Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Rencana Mayang


__ADS_3

Sore itu sepulang dari kampus Mayang sengaja mampir terlebih dahulu ke rumah sakit dimana tempat Selly bekerja. Ia ke sana bukan karena ingin menemui pasien sakit ataupun bertemu Selly, tapi ia ke sana hanya sekedar melihat jadwal praktik dokter untuk esok hari.


"Hm ... pas sekali, ternyata besok dia masih ada jadwal. Dan besok Abangku libur. Yes! aku harus memanfaatkan keadaan ini," gumamnya tersenyum penuh kemenangan, seakan memikirkan sesuatu.


Mayang pun segera berlalu dan berniat untuk keluar dari rumah sakit ini, namun ketika ia berjalan di lorong, ia tak sengaja melihat seorang wanita hamil yang tengah menangis sendirian.


Mayang pun berniat untuk tak memedulikannya, namun hatinya seakan menolak, perasaannya yang tak bisa di ajak untuk acuh. Akhirnya ia pun menghampiri wanita berambut pendek itu.


"Hai Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya Mayang, kepada wanita yang tengah duduk terkulai lemas seakan tak bertenaga, bahkan wajahnya pun terlihat begitu pucat. Wanita itu sepertinya hampir seumuran dengannya.


"Nona," panggil Mayang kembali, sambil memegang pelan pundak wanita itu.


Wanita itu pun mendongakkan kepalanya melihat ke arah Mayang. Lalu ia pun mencoba tersenyum dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


"Kau sendirian Nona?" tanya Mayang. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. Tak bersuara sama sekali.


Namun, tiba-tiba seorang wanita berkerudung biru yang seumuran juga dengannya datang menghampiri. Dengan begitu tergesa-gesa dan terlihat seakan penuh emosi.


"Cepat kita pulang!" ucap Wanita yang memakai kerudung biru, dengan nada yang penuh emosi. Mayang yang melihat ia hanya mengernyit heran, sambil sedikit memundurkan tubuhnya menjauhi wanita yang masih terduduk lemas itu.


Dan akhirnya wanita berambut pendek itu pun pergi mengikuti perintah dari wanita yang berkerudung biru itu. Setelah kedua wanita itu pergi menjauh dan sudah tak terlihat lagi. Tiba-tiba seorang lelaki yang tak lain ialah Damas, ia berjalan tergesa-gesa, dan sempat berhenti tepat di dekat Mayang.


"Maaf Nona, apa tadi kau melihat wanita berbaju hitam dengan rambut pendek, di sekitar sini ?" tanya Damas seolah cemas.


Mayang pun menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, tapi tadi sudah pergi bersama seorang wanita," jawab Mayang.


Wajah Damas seketika terlihat begitu pucat, entah sedang sakit atau apa Mayang tak mengetahuinya dan tak bisa menduga-duga.


"Baiklah, terima kasih." Damas berbalik dan berjalan menyusuri long dengan langkahnya yang gontai.


"Apa hubungannya wanita tadi dengan dokter Damas? ... Hm, patut diselidiki." Mayang pun segera berlalu pergi dari rumah sakit itu.


***


Keesokan harinya, tepat pukul 13.00 siang, Fira tengah mempersiapkan dirinya untuk pergi ke acara pernikahan Reza dan Raina, yang tepat akan dilaksanakan hari itu.


"Sayang, kau yakin mau pergi?" tanya Bara yang seakan ragu mengajak istrinya itu untuk bepergian, apalagi sejak tadi pagi Fira selalu merasakan sakit di bagian perut bawahnya.


"Tidak Mas, kamu gak perlu khawatir," ucap Fira yang masih sibuk memilih baju di lemari untuk dipakainya nanti.


"Tapi sayang, bukankah sedari pagi kamu merasakan mulas?"


Fira pun berbalik menghadap Bara yang tengah duduk di tepi ranjang. "Tidak apa-apa, mungkin tadi itu hanya sakit perut biasa, lagi pula akhir-akhir ini aku sering makan yang pedas-pedas."


"Apa gak sebaiknya kamu tinggal di rumah saja, biar aku yang mendatangi acara pernikahan Reza," ujar Bara memberi solusi.


Seketika Fira menajamkan kedua matanya, perlahan ia mendekati Bara, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar dan dengan jarak yang begitu dekat.


"Modus! Bilang saja kau tak ingin aku pergi ke sana! biar apa? Biar disangka kamu masih single dan bisa dikerumuni cewek-cewek cantik di luaran sana hah!" seru Fira, seketika kembali berdiri sambil melipat kedua tangannya di atas perut, dengan bibir mengerucut dan menggerutu tak jelas.


Bara menggelengkan kepalanya pelan. "Aih... salah paham lagi."


Bara pun berdiri berhadapan dengan Fira, kedua tangannya memegang kedua bahu istrinya itu. "Bukan seperti itu, aku khawatir kalau nanti di sana tiba-tiba kamu mau lahiran gimana?"

__ADS_1


Fira berdecak. "Ya tidak lah, anak-anakku kan pengertian sekali, mana mungkin lahiran di sana, iya kan sayang?" ucap Fira sambil menunduk mengusap perutnya.


"lagi pula hari perkiraan lahir kan 1 minggu lagi, jadi sudahlah tidak usah cemas." Fira pun kembali melanjutkan aktivitasnya untuk segera bersiap dan tampil secantik mungkin.


***


Sementara itu di pinggir jalan, tepatnya di depan kost-an Selly, Mayang dan Andre sedang berdiam di dalam mobil menunggu seseorang.


"Ayang, kapan temanmu itu akan datang?" tanya Andre dengan kesal, karena sejak tadi pagi Mayang tak henti-hentinya membuat dirinya kesal. Apalagi Mayang menyuruh Andre untuk berpakaian serapi dan seformal mungkin.


"Aduh, tunggu dulu sebentar lagi juga akan datang kok," ucap Mayang. "Bang, keluar dulu yuk sebentar, kita tunggu di warung depan itu," tunjuk Mayang ke arah warung kopi yang berada tepat di samping gedung kost Selly.


Andre mendengus kesal. "Apalagi ini ya Allah," ujarnya begitu kesal, namun tetap menuruti kemauan adiknya itu.


Meraka berdua pun kini sudah duduk di kursi kayu yang panjang, yang memang di sediakan oleh pemilik warung. Mayang pun memesan dua gelas es teh kepada tukang warung itu.


Selagi menikmati es teh yang segar, Mayang sedikit cemas, apakah rencananya kali ini akan berhasil atau tidak, ia sedari tadi tak henti-hentinya terus mengawasi siapa saja yang keluar masuk dari gedung kost di sampingnya itu.


"Apa Kak Selly gak jadi keluar ya? ... Ah tidak mungkin, jelas sekali waktu itu aku melihat di kertas undangannya yang Kak Selly pegang, jadwal pernikahannya itu hari ini," batin Mayang harap-harap cemas.


"Yang cepat telepon lagi, jadi gak nih. Teman kamu ini ngerepotin banget sih!" gerutu Andre.


Mayang pun kembali berpura-pura menelepon temannya, padahal aslinya ia tidak menelepon siapa-siapa, hanya ngobrol sendiri akting di depan Andre.


Tak lama kemudian, seorang wanita muncul dari balik gerbang gedung kost itu. Wanita anggun yang memakai gaun panjang berwarna tosca dengan hijab phasmina yang berwarna senada membuat tampilan wanita itu begitu anggun dan cantik. Wanita itu tak lain ialah Selly, orang yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh Mayang sedari tadi.


"Kak Selly," teriak Mayang memanggil.


Mayang seketika menarik lengan Andre dan membawanya untuk menghampiri Selly, bahkan teh manis yang tadi sedang dinikmatinya pun tertinggal begitu saja di atas kursi panjang yang ia duduki tadi.


"Mayang, Pak dokter," ucap Selly sambil tersenyum heran.


"Oh hai, Selly," sapa Andre, ia begitu gugup sekaligus takjub melihat penampilan wanita yang kini ada di hadapannya. Selly terlihat jauh begitu cantik dari biasanya. Membuat kedua mata Andre tak berkedip saking terpesonanya.


"Hai juga," balas Selly. "Oh ya, kalian kenapa bisa ada di sini?"


"Hah? Oh itu ...."


Belum sempat Andre menjawab, Mayang terlebih dahulu menyangkalnya. "Kita mau... pergi ke acara ulang tahun temanku," jawab Mayang berbohong.


"Oh ya, Kak Selly mau ke mana? Rapi banget," tanyanya.


"Oh, ini ... mau ke acara pernikahan dosenku."


"Sendirian aja?"


"Hah? Iya, tadinya mau bareng sama Damas, tapi dia ada jadwal praktik, jadi batal."


"Di mana acaranya?" tanya Mayang seolah kepo, padahal ia sudah tahu acara maupun tempatnya sejak melihat kartu undangan waktu itu. Bahkan pertemuan kali ini saja sudah ia rencanakan dari jauh-jauh hari.


Selly pun memberitahu alamat yang akan ditujunya itu.


"Kalau begitu kita bareng saja, kebetulan tempat ulang tahun temanku juga searah kok," ujar Mayang penuh semangat.

__ADS_1


"Ta-tapi, aku sudah memesan taksi online," jawab Selly.


"Cancel aja, drivernya juga masih jauh kan?" ujar Mayang. Selly pun segera mengecek kembali layanan aplikasi taksi online yang sempat ia booking tadi, dan ternyata drivernya masih belum jalan. Akhirnya Selly pun memutuskan untuk ikut ajakan Mayang.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Selly sejenak melirik ke arah Andre yang sedari tadi berdiam memperhatikannya.


"Tidak, ayo." Mayang menarik lengan Selly dan Andre dengan begitu semangat.


"Lalu temanmu bagaimana?" tanya Andre.


"Sudah lupakan saja, nanti dia akan menyusul," jawan Mayang cepat.


Lalu mereka pun masuk ke dalam mobil. Dan seperti biasanya, sesuai rencananya Mayang menyuruh Selly untuk duduk di depan bersama Andre, sementara ia duduk di kursi belakang.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba Mayang terpikirkan sesuatu. "Astagfirullah, Abang ... Mayang lupa!" ucap Mayang seolah panik, padahal ia sedang berakting kembali.


"Apa?" tanya Andre, seolah ikut panik juga, Andre menepikan mobilnya ke bahu jalan.


"Apa sih Yang?" tanya Andre menoleh ke belakang. Begitu pun dengan Selly yang ikut menoleh ke belakang.


"Kenapa May," tanya Selly.


"Aku lupa belum beli kadonya!" ucap Mayang, dengan tampangnya yang tak berdosa.


Andre pun berdecak kesal. Lalu ia pun kembali melajukan mobilnya. Sementara Selly hanya terkekeh melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan Andre kepada Mayang.


"Abang lihatlah, di depan ada toko boneka, aku akan membeli kado di sana saja," ucap Mayang sambil menunjuk ke arah toko boneka yang ada di jajaran depan pinggir jalan.


Andre pun menghentikan mobilnya tepat di depan toko boneka itu.


"Abang sama Kak Selly duluan aja, aku nanti akan pergi bersama temanku yang tadi," ucap Mayang.


"Loh, terus?" Andre seakan bingung.


"Terusannya, ya udah Abang temenin Kak Selly aja ke acara pernikahan itu, nanti aku telepon Abang kalo udah sampe di acara ulang tahun temanku."


"Tapi Ay ...." Andre tak melanjutkan ucapannya karena lagi-lagi Mayang memotongnya.


"Kak Selly titip Abang aku ya, kalian hati-hati ya, bye." Mayang keluar dari mobil begitu saja. Dan terlihat ia buru-buru masuk ke toko boneka itu. "Yes, berhasil!" ucapnya penuh kemenangan.


Sementara kini keadaan di dalam mobil terasa begitu canggung. Andre dan Selly sejenak bertatapan dan sama-sama diam tak berkutik, tanpa suara sedikitpun.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa kasih like nya ya... 😊


Baca juga karya terbaru author yg berjudul Bos-ku Suamiku ( Ini revisi judul dari My Annoying Wife) ya.

__ADS_1


__ADS_2