Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Mengikuti Bara.


__ADS_3

Ketika Fira dan Bima, sedang asyik melahap makanannya. Dering ponsel Fira, menghentikan aktivitasnya. Ia segera meraih ponselnya yang terselip di tas kecilnya.


"Mas Bara," ucap Fira pelan, menatap layar ponselnya. Tanpa berlama-lama Fira langsung menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.


"Assalamualaikum Mas," ucap Fira.


"Wa'alaikumussalam, ... Fira kau sedang apa?" tanya Bara di balik ponsel.


"Em... aku sedang makan siang."


"Dimana? Kenapa terdengar berisik sekali?"


"Aku makan siang di... Japanes Resto, bersama Bima,"


"Bima?"


"Iya, Bima sudah pulang dari Yogyakarta, tadi dia mengunjungiku ke toko, makanya aku ajak dia makan siang bersama," tutur Fira menjelaskan.


"Kau berdua saja dengan Bima tanpa memberitahuku dulu?"


Fira sejenak diam, bingung harus menjawab apa.


"Em... maafkan aku, ... aku tadi–"


"Tadi apa?" potong Bara.


"Aku tadi tidak ingat, jadi tidak memberitahumu," ucap Fira pelan, sedikit takut.


"Tidak ingat? Kau sama sekali tidak mengingat suamimu?" gerutu Bara di balik ponsel.


"Bukan begitu Mas, a-aku–"


"Sudahlah, kau jelaskan saja nanti. Dan ya, aku akan menjemput kalian ke sana, kau jangan dulu pergi sebelum aku menjemput kalian," jelas Bara, Fira mengiyakan. Dan tiba-tiba Bara menutup panggilannya tanpa pamit.


Fira mendengus kecil, "Kebiasaan, mengakhiri telepon tanpa salam."


Fira kembali menyimpan ponselnya itu di dalam tasnya.


"Kenapa Kak?"


"Tidak apa-apa, nanti Mas Bara akan menjemput kita di sini," ucap Fira, kembali melahap makanannya. Bima hanya menganggukkan kepalanya.


Di sisi lain.

__ADS_1


Bara menutup teleponnya dengan perasaan sedikit kesal. Ia menggeser kursi kerja yang di dudukinya, sehingga terlihat sedikit berputar.


"Untuk makan siang saja dia melupakanku," gerutu Bara.


"Apa di pikirannya tidak ada aku sama sekali? Apa dia benar-benar tidak memikirkanku?" gerutu Bara, melemparkan ponselnya ke atas meja kerjanya begitu saja.


"Bara, kau kenapa?" tanya Dion, yang baru datang, membawa dua gelas kopi untuk dirinya dan untuk Bara. Dion menyimpan kopi itu di atas meja, dekat sofa.


Bara berdiri dari duduknya, menghampiri Dion, yang baru saja mendaratkan tubuhnya di atas sofa.


"Huft... sepertinya Fira masih belum bisa mencintaiku," ucap Bara, menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, di dekat Dion.


"Kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Dion.


"Aku berbicara seperti ini, karena memang kenyataannya seperti ini."


"Kau yakin? memangnya kau pernah bertanya pada Fira apa dia menyukaimu atau tidak?"


"Aku sudah pernah beberapa kali bertanya padanya, tapi dia selalu tak menjawab."


"Apa kau pernah mengungkapkan perasaanmu padanya?" tanya Dion.


Bara terdiam, dan perlahan menggelengkan kepalanya.


"Seharusnya kau yang terlebih dahulu mengungkapkan perasaan padanya. Kalau kau saja belum mengungkapkan perasaanmu padanya, bagaimana dia mau menerimamu. Terlebih, dulu kau pernah membuat surat perjanjian dengan Fira kan?"


Bara diam, tak bergeming sedikitpun. Pikirannya membenarkan semua perkataan Dion.


"Sebenarnya untuk mendapatkan hati wanita itu tidaklah sulit, kau hanya perlu memberinya kepastian, agar semuanya lebih jelas, dan tentunya kau juga harus memperlakukan dia dengan lembut. Jangan menekan batinnya! Ingat-inhat lagi, dulu kau pernah berkata atau melakukan apa kepada Fira. Barangkali Fira bukan tidak mencintaimu, tapi dia menahan perasaannya agar tidak jatuh cinta kepadamu," tutur Dion, penuh penjelasan.


Bara semakin terdiam, ia mengingat kembali bagaimana prilakunya dulu kepada Fira. Dan ia membenarkan semua ucapan Dion.


"Apa mungkin Fira tertekan berhubungan denganku?" batin Bara, menatap kosong ke sembarang arah.


"Kau benar. Ya sudah aku akan pergi menjemput Fira dulu," pamit Bara, segera keluar meninggalkan Dion sendirian.


"Bara, Bara, ... kau ini memang ahli dalam urusan bisnis, tapi dalam urusan cinta, kau malah tidak bisa," gumam Dion.


***


Sesampainya di Japanes Resto, Bara memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


Bara masuk ke dalam restoran, mencari keberadaan Fira dan Bima. Dan tanpa lama, Bara berhasil menemukan mereka, dan segera menghampiri mereka.

__ADS_1


"Kaka, itu Kak Bara," tunjuk Bima, saat mengetahui kedatangan Bara. Fira menoleh, dan segera berdiri dari duduknya.


"Mas, kau sudah sampai."


"Aku masih di jalan!" jawab Bara. Fira mengerutkan dahinya.


"Sudah jelas, aku sampai di depanmu, masih bertanya saja."


"Ya sudah, ayo kita pulang," ajak Bara, dengan ketus. Bara pun kembali keluar, sambil menarik lengan Fira.


"Ada apa dengan Kak Bara, kenapa dia menarik tangan Kak Fira dengan kasar?" gumam Bima, mengikuti langkah kaki mereka, sambil membawa satu kantung, makanan yang sudah dipesan untuk Bara.


Kini mereka semua sudah masuk ke dalam mobil. Dengan Fira yang duduk di depan. Dan Bima duduk di kursi belakang.


Bara segera menyalakan mesin mobilnya, dan melajukan mobilnya, keluar dari area parkir.


Raina dan asistennya yang baru saja akan menaiki mobil miliknya. Perhatiannya di fokuskan dengan sebuh mobil hitam, yang berjalan perlahan, melewati tempat ia memarkirkan mobilnya.


"Itu kan mobil Bara?" gumam Raina.


"Iya benar, itu Bara," ucap Raina, saat melihat bayangan Bara yang sedang menyetir, di balik kaca mobil.


Raina, mencoba memanggil-manggil nama Bara, namun rasanya sia-sia saja. Karena kini mobil Bara, sudah berjalan semakin menjauh.


"Dia duduk bersama wanita? Apa itu istrinya?"


Raina dan asistennya, segera masuk ke dalam mobil miliknya. Menyuruh Pak sopir agar mengikuti mobil Bara. Pak sopir pun mengiyakan, dan dengan cepat ia melajukan mobil yang di kendarainya. Membuntuti mobil Bara, yang sudah terhalang oleh dua mobil di depannya.


"Cepat, Pak, ikuti saja mobil itu," tutur Raina.


"Nona muda, kalau saya boleh tahu, kau sedang mengikuti siapa?" tanya asistennya.


"Aku sedang mengikuti Bara, dia terlihat jalan bersama seorang wanita. Tapi aku tidak tahu siapa wanita itu," jawab Raina, dengan mata yang masih fokus mengawasi mobil Bara.


"Bara? bukannya itu nama kekasih Nona Raina, waktu dulu? Apa mereka masih berhubungan sampai sekarang?" tanya asistennya di dalam hati.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2