Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Lebih mesra


__ADS_3

Karena memang jaraknya sangat jauh mereka berdua berhenti beberapa kali, cuaca yang panas membuat keduanya cepat merasa sangat lelah, Hans maupun Tiara sama sama sudah tidak bersemangat untuk jalan, terutama Tiara yang sudah sangat lemas sekali.


"Mas tunggu sebentar! Aku tidak kuat berjalan lagi berikan aku waktu istirahat sejenak," ucap Tiara sambil duduk di atas lantai.


"Jangan seperti ini! Kamu membuatku malu. Ayo cepat jalan sebentar lagi kita sampai, nanti setelah sampai kita langsung mandi jadi segar kembali," kata Hans sambil menarik tangan Tiara.


"Aku tidak kuat mas." Tiara masih tidak beranjak dari tempatnya.


Hans membuang nafas dengan kasar, mau meninggalkan wanita ini hatinya tidak tega. Ia berjongkok di depan Tiara agar Tiara bisa naik ke atas punggungnya, seumur hidupnya ia tidak pernah seperti ini pada seorang wanita.


"Ayo cepat naik!!" Walaupun dengan sedikit emosi Hans rela punggungnya dinaiki oleh Tiara.


Tiara membuka matanya dengan lebar, apa yang dirinya lihat sekarang seperti mustahil dilakukan oleh Hans. Tapi inilah yang terjadi, Hans punggungnya memberikan punggungnya untuk dirinya yang sudah tidak percaya.


Segera Tiara naik ke atas punggung Hans, ia sangat bersemangat sekali kalau Hans melakukan hal ini. Sampai sekarang Tiara masih tidak menyangka Hans mau melakukan hal ini padanya.


"Kamu berat sekali!" Hans semakin terlihat kesal.


Tiara tidak peduli apa yang Hans katakan, ia merasa tidak berat. Hans hanya mengada-ngada saja, 46 kilonya tidak sebanding dengan beban yang sering Hans angkat.


"Wah punggung kamu kekar sekali," ucap Tiara.


"Jangan menggesekkan dada kecil mu ke punggung ku. Kamu pikir akan terasa, ini tidak terasa sama sekali," kata Hans.


"Ih kamu mau, dia bergoyang karena kamu banyak bergerak, padahal mah aku tidak melakukan apa apa. Dada kecil pun masih suka kamu pegang pegang," ucap Tiara.

__ADS_1


"Wah sudah berani kamu ya, awas sampai rumah nanti," kata Hans.


"Mas kamu kenapa dua tidur dengan dua istrimu lagi. Mereka berdua marah padaku, kata mereka aku mengambilmu dari mereka berdua, padahal aku tidak melakukannya kamu sendiri yang datang padaku," ucap Tiara.


"Aku yang datang padamu? Bukannya setiap malam kamu memelukku? Bagaimana aku bisa keluar kamar jika kamu memelukku dengan erat," ucap Hans.


"Hehehe kalau itu mah aku sangat suka. Tapi kamu juga membalasnya, terkadang sampai pagi," kata Tiara.


"Jangan peduli dengan apa yang mereka katakan, di rumah itu aku yang mempunyai kuasa dan kalian bertiga harus mengikuti apa yang aku lakukan," ucap Hans.


Sesampainya di rumah mereka berdua langsung berjalan menuju kamar, kedua istri Hans melihat bagaimana Hans menggendong Tiara masuk ke dalam rumah. Sudah pasti mereka berdua semakin marah pada Tiara, sebelumnya mereka berdua tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh Hans. Hanya Tiara yang mendapatkan perlakuan manis seperti ini, padahal mereka berdua menikah juga baru beberapa minggu.


"Dia benar-benar ingin mati." Ayu mengepalkan tangannya.


"Dia memang sedang bermain-main dengan kita, kita segera memberikannya pelajaran," ucap Siska.


"Mas kamu jadi mau aku masakin sate," tanya Tiara.


"Aku sudah menggendongmu dari jauh dan kamu masih bertanya lagi, sudah pasti jadilah!"


"Hehehe jangan marah-marah dong, oh iya kamu tidak bekerja?"


"Besok aku baru mulai bekerja kembali, kamu harus ikut untuk menyiapkan segala kebutuhan," ucap Hans.


"Oke.." Tiara malah sangat senang ikut dengan Hans, ia jadi tidak serumah dengan dua wanita yang sudah sangat membencinya.

__ADS_1


Setelah keduanya sudah merasa lebih baik mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi, mandi bersama juga sudah biasa bagi mereka berdua, malahan hampir setiap hari mereka berdua mandi bersama. Awalnya memang terasa geli untuk Tiara, setiap saat ia melihat junior sang suami yang berbeda beda bentuk nya. Terkadang terlihat menggemaskan, terkadang setengah bangun, dan yang paling ia takuti saat full bangun, bentuk nya seperti pentungan satpam, benar benar terlihat mengerikan untuk nya.


Hans menarik Tiara ke arahnya, sejak malam itu ia tidak pernah meminta nya lagi seperti nya hari ini mereka berdua harus memulainya kembali, walaupun Tiara masih takut Tiara pasrah Hans mulai menyentuh nya kembali, ia merasa harus menikmati apa ya ada. Kalau ia bisa melakukan itu, hatinya akan ikhlas memberikan pelayanan yang baik pada sang suami.


Di tempat lain Lisa dengan Evans sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, mereka berdua sudah berlibur lebih dari satu minggu lamanya. Sudah sangat cukup refreshing otak mereka, sekarang waktunya kembali pulang dan melanjutkan aktivitas seperti biasanya.


Sampai sekarang Evans belum mendapatkan kabar apapun dari Tiara, padahal menurut informasi yang didapatkan dari ayahnya pernikahan Tiara dengan calon suaminya sudah semakin dekat. Tetapi sampai sekarang yang belum tahu siapa calon suami Tiara, dan kapan mereka berdua akan menikah.


Sesuai dengan perjanjian Herman pada Hans, Herman tidak akan memberitahu pernikahan yang sebenarnya pada Hans. Agar semuanya aman terkendali ia sudah menyiapkan rencana khusus, tetapi rencana itu harus melalui persetujuan Hans dengan Tiara.


Sesampainya di rumah mereka, mereka berdua disambut oleh Diana dan suaminya, sampai sekarang mereka berdua masih menjadi parasit di rumah ini. Mau bagaimana lagi Lisa dengan Evans tidak tega mengusir mereka berdua dari rumah walaupun mereka berdua begitu menjengkelkan.


"Kalian sudah pulang," ucap Diana, semakin hari Diana semakin tertarik saja pada Evans, yang satu ini benar-benar selalu menggoda dirinya walaupun Evans melakukan hal apapun.


"Rumah amankan? Awas aja sampai ada yang hilang atau sesuatu yang rusak," ucap Lisa.


"Aman terkendali Lisa, kalian istirahatlah pasti kalian sangat lelah," ujar Rian.


Lisa dengan Evan pun berjalan masuk ke dalam kamar mereka, keduanya memang sangat lelah tetapi tidak ingin beristirahat, terutama Lisa yang sudah siap menerkam suaminya.


"Sayang kamu lelah tidak? Aku tadi melihat sesuatu yang memancing hasrat ku." Lisa duduk di atas pangkuan suaminya.


Evans sudah biasa mendapat perlakuan seperti ini oleh Lisa, dari awal mereka menikah Lisa memang tidak pernah berubah, Lisa tetap liar dan tergila gila dengan anu nya.


"Kamu lagi ingin," tanya Evans.

__ADS_1


"Iya aku lagi menginginkanmu sayang." Satu persatu tangan bisa melepaskan kancing baju yang Evans pakai. Mulainya lebih dulu bukan hal yang tabuh untuknya, malahan daripada Evans dirinya lebih sering memintanya.


"Aku siap hamil," ucap Lisa.


__ADS_2