Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 32


__ADS_3

Sore itu, suasana pantai begitu indah dan sejuk, di tambah semilir angin pantai yang membuat hati terasa tenang. Seorang wanita dengan balutan dres hitam bunga-bunga, dan rambut yang dikepang dengan gaya 90-an, terlihat sedang sibuk mempersiapkan dekorasi indah untuk acara ulang tahunnya.


"Abang lihatlah, bagus tidak?" tanya Mayang begitu melihat Andre yang baru datang ke taman belakang rumah sambil membawa satu kotak kue ulang tahun yang ukurannya cukup besar.


"Hm... bagus, pintar juga kamu mendekor seperti ini," ujar Andre sambil mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling.


Di sana hanya terdapat satu meja bundar dengan tiga kursi dan juga satu meja persegi panjang untuk menyimpan barang-barang hiasan dan sebagian makanan. Semua itu tampak begitu indah karena sudah Mayang hias dengan nuansa putih dan biru. Melambangkan air dan langit.


"Ayang, mau kado apa dari Abang?" tanya Andre sambil sibuk membuka kotak kue itu.


"Em... aku mau hadiah yang tak pernah Abang kasih sebelumnya?" ujar Mayang tersenyum penuh maksud.


Andre mengernyit heran, lalu ia menolehkan kepalanya ke arah Mayang. "Apa? ... Motor? Mobil?"


"Bukan... bukan barang seperti itu," ujar Mayang.


"Lalu apa kalau bukan barang."


"Itu loh... yang menggemaskan, hidup, terus lucu dan bikin kangen." Mayang berbicara dengan wajahnya yang terlihat begitu menggemaskan.


Andre pun berjalan mendekati Mayang, lalu mencubit pipi adik kesayangannya itu. "Apa... boneka?"


"Ish bukan Abang!" Mayang menepiskan tangan Andre dari wajahnya.


"Ya terus apa! Kamu ini gak jelas sekali."


"Sini aku bisik-in." Mayang menjentikkan jarinya, memberi kode agar Andre lebih mendekatkan wajahnya. Andre pun menurut.


"Aku... ingin bayi," bisiknya. Sontak membuat Andre membulatkan kedua matanya.


"Astagfirullah Mayang... kamu ini masih kuliah, masa mau bayi!" Andre begitu tak menyangka dengan permintaan adiknya itu yang begitu mengejutkan.


"Ish... jangan salah paham dulu Abang! Maksud aku itu ... aku mau bayi, ponakan Bang," ujarnya.


"Ponakan?" Andre mengernyit heran. Mayang pun mengangguk semangat.


"Iya, ponakan dari Abang," lanjut Mayang tersenyum penuh maksud, sambil menggerak-gerakkan alisnya naik turun.


"Apa sih? Abang gak ngerti. Keponakan apa coba."


"Ish... Abang ini." Mayang begitu geram.  "Aku tuh mau ponakan dari Abang. Makanya Abang cepetan nikah, umur udah tua juga! Cari istri Bang, terus kalo udah ada istri, Abang buat-in ponakan yang lucu-lucu buat aku," ujarnya sambil membayangkan bayi-bayi lucu yang menggemaskan.


"Kamu ini ada-ada aja! Minta hadiah yang aneh-aneh." Andre menggelengkan kepalanya.


"Benar yang dikatakan adikmu itu," seloroh Nenek dari belakang sambil membawa tiga piring kecil di tangannya. "Andre... usia kamu itu sudah 27 tahun, sudah waktunya kamu untuk menikah," lanjut Nenek sambil menyimpan piring itu di atas meja.


"Tuh... Nenek aja bilang gitu," timpal Mayang.


"Kata Mayang, kamu lagi suka sama seseorang ya?" tanya Nenek mendekati Andre.


Andre pun mengalihkan pandangannya ke arah Mayang, dan menatapnya dengan tatapan tajam. Sedangkan Mayang hanya membuang wajah ke sembarang arah sambil tersenyum kikuk.


"Gimana, udah ada kemajuan belum?" tanya Nenek lagi.


Andre hanya tersenyum kaku sambil memegang tengkuk kepalanya. "Emh...."


"Udah Nek, udah ada kemajuan ... tapi Abangnya masih malu-malu buat ngejar," timpal Mayang.


"Kamu, kalau udah ada kesempatan jangan di sia-sia-in. Nenek doakan semoga secepatnya kamu bisa bertemu sama jodoh kamu ya. Nenek juga pengen punya cucu mantu dan cicit yang lucu-lucu dari kamu Ndre," ujar Nenek tersenyum.

__ADS_1


"He he, iya Nek." Andre semakin merasa malu akan perkataan Neneknya itu, bahkan wajahnya sudah memerah menahan malu, sambil sekelebat bayangan wajah seorang wanita terlintas di pikirannya.


"Semoga Nek, semoga do'a Nenek dikabulkan," batin Andre. "Harus kenceng nih aamiin-nya."


***


Sementara itu Selly baru saja sampai di vila, ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa empuk di ruang tengah. Sejenak ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Rumah sebesar ini, tapi yang tinggal cuma aku sendiri?" gumam Selly. Ada sedikit hawa menakutkan yang ia rasakan, karena sebelumnya jika Selly menginap di vila ini, ia pasti selalu bersama orang tuanya, atau seperti waktu itu, bersama kedua sahabatnya Merry dan Fira. Intinya sebelumnya ia tak pernah tinggal di vila itu sendirian. Tapi kali ini, ia terpaksa harus tinggal di vila itu sendirian, meskipun agak menautkan.


Selly pun segera membawa kopernya ke lantai atas, memasuki kamar yang biasa ia tempati.


"Hm... semoga, setelah beberapa hari aku di sini, ibu sama bapak bisa lebih ngertiin aku lagi," gumamnya. Selly pun segera merapikan baju dan perlengkapan yang ada di dalam kopernya itu.


^


Malam harinya, Mayang, Andre dan Nenek sedang asyik merayakan ulang tahun si cantik yang menyebalkan itu, Mayang.


"Happy birthday, happy birthday ... happy bairthday to you...."


Mayang segera memotong kue itu dan menyuapi Nenek juga Abangnya bergantian.


"Selamat ulang tahun cucu Nenek yang paling cantik, semoga kamu tumbuh menjadi wanita yang kuat lebih dewasa dan bermanfaat untuk orang banyak." Sang Nenek memberikan kecupan singkat di kening Mayang.


"Ah, adik Abang ini ternyata udah gede aja, selamat ya Ayang, semoga kamu makin rajin belajarnya, jadi anak yang Solehah, dan semoga cita-citanya bisa tergapai. Terus... mendapat umur yang berkah." Andre pun membenamkan ciumannya di puncak kepala adik kesayangannya itu.


Andre dan Nenek masih asyik menikmati kue dan makanan lainnya sambil mengingat-ingat kembali masa kecil mereka dulu.


Sedangkan Mayang ia masih sibuk membuat bingkisan terima kasih. Meskipun tak ada yang di undang, tapi sedari dulu Mayang selalu membagikan snack untuk orang-orang yang ada di sekitar rumahnya, ke anak-anak kecil dan para tetangga.


Tak berapa lam, suara seorang lelaki terdengar memanggil-manggil Mayang. Mayang yang berada di taman belakang segera berlalu menuju ruang depan dan membukakan pintu rumahnya itu.


"Eh, Paman udah datang aja. Ya udah masuk dulu Paman," ajak Mayang, membawa Dori ikut bersamanya ke taman belakang menemui Nenek dan Andre.


"Loh Paman Dori, apa kabar Paman," tanya Andre begitu melihat kehadiran Dori di belakang Mayang.


Mereka pun berbincang-bincang terlebih dahulu sambil menikmati potongan kue ulang tahun yang di siapkan sang Nenek.


"Waduh Mayang ini, lagi-lagi jadi repot-in Paman."


"Udah, gak apa-apa, saya juga senang bisa membantu," ujar Dori.


Mayang meminta Pak Dori untuk membagikan bingkisan ulang tahun yang berisi kue dan snack serta minuman untuk para tetangga dan anak-anak yang ada di sekitar rumahnya.


"Mayang, Mayang, kamu ini kebiasaan sekali merepotkan Paman," ujar Andre sambil menggelengkan kepalanya.


"Pamannya juga mau kok, lagian Paman Dori kan baik." Mayang masih sibuk memasukkan bingkisan itu ke dalam kardus besar.


"Maaf ya, lagi-lagi cucu saya sering merepotkan kamu kalo di sini," ujar Nenek.


"Iya gak apa-apa, lagi pula kalian semua sudah saya anggap seperti keluarga sendiri."


"Paman, tamu yang di vila ada berapa orang?" tanya Mayang.


"Cuma satu orang," jawab Dori.


Andre yang penasaran pun ikut bertanya. "Lagi ada yang sewa ya?"


"Iya, tapi bukan sewa sih, soalnya yang datang anak pemilik vila," jawab Dori.

__ADS_1


"Oh...." Andre menganggukkan kepalanya.


"Iya, dia yang waktu itu pernah rame-rame ke sini sama teman-temanya, kamu juga pasti kenal," sambung Dori kepada Andre.


"Siapa?" tanya Andre mengernyit heran.


"Em... namanya Non ...."


"Paman ini udah selesai," seloroh Mayang sambil menggusur kardus besar yang berisi snack itu kepada Dori.


Dori yang lupa akan nama Selly, ia hanya bisa meringis. "Duh lupa namanya, pokonya Non cantik, anaknya Pak Setyono."


Andre pun hanya mengangguk-angguk, sebenarnya ia tak tahu siapa orang yang di maksud oleh Paman Dori. Dori pun akhirnya pamit untuk mengantarkan snack-snack itu ke tetangga.


***


Setelah selesai menghabiskan makanannya di sebuah restoran pesisir pantai. Selly segera pulang ke vila karena jam sudah menunjukkan pukul 20.20 malam.


Jalanan di pantai masih cukup ramai, indahnya lampu-lampu kecil yang menghias pohon kelapa di sepanjang jalan, membuat suasana hatinya sedikit terasa lebih menyenangkan.


Sesampainya di vila ternyata sudah ada Pak Dori yang berdiri di depan pintu, sambil membawa tiga bingkisan di tangannya.


"Pak Dori," panggil Selly begitu ia menaiki teras. Pak Dori langsung menoleh ke belakang.


"Eh Non, kira-in ada di dalam, ternyata ada di luar ya."


"Iya, abis nyari makan. Ada apa Pak?"


"Oh, iya ini ... ada bingkisan dari Neng Mayang, dia abis ulang tahun," ujar Pak Dori.


Selly pun menerima bingkisan itu dengan senang hati. "Terima kasih Pak."


"Iya, kalau begitu saya pamit. Masih mau nganter dua bingkisan lagi," ujarnya. Selly pun mengiyakannya.


Lalu segera masuk ke dalam rumah, dan langsung naik menuju kamarnya.


"Mayang?" gumam Selly begitu melihat kartu ucapan yang ada di dalam bingkisan itu. Selly pun tersenyum saat mengingat nama Mayang.


"Apa kabarnya ya si cantik Mayang itu? Udah lama juga gak berkabar," gumam Selly.


"Orang ini pasti baik sekali. Ulang tahun pake acara bagi-bagi bingkisan seperti ini segala." Selly masih mengira bahwa orang yang bernama Mayang itu adalah orang lain yang tak ia kenal, bukan Mayang adiknya Andre.


Tiba-tiba dalam keheningannya itu, ada suara getar ponsel dari dalam tasnya. Selly pun segera meraih benda pipih yang terselip di dalam tasnya itu.


Dilihatnya satu pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Dengan pesan yang berisi : [Bagaimana liburannya? Apa kau kira liburanmu akan menyenangkan? Bersiaplah untuk ke tidak tenang-an yang akan kamu dapatkan.]


"Siapa ini?" Selly pun mencoba menelepon nomor tersebut tapi ternyata tidak aktif.


"Ibu? atau Bapak? tapi kalau mereka, tidak mungkin mengirim pesan dengan bahasa seperti ini? Atau teman-teman kerjaku?" gumamnya.


Tak ingin peduli akan hal itu, Selly pun memutuskan untuk pergi membersihkan tubuhnya sebelum ia beranjak tidur.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2