Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 17


__ADS_3

Mereka berdua pun segera menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat ketegangan di wajah Damas, ketika melihat siapa sosok yang memanggil namanya itu.


"Selly," gumam Damas.


"Kamu ... sedang apa di sini?" tanya Selly menghampiri.


Damas semakin merasa gugup. Dan bingung harus menjawab apa. "A-aku sedang ...." Damas kebingungan untuk mencari alasan.


"Dia, kemari ingin melihat-lihat jas pria," jawab Dinda, berusaha mencairkan suasana.


"Oh, begitu, apa kau ingin mengganti tuksedo hitam yang tadi?" tanya Selly sambil celingukan melihat ruang jas, lewat kaca besar yang memisahkan ruangan itu.


"Hah, tidak aku tetap suka yang tadi. Em... Lebih baik kita pulang sekarang saja," ajak Damas, semakin ketakutan.


"Hm... baiklah."


"Oh ya, Nona Dinda, ini tasnya aku pake, bagus," ujar Selly sambil sejenak mengelus pelan lengan Dinda.


Dinda semakin tak kuasa menahan sesak di dadanya, ia hanya bisa mengangguk sambil tersenyum getir.


Damas, seakan tak percaya ternyata Selly mengenal Dinda. "Jadi, orang yang telah menolong Dinda waktu itu, adalah Selly?" batinnya.


"Kalian saling mengenal?" tanya Damas. Selly mengangguk tersenyum.


"Iya, ini wanita yang ngasih aku kado spesial ini," ujar Selly tersenyum sumringah. "Oh ya Nona Dinda, perkenalkan ini, Damas------calon suami saya," sambung Selly memperkenalkan.


Tanpa basa-basi lagi, Damas langsung menyeret Sely untuk segera keluar dari butique itu, dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil lalu segera menancapkan pedal gas, melaju pulang.


Kini air mata yang sedari tadi Dinda tahan, sudah tak bisa dibendung lagi. Ia lagsung menumpahkan air matanya di situ juga.


Tiba-tiba dari ruang jas itu, keluar seorang pria, yang tak lain ialah Dion. Dion sedari tadi sebenarnya ada di ruangan itu, mereka tak melihatnya karena terhalang oleh patung-patung yang ada di sana. Tak sedikit pula Dion mendengar obrolan Damas dan Dinda tadi. Hanya saja, Dion masih bingung dengan apa yang terjadi di antara mereka.


Dan ketika Dion melangkahkan kakinya keluar dari ruang itu, ia sudah mendapati Dinda yang tengah duduk menenggelamkan wajahnya di anatara kedua lutunya, di atas lantai sambil menangis sesenggukan.


Dion hendak bertanya akan keadaan wanita itu, namun Merry terlebih dahulu muncul. Dan melarang Dion untuk mengasihinya. Lalu Merry pun menyuruh Dion untuk menghampirinya dengan melambai-lambaikan tangannya.

__ADS_1


"Kenapa pelayan itu?" tanya Merry saat Dion sudah ada di hadapannya. Dion hanya menggelengkan kepalanya. Lalu mengajak Merry untuk duduk di atas sofa bulat yang ada di ruang tunggu.


"Merry, aku tadi mendengar obrolan anatara Damas dan wanita itu," ujar Dion setengah berbisik. Merry mengernyitkan dahinya.


"obrolan apa?" Dion kemudian langsung menceritakan obrolan yang ia dengar, serta memberitahu juga ketika Selly datang di anatara mereka. Lalu baru menceritakan Dinda yang menangis secara tiba-tiba setelah kepergian Selly dan Damas.


"Wah, sepertinya ada yang tidak beres," gumam Merry, sambil terus menerawang, kira-kira hal apa yang terjadi di antara mereka.


***


Sinar mentari telah hilang ditelan gelapnya malam. Rembulan putih mulai muncul menerangi bumi malam. Butique pun sudah terlihat sepi, karena sejak 5 menit lalu, butique sudah tutup. Sebagian pegawai sudah pulang. Kini hanya ada Dinda dan sang pemilik butique yang ada di ruang tunggu lantai satu.


"Dinda, bukankah mulai malam ini kau tinggal di apartemen? Kenapa belum pulang?" tanya Jenny sang pemilik butique.


"Iya, sebentar lagi saya pulang Non," jawab Dinda. matanya menatap kosong ke sembarang arah. Pikirannya masih kalut sejak tadi siang, begitu pun dengan hatinya yang masih resah tak mendapat ketenangan.


"Dinda, sepertinya hari ini kamu kurang fit, sebaiknya kamu besok jangan dulu masuk kerja, gak tega saya lihat keadaan kamu," ujar Jenny. Dinda hanya mengangguk lemah, mengiyakan.


Kemudian Jenny pun mengajak Dinda untuk keluar, karena pintu butique yang mau ia kunci. Lalu Jenny pun pamit untuk pulang terlebih dahulu.


Ia kembali menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya yang ia peluk. Namun, tiba-tiba ... sebuah elusan Dinda rasakan di bagian pundaknya.


Sontak membuat ia mendongakkan kepalanya dan melihat ke sekitar untuk memastikan siapa yang mengelus bahunya itu.


"Gerry," ucap Dinda, begitu mengetahui Gerry yang sudah duduk di sampingnya, sambil mengembangkan senyum padanya.


"Udah nangisnya? Ayok aku antar pulang," ajak Gerry.


"Kamu, kenapa kamu ada di sini?" tanya Dinda heran.


"Mau jemput, terus nganter kamu pulang, udah malam, gak baik kamu pulang sendirian."


"Tapi ...." Tanpa pikir panjang Gerry langsung menarik lengan Dinda, dan menuntunnya untuk pergi ke sebuah warung kecil yang tak jauh dari sana. Ternyata Gerry menyimpan motornya tepat di warung itu.


Sebelum mereka pergi, Gerry terlebih dahulu membelikan dua buah roti dan satu botol air untuk Dinda. Barulah, setelah itu mereka pergi menuju apartemen Dinda.

__ADS_1


Dinda sempat kebingungan, kenapa Gerry bisa tahu gedung apartemennya itu. Ternyata, Gerry mengetahuinya sejak tadi pagi, saat ia hendak mengantarkan sarapan untuk Dinda, tapi ternyata Dinda pergi bersama Damas, makanya ia mengikuti ke mana mereka pergi.


Sesampainya di tempat parkir gedung apartemen itu, Dinda mengajak Gerry untuk mampir terlebih dahulu. Awalnya Gerry menolak, tapi pada akhirnya ia pun menerima ajakan Dinda.


"Duduklah," ujar Dinda mempersilakan Gerry untuk duduk di ruang tamu, begitu mereka sampai di apartemen.


Dinda pun berlenggang ke dapur untuk mengambilkan secangkir kopi untuk Gerry. Lalu kembali menghampiri sahabatnya itu.


"Minumlah." Dinda menaruh cangkir kopi itu di atas meja yang ada di depan mereka.


"Jadi ... dia yang menyewakan ini untukmu?" tanya Gerry memulai pembicaraan. Dinda pun menganggukkan kepalanya.


"Gerry."


"Hm ... kenapa?"


"Tadi ... aku bertemu dengan calon istri Damas," ujar Dinda sambil menundukkan kepalanya.


"Apa!" Gerry mengerutkan dahinya, seolah tak percaya. "Berani-beraninya dia memperkenalkan calonnya itu padamu!" sungut Gerry kesal.


"Tidak, kita bertemu karena tidak sengaja," jelas Dinda. Kini hatinya kembali terasa pilu, ketika mengingat pertemuan mereka tadi siang. Wajah ceria Selly saat memperkenalkan Damas sebagai calon suaminya masih terbayang-bayang di pikirannya. Bahkan ucapannya pun masih terngiang-ngiang di telinga.


"Apa kau tadi menangis karena hal itu?" tanya Gerry, menatap Dinda yang masih tertunduk lemah.


"Aku ... aku masih tak percaya, kalau wanita yang-----" Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya. Gerry memotongnya terlebih dahulu.


"Wanita itu ... wanita yang menolongmu waktu itu kan?" tanya Gerry. Sontak Dinda pun mengangkat kepalanya, dan menatap Gerry dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Hah? ... Bagaimana kau tahu?” Dinda melongo seakan tak  percaya.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2