Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Sesosok Wanita


__ADS_3

Keesokan paginya, Fira dan Bara, terlihat sudah bersiap dengan pakaiannya yang rapi. Fira bersiap untuk pergi ke toko kuenya, dan Bara bersiap untuk pergi ke kantornya.


"Mas," panggil Fira, yang sedang duduk di kursi meja rias, memandangi pantulan dirinya di cermin.


"Ada apa?" tanya Bara, yang sedang merapikan dasinya, dan berjalan menghampiri Fira.


"Lihatlah, ... mataku jadi bengkak seperti ini," gerutu Fira, memandangi matanya yang masih bengkak, karena habis menangis semalam.


Bara tertawa kecil, melihat ekspresi cemberut dari istrinya itu.


"Kenapa kau malah menertawakan aku?" gerutu Fira, mengerucutkan bibir mungilnya itu.


"Kau ini, sungguh menggemaskan sekali," ucap Bara, mencubit pelan kedua pipi Fira dengan gemas, dari belakang.


"Kemarilah, biar kulihat." Fira berdiri, menghadap Bara, dengan memasang wajah kesal, namun menggemaskan jika di lihat.


"Kalau Mama atau Lisa bertanya, mengenai matamu ini, ... bilang saja pada mereka, kalau semalam kau habis menangis karena, ... saking mencintai diriku," ucap Bara terkekeh, membuat Fira semakin mengerucutkan bibirnya.


"Haha, sudahlah, mereka tidak akan bertanya mengenai matamu ini, lagi pula, matamu tidak terlalu bengkak," ucap Bara. Kemudian mengajak Bara untuk segera turun ke lantai bawah.


^^^


Kini semua orang sedang duduk di kursi meja makan, menikmati sarapan pagi mereka. Pagi ini semuanya terlihat seperti biasanya, hanya saja dari tadi, Lisa terus memandangi Fira, sehingga membuat Fira tak enak di buatnya.


Bara yang mengetahui hal itu, ia segera menegur adiknya itu.


"Lisa. Jangan memandangi Fira seperti itu," ucap Bara, mengalihkan pandangan Lisa.


Lisa menyengir kuda, "Hehe, maaf, bukan bermaksud apa-apa. Tapi hari ini, aku seperti melihat sesuatu yang berbeda dari wajah kak Fira," tutur Lisa.


Fira menghentikan makannya, dan segera meneguk segelas air yang ada di dekatnya.


"Sudah, cepat habiskan makanan mu!" perintah Bara.


Lisa sedikit mendekatkan tubuhnya, menyamping ke arah Mama nya, "Mama, apa Mama melihat sesuatu yang berbeda dari Kak Fira hari ini?" tanya Lisa, berbisik di dekat daun telinga Mamanya.


"Hus... sudah cepat selesaikan makanmu, tak ada yang berbeda dari Kak Fira. Itu hanya perasaanmu saja," ucap Wina, pelan.


^


Setelah selesai sarapan pagi, Lisa memohon-mohon kepada Fira, agar ia bisa ikut dengannya ke toko kue. Selain bosan karena sedang masa libur sekolah, Lisa juga ingin ikut membantu kegiatan Fira di tokonya. Akhirnya Fira pun mengiyakan, dan kini mereka segera pergi ke toko kue bersama, di antar oleh Bara.


Di dalam mobil, Fira memulai pembicaraan terlebih dahulu bersama Bara.


"Oh ya Mas, bagaimana kabar Nona Raina? Apa semalam dia baik-baik saja?" tanya Fira, menoleh ke arah Bara.


Malas rasanya jika Bara harus mengingat kejadian semalam. Bahkan sebenarnya ia enggan untuk menceritakan kejadian semalam kepada Fira.

__ADS_1


"Sudahlah jangan membahas dia, mendengar namanya saja bisa bikin aku darah tinggi," tutur Bara, dengan malas, sambil terus menyetir mobil, melihat lurus ke jalanan.


Fira hanya diam, mencoba mengerti dengan apa yang di maksud oleh suaminya tadi.


"Kenapa bisa begitu? Kak Fira, memangnya Nona Raina itu siapa?" tanya Lisa, yang mulai penasaran dengan urusan mereka.


Fira menoleh ke arah Lisa, yang duduk sendiri di belakang. "Em... dia perempuan yang malam itu, kami tolong," tutur Fira.


"Oh, yang itu. Memang dia siapanya Kak Fira?"


"Em.. a-aku dan dia, hanya teman biasa saja," jawab Fira.


"Lisa. Jangan membahas masalah itu disini! Kak tidak ingin mendengarnya!" seru Bara, yang masih fokus menyetir.


Lisa mengerucutkan bibirnya, ketika mendapat seruan dari Kakak nya itu.


"Kalau tidak mau mendengar, ya tinggal tutup telinga saja!" ketus Lisa, sambil melengkungkan bibirnya, terkesan menyinggung.


"Kau ingin Kakak turunkan di sini!" seru Bara, menatap lewat kaca spion mobil.


Lisa langsung diam, membungkam mulutnya, dan sedikit meledek, mengikuti gaya bicara Kakaknya, tanpa bersuara.


"Hal seperti ini saja, marah-marah!"


"Kakak, asal Kakak tahu ya! Kalau Kakak terlalu sering marah-marah seperti itu, nanti Kakak bakalan cepat tua!" ucapnya, seakan menakuti. Bara masih diam tak menanggapi.


"Kasihan nanti Kak Fira, kalo jalan berdua sama Kak Bara, pasti Kak Bara bakalan di kira bapaknya," ucap Lisa, sambil terkekeh. Membuat Fira yang mendengar juga hendak tertawa, namun masih bisa ia tahan. Karena Fira tahu, kalau sampai dirinya ikut tertawa, Bara akan semakin marah dibuatnya.


"Memang benar kok, usia kalian kan memang jauh berbeda, Kak Fira saja masih terlihat seperti seusia aku, anak SMA."


"Makanya, Kak Bara jangan sering marah-marah seperti itu! Harus lembut, penyabar, penuh kasih sayang biar awet muda," sambung Lisa, seakan puas mengatai Kakak nya itu.


Bara semakin menajamkan tatapannya ke arah Lisa, lewat kaca spion di dalam mobil. Hingga membuat Lisa, ketakutan saat melihat wajah garang Kakaknya itu.


"Hehe, aku hanya bercanda kok kak," ucap Lisa, mengelus-elus sebelah lengan Bara. Merayunya agar tidak marah padanya.


Fira hanya terkekeh, melihat ekspresi takut dari adik ipar nya itu. "Haha, sudah Lisa tidak apa-apa, coba lihat, Kakak mu itu kalau sedang marah seperti ini, ketampanannya akan semakin bertambah 180°, lihatlah," goda Fira. Membuat Bara, harus menahan senyumnya karena di puji oleh sang istri.


Terlihat pipinya bersemu merah, dengan bibir yang menahan agar tidak tersenyum.


"Wah, benar, Kak Fira ini sangatlah hebat, berbicara seperti itu saja mampu membuat Kak Bara tersipu malu seperti itu," ucap Lisa, tersenyum kikuk.


Bara mencoba menetralkan kembali ekspresi wajahnya, "Tidak! siapa yang tersipu malu," bantah Bara.


Fira dan Lisa saling menoleh, tersenyum kikuk, menahan rasa ingin tertawa, melihat ekspresi Bara.


***

__ADS_1


Kini mereka sudah sampai di toko Zupa Cake, Bara mengantar Fira sampai ke dalam ruangannya, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan istri dan adiknya itu, Bara terlebih dahulu memberikan sedikit pidato yang cukup panjang untuk Lisa, agar dia tidak merepotkan Fira saat bekerja.


"Iya, iya, lagi pula, siapa yang mau mengacau di sini," ketus Lisa.


"Sudah, kau berangkat saja, Lisa tidak akan menganggukku kok, nanti kalau ada apa-apa aku akan menghubungi kamu," tutur Fira lembut.


Bara pun mengiyakannya, dan segera keluar dari ruangan kerja Fira. Fira mengantarkan Bara sampai ke depan pintu toko. Sebelum Bara melangkahkan kakinya keluar dari toko, tak lupa ia mencium dulu kening Fira, cukup lama. Bahkan hal itu membuat Fira sedikit terkejut, karena ini adalah pertama kalinya, Bara mencium keningnya di depan umum seperti ini, terlebih para pegawainya yang ada di belakang, ikut menyaksikan kejadian romantis di pagi hari seperti ini.


"Baiklah, aku pergi dulu," ucap Bara, mengusap lembut kepala Fira, yang terbalut dengan kerudung phasmina nya itu.


Fira mengangguk, kemudian melambaikan tangannya. Dan kembali masuk, setelah melihat Bara benar-benar pergi dari hadapannya.


"Cie...." sorak suara dari beberapa pegawainya yang ada di ruang depan, membuat Fira tersipu malu.


"Aduh... pagi-pagi sudah di suguhi pemandangan manis seperti ini, bisa-bisa mataku nanti diabetes kalau melihat hal seperti ini lagi," tutur Siti, yang sedang berdiri membersihkan etalase.


Fira tersenyum malu, "Kau ini, ada-ada saja."


"Hah, aku sudah tidak sabar ingin melihat kalian berdua duduk di pelaminan," ucap Siti, sambil mendekap lap yang ada di tangannya, seakan memikirkan sesuatu hal yang romantis.


"Pelaminan?"


"Mbak Siti, kau ini sedang berbicara apa? Kak Fira dan Kak Bara kan memang sudah menikah, lagi pula kalau mereka pacaran, tidak akan mungkin sampai mencium kening Kak Fira seperti tadi," ujar Lisa. Membuat Siti terkesiap mendengarnya.


"Sudah menikah? Kapan di mana? Kenapa aku tidak di undang?" Untaian pertanyaan, dilontarkan oleh Siti, terkejut dan seakan tak percaya.


Fira tersenyum, tak menjawab pertanyaan dari Siti. "Sudah, nanti saja saya cerita in nya. Ayo, sekarang kita ke dapur dulu," ajak Fira, kepada Siti dan Lisa.


^^^


Pagi ini, Fira cukup di sibukkan dengan banyaknya pesanan yang harus ia siapkan hari ini. Untung saja, Lisa bisa ikut membantu pekerjaannya, sehingga hal itu sangat membantu bagi Fira.


Di tengah kesibukan mereka, sambil sesekali mengobrol, mengisi keheningan di anatara mereka. Tiba-tiba, Fenny datang menghampiri Fira.


"Nona Fira, di depan ada seseorang, katanya mau bertemu dengan Non Fira," ucap Fenny. Fira mengernyitkan dahinya.


"Ya sudah, nanti saya ke depan." Fira segera merapikan sebagian bahan adonan kue yang hendak ia buat. Kemudian Fira segera mencuci kedua tangannya, di wastafel. Di susul oleh Lisa yang juga penasaran.


Fira berjalan keluar dari dapur. Ia sedikit tercengang saat melihat, sesosok wanita yang sedang berdiri di dekat etalase. Membuat dirinya menghentikan langkah kakinya, dan diam berdiri di dekat pintu dapur.


Wanita itu terlihat menatap Fira dengan begitu serius. Mereka berdua hanya saling beradu pandang. Hening, tak ada yang menyapa terlebih dahulu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa, like, kome, dan vote nya ya.


__ADS_2