
Sore ini Merry tengah bersiap untuk pergi ke Amuz Gourment. Restoran mewah yang akan menjadi tempat mereka untuk bertemu.
Merry sudah menunggu hampir setengah jam dari jadwal yang dijanjikan. "Kemana dia ini, sungguh lama sekali," gerutu Merry yang sudah mulai kesal. Sudah beberapa kali Merry mencoba meneleponnya, namun tidak di angkat juga.
Selagi Merry menikmati secangkir juice alpukat yang ia pesan saat tadi sampai, terlihat dari depan sana Dion yang sedang celingak-celinguk mencari keberadaannya. Merry pun berdiri sambil melambaikan tangannya. Dan Dion pun mendapatinya.
"Lama sekali!" Merry menggerutu kesal.
"Iya maaf, tadi ada masalah di jalan," ujar Dion menjelaskan. Merry masih diam sambil mengerutkan bibirnya.
Dion pun mengajak Merry untuk pindah tempat ke ruang VVIP khusus ruang privat yang ada di lantai tiga.
"Kenapa di sini?" tanya Merry sambil celingak-celinguk karena di ruangan yang berukuran 5x5 meter itu hanya ada dirinya dengan Dion saja. Namun Dion tak menggubris pertanyaan Merry.
"Hey kau tidak lupakan tentang apa yang aku bicarakan semalam?" tanya Dion, Merry mengangguk.
"Iya tenang saja, aku pasti bisa di andalkan," jawab Merry.
"Ya sudah, kau sekarang makanlah terlebih dahulu, karena nanti akan beda lagi suasananya, dan kau pasti tidak akan berselera." Merry mengangguk paham dan ia langsung menyantap makanan yang sudah tersaji di atas meja yang cukup panjang dan lebar itu.
"Benar-benar lezat sekali makanan ini," tuturnya sambil terus melahap satu sendok kue green tea.
Tiba-tiba dering suara ponsel milik Dion terdengar begitu nyaring, dan Dion dengan cepat menerima panggilan itu, sambil membelakangi Merry. Merry seakan tak peduli ia hanya fokus menikmati sous vanila yang tinggal tersaji beberapa buah saja.
"Cepat minum, bersiap dan rapikan pakaianmu!" tutur Dion setelah selesai mematikan ponselnya.
Dan tak lama kemudian datanglah seorang wanita paruh baya yang tak lain ialah mamanya Dion. Di temani dengan seorang gadis cantik, yang berdiri menggandeng lengan mamanya Dion.
Sejenak kedua wanita itu menatap tajam ke arah Merry. Seakan mengisyaratkan tatapan tak suka.
"Ma," sapa Dion mengulaskan senyuman. Mamanya kembali tersenyum kepada Dion, namun tidak kepada Merry yang tiba-tiba berubah jutek.
Mereka semua duduk di bangku yang mengelilingi meja, dengan Merry yang duduk di samping Dion.
"Siapa Dia?" tanya Mama sesaat setelah melirik Merry.
"Pacarku Ma," jawab Dion dengan tegas.
"Oh," ucap Mama seakan acuh mendengar jawaban Dion.
"Kuliah di mana?" tanya Mama kepada Merry.
"Sudah lulus Bu," jawab Merry sebisa mungkin memasang wajah ramahnya.
"Lulusan apa?"
"Akuntansi Bu."
"Sudah lama kenal anak saya?" Merry mengangguk mengiyakan.
Sang Mama berdecak kesal. Lalu beralih kembali menatap Dion.
"Ini Ling Yu, teman kamu pas SMA dulu, masih ingatkan?" Dion mengangguk membenarkan.
"Baguslah kalau kau ingat. Mama ingin mempertemukan kalian kembali, lebih tepatnya Mama ingin kamu bersama Ling Yu," ucap Mama spontan membuat Dion mendengus kesal.
Sejenak Ling Yu melihat ke arah Merry, yang seakan terlihat biasa saja ketika mendengar kabar ini.
"Ma! Sudah berapa kali aku bilang, aku tak ingin dijodohkan!"
"Dion!" seru sang Mama, membuat keadaan semakin canggung dan sedikit memanas.
"Ling Yu maafkan aku, seharusnya kau jangan mau menerima perjodohan ini. Pilihlah lelaki yang mencintaimu," tutur Dion. Sedikit membuat hati Ling Yu merasa sesak.
__ADS_1
"Dion!" Mama semakin kesal.
"Apa wanita ini yang membuatmu jadi pembangkang hah!"
"Ma! Dion menolak perjodohan ini tak ada kaitannya dengan Merry! Dion udah besar Ma!"
"Kau ini!" Mama berdecak kesal dan segera berdiri dari duduknya.
"Dan kamu!" tunjuknya kepada Merry. "Jangan berharap kamu bisa menjadi menantu di keluarga kami!" tuturnya penuh penekanan. "Siapa kamu, berani-beraninya mendekati anak saya!" sambungnya, menatap tajam kedua bola mata Merry.
Hal itu sedikit membuat Merry tercengang, bahkan kedua matanya terlihat berkaca-kaca, menerima celaan dari wanita yang sama sekali tidak ia kenal.
Meskipun ia hanya bersandiwara menjadi pacar Dion, tapi entah kenapa, perkataan Mamanya Dion, seakan menghantam bagaikan anak panah yang menembus hati dan jantung. Sungguh terasa begitu menyakitkan.
Dion pun berdiri dari duduknya dengan urat-urat rahang yang sudah menonjol, mengeras, akibat menahan emosi yang bergejolak di hati.
"Ma! Dion yang menyukainya terlebih dahulu. Mama jangan berbicara seperti itu pada Merry!" seru Dion, yang seakan kesal dengan ucapan Mamanya.
"Kau ini! Memang anak tidak berguna!" Mama langsung menarik lengan Ling Yu membawanya keluar dari ruangan itu. Dion hanya berdecak kesal sambil mengusap wajahnya kasar. Sedangkan Merry wanita itu masih tertegun, terpikir akan ucapan wanita paruh baya tadi.
"Maafkan mamaku." Dion berbalik menghadap Merry. Merry pun mengulaskan senyumannya yang sedikit ia paksakan.
"Em... aku tidak apa-apa. Pasti berat berada diposisimu," tutur Merry sambil berdiri berhadapan dengan Dion. Sejenak kedua mata mereka saling beradu pandang.
"Tuan sebaiknya kita pulang saja," ucap Merry, Dion masih tertegun beberapa saat, sebelum ia menganggukkan kepalanya. Dan segera mengajak Merry untuk pulang.
***
Sinar mentari pagi sudah menyoroti tanaman-tanaman yang ada di taman rumah. Bahkan embun pagi pun terlihat masih menggenang di beberapa daun yang terlihat begitu segar.
Fira begitu asyik memperhatikan buah stroberi di atas pot hitam. Ia memperhatikannya begitu saksama.
Namun teriakkan suara Bima, membuyarkannya. Ia segera menoleh dan mendapati Bima, Bara, dan ayah Alex yang sudah bersiap untuk pergi ke makan bunda Zupa.
Hari ini mereka akan melakukan perjalanan, menuju kampung kelahiran almarhumah bundanya. Yaitu bunda Zupa. Sekaligus ziarah makam. Karena setiap 6 bulan sekali, Fira sekeluarga pasti akan berziarah sekaligus berkunjung ke rumah Nenek Ela, bibi dari ayah Alex.
Perjalanan ke sana menempuh waktu hingga dua jam. Sepanjang perjalanan Fira sengaja meminum vitamin, yang sekaligus ada obat tidurnya. Jadi selama di perjalanan Fira benar-benar tidur.
Kini mereka semua sudah sampai, tepat di depan gerbang pemakaman umum di daerah itu. Suasananya begitu asri, pepohonan dan tumbuhan hijau yang begitu rimbun, membuat suasana begitu nyaman dan asri.
"Assalamualaikum Bunda," ucap Fira dan yang lainnya secara bersamaan. Mereka duduk di atas bata yang disediakan di samping makam, khusus untuk duduknya para peziarah.
Ayah Alex pun mulai memimpin untuk tahlilan bersama. Dan selesai tahlilan, mereka menabur air dan bunga tepat di atas makam bunda Zupa.
"Bunda," lirih Fira, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bunda tahu gak? Sekarang Fira lagi mengandung dedek bayi, alhamdulillah kehidupan Fira sama Mas Bara berjalan begitu lancar, dan Fira sekarang sangat bahagia bunda," ucapnya, mulai meneteskan air mata.
Sambil sedikit bercerita mengenai kehidupannya yang sekarang, memori masa lalunya seakan berputar, mengingat kenangan-kenangan masa lalu saat sang bunda masih ada di dunia.
Bara pun ikut bercerita, sambil mengusap punggung Fira dengan begitu lembut. "Bunda, semoga bunda tenang di alam sana. Saya Bara, akan menjaga Fira, Ayah Alex dan Bima. Dan tentunya saya juga akan menjaga cucu-cucu bunda," ucap Bara, sambil memegang batu nisan.
Mereka pun segera kembali ke dalam mobil. Dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Nenek Ela, yang tak jauh dari tempat pemakaman.
Sesuai interupsi Ayah Alex, kini Bara menghentikan mobilnya tepat di halaman sebuah rumah kuno namun masih terlihat begitu indah.
Seorang wanita bungkuk, keluar dari rumah itu, dengan senyuman di wajahnya yang menampakkan kerutan-kerutan halus di area bibirnya.
"Alex," panggil Nenek Ela, sambil memeluk keponakannya yang sudah menua pula. Bergantian dengan memeluk si tampan Bima, lalu Fira dan Bara secara bergantian.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah. Terlihat sekali, semua barang yang ada di dalam rumah, adalah barang-barang antik zaman dulu. Mulai dari desain rumah, kursi, dan perabotan semuanya benar-benar antik dan aesthetic.
Mereka semua duduk sambil mengobrol. Mulai dari membicarakan perihal zaman dulu, hingga perihal mengenai kehamilan Fira.
__ADS_1
Di tengah-tengah asyiknya mengobrol sambil menyantap camilan yang sebelumnya sudah Fira siapkan. Tiba-tiba, seorang lelaki bertubuh tegap sudah berdiri di ambang pintu sambil mengucapkan salam. Sontak semua orang mengalihkan pandangannya ke arah pintu, sambil menjawab salam.
Orang itu tak lain ialah, Robby anak bungsu dari Nenek Ela. Mungkin usianya tak beda jauh dengan Bara.
"Kak Robby," ucap Bima, begitu semangat saat melihat kerabatnya itu ternyata sudah pulang ke Indonesia.
Robby pun segera masuk, dan menyapa sekaligus menyalami semua orang yang sedang duduk. Bahkan Bima tak segan untuk memeluk pria itu. Begitu pun dengan Fira, yang teramat senang mendapati kehadiran kerabatnya itu.
"Kak Robby kapan pulang?" tanya Fira, begitu heboh.
"Baru dua hari, Kaka juga belum sempat mengabari kalian. Tak disangka, adik manisku ini sekarang sudah mau punya bayi," ucapnya, sambil mengusap kepala Fira dengan gemas, kemudian ia segera mendudukkan tubuhnya tepat di samping Bima.
Bara yang duduk berseberangan dengan Robby, ia seakan tak suka. Apalagi ketika Robby berani menyentuh Fira. Hatinya seakan panas, melihat keakraban yang terjalin di antara mereka.
"Jaga sikap!" bisik Bara, dengan kesal. Tepat di sebelah kanan daun telinga Fira.
"Iya!" Fira mendengus. Mereka semua kembali melanjutkan obrolan mereka. Mengingat-ingat akan masa lalu mereka yang begitu indah.
"Eh Fira, apa kamu masih ingat, dulu saat kita bermain nikah-nikahan? Kau yang bilang bahwa aku adalah kekasihmu, dan kau memaksaku untuk menikah denganku," ujar Robby terkekeh. Begitu pun Fira yang ikut terkekeh mengingat hal itu.
"Iya benar, dan aku yang jadi anak kalian," timpal Bima, yang ikut mengingat kejadian masa lalu itu.
Bara semakin di buat kesal. Apalagi mendengar cerita konyol di anatara mereka. Ia hanya bisa menggerutu di dalam hati saja. Sambil sibuk membukakan kuaci untuk Fira.
"Sungguh tak berperasaan, aku ini suaminya, kenapa dia masih berani berbicara akan hal itu. Apa dia mau mencari gara-gara denganku!" batinnya, sambil menatap tajam ke arah Robby.
Karena suasana di anatara mereka semakin lama semakin menjadi. Bara segera berdiri dan berlalu begitu saja keluar rumah, dengan alasan gerah.
Fira masih asyik mengobrol, tanpa menghiraukan Bara. Sedangkan Ayah Alex, sedari tadi ia sudah bisa menangkap sinyal cemburu dari menantunya itu.
"Fira, bawakan air ini untuk Bara di luar, sana temani dia," perintah Alex, Fira awalnya enggan karena masih asyik bercerita dengan Robby dan Bima, namun Ayah Alex memaksanya. Sehingga membuat Fira harus keluar untuk menghampiri Bara.
"Mas, ini minum." Fira menyimpan secangkir teh di atas meja, di dekat kursi teras. Ia juga ikut mendudukkan tubuhnya di samping Bara.
Bara masih terdiam, sambil menekuk wajahnya. Membuat Fira mendengus kesal.
"Kenapa lagi sih!" gerutu Fira. Bara hanya mengernyit tak menjawab.
"Mas...." Fira menggoyangkan lengan Bara, berharap mendapat respons dari suaminya itu, tapi sepertinya ia sia-sia.
"Cemburu? Marah lagi?" tanya Fira memandang wajah Bara begitu dekat. Namun Bara dengan cepat membuang wajahnya ke sembarang arah.
"Mas, dia itu kerabatku, anak dari Nenek Ela. Kamu tidak usah cemburu dengannya. Lagi pula aku dan Kak Robby–"
Belum sempat Fira menyelesaikan ucapannya, Bara memotongnya terlebih dahulu. "Fira, apa kau benar-benar lupa, atau kau memang amnesia hah! Baru saja kemarin, kamu bilang tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tapi, kau baru saja mengulanginya lagi," gerutu Bara. Membuat Fira semakin kesal.
"Mas! Cemburu itu memang wajar, tapi jangan berlebihan juga dong! Kamu ini, kepada Bima cemburu, kepada Dion cemburu, sekarang kepada kerabatku sendiri pun kau cemburu!" seru Fira, mengutarakan unek-unek di hatinya.
"Sudahlah Mas, aku capek! Aku mau istirahat di kamar Nenek," ucap Fira berlalu meninggalkan Bara begitu saja.
Dengan suasana hati yang masih belum baik, Bara masih diam tak bergeming sedikit pun dari tempatnya.
"Bukan aku yang menginginkan semua ini, tapi karena rasa cintaku padamu yang terlalu besar, aku sudah tak bisa mengendalikannya lagi Fira," gumam Bara, sambil menatap kosong ke sembarang arah.
.
.
.
Bersambung.
Kira-kira Fira dan Bara bakalan cepet baikan lagi gak ya?
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote-nya ya....