Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - 8


__ADS_3

Keadaan di Mall malam itu cukuplah ramai. Setelah sibuk berkeliling untuk mencari kado terbaik untuk seseorang yang telah menolongnya. Akhirnya Dinda pun mendapatkan barang yang di rasa akan sangat cocok jika diberikan padanya nanti.


"Mas, menurutmu lebih bagus warna mocca atau salem?" tanya Dinda sambil memperlihatkan dua tas sling bag berukuran medium. Cocok untuk di pakai kerja maupun hang out.


"Terserah, keduanya juga bagus," jawab Damas.


"Hm, baiklah aku akan memesan warna yang mocca saja, eh, tapi warna yang salem juga bagus," gumamnya.


"Kau ambil saja keduanya, dan tolong ambilkan juga tas yang warna dark grey itu," ujar Damas menunjuk ke salah satu tas kerja berwarna dark grey. Dinda pun dengan senang hati memberikannya kepada Damas.


"Untuk siapa Mas?" tanya Dinda penasaran.


"Untuk tunanganku. Kamu ambil yang kamu mau dan untuk temanmu itu. Biar aku yang bayar semuanya," ujar Damas.


Entah kenapa tiba-tiba ada rasa sesak di dada ketika Damas mengucapkan kalimat tadi. Padahal Dinda sendiri seharusnya tahu dan sadar diri, kalau cinta Damas kini bukan seutuhnya milik dia seorang, tapi telah di bagi pula dengan wanita lain, yang akan segera dinikahi oleh Damas sebentar lagi.


Mereka berdua pun segera pergi ke kasir untuk cek out semua barang. Dan selesai berbelanja mereka mampir terlebih dahulu ke sebuah restoran, untuk mengisi perut mereka yang terasa lapar itu.


***


Andre baru saja sampai di apartemennya. Sepanjang perjalanan pulang hingga saat ini, pikirannya masih merasa tidak tenang akibat kejadian tadi sore di rumah sakit. Lebih tepatnya sekarang di kepalanya hanya terisi oleh satu nama, yang tak lain ialah Selly.


Hatinya begitu bimbang dan cemas.


"Astagfirullah, bagaimana ini. Apa aku harus menelepon Selly sekarang juga? ... Ah tidak-tidak, dia tidak akan percaya begitu saja dengan ucapanku. Apalagi kalau aku tidak punya bukti yang kuat akan perselingkuhan calon suaminya itu," gumam Andre.


Dari luar pintu kamar, terdengar Mayang yang berteriak-teriak memanggil namanya, menyuruhnya untuk segera keluar dan ikut makan malam bersama.


Andre pun mendudukkan tubuhnya tepat di atas kursi meja makan. Dengan tatapannya yang terlihat kosong menatap lurus ke depan.


Bahkan Mayang dan Neneknya bertanya pun ia tak menggubrisnya.


"Abang!"


"Abang!"


"Abang Andre!" teriak Mayang sambil melambaikan lima jari tangannya di hadapan wajah Andre. Membuat Andre terperanjat dan sadar dari lamunannya.


"Andre, kenapa kamu ini Nak. Sudah malam jangan melamun seperti itu. Ayo makan dulu," ujar Nek Yuni.

__ADS_1


Andre pun melihat ke arah piring makannya, yang ternyata sudah terisi nasi berserta sayur dan lauk pauknya, yang memang sedari tadi sudah Mayang siapkan.


"Abang bengong aja. Mikirin apa sih, kayak serius banget," ujar Mayang sambil melahap satu sendok nasi di tangannya.


"Hm, apa aku beri tahu adikku ya, akan masalah Selly. Dia kan jauh lebih dekat dengan Selly, kalau Mayang yang memberitahu, kemungkinan besar Selly akan mempercayainya," batin Andre.


"Abang Andre...." Mayang kembali menyadarkan Andre dari lamunannya.


"Hah? Iya kenapa Yang?" tanya Andre kepada Mayang.


"Kenapa Yang, kenapa Yang! Cepat habiskan makanannya, itu nasinya keburu mengembang kena kuah sayur!" gerutu Mayang, dan Andre pun dengan cepat kembali fokus untuk makan dan segera menghabiskannya.


***


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul, 22.00 malam. Mayang terlihat masih sibuk dengan laptopnya, karena masih harus menyelesaikan tugas kuliahnya.


"Ayang," panggil Andre mendudukkan tubuhnya di atas sofa di samping adiknya itu.


"Apa? Jangan menggangguku, deadline tugasku harus selesai besok," ujar Mayang tanpa menoleh.


"Yang, tadi Abang bertemu dengan Dr. Damas dan pacarnya," ujar Andre begitu saja.


"Mereka tadi, datang untuk memeriksa kandungan pacarnya. Lebih tepatnya memeriksa calon bayi mereka."


"Apa! Calon bayi?" Mayang menoleh, kedua mata Mayang terbelalak tak menyangka. Andre menganggukkan kepalanya dengan tatapan wajahnya yang begitu mendung.


"Gak mungkin lah Abang. Masa iya Kak Selly dan dokter itu sudah punya calon bayi. Apa tadi namanya, em... periksa kandungan itu, gak mungkin Kak Selly sudah hamil!" protes Mayang.


"Bukan Selly yang hamil, tapi pacarnya Dr. Damas yang hamil."


"Pacarnya dokter itu kan Kak Selly."


"Bukan! Dia punya wanita lain selain Selly," ujar Andre memasang wajah kesal, sambil berdecak.


"Apa! Wanita lain?" pekik Mayang, Andre hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil mencebikkan bibirnya.


"Wanita itu bilang, kalau Damas adalah calon ayah dari janin yang dikandungnya," sambung Andre, membuat Mayang semakin melongo mendengarnya. Mayang seakan tak bisa berkata apa-apa. Dirinya bagaikan di kutuk menjadi batu yang tak berkedip sedikit pun. Perasaan berdebar tiba-tiba merasuki hatinya.


"Abang, jangan bilang. Kalau dokter itu punya wanita lain selain Kak Selly."

__ADS_1


"Kan Abang sudah bilang tadi!"


"Astagfirullah Abang... benar-benar ini! Benar-benar." Mayang menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil berucap begitu heboh.


"Benar-benar apa sih!" gerutu Andre, yang heran melihat tingkah absurd adiknya itu.


"Terima kasih Ya Allah, alhamdulillah, alhamdulillah, hamba bersyukur yang sebesar-besarnya kepadamu Ya Allah," ujar Mayang sambil mengangkat kedua tangannya menengadah ke atas, sambil terus mengucapkan rasa syukur kepada Allah.


"Nih anak kesambet apa sih!" gerutu Andre.


"Abang, ini benar-benar di luar nalar. Benar-benar keajaiban," ucapnya heboh.


"Keajaiban apa sih! Gak jelas kamu tuh!"


"Abang ini itu sebuah keajaiban, dengan begini kemungkinan masih ada harapan 90% buat Abang dapetin kak Selly, karena 10%nya tak akan ada harapan lagi buat dokter itu," ujar Mayang. Andre hanya mengernyit heran, tak mengerti inti dari pembicaraan adiknya itu.


"Tenanglah Abang, aku akan membantu Abangku yang malang ini, untuk membuka kebusukan dokter itu kepada Kak Selly," ucap Mayang begitu semangat. "Hal pertama yang harus kita lakukan sekarang adalah ... mengumpulkan semua bukti perselingkuhannya dengan wanita itu," sambungnya, begitu berambisi.


Mayang menoleh, dan menatap kedua bola mata Andre dengan begitu dalam dan serius. "Abang tatap mataku, katakan yang sejujurnya. Apa Abang ingat wajah wanita itu?" tanya Mayang begitu serius, Andre pun perlahan menganggukkan kepalanya.


"Berapa kali Abang melihat wanita itu?" tanyanya bagai seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangkanya.


Andre pun menyembulkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas.


"Dua kali?" tanya Mayang, Andre kembali mengangguk.


"Kok bisa dua kali?"


"Iya, waktu pertama kali aku melihat wanita itu. Saat kejadian beberapa hari lalu, Selly yang membawa wanita itu ke rumah sakit, dan tadi sore Damas yang menemaninya datang untuk kontrol," ujar Andre.


"Loh kok bisa!"


"Ya mana aku tahu."


"Baiklah, Abang tenanglah dulu kalau begitu, biar adikmu ini yang menyelidiki semuanya. Pasti hubungan di antara mereka bertiga cukuplah rumit. Aku harus bisa mengumpulkan semua bukti yang cukup dan kuat," ujarnya bersungguh-sungguh.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2