Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Selalu salah


__ADS_3

Sore harinya Hans dan Evans duduk bersama untuk yang pertama kali. Ini momen yang sangat langka dan kedepannya mungkin akan lebih sering terjadi, walaupun mereka berdua sudah duduk bersama keduanya masih acuh tak acuh.


Tiara sebagai seseorang yang dekat dengan mereka berdua, berusaha dengan keras agar keduanya bisa akur dan berjalan bersama tanpa pertengkaran di antara mereka berdua. Meskipun hal ini mungkin sangat sulit terjadi, setidaknya ia sudah berusaha untuk hasilnya nanti terserah mau bagaimana.


"Kak bagaimana ya membuat mereka bisa mengobrol," tanya Tiara.


"Sangat sulit Tiara, kamu lihat saja mereka berdua, jangankan untuk mengobrol saling melirik saja tidak terjadi," jawab Lisa.


"Apa mereka berdua aku tanya ingin makan apa hari ini, aku kan sangat jago masak, kalau aku minta pendapat mereka berdua pasti keduanya bisa saling berbicara," kata Tiara.


"Walaupun hal itu seperti mustahil, coba saja mana tau berhasil. Kamu ingat mereka berdua sama-sama memiliki watak yang keras, kalau kamu tidak berhati-hati yang ada mereka berdua malah bertengkar," ucap Lisa.


"Iya kak aku akan mencoba nya dengan sebaik mungkin," kata Tiara sambil berjalan mendekati mereka berdua.

__ADS_1


"Kalian berdua ingin makan apa? Untuk hari ini aku akan membuat makanan spesial untuk kalian," ucap Tiara.


"Sayang aku ingin makan sup," ujar Hans.


"Tiara buatkan Abang ayam kecap," kata Evans.


"Jangan begitu dong, aku sedang hamil tidak boleh membuat makanan banyak-banyak, nanti aku kelelahan. Pilih satu saja mau sup atau ayam kecap, silakan berdiskusi," ucap Tiara.


"Kalau kau masih menganggapku Abang kau tidak perlu bertanya," ujar Evans.


"Hanya bertemu saat dewasa tidak ada jasanya untuk dirimu, sedangkan Abang sudah bersama denganmu saat kau masih kecil, bahkan aku yang mengurus mu dulu." Evans tidak mau kalah.


Hans melirik ke arah Evans. "Sayang bukannya setelah menikah suami yang nomor satu, karena memang itu sudah menjadi kewajiban kamu." Hans tersenyum sinis.

__ADS_1


Evans juga melirik ke arah Hans. "Itu kalau suami yang baik dan bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, suami yang tidak baik dan yang bertanggung jawab bukan kewajibanmu untuk memprioritaskan nya. Dia saja tidak berani bertemu dengan abangmu, bukannya orang itu pengecut," ucap Evans.


"Apa maksudmu. Kau menghina ku," tanya Hans.


"Aku tidak menghinamu tetapi jika kau merasa terindah bukannya hal itu hal yang bagus, itu artinya kau masih mempunyai kuping untuk mendengar apa yang aku ucapkan," jawab Evans.


"Bagaimana aku bisa baik padanya jika dia sudah seperti itu, katakan pada Abang mau caranya sangat jelek sekali," ucap Hans.


"Katakan juga pada suamimu jangan mudah tersindir, kalau dia tersindir itu artinya karena kenyataan," kata Evans.


Tiara bingung sendiri melihat mereka berdua yang malah bertengkar, misinya untuk mendekatkan mereka sama sekali tidak berhasil, terlihat dengan jelas sekarang keduanya malah semakin tidak akur.


"Kalian berdua memang ya, aku kan sedang hamil seharusnya kalian berdua dapat mengerti aku sedikit saja. Tapi nyatanya sekalian berdua sama-sama seperti anak kecil, ya sudah aku tidak mau memasak. Cari makanan luar, kalau tidak silakan kelaparan." Tiara berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Ini semua karenamu," ucap Evans..


"Terus saja menyalahkan aku, aku memang selalu salah di matamu."


__ADS_2