
Sore harinya, mereka semua berkumpul di ruang tengah, tepatnya di ruang serba guna. Kegiatan liburan kali ini, Selly lah yang mengaturnya. Dan untuk kegiatan sore ini, mereka semua akan bermain di pantai sambil melihat sunset. Mungkin untuk pergi ke tepi pantai, mereka harus menempuh perjalanan sekitar 10 menit dari villa yang mereka tempati.
"Ayo, kita ke pantai sekarang," ajak Fira.
Terlihat sekali, Fira yang begitu antusias ingin segera pergi ke pantai. Ia menggandeng lengan Merry dan Selly dan berlalu, meninggalkan Bara begitu saja.
"Lihatlah, ketika ada teman-temannya aku di lupakan," ucap Bara, menatap kepergian Fira.
Dion tersenyum miring, ia menepuk sebelah pundak Bara. "Sudahlah, ayo kita ikut bersama mereka." Bara dan Dion pun segera pergi menyusul mereka, ke tepi pantai.
Angin laut sore ini cukuplah besar sekali, bahkan membuat kerudung yang dikenakan oleh Fira, terlihat melambai-lambai, terkena tiupan angin.
Fira terlihat begitu sangat gembira, karena sudah cukup lama ia tak bermain di pantai bersama sahabatnya itu.
Dari jauh, Bara memandangi Fira, yang tengah sibuk memungut cangkang kerang, yang terbawa ombak di atas pasir. Ia segera menghampiri Fira, dan ikut menjongkokkan tubuhnya di hadapan Fira.
"Apa kau senang?" tanya Bara, tersenyum menatap Fira.
Fira yang tengah sibuk mencari cangkang kerang, ia sejenak menatap Bara. "Tentu saja, sudah lama sekali aku tidak bermain bersama sahabatku," jawabnya. Bara tersenyum mendengarnya.
"Ayo Mas, bantu aku mengumpulkan cangkang kerang," ajak Fira, berdiri.
Bara mendongakkan kepalanya, menatap Fira yang berdiri di hadapannya. "Untuk apa mengumpulkan cangkang kerang?" tanyanya.
"Em... aku ingin membuat tirai kerang," jawab Fira, ia segera menarik lengan suaminya, dan mengajaknya untuk segera menyusuri pesisir pantai, mencari cangkang kerang. Mungkin ini adalah pengalaman pertama bagi Bara, mencari cangkang kerang di pantai. Namun, terlihat sekali raut kebahagiaan di wajah Bara, ketika ia berhasil menemukan beberapa cangkang kerang, ia pun dengan antusias memberikannya kepada Fira, dan melanjutkan kembali mencari cangkang kerang untuk istrinya.
Sementara itu, gadis periang yang sedikit bar-bar yang tak lain ialah Merry, ia begitu asyik berfoto selfi, bahkan tak jarang ia meminta bantuan Selly untuk memotret dirinya. Merry cukuplah narsis, apa pun yang ia lakukan, sering ia share di sosial medianya.
"Selly, satu kali lagi ... satu kali lagi, ya," bujuk Merry, menyengir kuda.
"Iya! Cepat bergaya!" Selly, segera memosisikan kamera yang di pegangnya untuk memotret Merry yang tengah bergaya, ala selebgram pantai.
"Sudahlah, ini! Aku akan membelikan kalian minum dulu," ucap Selly, memberikan kamera itu kepada Merry.
"Thank you, beb." Merry segera mengambil kamera itu dari tangan Selly, sebelum Selly benar-benar pergi untuk membeli minuman.
"Wah... keren sekali," gumam Merry, melihat hasil fotonya sendiri. Bahkan ia begitu kegirangan ketika melihat beberapa foto, yang menurut ia begitu bagus dan keren.
"Bagus sih... tapi sayang, fotonya sendiri terus," gumamnya memasang wajah penuh kesedihan.
"Ah... ya tuhan, kapan aku bisa berfoto dengan jodohku," ucapnya, melantur.
Merry, kembali memosisikan kamera SLR nya, ia bersiap untuk berfoto kembali, meskipun ia sedikit kesulitan karena tak bisa melihat dengan jelas bagus tidaknya ia berfoto, karena memang kameranya bukanlah kamera mirolles yang bisa di tampilkan layarnya.
Satu, dua, cekrek. Merry, bergaya sambil mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya, bergaya vis.
Dan saat Merry melihat hasil fotonya, ia sedikit terkejut, karena ia tidaklah berfoto sendiri, melainkan ada seseorang di belakangnya yang ikut terfoto. Dan orang itu tak lain ialah Dion.
Merry segera membalikkan badannya, dan benar saja, kini Dion sudah ada tepat di hadapannya.
"Kau! ... Kenapa di sini?" tanya Merry memasang raut wajah kesal.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Aku ke sini hanya ingin melihat sunset," jawab Dion, tanpa menatapnya.
"Tapi kenapa kau berdiri di belakangku!"
"Memangnya kenapa! Apa ada larangan? Lagi pula ini tempat umum, terserah dong, aku mau berdiri di mana saja!" seru Dion.
"Masalahnya! Kau merusak fotoku!"
"Lihatlah! Pemandangan di belakangku jadi rusak seperti ini!" gerutu Merry sambil menunjukkan hasil foto yang ada di kameranya.
Sejenak Dion melihatnya, dan menaikkan sebelah alisnya, menatap foto itu. "Wah, kenapa aku bisa sekeren ini," ucap Dion, tersenyum miring. Melihat potret dirinya, yang tak sengaja terfoto, tapi cukup bagus, dengan gaya nya yang begitu cool.
Merry menautkan kedua alisnya, menatap heran. "Aih, terlalu percaya diri."
"Keren, keren ... keren apanya? Yang ada merusak pemandangan. Padahal aku sudah berpose sebagus ini," gumamnya, menggerutu.
"Kau seharusnya bersyukur, tak semua orang bisa berfoto denganku."
"Anggap saja itu keberuntunganmu hari ini, bisa berfoto, bersama pria tampan sepertiku," ucap Dion, begitu percaya diri.
Merry mengernyitkan dahinya, ia seakan mual mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh pria narsis di hadapannya.
"Hih! ... Ini namanya bukan beruntung tapi musibah!" seru Merry.
"Musibah? ... mungkin ini musibah yang kau harapkan," ucap Dion. Merry mengembangkan dadanya, ia seakan kesal dengan apa yang di ucapkan Dion.
"Heh! Apa maksudmu berbicara seperti itu hah?"
"Sudahlah, jangan berpura-pura. Apa kau tak ingat kejadian waktu itu?" ucap Dion menaikkan sebelah alisnya, melirik Merry, ia mengingatkan kembali kejadian, saat di acara ulang tahun keponakannya Dion, yang ternyata teman SMA Merry.
"Kau!" Merry mengepalkan tangannya.
"Kenapa?" tanya Dion, melirik santai.
"Asal kau tahu, seharusnya kau bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab, karena sudah mengambil ciuman pertamaku," ucap Dion, pelan, sambil berlalu meninggalkan Merry. Merry melebarkan kedua matanya, ia semakin kesal, ketika ia mengingat kejadian memalukan yang pernah ia alami beberapa minggu yang lalu.
Merry, memandangi punggung Dion, yang sudah pergi menjauh dari hadapannya. Ia juga melihat Dion yang berpapasan dengan Selly, dan meminta sebotol minuman kepada Selly.
"Dasar! menyebalkan!" gerutu Merry, memandang Dion, dari kejauhan.
"Hey, Merry, kau sedang melihat siapa?" tanya Fira, yang sudah berdiri di sampingnya. Ia segera melirik ke arah Fira dan Bara, yang ada di dekatnya.
"Hah? a-aku melihat ...." Merry menyapukan matanya ke arah Selly. "Oh itu, Selly dia membelikan kita minum," jawabnya. Fira pun mengangguk.
Dan tak lama Selly pun menghampiri Fira, Bara dan Merry. Ia segera menawarkan minuman kepada mereka.
"Ini, ambillah." Selly menyodorkan satu kantong keresek, yang berisi beberapa botol minuman dingin. Fira dengan antusias mengambil dua botol orange juice untuknya dan untuk Bara. Begitu pun dengan Merry yang mengambil satu botol guava juice.
Kini mereka, duduk di atas pasir begitu saja, meneguk minuman mereka, sambil mengobrol dan sesekali bercanda.
__ADS_1
***
Malam harinya, Fira dan Bara baru selesai melaksanakan solat isya. Fira segera bersiap-siap untuk menemui sahabatnya di ruang TV.
"Mas, ayo kita keluar," ajak Fira, duduk di tepi ranjang di dekat Bara.
Bara yang tengah asyik memainkan ponselnya, ia segera menyimpan ponselnya itu di atas nakas. Dan menarik sebelah lengan Fira. Hingga Fira terjatuh dalam dekapannya.
"Jangan buru-buru, sedari siang, kau terlalu sibuk dengan teman-temanmu itu, hingga melupakan suamimu ini," gerutu Bara. Menahan Fira dalam pelukannya.
"Kau ini! Bukankah ketika di pantai aku terus bersamamu. Mana mungkin aku melupakanmu Mas," jawab Fira.
"Lagi pula, aku tak akan mungkin bisa melupakanmu," ucap Fira, dengan manja. Memasang wajah menggemaskannya. Sehingga membuat Bara, tak bisa menahannya. Ia langsung mencium bibir Fira. Dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas...," rengek Fira, melepaskan ciumannya.
"Ayo, sebentar saja," bujuk Bara, kembali mencium bibir Fira. Bahkan kini tangannya sudah berkelana di dalam kaus yang Fira pakai. Keadaannya sudah tak memungkinkan, Bara hendak melepaskan kerudung yang tengah Fira pakai. Namun suara ketukan pintu, yang terdengar beberapa kali itu, membuat dirinya harus menghentikan aktivitasnya.
"Fira...." Suara seorang perempuan yang tak asing lagi di telinga Fira, memanggil namanya. Membuat Bara, yang mendengar menggerutu dan mengumpatinya, karena merasa terganggu.
"Mas, a-aku cek dulu," ucap Fira, beranjak pergi. Dan segera membuka pintu kamarnya.
"Merry," ucap Fira.
"Fira, ayo turun ke bawah, kita kan mau bakar-bakar," ucap Merry.
"Bakar apa?" tanya Fira.
"Bakar rumah! ... Ya bakar barbaque lah... ayo cepat turun, ajak suamimu juga, di bawah Selly sudah menyiapkan semuanya," tutur Merry, Fira pun mengiyakan, dan menyuruh Merry untuk pergi terlebih dahulu.
Fira menutup pintu kamarnya, dan segera menghampiri Bara, yang sedang duduk berselonjor di atas ranjang, dengan raut wajahnya yang di tekuk.
"Mas, ayo, kita ke bawah, Selly sudah menyiapkan barbaque," ucap Fira. Bara, masih terdiam dengan raut wajahnya yang terlihat kesal.
"Mas...." Fira, menggoyang-goyangkan sebelah lengan Bara, berharap suaminya agar tidak cemberut lagi.
Fira berpikir, agar bisa mengembalikan, mood suaminya. Ia tak segan, langsung mencium bibir Bara, mengecupnya cukup lama. Hingga membuat Bara, kembali tersenyum dengan apa yang di lakukan oleh istrinya itu.
Dan ketika Fira hendak melepaskan ciumannya, Bara malah menarik tengkuk kepala Fira, kembali menciumi bibir manis istrinya itu. Hingga berujung pada pergulatan di atas ranjang.
.
.
.
Bersambung.
Hai readers semuanya, maaf ya Dela akhir-akhir ini jarang upload, di karenakan lagi banyak kerjaan, lagi ngejar target dulu. Insyaallah kalau kerjaannya sudah selesai, biaa kembali rutin upload lagi.
Jangan lupa buat dukungannya dengan cara like, komen dan vote sebanyak-banyaknya, kalo banyak yang vote, insya allah, bakalan di lanjut lagi up nya.
__ADS_1
Baca Karya baru author judulnya Bos-ku Suamiku