerja?" tanya Andre, Selly pun mengangguk.
Mereka berdua pun sejenak saling mengobrol, melempar pertanyaan dan menjawabnya. Obrolannya pun tak jauh dari masalah pekerjaan.
"Abang." Tiba-tiba suara seorang wanita terdengar cukup keras memanggil Andre.
Mayang membawakan Andre empat cupcake dalam satu paper bag. Lalu tanpa meminta izin, Mayang sudah mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong, satu meja dengan mereka.
"Bukankah, dia ini pacarnya dokter Andre ya," gumam Selly, sambil memperhatikan gerak gerik wanita yang kini duduk satu meja dengannya.
"Hai, aku Mayang," ucapnya sambil mengulurkan tangan kepada Selly. Selly sedikit tercengang, namun dengan segera ia menjabat tangan wanita itu.
"Selly," ucapnya sambil mengembangkan senyuman manis di wajahnya.
"Eh, tunggu bukannya kamu wanita yang ada di acara pesta waktu itu ya," ucap Mayang sambil mengingat-ingat.
"Iya, tiga bulan yang lalu kita pernah bertemu," jawab Selly.
"Apa kau temannya Bang Andre," tanya Mayang. Selly pun sejenak melirik ke arah Andre, dan menganggukkan kepalanya.
"Teman kuliah? Atau teman Kerja?"
"Hah? ... Bukan aku, kenal dengan dokter Andre pas dulu lagi liburan di Villa mawar," ujar Selly.
Seketika Mayang mengerutkan kedua alisnya. "Selly, vila mawar," gumamnya.
"Oh, yang katanya kakinya tertumpah sup panas?" tanya Mayang antusias. Selly menganggukkan kepalanya.
"Kok tahu?"
__ADS_1
"Oh ya jelas ...."
Belum sempat Mayang menyelesaikan ucapannya, Andre dengan segera memotong pembicaraannya.
"Oh ya Selly, Mayang ini adikku. Maaf kalau dia agak cerewet kalo bicara," ujar Andre, seketika kedua mata Mayang mendelik menatap tajam ke arah Andre ketika lelaki itu menyebutnya cerewet.
"Siapa yang cerewet?" seru Mayang.
"Siapa lagi kalau bukan Ayang, masa Abang yang cerewet," jawab Andre. Mayang hanya berdecak kesal.
"Oh jadi dia ini, adikmu ya. Waktu itu, aku dan teman-teman mengira kalau Mayang ini pacarmu, soalnya kau memanggilnya Ayang," ucap Selly tak menyangka.
"Iya, aku adiknya, tapi orang-orang selalu salah sangka jika mereka mendengar Abangku memanggil aku dengan panggilan Ayang," ucap Mayang.
"Makanya Abang, jangan panggil aku Ayang lagi, panggil saja namaku, Mayang!" jelasnya.
Kini mereka bertiga pun kembali melanjutkan obrolan-obrolan mereka. Dan ternyata Mayang orangnya asyik juga, bahkan Mayang dan Selly sesekali bercanda hingga gelak tawa terdengar memenuhi ruangan kafe ini yang memang sedang sepi pengunjung. Dan sepertinya hanya meja merekalah yang terlihat ramai dan heboh.
Karena hujan tak kunjung reda, dan waktu sudah mau magrib, Andre pun mengajak Selly pulang bersama di antarkannya. Pada awalnya Selly menolak, namun akhirnya ia pun menerima ajakan dari Andre.
"Kak Selly duduk di depan bareng Abang ya, aku di belakang aja," ucap Mayang ketika mereka hendak memasuki mobil.
"Tidak, lebih baik aku yang di belakang," tolak Selly.
"Yah... padahal aku kan ingin selonjoran," keluh Mayang.
"Hm ... baiklah aku akan duduk di depan," ucap Selly, Mayang pun tersenyum penuh kemenangan, dan mereka semua pun masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil sesekali mereka mengobrol, dan tanpa segan Mayang meminta nomor ponsel milik Selly. Awalnya Andre melarangnya, karena nomor ponsel itu terlalu privacy.
"Jangan memberikan nomor ponselmu padanya, adikku ini suka neror orang," ujar Andre, Selly hanya terkekeh mendengarnya.
"Abang!" seru Mayang, yang seakan marah.
"Kak Selly, apa aku boleh minta user instagrammu?" tanya Mayang, "kita follow-followan yuk," sambungnya. Selly pun menoleh ke belakang, dan memberitahukan user ig miliknya pada Mayang. Dan Mayang pun segera memfollow akun instagram Selly.
"Yeay, selangkah lebih maju," batin Mayang.
Kini mereka pun sudah sampai, tepat di halaman kost Selly. Selly pun berterima kasih dan berpamitan terlebih dahulu pada Andre dan Mayang, sebelum ia keluar dari mobil.
Andre pun melambaikan tangannya begitu melihat Selly yang kini sudah mematung di depan pintu gerbang kost, sambil tersenyum padanya, dan Andre pun kembali melajukan mobilnya menuju pulang.
"Cie... jadi benar nih, yang tadi orangnya," goda Mayang yang duduk di belakang, sambil mendekatkan kepalanya ke dekat kepala Andre.
"Iya, tapi sayang, dia sudah punya calon suami," ujar Andre menghembuskan nafasnya seakan berat.
"Masih calon kan? Belum jadi suaminya. Tenanglah Abang, selagi janur kuning belum melengkung, aku ... sebagai adik yang berbakti, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong, akan membantu Abangku yang malang ini," ujar Mayang, dengan gayanya yang so bijaksana.
Andre hanya terkekeh, sambil menggelengkan kepalanya mendengar celotehan adiknya itu.
"Dasar kau ini!" ujarnya, sambil mengacak rambut adiknya itu.
.
.
.
Bersambung...
Untuk cerita Selly dan Andre akan author lanjut di Novel Baru ya, dan kemungkinan rilisnya nanti awal september.
Jadi untuk cerita Pernikahan di Atas Kertas, tinggal 2 episode lagi menuju tamat.
Jangan dulu di unfavorite ya nanti, soalnya pemberitahuan mengenai cerita ini akan Dela Up di sini.
Jangan lupa dukungan like dan votenya ya.
Follow juga instagram author @dela.delia25
karena di ig, author juga suka up mengenai info novel-novel author.
__ADS_1