Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Aku Beda Dari Yang Lain


__ADS_3

Raina berjalan dengan langkah lemah. Ia masih tak mempercayai, bahwa Fira sudah hamil, dan jelas itu adalah buah cinta antara Fira dengan Bara.


Raina mendudukkan tubuhnya di salah satu saung bambu yang berada di pinggir pantai. Matanya menatap kosong ke arah laut, yang menampakkan deburan ombak, dan beberapa orang yang berlalu lalang menikmati suasana pantai.


Tak terasa cairan bening dari kedua sudut matanya, menetes begitu saja. Hatinya seakan sesak. Pikirannya menerawang kembali dua tahun lalu, dimana ia dan Bara masih bersama dengan status sebagai teman. Bahkan Raina mampu mengingat, saat mereka berlibur bersama di pantai Laguna, California. Di sanalah Raina meyakinkan hatinya bahwa ia benar-benar mencintai Bara.


"Melihat air laut, mengingatkan aku akan perasaan itu," batin Raina, melamun.


"Seandainya di masa lalu aku bisa menerawang masa depan, tak akan pernah aku menyimpan namanya di hatiku," gumamnya, tersenyum getir.


Hembusan angin laut terasa cukup kuat, membuat helaian rambut kepalanya tertiup menutupi sebagian wajahnya. Kini riuh suara orang lain mulai terdengar di telinganya.


Raina menengok ke sebelah kanan, tepat saung bambu yang berjarak 15 meter dari saung yang ia tempati sekarang.


"Fira," gumamnya, ketika melihat Bara, Fira dan dua orang wanita yang tak lain ialah Merry dan Selly.


^


"Tuan Bara, seharusnya Anda menyuruh temanmu itu yang membawa box minuman ini," gerutu Merry seraya menurunkan box minuman yang berukuran cukup besar, yang ia bawa bersama Selly dari vila.


"Dia sedang membeli makanan, lagi pula kalian kan kuat-kuat, buktinya, nyampe juga di sini," jawab Bara, terkekeh. Merry hanya berdecak kesal, kemudian segera mendudukkan tubuhnya di atas saung lesehan, dan merebahkan tubuhnya begitu saja di samping Selly.


"Selly... aku gerah," rengek Merry, memberi kode agar Selly membagi kipas plastik yang tengah di kibas-kibaskan di dekat dadanya.


"Nanti, Gue dulu!" ketus Selly, yang masih merasa gerah.


Tak lama kemudian Dion dan Lisa datang sambil membawa dua kantung keresek putih yang berisi begitu banyak makanan di masing-masing tangan mereka.


"Kakak... aku membawa banyak makanan," teriak Lisa sedikit berlari ingin cepat-cepat sampai di saung. Ia segera menyimpan kantung itu tepat di atas box minuman yang masih tertutup.


Mama Wina dan Papa Hito pun baru sampai dan segera ikut bergabung di saung bersama mereka semua. Terlihat sekali raut wajah bahagia di antara mereka semua. Mereka mulai mengobrol satu sama lain sambil bercanda, bahkan gelak tawa mereka terdengar begitu renyah di telinga Raina.


Raina hanya bisa memandangi mereka dari jauh, dengan dada yang sudah terasa semakin sesak. Ia begitu iri dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Ternyata takdir lebih berpihak kepadamu Fira, kau beruntung sekali mendapatkan banyak cinta dari orang-orang di sekelilingmu," gumamnya, tersenyum getir.


Raina menengok ke sekelilingnya. Di depan sana ia bisa melihat, ibu dan anaknya yang sedang bermain pasir dengan begitu ceria, bahagia. Di saung sebelah kiri, ia juga dapat melihat sekumpulan anak-anak muda yang tengah asyik mengadakan acara makan-makan.


Kemudian di sudut-sudut lain, ia juga melihat orang-orang yang tengah asyik menikmati pantai bersama pacar, teman atau saudaranya.


Raina tertegun, menundukkan pandangannya karena di tengah keramaian seperti ini, Raina begitu merasa kesepian. Tak ada yang menemaninya seorang pun. Bahkan seekor kupu-kupu yang baru hinggap di dekatnya pun langsung pergi lagi.


Ia tersenyum miring. "Kupu-kupu saja tak sudi berada di dekatku," ucapnya seakan berat. Rasanya kini hatinya benar-benar kacau. Suara Bara yang terdengar jelas di telinganya, seakan membangkitkan memori ingatannya dengan lelaki itu.


Namun, tiba-tiba muncullah sosok lelaki yang tiba-tiba ada di hadapannya. Sendal santai hitam, yang sedikit berpasir. Pemilik sendal itu tak lain ialah Reza. Raina mendongakkan kepalanya ke atas, mendapati Reza yang sedang memandang ke arahnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Reza," gumam Raina. Ia kembali menundukkan kepalanya, dan segera menghapus sisa-sisa cairan bening di matanya, dengan kedua ibu jarinya.


"Ke-kenapa kau ada di sini?" tanya Raina tanpa melihat ke arah Reza.


Reza pun mendudukkan tubuhnya di samping Raina. "Bukannya sore ini kau akan pulang? Aku kemari ingin menjemputmu," jawab Reza, yang masih memperhatikan gerak-gerik Raina.


"Oh."


"Apa kau habis menangis?" tanya Reza. Seketika Raina menoleh ke arah Reza, sambil melempar senyuman yang dipaksakan.


"Tidak, siapa yang menangis."


"Itu matamu," tunjuk Reza.

__ADS_1


Raina sedikit kebingungan. "Hah? ... Oh ini, ini tadi aku hanya kelilipan," jawabnya berpura-pura mengucek sebelah matanya, agar tak menampakkan kesedihannya.


"Apa kau sudah makan?" tanya Reza. Raina menganggukkan kepalanya.


"Benarkah?" Reza mengangkat sebelah alisnya, merasa tidak percaya.


"Kenapa? Kau tak percaya?" ketus Raina, menatap Reza dengan tatapan tak suka.


"Tentu saja aku tak percaya."


"Tadi ... aku bertemu dengan asistenmu, dia bilang kau belum makan. Jadi, jangan membohongiku," ucapnya, membuat Raina sedikit terkesiap mendengarnya.


"Ini, makanlah!" Reza menyodorkan satu roti abon berukuran sedang yang masih terbungkus plastik bening, yang ia ambil dari saku hoodienya. Raina tak langsung menyahutnya, ia masih memperhatikan roti abon yang ada di tangan Reza.


"Kenapa hanya menatapnya? Ambillah!" Raina pun segera mengambil alih roti itu dari tangan Reza.


"Kalau kau tahu aku belum makan, kenapa kau hanya memberiku roti saja?" gerutu Raina.


"Aku tidak yakin jika aku membawa makanan lain kau akan memakannya," ucap Reza begitu dingin.


Raina mengerutkan kedua alisnya mendengar jawaban dari calon suaminya itu.


"Tapi kenapa kau memberiku roti abon? Kenapa tidak roti lain?" tanya Raina, heran.


"Memangnya kenapa? Kau tak suka?"


"Bukan, aku hanya heran saja, kau selalu memberiku sesuatu yang sebelumnya tak pernah aku coba," jawab Raina, sambil mulai melahap roti abon itu.


Reza hanya tersenyum miring, melihat Raina yang mulai melahap roti yang baru saja ia berikan. Rasanya ia begitu senang, ketika apa yang ia beri langsung diterima oleh Raina.


"Aku memberimu apa yang belum pernah kamu coba, karena aku ingin kau mengingat bahwa aku beda dari yang lain. Jika kebanyakan lelaki selalu memberi apa yang disukai oleh wanitanya, aku akan memberi apa yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Seperti halnya perasaanku padamu. Cepat atau lambat, kau akan merasakan perasaan yang tak sama sebelumnya. Jika dulu kau begitu mencintai Bara, maka nanti kau akan lebih mencintaiku, dan kau akan merasakan cinta yang berbeda dari sebelumnya, sampai kau akan merasa takut jika kehilanganku. Dan tentunya, aku tak akan pernah menghilang dari hidupmu," batin Reza, sambil menatap Raina yang begitu lahap memakan roti abon itu.


^


"Nah Bara kamu satu team dengan dia," tunjuk Hito ke arah Selly.


Selly yang sedang meneguk air, seketika tersedak. Dan dengan sigap, Merry ikut membantu menepuk-nepuk pundak Selly.


"Kenapa dengan saya Om?" tanya Selly, sambil menunjukkan telunjuknya ke dadanya sendiri.


"Kita main dua orang - duang orang," sambung Hito.


"Nah dan kamu, Dion sama dia," tunjuk Hito ke arah Merry.


"Saya juga Om?" tanya Merry terkejut.


"Tapi Om, kaki saya sedang bermasalah," keluh Selly. Hito sejenak melihat ke arah kaki Selly, yang masih di tutup perban agar tak terkena debu atau kotoran.


"Ya sudah, biar Lisa saja satu team sama Bara ya," ucap Hito. Lisa pun dengan semangat mengiyakan. Dan mereka semua pun segera memulai permainannya.


"Semangat sayang." Fira memberikan semangat kepada Bara. Bara yang sudah berada berjalan menuju lapang, tiba-tiba memutar kembali langkahnya. Lalu berjongkok di hadapan Fira, yang tengah duduk di tepi lesehan saung.


"Do’a-in ayahmu ini ya juniorku," ucap Bara sambil mengelus perut Fira, sebelum ia benar-benar kembali untuk bermain.


Kemudian Hito pun mulai mengatur permainannya, ia berperan sebagai wasit. Dan bola pertama di berikan kepada team Bara dan Lisa.


"Heh! Main yang benar ya!" seru Dion kepada Merry. Merry hanya mendelik tak menjawab.


"Ish! Kenapa sih harus satu team dengan dia! Sungguh menyebalkan," gerutu Merry dalam hati.

__ADS_1


Pukulan pertama Bara layangkan pada bolanya, hingga bola itu melambung tinggi dan Dion dengan gaya kuda-kudanya, sudah bersiap untuk men-smash bola itu.


Satu ... dua ... tiga.


Bugh! ....


Merry terjatuh karena beradu dengan tubuh Dion, ketika ia hendak menyerang bola itu secara bersamaan.


"Hey, apa kau baik-baik saja?" Dion menyodorkan tangannya, hendak memberi bantuan kepada Merry untuk berdiri. Namun Merry hanya berdecak kesal, sambil menepuk-nepuk kedua tangannya yang kotor terkena pasir. Dan akhirnya pun ia berpegangan dengan tangan Dion, agar dirinya bisa berdiri lagi.


"Makanya jangan main serobot aja! Serang di wilayahmu saja!" jelas Dion. Merry hanya mencebikkan bibirnya, sambil memutar kedua bola matanya. Sebelum akhirnya mereka semua kembali melanjutkan permainannya.


Permainannya cukuplah begitu seru dan memanas, apalagi di tambah dengan perdebatan antara Dion dan Merry di sela-sela permainan, karena mereka berdua berulang kali harus kalah dari Bara dan Lisa.


"Lihatlah sayang, ayahmu jago sekali bermain bola," ucap Fira sambil mengelus perutnya yang rata. Mengajak calon buah hatinya untuk berbicara.


"Sayang, ayo makan dulu buahnya," tutur Wina, yang baru saja selesai memotong buah apel untuk menantunya itu. Fira pun segera menyahutnya.


"Terima kasih Ma," ucap Fira, sambil melahap potongan buah apel itu. Wina juga memberikannya sebagian kepada Selly.


Mereka begitu asyik melihat permainan volly yang sedang berlangsung itu.


"Haha, lihatlah apa yang dilakukan Merry kepada Dion," ucap Selly begitu heboh, melihat sahabatnya yang tengah bertengkar di tengah permainan.


^


"Aku bilang kau menyerang di wilayahmu!" seru Dion, karena kesal kepada Merry.


"Harusnya kau juga menyerang di wilayahmu! Jangan masuk ke wilayahku! Lihatlah, kalau kau tidak masuk ke sini, aku pastikan bisa menyerang bolanya!" gerutu Merry, tak mau kalah.


Suara peluit untuk kembali memulai permainan sudah di tiup kembali oleh Papa Hito. Mau tidak mau Merry dan Dion harus kembali melanjutkan permainan ini. Meskipun skor mereka dengan Bara jauh berbeda. Team Bara mendapat skor 19 sedangkan team Dion baru mendapatkan skor 8.


^


Di sisi lain, Raina dan Reza diam-diam tengah memperhatikan permainan antara Bara dan Dion. Terlihat dengan jelas, setiap Bara menang, Raina seakan begitu bersemangat mendukungnya.


"Kau suka melihat mantanmu itu bermain voli?" tanya Reza tiba-tiba, membuat kepala gadis yang ada di sampingnya itu menoleh ke arahnya.


"Hah? ... a-aku bukan menyukai Bara, tapi aku menyukai siapa pun yang jago bermain bola voli," tutur Raina menjelaskan. Reza hanya mencebikkan sedikit bibirnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


"Ah, iya... aku lupa, 20 menit lagi akan ada pemotretan, aku harus segera bersiap-siap." Raina baru tersadar akan waktunya. Ia pun mengajak Reza untuk segera pergi dari sana. Namun ketika mereka berdua hendak berdiri, tiba-tiba bola voli menggelinding ke arah mereka, dan berhenti tepat di dekat kaki Raina.


Hal itu tentunya membuat Raina sedikit terkejut, ia masih tertegun, apalagi ketika Bara hendak mendekatinya untuk mengambil bola tersebut.


"Apa! Bara yang akan datang mengambil bola ini," gumamnya, tiba-tiba ia merasa begitu gugup. Jantungnya seakan berdebar lebih kencang. Terlebih ia melihat Bara yang semakin berjalan mendekatinya. Ia pun menundukkan kepalanya, karena tak ingin jika Bara mengetahui bahwa dirinya ada di sini sedari tadi.


Perlahan Bara semakin mengerutkan alisnya, tatkala ia hampir mendekat untuk mengambil bola itu.


"Raina," ucap Bara, menautkan kedua alis.


Raina yang menundukkan kepalanya, seketika mendongakkan kepalanya, dan memberanikan diri untuk menatap Bara.


"Ba-bara," ucapnya terbata.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya hehe.


__ADS_2