
Sinar mentari pagi masuk lewat celah-celah ventilasi jendela. Membuat dua insan yang masih tertidur mesra berpelukan di atas tempat tidur menggeliat, karena silau.
Selepas melakukan percintaan singkat di pagi hari yang cukup menguras energi, membuat keduanya kembali melanjutkan tidur. Dan tepat jam 10.00 pagi, Fira dan Bara kembali bangun dari tidurnya.
"Pagi sayang," ucap Bara ketika melihat Fira baru bangun dari tidurnya sambil menggeliat, menyipitkan kedua matanya. Bara kembali menghujani wajah istrinya itu dengan banyak ciuman.
"Mas, jangan menciumku terus," protes Fira sambil memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Lagi yuk," ucap Bara jahil. Fira berdecak, sambil segera bangun dari tidurnya, dan duduk bersender di bahu ranjang, dengan tubuh polosnya yang masih ditutupi selimut putih yang tebal.
"Gak mau!" tolak Fira.
"Eh, gak boleh nolak, nanti dosa loh," ucap Bara sambil menggoda Fira.
"Kamu mau anak-anak kita di dalam terguncang terus!" seru Fira memelototkan kedua matanya. Membuat Bara tersenyum kikuk.
"Lagian, kamu akhir-akhir ini sering banget minta jatah. Padahal kandungan aku kan udah besar," ujar Fira.
"Ya, gak apa-apa, kata dokter juga kan kalo menjelang lahiran lebih bagus sering begituan ha ha." Bara tertawa lepas. Ia pun bangun dari tidurnya dan segera memakai kembali celana dan bajunya yang tercecer di ujung kasur.
"Pakai dulu bajumu, aku akan keluar mengambil sarapan untukmu," ucap Bara dan segera berlalu keluar dari kamar.
Fira hanya menggelengkan kepalanya pelan. Lalu matanya kini di fokuskan kembali ke arah kalender kecil yang ada di atas nakas. Fira pun meraih kalender itu, dan melihat tanggal yang sudah di tandainya menggunakan warna merah.
"Tiga, minggu lagi menuju hari perkiraan lahir," gumamnya tersenyum. "Ah... aku sudah tidak sabar menantikan kedua buah hatiku ini lahir. Sehat-sehat ya Nak kalian di dalam," ucap Fira sambil mengelus perutnya.
Karena kini usia kehamilan Fira baru saja menginjak usia 8 bulan lebih 2 minggu, dan perkiraan lahirnya sekitar 3 minggu lagi, kalau menurut dokter.
***
Sementara itu, siang ini Dion dan Merry tengah menghadiri acara pernikahan dari kerabatnya Dion. Merry di ajak oleh Dion, karena dengan begini ia bisa mengenalkan Merry kepada keluarga besarnya.
"Jadi kapan adik Cici mau menikah?" tanya Kakak sepupu Dion, ketika mereka tengah menikmati jamuan makanan.
__ADS_1
"Empat bulan lagi kita nyusul," jawab Dion.
Dion pun mengajak Merry untuk duduk di salah satu kursi tamu yang tersedia di sana.
"Buka mulutmu, dan cobalah ini." Dion menyodorkan satu sendok puding mangga ke arah Merry. Namun ternyata Merry enggan disuapi oleh kekasihnya itu.
"Dion, jangan menyuapiku di tengah umum begini," tolak Merry.
"Memangnya kenapa? Hanya menyuapi saja kan?"
"Dion ... aku malu, lihatlah banyak orang di sini," bisik Merry penuh penekanan.
Dion pun berdecak kesal, karena hampir tiga bulan mereka menjalin hubungan setelah bertunangan, Merry masih selalu saja bersikap malu seperti itu kepada Dion. Dion yang terkadang mengharapkan perlakuan romantis dari Merry, sering kali ia dibuat kecewa oleh sikap Merry padanya. Dan kadang ia meragukan perasaan Merry padanya, yang hingga saat ini belum Dion ketahui dengan pasti bagaimana perasaan gadis itu padanya.
"Selalu saja seperti ini," batin Dion.
"Ya sudah, tunggulah di sini, aku akan mengambilkan buah untukmu," ujar Dion berlalu dengan wajahnya yang di tekuk kesal.
"Apa dia marah padaku?" gumam Merry melihat kepergian Dion. "Hm ... sudahlah." Merry pun mengedarkan pandangannya ke semua penjuru gedung yang dipenuhi tamu ini. Kini matanya menangkap objek, dimana ia melihat seorang wanita bergaun hijau muda, tengah berjalan menghampiri Dion.
"Hai, Dion." Wanita yang bernama Ling Yu itu pun menyapa Dion dengan begitu ramah.
Dion yang sibuk mengambil beberapa sendok buah potong pun menoleh ke arahnya.
"Ling Yu."
"Apa kabar?" tanyanya. Dion pun sejenak menoleh ke arah dimana Merry sedang duduk manis memperhatikannya.
"Ba-baik," jawab Dion tersenyum paksa.
"Sendirian?"
"Enggak, aku di sini bersama kekasihku."
__ADS_1
Ling Yu menaikkan kedua alisnya, sambil sedikit mengerucutkan bibirnya. "Oh iya, aku lupa. Kau kan sudah bertunangan," ucapnya seakan penuh kecewa.
"Baiklah, aku tinggal dulu ya." Dion pun segera kembali menghampiri Merry yang kini tengah menatapnya penuh dengan intograsi.
"Ini, buah untukmu, makanlah." Dion menyodorkan satu mangkuk kecil buah potong kepada Merry. Merry tak menyahutnya, ia masih setiap menatap Dion dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Siapa?"
"Siapa, apa?" tanya Dion gugup.
"Bukankah tadi kau bertemu dengan wanita yang pernah dijodohkan denganmu sebelumnya?"
"Hah? Oh itu ... Ling Yu, tadi aku tak sengaja bertemu dengannya," jawab Dion gugup.
"Kau yang tak sengaja, tapi wanita itu yang sengaja mendekatimu," batin Merry.
"Sudah makanlah ini." Dion kembali menyodorkan mangkuk berisi buah itu kepada Merry.
Sekilas Merry melirik sejenak ke arah Ling Yu, yang masih setia berdiri di tempatnya sambil terus menatap ke arahnya. memperhatikan Merry dengan Dion.
"Em... bukankah kamu tadi ingin menyuapiku?" tanya Merry dengan suaranya yang manja.
"Cepat suapi aku," perintahnya. Membuat Dion sedikit heran.
"Aneh, bukannya tadi dia sendiri yang bilang malu, kalau di suapi di tengah umum begini," gumam Dion. Namun tanpa berpikir lama, Dion pun menyuapi Merry dengan semangat dan tentunya dengan senang hati, bahkan sesekali Merry lah yang bergantian menyuapinya.
Ling Yu yang melihat adegan romantis mereka berdua seakan jijik melihatnya. "Hih norak!" cibirnya berdecak kesal.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....