
Hans berjalan mendekati keributan yang ada di dapur, ia sudah menunggu lama Tiara memasak tetapi sampai sekarang Tiara belum mengatakan makanan untuknya. Ia curiga jika Tiara sedang diganggu oleh kedua istrinya, dan benar saja saat ia keluar dari dalam lift dirinya melihat makanan yang sedang disiapkan oleh Tiara sudah berserakan di lantai.
"Bagus bagus bagus bagus." Hans seperti tepuk tangan sambil mendekati mereka bertiga.
"Sudah bosan hidup enak," tanya Hans.
Mereka bertiga terkejut dengan kedatangan Hans yang secara mendadak, termasuk Tiara yang sudah yakin dirinya juga akan terkena masalah.
Siska dan Ayu langsung berjalan mendekati Hans, mereka berdua ingin menyalahkan Tiara atas kejadian ini. Mereka takut Hans marah, kalau sudah marah tidak ada kata ampun yang bisa mereka dapatkan.
"Sayang ini semua karena dia, dia membuat kami jengkel. Kamu sudah hidup lebih lama dengan kami berdua daripada dengan dia, harusnya kamu percaya dengan kami," kata Ayu.
"Ayu bener sayang, tidak mungkin kami membuat masalah tanpa adanya permasalahan, dia api dari asap yang terjadi sayang," ujar Siksa.
"Oh.. Kalian berdua pikir aku bodoh, kalian berdua pikir aku tidak melihat semuanya. Dia sedang membuat makan siang untukku, kenapa kalian mengganggunya, kalian sudah bosan hidup enak ya, sekarang pergi dari rumah jangan pernah kembali." Hans berjalan mendekati Tiara, ia malah menjauhi mereka berdua.
"Dan kamu terlalu bodoh, kamu jangan menjadi wanita lemah. Jangan biarkan orang mengganggumu, aku tidak suka dengan wanita yang bodoh dan lemah sepertimu." Hans suka berjalan menjauhi Tiara, ia kesal dengan Tiara yang sangat mudah sekali diganggu oleh kedua istrinya.
"Mas.." Tiara berlari menyusul Hans, ia begitu saja melalui Siksa dan Ayu yang masih terdiam kaku.
"Mas…" Tiara berjalan tepat di samping Hans.
"Mau kemana," tanya Tiara.
"Lari pagi," jawab Hans.
"Tapi kamu belum makan siang sayang, dari pagi kamu belum ada mengisi perut, nanti kamu malah kelelahan."
"Apa pedulinya diri mu," ucap Hans sambil berlari pergi meninggalkan Tiara.
Tanpa sengaja Tiara melihat sebuah sepeda santai, dari pada ia berlari mengajar Hans lebih baik ia mengejar Hans dengan naik sepeda seperti ini. Jauh lebih baik dan tidak begitu melelahkan.
"Ayo mas semangat," ucap Tiara.
Hans terkejut Tiara menggunakan sebuah sepeda, entah sepeda siapa yang Tiara pakai sejauh ini ia tidak mempunyai sepeda seperti itu.
__ADS_1
"Sayang semana dong.." Tiara terus menerus meneriaki Hans.
Harus berusaha tidak peduli dan terus berlari ke depan, walaupun dia sudah merasa lelah dirinya tidak ingin menunjukkan rasa lelah itu di depan Tiara. Padahal sebelumnya ia tidak memiliki niat untuk lari seperti ini, hari sudah siang bukan waktunya untuk berlari lagi. Entah apa tadi yang mengatakan dirinya ingin berlari, kalau sudah seperti ini ia akan malu jika tidak melakukannya dengan benar.
Setelah kurang lebih 15 menit berlari Hans sudah terlihat sangat lemas, bagaimana ia ia tidak lemas dari pagi tadi belum memasukkan apapun ke dalam perutnya.
"Mau naik sayang? Ayo kita naik sepeda saja," ucap Tiara.
"Berhenti menggoda ku," ucap Hans.
"Hahaha kamu kok jadi pemarah seperti ini sih, eh tapi emang kamu suka marah sih. Ayo naik ke sini kamu kasih kelelahan."
Karena kesalahan Hans menghentikan sepeda Tiara dengan paksa, hal itu hampir saja membuat cara jatuh ke aspal yang keras, beruntung Hans suka menahannya akan Tiara tidak jatuh.
"Mas kamu hampir membuatku jatuh."
"Turun," ucap Hans.
"Kamu mau apa? Kenapa memintaku untuk turun ayo aku bonceng saja."
"Mau turun sendiri atau kuturunkan." Hans menaikkan satu alisnya.
Setelah Tiara turun Hans naik atas sepeda itu dan langsung meninggalkan Tiara, Tiara hanya bisa membuka mulutnya melihat Hans semakin menjauhinya. Mengapa Hans malah pergi meninggalkannya, sekarang dia memiliki dua pilihan, kembali ke rumah atau berlari mengejar Hans.
Untuk kembali juga sudah terlalu jauh, Tiara berharap masih mau menunggu dari depan sana, ia pun memutuskan untuk berlari mengejar Hans yang sudah mulai menghilang.
Setelah kurang lebih 10 menit berlari Tiara sudah tidak bisa melanjutkan lagi, Hans juga sudah tidak terlihat. Karena sudah kelelahan Tiara memutuskan untuk duduk sejenak di pinggir jalan, ia bingung harus kemana, untuk kembali tidak mungkin karena dirinya sudah sangat kelelahan.
Dari kejauhan Hans kembali menghampiri Tiara, ia membawa sebotol air untuk sang istri. Tiara yang melihat itu langsung bersemangat seketika.
"Akhirnya kamu kembali." Tiara tersenyum menyambut kedatangan Hans, tetapi sayangnya Hans malah melewatinya begitu saja.
"Mas aku sudah kelelahan." Tiara kembali jatuh ke atas aspal.
Hans tertawa sambil memutarkan sepedanya, kali ini ia benar-benar menghampiri Tiara.
__ADS_1
"Nah minum jangan sampai mati."
"Terima kasih." Tiara mengambil air minum itu dan langsung menengguknya dengan sangat cepat.
"Pelan pelan, kamu mau mati tersedak," ucap Hans.
Sambil tersenyum Tiara bergerak dari atas aspal, ia naik ke kursi belakang dan langsung memeluk Hans dengan erat.
"Ayo berangkat," ucap Tiara.
"Eh jangan main main," kata Hans.
"Ayo mas…" Tiara menepuk pundak Hans.
Sambil menggelengkan kepalanya Hans mengoes sepeda itu, walaupun terasa berat mau bagaimana lagi ia tidak mungkin meninggalkan wanita ini. Yang ada wanita ini akan di culik, mana tempat ini cukup banyak orang orang penting seperti dirinya.
"Ahh seru nya, aku di gonjeng dengan suami tersayang," ucap Tiara.
"Jangan banyak bergerak kamu berat," kata Hans.
"Mana ada aku berat, berat ku cuma 46 kilo kok, mas di sini tidak ada restoran? Kita makan yuk," ucap Tiara.
"Di depan biasanya ada yang mangkal, tapi aku tidak pernah beli, apa makanan seperti itu enak," tanya Hans..
"Enak itu, kita ke sana sekarang," jawab Tiara.
"Pegangan kita ngebut."
"Ahkkk." Tiara langsung mempererat pelukannya.
Kalau tidak karena Tiara yang berani pada Hans tidak mungkin mereka berdua cepat dekat seperti ini, Tiara merasa Hans hanya kurang perhatian saja, setelah mendapatkan perhatian dari nya Hans jauh lebih baik, Hans juga tidak memperlakukan nya begitu kasar.
Tak lama mereka berdua sampai di tempat Abang abang mangkal, ada beberapa makanan yang di jual Hans tidak tau mana yang harus mereka beli. Untuk seperti ini ia akan menyerahkan semuanya pada Tiara.
"Kamu pesan," ucap Hans.
__ADS_1
"Oke.." Tiara pun turun dari atas sepeda.
Ia memutuskan untuk memesan sate saja, kalau siang begini memang paling pas makan makanan yang cukup berat. Apalagi Hans belum ada makan sejak pagi tadi, makan sate akan membuat Hans kenyang.