Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 23


__ADS_3

Dinda tersungkur ke lantai cukup keras, ketika sebelah tangan Damas berhasil mendorong kuat tubuh wanita itu.


Dan tiba-tiba.


Bugh ....


Sebuah pukulan mendarat di sebelah pipi kanan Damas. Membuat tubuh Damas terguncang dan hampir jatuh, namun ia terlebih dahulu bisa menyeimbangkannya. Bahkan ia refleks melepaskan tangan Selly dari genggamannya.


"Beraninya kau menyakiti wanita!" teriak seorang lelaki penuh emosi, lelaki itu tak lain ialah Gerry. Kedua tangannya yang mengepal erat, masih menggantung di udara hendak bersiap memukul kembali wajah Damas. Namun, ia urungkan begitu melihat Dinda yang mengaduh kesakitan, sambil memegang perutnya yang buncit itu.


Selly yang khawatir dengan keadaan Dinda, ia langsung menghampirinya dengan perasaan cemas dan takut.


"Nona Dinda, apa yang sakit?" tanya Selly sambil memegang sebelah pundak Dinda.


"Dinda, kau baik-baik saja kan?" ucap Gerry khawatir, ia berjongkok tepat di sebelah Dinda.


"Perutku ... aw ... perutku keram," lirih Dinda, sambil beruraian air mata.


Damas yang baru sadar akan perlakuannya kepada Dinda, ia terdiam sambil menatap wanita yang dicintainya itu sedang duduk kesakitan.


Perlahan Damas melangkahkan kakinya mendekati Dinda. Dengan tangan gemetar, dan wajah yang sudah putih pucat.


"Dinda," ucapnya gelagapan dengan bibir yang sedikit gemetar.


Selly yang mendengar suara Damas, telinganya seakan panas, darahnya seakan mendidih, ia pun berdiri dengan kedua tangan yang mengepal kuat.


"Mas! Kau ini lelaki macam apa sih! Beraninya menyakiti seorang wanita. Dia itu pacar kamu Mas, dia sedang mengandung anak kamu, kenapa kamu berbuat kasar kepadanya hah!" teriak Selly penuh emosi.


Damas hanya menunduk dengan mimik wajah seperti orang menyesal. Lalu kedua mata layunya menatap ke arah Selly secara perlahan.


"Selly, a-aku tidak sengaja mendorongnya," ucapnya lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Dinda.


"Dinda, maafkan aku, aku tak sengaja mendorongmu," ujar Damas begitu menyesal.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba .... Bugh ....


Satu pukulan keras dari tangan Gerry kembali mendarat di sebelah pipi Damas. Hingga membuat tubuh lelaki itu oleng. Bahkan darah merah segar pun terlihat mengalir dari sebelah lubang hidungnya.


"Gerry, hentikan jangan memukulnya lagi," teriak Dinda yang masih duduk tersungkur di lantai.


Sejenak Gerry menatap tajam ke arah Dinda. "Dia pantas mendapatkan semua ini Dinda!" seru Gerry penuh amarah.


"Tidak ... kumohon jangan memukulnya lagi, bagaimana pun dia tetap ayah dari anakku ini jangan menyakitinya."


Mendengar perkataan itu, seketika otak Gerry seakan berasap, darahnya semakin memanas dengan api amarah yang sudah membara.


"Dasar bodoh!" gumam Gerry pelan, namun penuh emosi. "Apa perlu ku tunjukan bahwa ayah dari anakmu itu adalah seorang bajingan!" Gerry berbicara penuh emosi, dengan hatinya yang tak terima jika Dinda masih mengharapkan Damas.


Selly bahkan masih termenung tak percaya, jika Dinda masih mempunyai rasa iba kepada Damas, lelaki yang tak bertanggung jawab itu, bahkan susah berani menyakiti dia.


"Damas, cepat kau putuskan sekarang juga! Kau tinggalkan Dinda atau kau nikahi Dinda!" ujar Gerry dengan mata elangnya yang menatap tajam kedua bola mata Damas yang terlihat kuyu.


Damas tercengang. "A-aku ...." Ia terbata, tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Lihatlah, dia bahkan tak bisa memilihmu Dinda!" ujar Gerry begitu geram.


"Mas Damas, nikahilah Dinda, dia dan anak yang ada di kandungannya lebih berhak mendapat kasih sayangmu. Dan perlakukanlah dia dengan mulia, jangan mengasarinya. Dan masalah pernikahan kita, cukup kita batalkan saja," ujar Selly begitu tegas.


"Tidak ... aku tidak bisa! ... Aku tidak akan melepaskan kalian berdua," ujar Damas seakan ada ketakutan sendiri yang begitu mendalam di pikirannya, ketika ia mendengar perkataan Selly. Ia tak siap jika pernikahan mereka dibatalkan, karena suatu hal yang menekan batinnya selama ini, pasti akan menjadi trauma untuk Damas ke depannya.


"Apa kau gila hah!" Emosi Gerry kembali membuncah ketika mendengar perkataan Damas yang sungguh membuatnya begitu geram.


Namun tanpa di sangka, sasaran Gerry kini beralih kepada Selly. Gerry menarik tubuh Selly dari belakang, dengan kedua tangan Selly yang dicengkeram ke belakang punggung. Dan sebelah tangan Gerry tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda tajam kecil dari saku celana jeansnya. Lalu tangan itu, ia lingkarkan di bagian leher Selly.


"Gerry apa yang kau lakukan," teriak Dinda, begitu Gerry mengarahkan pisau kecil itu di dekat leher Selly.


Selly yang begitu shock, ia tak bisa berlaku apa-apa. Ia hanya bisa memohon dan bertanya. "Tuan Gerry apa yang kamu lakukan? Lepaskan saya!" teriak Selly dengan kedua matanya yang masih fokus melihat sebilah pisau kecil yang tepat ada di bawah wajahnya. Selly begitu gemetaran, takut jika Gerry berbuat hal yang tak diinginkan.

__ADS_1


"Diam!" seru Gerry.


Damas yang melihat Selly terancam seperti itu, ia begitu khawatir. Damas mencoba mendekat, namun Gerry terlebih dahulu memperingatinya.


"Diam! Jangan mendekat!"


"Kemarikan ponselmu Damas!" ujar Gerry, ia menggunakan Selly, semata-mata hanya untuk menjalankan misi akhirnya, yaitu mengambil ponsel Damas.


"Apa?" Damas terlihat kebingungan.


"Maafkan aku Nona, tenanglah aku tidak akan menyakitimu," bisik Gerry, di dekat daun telinga Selly.


Selly sedikit tercengang. Namun, ia masih takut dengan benda tajam yang dipegang oleh Gerry itu.


"Gerry, kumohon, lepaskan Nona Selly, dia tidak tahu apa-apa masalah ini," ujar Dinda memohon, ia pun berusaha bangun, dengan perutnya yang masih terasa sakit itu, namun sudah sedikit mereda.


"Diamlah!" seru Gerry pada Dinda. Dinda pun mengurungkan langkahnya untuk mendekati Gerry.


"Cepat kemarikan ponselmu! Atau aku akan menyakiti wanita ini," ancam Gerry kepada Damas.


Damas yang sebenarnya begitu bingung, tanpa berpikir panjang ia pun memberikan ponsel itu kepada Gerry, dengan cara di lempar.


"Apa passwordnya?" tanya Gerry begitu ia berhasil menangkap ponsel Damas.


"Apa yang ingin kau lakukan dengan ponselku hah?" tanya Damas memberanikan diri.


"Damas, selama ini aku tahu, kau begitu takut akan ayahmu bukan? Ha ha ... selama ini aku sudah bersabar dan memberimu kesempatan untuk memilih Dinda. Tapi, kau memang benar-benar seorang pengecut! Aku tidak tahan lagi, melihat Dinda menderita karena ulahmu itu. Cepat katakan, apa passwordnya!" teriak Gerry. Namun Damas masih membisu.


"Oh... atau kau ingin aku menyakiti wanitamu ini ya?" tanya Gerry dengan seringai senyuman yang begitu menakutkan.


"Gerry, jangan macam-macam Gerry!" Dinda memohon karena ia begitu ketakutan. Takut, kalau Gerry akan benar-benar menyakiti Selly.


Namun, kedua mata Dinda dan Damas beralih begitu melihat kedatangan seorang lelaki, dari balik pintu masuk.

__ADS_1


Dia adalah ....


__ADS_2