Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - 10


__ADS_3

"Hallo Abang," ucap Mayang begitu panggilannya terhubung dengan ponsel Andre.


"Abang sekarang di mana? Lagi istirahat atau masih praktik?" tanya Mayang, sambil melihat jam di pergelangan tangan kirinya, yang sudah menunjukkan pukul 17.00 sore.


"Lagi istirahat, nanti abis magrib lanjut praktik lagi," jawab Andre di sebrang sana.


"Abang, bisa jemput aku gak sebentar? Aku lagi ada di butique XXX."


"Ngapain kamu di butique sore-sore begini?”


"Aduh, nanti deh ceritanya. Abang buruan ke sini ya, penting banget soalnya. Cepetan gak mau tahu harus ke sini!" ucap Mayang memaksa sebelum teleponnya di matikan.


***


"Aih anak ini, selalu saja merepotkan! Lagian tuh anak ngapain sore-sore begini masih berkeliaran di luar," gumam Andre, yang meskipun terpaksa ia tetap harus menemui adik kesayangannya itu.


Andre pun segera bersiap, mengambil kunci mobil yang ada di dalam laci meja kerjanya. Ia juga tak lupa untuk izin terlebih dahulu kepada asistennya, untuk pergi keluar sebentar.


Sesampainya di butique yang di maksud oleh Mayang, Andre segera masuk ke dalam butique itu, dan di sambut hangat oleh salah satu pelayan yang ada di situ.


Mayang yang berada di lantai atas segera turun ke bawah untuk menemui Abangnya.


"Abang," panggil Mayang menghampiri.


Andre pun berbalik badan, bermaksud untuk keluar lagi dari butique itu. Namun dengan cepat tangan Mayang menahan lengan Abangnya itu.


"Tunggu dulu, jangan dulu pergi. Ayo ikut aku ke atas," ajak Mayang menarik Andre untuk ikut bersamanya ke lantai atas.


Sesampainya di lantai atas, terlihat ada Salwa yang baru saja keluar dari ruang ganti.


"Eh, Bang Andre kok ada di sini?" tanya Salwa heran.


"Salwa? Kalian sedang apa di sini?" tanya Andre balik.


"Oh, iya maaf, Bang, tadi sepulang kuliah aku ajak Mayang buat nemenin aku ke sini, nyari gaun buat pestaku nanti. Tapi tenang aja Bang, nanti aku bakalan anterin Mayang pulang kok," ujar Salwa.


"Lah, terus ngapain tadi kamu nyuruh Abang buat ke sini?" tanya Andre, menatap tajam ke arah Mayang.


"Em... he he, anu ...." Mayang bingung harus beralasan apa lagi, tak mungkin jika ia memberi tahu Andre kalau maksud menyuruhnya ke mari adalah untuk menemui Selly.


"Nona, bagaimana gaunnya suka?" tanya Dinda, yang keluar dari ruang desainer sambil membawa satu gaun berwarna biru muda di tangannya.

__ADS_1


Andre sedikit terkejut ketika melihat wanita yang tak asing lagi di matanya. "Nyonya Dinda," panggil Andre pelan.


Dinda langsung menoleh ke arah Andre, ia juga sedikit terkejut saat melihat kehadiran Andre di situ. "Pak dokter?"


Mayang hanya mengernyit heran begitu melihat Abangnya yang seperti akrab dengan pelayan butique itu.


Mereka pun sedikit berbincang tak percaya bisa bertemu kembali. Dan Andre lebih tak percaya lagi, bahwa Dinda yang kehamilannya sudah cukup besar masih sanggup bekerja di butique.


Salwa pun pamit untuk kembali mencoba gaun biru yang di berikan Dinda.


"Oh ya, Pak dokter ke sini mau fiting baju pengantin ya?" tanya Dinda.


Andre hendak menjawab, namun dengan cepat Mayang terlebih dahulu menjawabnya.


"I-iya benar Kak, Abangku ke sini buat mencoba tuksedo buat pernikahannya nanti. Boleh kan mencobanya terlebih dahulu?" tanya Mayang sambil melebarkan senyumannya.


"Tentu saja boleh, mari saya antar untuk melihat jas dan tuksedo pengantinnya," ujar Dinda.


"Ayang! Kau ini apa-apaan!" bisik Andre merasa tak enak.


"Sudah ikuti saja semuanya, jangan protes!" ujar Mayang.


"Latihan aja, Bang, siapa tahu bentar lagi Abang nikah," ucap Mayang pelan sambil terkekeh.


"Kau ini! Dasar bocah!" gerutu Andre.


"Oh ya, Pak dokter kalau mau melihat atau mencobanya silakan, ruang gantinya ada di sana," tunjuk Dinda ke arah ruang ganti pria yang ada di pojok kanan. Andre pun mengangguk mengiyakan, kemudian Dinda kembali masuk ke ruang desainer untuk kembali mengarahkan Merry dan Selly.


"Ayang, kamu tahu wanita itu sebenarnya siapa?" tanya Andre, Mayang menggelengkan kepalanya pelan.


"Emang dia siapa?"


"Dia itu, pacarnya Dr. Damas yang Abang cerita-in kemarin," ujar Andre sedikit berbisik.


Kedua bola mata Mayang membulat, mendengar apa yang di ucapkan oleh Abangnya barusan.


"Serius?"


"Iya, kamu lihat sendiri kan? Perutnya sudah sebesar itu. Bayi yang ada di dalam kandungan perempuan tadi, itu anaknya Dr. Damas."


"Ya ampun Abang. Terus perempuan pelayan tadi itu juga kenal sama Kak Selly, mereka tadi terlihat akrab sekali," ujar Mayang seakan tak percaya.

__ADS_1


"Selly?"


"Iya, jadi sebenarnya aku nyuruh Abang ke sini itu, biar Abang bisa ketemu sama Kak Selly!"


"Terus?"


"Ya... terus sekarang Kak Selly sama temannya yang sama-sama mau nikah itu lagi ada di ruang desainer. Pelayan tadi juga yang membantu Kak Selly buat milih gaun," ucap Mayang.


"Ya ampun, kok jadi kayak sinetron ya. Sang wanita yang dihamili, malah membantu persiapan pernikahan wanita kedua dari kekasihnya sendiri," gumam Andre.


"Abang ngomong apa sih!" protes Mayang tak mengerti.


Mereka berdua pun sejenak terdiam dan berpikir. "Apa aku harus mengungkapkan semuanya sekarang kepada Selly?" batin Andre terus berpikir.


"Eh, Abang, masalah Dr. Damas itu jangan dulu bilang ke Kak Selly, biar aku yang ngumpulin dulu semua buktinya. Aku juga gak bisa kalau langsung ngomong begitu saja sama Kak Selly, yang ada nanti Kak Selly bisa berpikiran yang tidak-tidak," ujar Mayang sambil terus memperhatikan beberapa tuksedo yang tergantung di hanger dan terpajang di beberapa patung.


"Hm, benar juga. Baiklah, kuharap sebelum pernikahannya resmi di gelar semuanya sudah terbongkar. Kasihan Selly kalau sampai harus menikah dengan dokter itu."


Mayang sedikit tersenyum mendengar ucapan Abangnya itu. "Ehem .... kalo aku sendiri sih, selain kasihan sama Kak Selly, aku lebih kasihan lagi sama Abangku yang malang ini, masa iya harus gagal lagi dalam urusan cintanya," ujar Mayang terkekeh.


"Kau ini!" Andre mengacak pucuk kepala Mayang dengan gemas. Mayang hanya bisa mencebikkan bibirnya, sambil mengibaskan tangan Abangnya itu dari kepalanya.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa beri dukungan kepada author berupa like dan komen ya. Karena 1 komentar dari kalian itu sangat berarti banget buat author..


Pokoknya author sayang kalian..


Buat teman-teman yang mau berteman dengan author kalian bisa follow instagram author yaitu : @dela.delia25


Sarangheyo... sampai bertemu di chapter selanjutnya ya...


Berikan komentar terbaik kalian untuk novel author ini. Semakin panjang komentar semakin bagus juga ya teman-teman.


Love you semua para readers ku sayang hehe❤️

__ADS_1


__ADS_2