
"Sayang kamu belikan makanan di luar dong, Tiara sedang memasak ya aku juga tidak terlalu pintar memasak. Kamu tahu kan kalau pembantu kita sedang cuti," ucap Lisa sambil berjalan mendekati Evans dan Hans.
"Kenapa tidak pesan online saja sayang, kan kamu bisa memesannya melalui handphone ku," kata Evans.
"Tidak bisa sayang, restoran nya tidak buka online, yang biasanya kita makan di luar itu loh. Aku suka makanan di situ, kamu belikan untuk aku dan yang lainnya," ucap Lisa.
"Ya sudah aku pergi sekarang, kamu tunggu saja di sini sebentar."
"Ajak Hans, dia pasti juga ingin membeli makanan untuknya dan istrinya," ucap Lisa.
"Dasar manusia merepotkan. Ya sudah ayo cepat." Evans berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sok sekali dia, dia pikir dia sangat penting." Hans berlari mengejar Evans.
Mereka berdua pergi ke restoran itu naik motor milik Evans, karena restoran itu tidak jauh Evans memutuskan naik motor sekaligus ingin membuat Hans kapok.
__ADS_1
"Kau jangan ngebut-ngebut, aku tidak pernah naik motor," ucap Hans dengan wajah yang sudah ketakutan.
"Hahaha apa urusannya denganku, mau kau ketakutan atau tidak, itu bukan urusanku." Evans terus memacu motornya dengan sangat cepat.
Tak lama mereka berdua sampai di restoran itu, Hans turun dari atas motor dengan wajah yang pucat, langkah kakinya lihat sempoyongan.
"Begitu saja takut, dasar sangat lemah sekali."
"Masalahnya aku tidak pernah naik motor, motor mu sangat butut sekali," ucap Hans.
Begitu juga dengan Hans, ia tidak mau Evans memilih makanan untuknya. Walaupun makanan yang ia nanti tidak enak, itu lebih baik daripada Evans yang memilihnya.
Setelah selesai membeli makanan itu, mereka berdua langsung kembali ke rumah, Evans masih cukup ugal-ugalan membawa motor itu, ia akan terus membuat Hans ketakutan. Melihat wajah Hans yang ketakutan, membuat Evans sangat senang.
"Kau sangat gila, kau ingin membuatku mati," ucap Hans.
__ADS_1
Tiba tiba tanpa di duga Evans menghentikan laju sepeda motornya, hal itu semakin membuat Hans marah pada Evans. Bisa-bisanya akan berhenti mendadak seperti ini, padahal tidak ada siapa-siapa dan suasana juga sangat sepi sekali.
"Kenapa kau berhenti, kau ingin membunuhku." Hans turun dari atas motor itu.
"Tidak bukan begitu, sepertinya ban motor kita bocor," ucap Evans yang ikut turun dari atas motor.
"Iya itu ban belakang motor bocor, telepon orang untuk menjemput kita, ini sudah malam tidak enak di sini," kata Hans.
"Masalahnya aku tidak membawa handphone, handphone ada bersama dengan istriku tadi. Kaulah telepon istrimu, nanti dia suruh sampaikan pada sopir di rumah untuk menyebut kita."
"Kalau aku mau bawa handphone, sudah pasti aku akan langsung menghubunginya. Masalahnya aku juga tidak membawa handphone, lalu sekarang bagaimana." Hans menaikkan satu alisnya, dari awal ia tidak setuju Evans membawa motor butut ini.
"Malah sudah malam lagi, dan sudah tidak ada orang yang lewat sini. Aku juga tidak kenal dengan orang sini, jalan satu-satunya kita hanya bisa mendorong motor di sampai ke rumah. Tidak jauh kok paling sekitar 3 sampai 4 kilo."
"Itu sangat jauh Evans, kan sudah kukatakan tadi jangan membawa motor. Kau ngeyel dan sekarang rasakan lah yang terjadi, aku tidak sudah sudi mendorong motor butut mu ini," ucap Hans.
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak mau aku tidak mau memaksamu." Evans mendorong motornya pergi menjauhi Hans.