Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Kejutan Untuk Fira


__ADS_3

"Ah... aku sudah tidak sabar dengan semua ini. Mereka pasti sudah menunggu di sana dari tadi," gumam Bara dalam hati.


Dilihatnya jam di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Bara dengan sengaja membawa mobilnya begitu lambat. Karena ia ingin sampai di sana tepat waktu.


Dan kini Bara memarkirkan mobilnya tepat di halaman parkir sebuah hotel mewah bintang lima.


"Mas kenapa kita ke hotel?" tanya Fira heran. Bara tak menjawab pertanyaan istrinya itu. Ia bergegas keluar dari mobil begitu pun dengan Fira yang ikut turun dari mobil sesaat setelah Bara membukakan pintu mobil untuknya.


"Pakai ini" Bara dengan cepat menutup kedua mata Fira dengan slayer berwarna biru yang cukup tebal. Awalnya Fira menolak namun Bara tetap memaksanya, hingga akhirnya Fira pun tak mempunyai pilihan lain, selain menuruti kemauan suaminya itu.


Bara pun memapah Fira, menuntunnya ke tempat yang sudah direncanakan olehnya sedari kemarin. Hingga sampailah mereka berdua di taman khusus yang ada di hotel itu.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Fira yang sedari tadi penasaran ke mana suaminya itu membawa pergi dirinya.


Sejenak Bara memperhatian kembali jam di tangannya yang sudah menujukkan pukul 00.00 dini hari. "Sudah bukalah, tapi pelan-pelan," ucap Bara, yang masih berdiri di samping Fira.


Suasana yang Fira rasakan terasa begitu sunyi. Namun terasa hangat seperti banyak orang. Tapi tak terdengar suara apa pun selain suara angin yang berembus seperti menggoyangkan dedaunan dan ranting pohon.


Perlahan Fira pun melepaskan slayer yang menutupi kedua matanya. Hatinya semakin terasa berdebar tak karuan, ketika ia berhasil melepaskan slayer yang mengikat kepalanya itu. Dan ....


"Surprise...." Teriak semua orang yang kini sudah berdiri di hadapan Fira, dengan raut wajah mereka yang begitu antusias dan ceria.


Fira hanya tertegun tak bisa berkutik, ia begitu terkejut dengan semuanya.


"Ayah, Bima, Lisa, Mama, Papa." Fira menyebutkan satu persatu orang yang ada di hadapannya kini. Dengan Lisa yang tengah memangku kue ulang tahun di tangannya.


Dan secara bersamaan semua orang disana segera berjalan menghampiri Fira pelan, sambil menyanyikan lagu ulang tahun.


"Happy birth day to you...


Happy birth day to you...


Happy birth day...


Happy birth day...


Happy birth day... to you"


"Selamat ulang tahun istriku sayang," ucap Bara, sambil merangkul Fira, mendekapnya dalam pelukannya.


Mata Fira kini terlihat berkaca-kaca, dengan genangan air mata yang masih bisa tertahan. Sungguh ini adalah kejutan ulang tahun terindah yang pernah ia rasakan.


"Te-terima kasih semuanya," ucap Fira terbata, karena menahan haru yang ia rasakan. Buliran bening tiba-tiba lolos begitu saja dari kedua sudut matanya.


Tenanglah itu bukan air mata kesedihan, namun itu adalah air mata kebahagiaan.


"Sayang, kenapa kau menangis? Apa kau tidak menyukai kejutannya?" tanya Bara, sambil mengusap air mata Fira dengan kedua ibu jarinya.


Fira menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum bahagia.


"Tidak Mas, aku menyukai semua ini. A-aku hanya terlalu bahagia saja, sampai air mataku tak bisa ditahan," jawabnya.


Mama Wina pun menghampiri Fira, dan memberikannya sebuah kecupan di kening Fira. Sambil memandang lekat wajah menantunya itu.


"Selamat ulang tahun anak Mama, jangan menangis nanti ingusnya keluar loh," ucap Mama Wina sambil memeluk Fira. Sontak membuat Fira sedikit terkekeh mendengar ucapan Mama mertuanya itu. Begitupun dengan Hito, ia juga memberi kecupan dan memeluk menantunya itu sambil mengucapkan selamat.


"Anak Papa gak boleh nangis, malu sama si kembar di dalam. Lagi bahagia masa nangis," ucap Hito, Fira pun tersenyum mengiyakan.


Bergiliran dengan Lisa yang menyuruh Fira untuk meniup lilinnya terlebih dahulu, kemudian mengalihkan kue yang dipegangnya itu kepada Mamanya.


Lisa begitu erat memeluk Kakak iparnya itu. "Kak Fira selamat ulang tahun ya. Aku sayang Kak Fira, tapi nanti kalo dua keponakanku sudah lahir aku akan lebih menyayangi keponakanku, Kak Fira jangan iri," ucap Lisa sambil mengelus perut Fira. Dan sejenak mengajak ngobrol calon keponakannya yang masih ada di perut Kakak iparnya itu.


"Kalian berdua baik-baik ya, yang aku di dalam jangan berantem, aunty mu yang cantik ini sudah tidak sabar menunggu kalian berdua lahir," ujarnya.


Lanjut dengan Ayah Alex yang memberi kecupan di pipi dan kening Fira. Dan memeluk putrinya itu dengan begitu erat, hingga ia pun merasakan begitu bahagianya ketika melihat sang putri bisa menangis karena bahagia.

__ADS_1


"Selamat ya sayang, di usiamu yang ke 21 tahun ini, kamu akan segera menjadi seorang Ibu. Tapi meskipun begitu, kamu tetaplah putri kecil Ayah, yang manja. Ayah sangat bersyukur, melihat kehidupanmu saat ini. Ayah tak perlu khawatir lagi akan kebahagiaanmu, karena kamu sudah menemukan orang yang sangat tepat untuk menjadi pendamping hidupmu," ucap Ayah Alex, seraya beralih ke arah Bara, yang mengucapkan syukur dan terima kasih karena sudah menjaga, merawat dan menyayangi putrinya dengan cinta yang begitu besar.


Dan saat giliran Bima yang hendak memeluk Fira. Tiba-tiba sebelah lengan Bara menghalanginya.


"Stop! Aku tidak mengizinkanmu mencium Fira," ujar Bara. Membuat Bima sedikit mencebikkan bibirnya.


"Aih... Kak Bara ini, siapa yang mau mencium Kak Fira, aku hanya ingin memeluknya saja," ujar Bima.


"Tetap tidak ku izinkan!" seru Bara.


"Mas...." Fira seolah meminta agar suaminya jangan seperti itu kepada Bima. Namun Bara tetap bersikeras tak memperbolehkan Bima untuk memeluk Fira.


"Lihatlah ayahmu itu, begitu kejam kepada Paman. Nanti kalau kalian sudah besar jangan menyebalkan seperti Ayah kalian ya," ucap Bima, yang akhirnya malah mengajak ngobrol kedua calon ponakannya. Sambil mengelus-elus perut Fira.


"Karena Kak Bara tak mengizinkan aku memeluk Kak Fira, biar Kak Bara saja yang aku peluk," ucapnya yang langsung merangkul tubuh Bara, tanpa aba-aba sebelumnya hingga membuat Bara sedikit terkejut akan tingkah Bima.


"Bima apa yang kau lalukan!" Bara hendak melepaskan pelukan adik iparnya itu, namun sepertinya tenaga Bima lumayan cukup kuat juga.


Sedangkan Fira dan yang lainnya hanya tertawa melihat tingkah Bima kepada Bara.


"Terima kasih Kak Bara, sudah menyayangi dan mencintai Kak Fira sampai sebegitu posesifnya. Aku akan tenang jika nanti aku kuliah keluar negeri. Tak perlu takut lagi. Karena kini sudah ada Kak Bara yang akan menjaga Kak Fira," ujar Bima sambil melepaskan pelukannya.


"Kuliah ke luar negeri?" gumam Lisa, saat mendengar ucapan Bima.


"Bima mau kuliah ke luar negeri?" batin Lisa.


"Sudahlah, ayo waktunya kita potong kue dan makan-makan," ajak Mama Wina begitu semangat.


Akhirnya mereka semua pun berkumpul sambil bercanda tawa, ria. Sungguh malam ini akan menjadi malam yang tak akan pernah terlupakan dalam ingatan Fira.


Fira begitu bersyukur, karena kini hidupnya jauh lebih bahagia. Bahkan ia tak pernah berpikir sebelumnya, kalau pernikahan yang dulu sempat hanya menjadi mimpi yang harus dilupakannya, kini bisa menjadi kenyataan. Di lingkungi oleh orang-orang yang begitu mencintai dan menyayanginya.


"Terima kasih sayang, atas kesabaranmu selama ini menjalani hidup yang tak begitu mudah bersamaku. Terima kasih juga karena sudah mau bertahan denganku. Aku sangat bersyukur karena kaulah yang menjadi ibu dari anak-anakku," ucap Bara, seraya memandangi wajah Fira.


Sambil duduk bersantai, di kursi hias yang cukup besar. Fira pun dengan cepat memeluk Bara. Sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bara.


Kini Bara memberikan ratusan ciuaman di pucuk kepala istrinya itu. Sambil memeluknya semakin erat.


"Mas," ucap Fira sambil melepaskan pelukannya.


"Apa?"


"Kenapa kamu tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku?"


"Ya tentu tahulah, aku kan suamimu. Mana mungkin melupakan ulang tahun istri."


“Hm... tapi aku tak percaya,” ucap Fira, menatap penuh selidik.


"Lalu apa semua ini kamu yang merencanakan?" tanya Fira heran. Karena biasanya setiap ulang tahun, Bima lah yang selalu memberinya kejutan. Meskipun hanya kejutan kecil.


"Hm baiklah aku akan jujur .... sebenarnya Bima yang beritahuku. Kapan hari, dia pernah bertanya kepadaku, 'apakah aku sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untukmu' tapi aku, bahkan tidak tahu kalau sebentar lagi kamu akan ulang tahun. Dan untungnya Bima memberitahu terlebih dahulu, jadi aku merencanakan kejutan ini bersama Bima dari tiga hari yang lalu." jawab Bara jujur. Fira hanya mangut-mangut.


"Dan malam ini, kita akan menginap di hotel ini. Dan ingat, semua ini tidak gratis."


"Tidak gratis?" Fira mengernyit heran.


"Betul, tidak gratis. Nanti selepas acara, kamu harus memberikan servis terbaikmu untuk suamimu ini," ujar Bara sambil tersenyum penuh maksud. Fira hanya menggelengkan kepalanya, sambil mencubit kedua pipi Bara dengan gemas, begitu ia paham dengan maksud dari suaminya itu.


Kini Fira dan Bara kembali menikmati banyaknya makanan yang sudah Bara sediakan di atas meja. Sedangkan yang lainnya, sedang sibuk membuat barbaque, dan sosis panggang.


***


Beberapa hari kemudian. Di jam istirahat makan siang. Merry tengah menikmati makannya dengan di temani oleh teman kerja yang satu team dengannya.


Tapi tiba-tiba Dion sudah duduk tepat di sampingnya. Sedikit membuat teman Merry heran, karena sekretaris pimpinannya itu, mau duduk makan bersama karyawan biasa.

__ADS_1


"Kenapa kau di sini?" tanya Merry, sinis.


"Memangnya kenapa? Ini kan tempat umum, terserah aku dong mau duduk di mana saja," timpal Dion, sambil mulai melahap makanan miliknya.


"Meja kosong masih banyak! Kenapa harus duduk di sampingku!" gerutu Merry.


"Cerewet! Diam dan makanlah!" Dion seakan enggan beradu mulut dengan wanita itu.


"Ini, makanlah." Dion memberikan satu goreng paha ayam di atas piring makan Merry. Sontak membuat temannya Merry semakin heran dengan kelakuan Dion.


"Aku tidak mau! Sudah kenyang!" Merry mengembalikan goreng paha ayam itu ke atas piring Dion.


Dan saat Merry hendak pergi dari tempat duduknya, tangan Dion lebih cepat menariknya. Dan memintanya untuk duduk lebih lama bersamanya.


Sejenak Dion menatap tajam ke teman Merry yang hendak mendudukkan kembali tubuhnya. Namun wanita itu paham dengan tatapan Dion, ia pun berpamitan kepada Merry untuk pergi terlebih dahulu.


"Kenapa sih! Ada apa kenapa menahanku?" tanya Merry mencebikkan bibirnya.


"Merry, please bantu aku sekali lagi ya," pinta Dion memohon.


"Tidak! Kemarin saja Mamamu sengaja menumpahkan jus di bajuku. Kalo aku berpura-pura jadi pacarmu lagi yang ada nanti kejadiannya lebih parah!" gerutu Merry, saat ia mengingat kemarin sore, saat Dion memintanya untuk menjadi pacar bohongannya lagi, dan ikut menemui Mamanya Dion, Merry mendapatkan perlakuan tak baik.


Ya, meskipun Merry juga di beri upah oleh Dion. Tapi sepertinya untuk kali ini Merry tak ingin menolongnya lagi.


"Sudahlah, kau cari saja pacar bohonganmu yang lain! Aku sudah tidak mau."


"Mer... kalau aku ganti perempuan lagi, mamaku akan curiga. Aku mohon, kali ini yang terakhir, karena hari ini papaku juga akan datang," ucap Dion, terus memohon.


"Tidak mau!"


"Baiklah, dua kali lipat bayarannya bagaimana?" tawar Dion. Sejenak Merry membulatkan kedua matanya, saat ia mengingat nominal yang diberikan oleh Dion kemarin, di tambah kalau jadi dua kali lipat. Salah satu sudut bibirnya terangkat, menciptakan sebuah senyuman penuh maksud.


"Em... tetap tidak mau," jawab Merry, sambil menatap tajam ke arah Dion. Lalu segera berdiri dari duduknya hendak pergi meninggalkan Dion, namun lagi-lagi Dion menahannya.


"Mer!"


"Tiga kali lipat deal!" Dion pun berdiri menghadap Merry, sambil mengulurkan tangannya. Berharap Merry menerima tawarannya.


"Tiga kali lipat? Ya ampun, kalau sebanyak itu aku bisa membeli sepatu impianku," batinnya begitu senang. Bahkan kalau bisa di ekspresikan mungkin ia sudah berjingkat-jingkat senang mendapat penawaran sebagus ini.


"Baiklah deal!" Mereka berdua saling menjabat tangan.


"Dasar mata duitan!" gumam Dion pelan.


"Apa? Kau bilang apa barusan?" Merry seketika menajamkan kedua matanya, seakan mau menusuk kedua bola mata Dion dengan begitu geram.


"Tidak, a-aku tidak bilang apa-apa. Aku hanya berterima kasih padamu," kilah Dion. Namun karena pendengaran Merry yang begitu tajam ,ia sebenarnya mendengar ucapan Dion tadi dengan begitu jelas.


"Huh, masih saja mengelak!" batinnya.


"Ya sudah, jam berapa aku harus bersiap?" tanya Merry, sambil melipat kedua tangannya di atas perut.


"Malam ini jam 19.00 malam aku akan menjemputmu," jawab Dion. Merry pun mengangguk, dan segera berlalu meninggalkan Dion, dengan perasaan yang begitu senang. Karena dengan mendapat uang tambahan dari Dion. Sepatu yang di mimpikannya sebentar lagi akan ia wujudkan.


"Huh, kalau sudah berurusan dengan uang, pasti saja semangat," batin Dion, sambil memperhatikan punggung Merry yang semakin menjauh dari pandangannya.


.


.


.


Bersambung.


Masih akan ada beberapa chapter ya. Selagi nunggu cerita ini benar-benar tamat, kalian juga bisa baca karya terbaruku yang berjudul 'My Annoying Wife' gak kalah seru ko ceritanya sama ini. Kalo gak percaya silakan baca aja dulu, siapa tahu suka. hehe.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan votenya ya.


__ADS_2