Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Bara Jadi Kang Cilok


__ADS_3

Bara dan Fira keluar dari ruang kerja. Berjalan mendekati Lisa dan Bima, yang sedang duduk sambil asyik bermain tebak gambar. Bahkan kini, coretan lipstik di wajah mereka semakin bertambah banyak.


"Kalian ini, sedari tadi belum selesai juga?" tanya Bara, ikut mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong yang ada di dekat mereka, begitu pun dengan Fira.


"Bagaimana mau berhenti, permainannya semakin kesini semakin seru," ucap Lisa, bersemangat, sambil fokus menantikan tebakan gambar selanjutnya.


"Benarkah? Kalau begitu aku ingin ikut lagi," tutur Fira, dengan heboh.


"Eh... kau tak boleh ikut!" seru Bara, sambil menahan tubuh Fira, yang hendak mendekat ke arah Bima.


"Tapi Mas!"


"Tak boleh!"


Fira berdecak kesal, sambil melipat kedua tangannya di dadanya. Fira membuang muka ke sembarang arah. Dan tanpa sengaja, ia melihat tukang cilok, melewat di jalan raya.


Fira langsung berbalik, tersenyum ke arah Bara memperlihatkan barisan giginya yang begitu rapi.


"Mas," panggilnya, sambil menyengir.


"Apa?" jawab Bara, dengan nada cuek.


"Mas, belikan aku cilok itu ya," rayu Fira, sambil menunjuk ke arah tukang cilok yang sedang mangkal di sebrang jalan sana.


"Baru saja kau marah padaku, sekarang kau menggodaku karena menginginkan sesuatu," ucap Bara.


"Ya sudah, kalau kau tidak mau. Biar aku menyuruh Bima saja yang beli," ucap Fira sambil membuang muka.


"Eh... iya, iya, aku yang membelikannya untukmu. ... Biar sekalian aku beli dengan gerobaknya!" ucap Bara, sambil berdiri dari duduknya.


"Ya sudah, sana! Beli sekalian dengan gerobaknya!" ucap Fira. Bara segera berlalu dan pergi menemui tukang cilok.


Lisa dan Bima yang terlalu fokus dengan permainan mereka, keduanya tidak menyadari kalau Bara sudah tidak ada.


"Ke mana Kak Bara?" tanya Lisa, sambil celingak-celinguk, melihat ke sekitar.


"Mas Bara sedang membeli cilok di jalan," jawab Fira.


"Oh..." Lisa membulatkan bibirnya.


"Lisa, udahan yuk ah," ucap Bima, ingin mengakhiri permainan. Lisa, mengangguk mengiyakan.


"Kak Fira, boleh aku minta pembersih wajah punya kakak?" tanya Bima.


"Boleh, ambil saja di ruang kerja Kakak." Bima pun segera pergi ke ruang kerja Fira, dan di susul oleh Lisa dari belakang.


Teng, teng, teng. Suara kentungan seperti botol kaca yang beradu dengan sendok besi. Terdengar nyaring di telinga Fira. Bahkan suaranya terasa begitu dekat.


"Itu kan suara tukang cilok," gumam Fira.

__ADS_1


Fira berdiri dari duduknya, kemudian berjalan keluar, dan ia sedikit terkejut, saat melihat Bara yang sedang mendorong gerobak cilok, di halaman parkir depan tokonya itu.


"Mas, kenapa kau membawa gerobaknya kemari?" tanya Fira yang berdiri di depan pintu toko.


Sementara Bara, ia tersenyum menyengir, sambil mendorong gerobak ciloknya mendekati Fira.


"Sesuai yang kau bilang, beli dengan gerobaknya," jawab Bara, sambil tersenyum senang.


Fira terkesiap mendengar ucapan suaminya. Seketika Fira mengucap istigfar kemudian tertawa kecil.


"Kenapa kau malah tertawa?" tanya Bara, dengan memasang raut wajah yang kebingungan.


"Mas, kau serius membeli cilok dengan gerobaknya?" tanya Fira, sambil terkekeh. Bara mengiyakan pertanyaan istrinya itu.


"Ya Allah... Mas... aku tadi hanya bercanda, kenapa kau malah serius menanggapinya," tutur Fira, sambil mengusap ujung matanya yang berair, karena terus tertawa.


"Ada apa ini?" tanya Lisa dan Bima bersamaan. Berdiri di belakang Fira.


"Lihatlah Lisa, Mas Bara sekarang sudah jadi Kang cilok," ucap Fira, sambil terkekeh.


"Kang cilok?" Lisa mengerutkan dahinya, sambil tersenyum bingung.


"Kak Bara, kau berjualan cilok?" tanya Bima dengan polosnya.


"Bukan berjualan, tapi Kakakmu tadi menyuruhku untuk membeli cilok dengan gerobaknya."


“Iya.” Bara menganggukkan kepalanya.


Seketika Bima dan Lisa pun ikut tertawa, mendengar jawaban iya, dari kakaknya itu. Tapi di balik itu, Bima mencoba menahan tawanya, karena merasa tak enak dengan kakak iparnya itu.


"Kenapa kalian semua malah menertawakanku?" seru Bara, merasa kesal. Bara, hendak pergi ke dalam toko, melewati Fira begitu saja. Namun Fira menarik sebelah lengan Bara.


"Apa lagi?" tanya Bara, tanpa menoleh, karena masih merasa kesal.


Fira berjalan mendekati Bara, sambil memegang jari jemari suaminya itu.


"Jangan marah, maafkan aku ya, seharusnya aku sangat berterima kasih padamu. Meskipun tadi aku hanya bercanda, tapi kau tetap menuruti keinginanku." ucap Fira dengan lembut.


"Lalu kenapa kau malah menertawakanku?" tanya Bara.


"Em...." Fira memutar kedua bola matanya, berekspresi seakan sedang berpikir. "Karena kau tadi sangat menggemaskan. Lihatlah, pakaianmu yang begitu formal dan kaku ini, memakai jas sambil mendorong gerobak cilok, apalagi saat melihat ekspresimu. Kau benar-benar menggemaskan," ucap Fira, sambil mencubit kedua pipi suaminya.


Hal itu membuat rasa kesal di hati Bara seketika hilang, dan berganti dengan rasa senang, karena di puji istrinya.


"Baiklah, Kang cilok sekarang tolong buatkan aku satu mangkuk ya," rayu Fira, sambil bergelayut di sebelah lengan Bara.


Bara tersenyum miring, melihat tingkah manja istrinya itu. "Siap laksanakan Tuan putri," jawab Bara dengan semangat, sambil mencubit sebelah pipi Fira dengan gemas.


Kini Bara mulai sibuk membuatkan satu mangkuk cilok untuk istrinya itu, terlihat sekali ia sedikit kerepotan karena tak tahu cara membuatnya seperti apa. Bima dan Lisa ikut membantu Bara untuk menyiapkan semua itu, tak lupa Bara juga menambahkan garam, merica, saus dan kecap yang ada di gerobak cilok itu.

__ADS_1


Kini satu mangkuk cilok sudah siap di hidangkan. Bara membawanya ke Fira.


"Ini, satu mangkuk cilok cinta, untuk tuan putri sudah jadi." Bara menyimpan mangkuk itu di atas meja di hadapan Fira. Fira tersenyum, menatap wajah tampan suaminya itu.


Mereka berdua duduk saling berhadapan, dengan Fira yang asyik, melahap cilok yang sudah di buatkan oleh suaminya.


"Makannya pelan-pelan, jangan terburu-buru seperti itu," ucap Bara, sambil mengelus lembut kepala Fira.


"Mas, kau ini benar-benar hebat, kau bisa membuat cilok seenak ini."


"Benarkah?" Bara mengernyitkan dahinya. Fira menganggukkan kepalanya. Kemudian Bara mencoba satu cilok yang ada di mangkuk istrinya itu.


Dan ketika Bara melahap cilok itu, Bara memejamkan kedua matanya. Karena ia merasakan rasa mual. Dengan terpaksa Bara menelan cilok yang tengah di kunyahnya itu.


"Bagaimana enak kan?" tanya Fira, kembali melahap ciloknya. Bara menggelengkan kepalanya, kemudian segera mengambil sebotol air mineral yang ada di dekatnya, dan segera meneguknya.


"Kau kenapa?" tanya Fira, heran melihat ekspresi suaminya.


"Fira, kau tidak merasa mual memakan cilok ini?" tanya Bara. Fira menggelengkan kepalanya.


"Cilok ini terlalu asin, bahkan rasa asinnya membuat aku mual," ucap Bara.


Bima dan Lisa datang, menghampiri mereka, sambil membawa satu mangkuk cilok yang ada di tangan mereka.


"Kak Bara kenapa?" tanya Bima, sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang ada di dekat mereka.


"Bima, kau cobalah cilok punya Kakakmu itu," perintah Bara.


"Memangnya kenapa?" tanya Bima.


"Kau coba saja dulu."


Bima mengambil satu cilok dari mangkuk Fira, dan mulai melahapnya, dan seketika ia membungkam mulutnya, kemudian berlari ke dapur.


"Ada apa dengan Bima?" tanya Lisa, dengan heran.


.


.


.


Bersambung....


Maaf ya kemarin gak sempet update. Semoga kalian tetap suka sama jalan ceritanya.


Jangan lupa like, komen dan vote. Biar author makin semangat buat up ceritanya 😊


Oh ya aku bikin novel baru judulnya 'Pernikahan Aisyah' baru ada 4 episode sih. Tapi kalau mau baca boleh hehe.

__ADS_1


__ADS_2