
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tak terasa usia kehamilan Fira sudah menginjak 4 bulan. Dan tepat satu bulan yang lalu saat melakukan pemeriksaan ultrasonografi medis 4D. Ternyata terdeteksi ada dua janin. Jadi sudah di pastikan bahwa Fira hamil anak kembar.
Bahagia bukan main, ketika Bara dan Fira mengetahui bahwa mereka akan memiliki anak kembar, namun untuk jenis kelaminnya masih belum bisa di ketahui.
Dan pagi itu, Fira tengah bersiap untuk pergi ke acara wisudanya. Merry dan Selly sejak tadi sudah meneleponnya berulang kali. Menyuruhnya agar cepat pergi ke kampus.
"Mas, lihatlah apa aku cocok memakai baju ini?" tanya Fira, yang masih sibuk memperhatikan dirinya di depan cermin.
Balutan dres brokat, berwarna biru muda cukup menampakkan perutnya yang sudah mulai membesar itu ikut terbentuk.
"Sudah bagus, cantik pula," ujar Bara, berdiri di belakang Fira sambil memperhatikan pantulan istrinya itu di cermin.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat," ajak Fira. Bara pun mengiyakan. Karena khusus hari ini Bara juga mengambil cuti kerja untuk menemani istrinya berwisuda. Terlebih ia ingin menjaga Fira sekaligus dua calon anaknya.
***
Suasana di gedung aula kampus hari ini sangat jauh berbeda dari biasanya. Panggung megah dan aula yang di hias sebegitu indahnya, serta banyaknya orang di dalam gedung aula ini membuat suasana gedung begitu ramai.
"Fira... di sini," Merry berteriak sambil melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Membuat Bara dan Fira menengok ke arahnya. Dan segera menghampirinya.
"Wah... Fira kau cantik sekali," ucap Merry begitu heboh. Selly pun mempersilakan Fira dan Bara untuk duduk di bangku kosong yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
Acara demi acara sudah di mulai sejak 30 menit yang lalu. Mulai dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sampailah di acara inti. Yaitu pemberian wisuda sarjana, dan penyerahan piagam wisudawan.
Mulai dari Fira, Merry dan Selly, mereka di panggil berdasaran urutan absen nama mereka. Terlihat sekali raut kebahagiaan di wajah ketiga wanita itu. Terlebih Fira, yang meskipun ia sedang hamil, tapi itu tak membuatnya malu.
Setelah selesai upacara peninggalan ruangan, ketiga wanita itu melanjutkan kegiatan mereka dengan sesi foto bersama teman-teman dan keluarga.
Papa Hito, Mama Wina, Lisa, Bima dan Ayah Alex pun datang, untuk ikut menyambut keberhasilan Fira dalam wisudanya.
"Mas, ayo kita foto berdua," ajak Fira kepada Bara, Bara pun dengan semangat mengiyakannya. Dengan meminta bantuan Lisa untuk memotretnya.
Dari jauh, terlihat keluarga Messy yang tengah asyik berfoto juga, di sana ada Papa dan Mamanya Messy, sekaligus Raina dan Adit yang ikut hadir.
"Keluarga Bara terlihat sekali begitu menyayangi Fira," gumam Raina dari jauh. Meskipun dihatinya masih ada sedikit rasa iri, tapi Raina sudah tak mengharapkan Bara lagi. Semenjak di pantai waktu itu, ia lebih memantapkan hatinya untuk membuka hati kepada Reza.
Selagi memerhatikan Fira dari jauh tiba-tiba seseorang menepuk sebelah bahunya. Orang itu tak lain ialah Reza.
"Raina," panggil Reza, membuat ia seketika berbalik. "Kau ada di sini?" tanya Reza. Raina mengulaskan senyumannya. Sambil mengangguk mengiyakan.
"Hadir untuk Messy," jawab Raina. Reza pun menganggukkan kepalanya.
Sementara itu, di sisi lain, Selly terlihat begitu lesu, rasanya ia begitu iri kepada dua sahabatnya, keluarga Fira dan Merry hadir untuk memeriahkan wisuda mereka. Namun tidak dengan Selly, kedua orang tuanya bahkan tak datang di acara wisudanya ini.
"Sell, orang tua lo kenapa belum kesini?" tanya Merry, yang baru saja mendudukkan tubuhnya di samping Selly, setelah sibuk berfoto dengan keluarganya.
Selly menggeleng lemah. Sedikit ia mencebikkan bibirnya, dengan menatap kosong ke sembarang arah.
"Gak bakalan ada yang ke sini Mer," jawab Selly, memasang wajah sendunya.
"Kenapa?" tanya Merry. Selly hanya diam tak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu. Fira pun ikut bergabung dengan mereka, duduk di sebelah Selly.
__ADS_1
"Kenapa Sel?" tanya Fira heran, melihat Selly yang seakan sedih.
"Orang tuaku ga bakalan datang ke sini. Sudah dua hari mereka di Yogya." Selly menarik nafasnya panjang, sambil menghembuskannya pelan.
"Yogya?" Fira mengernyit.
"Iya, kayaknya ini bakalan jadi momen terakhir kita bersama. Lusa aku bakalan nyusul orang tuaku ke Yogya," sambung Selly.
"Kenapa begitu?" Merry bertanya, terheran-heran.
"Papaku pindah dinas, dan kemungkinan bakalan tinggal lama di Yogya," jawab Selly.
"Terus, rumah yang di sini gimana?" tanya Fira.
"Mau di kontrakan ... aku juga sudah resign dari kantor. Dan mungkin kita bakalan lama gak ketemu," ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Selly... kenapa kamu baru cerita sekarang sih? Kita kan jadi sedih. Kenapa gak tinggal di sini aja Sell? Pisah sama orang tua juga, gak apa-apa kan? Hitung-hitung belajar mandiri," ucap Merry.
"Papa gak ngizinin aku Merr. Terlebih aku bakalan di jodohin sama anak temannya Papa," ucap Selly, membuang nafas. Sontak hal itu membuat Merry dan Fira sedikit tercengang saat mendengarnya.
"Dijodohkan?" tanya Merry dan Fira bersamaan. Selly menganggukkan kepalanya pelan.
Meskipun mereka berat hati akan keputusan Selly yang harus meninggalkan kota Jakarta. Tapi mereka berdua pun tak bisa melarang Selly untuk pergi. Rasanya begitu sedih ketika kita tahu, bahwa sahabat yang disayanginya itu akan pergi dan mungkin akan cukup lama tidak akan bertemu.
"Hm... sudahlah jangan melow begini, ayo kita nikmati hari ini," ucap Selly, mengembangkan senyum semangatnya.
^
"Hai Fira, selamat ya udah jadi sarjana aja nih," ucap Dion, sambil mendudukkan tubuhnya di kursi panjang di samping Bara.
Sejenak Bara melirik ke beberapa buket bunga mawar merah yang baru saja Dion letakan di atas meja.
"Kak Dion bawa bunga mawar banyak banget, buat siapa?" tanya Lisa spontan saat melihatnya.
"Buat ...." Dion mengedarkan pandangannya ke arah Fira, Merry dan Selly. Sebenarnya ia membeli bunga mawar itu karena tadi ketika di lampu merah, lagi-lagi ada anak kecil yang menawarkan bunga mawar kepadanya, karena ia orangnya tidak tega-an. Makanya Dion membeli semua bunga itu.
"Buat Merry," ucap Dion, sembarangan. Spontan membuat Merry yang sedang menikmati mie ayam langsung tersedak, dan Selly yang ada di sampingnya segera membantunya menyodorkan segelas air.
"Tidak perlu kaget seperti itu, aku membelikannya bukan untukmu saja tapi untuk kamu juga." Dion memberikan salah satu dari bunga mawar itu kepada Selly. Sebenarnya memberi kepada Selly pun hanya alasan saja. Agar tidak terlihat aneh.
"Untukku?" tunjuk Selly, kepada dirinya sendiri sambil terheran-heran.
"Iya, nih untukmu juga." Dion ikut memberikan satu mawar kepada Lisa. Lisa menerimanya dengan senang hati, meskipun ia sendiri terheran-heran.
"Kak Dion memberikan kita bunga, karena diia malu kan, jika hanya memberikannya kepada Kak Merry saja?" ucap Lisa sambil cengengesan.
"Tidak! Siapa yang malu. Aku memang membelikannya untuk kalian kok!"
"Dan, ini buat kamu Fir." Dion hendak memberikan setangkai bunga mawar itu kepada Fira namun Bara menghalanginya terlebih dahulu.
"Tidak, terima kasih. Bunganya biar untukku saja." Bara segera mengambil alih bunga itu. Kemudian memberikannya kepada Fira.
__ADS_1
"Ini, untuk istriku tercinta," ucapnya sambil menyodorkan mawar itu kepada Fira. Tentu saja hal itu adalah hal konyol yang membuat Fira terkekeh dibuatnya.
"Apa bedanya, masih sama saja! Bunga dari Kak Dion!" ujar Fira.
"Jelas beda lah, Dion memberikan bunga itu untukku, dan aku memberikannya padamu. Jadi bunga itu dariku, bukan dari Dion," kilah Bara. Fira hanya menggeleng kepalanya pelan.
"Iya deh iya, terserah Tuan Bara saja," timpal Dion. Kemudian Dion menyerahkan sisa dari bunga mawar itu kepada Merry.
"Ini ambillah, anggap saja pemberian dari teman kerja," ujarnya. Merry hanya terdiam sambil menelan salivanya.
Karena memang sudah satu bulan Merry bekerja di perusahaan Bara. Ia bisa lulus kerja di sana bukan karena di prioritaskan sebagai teman dari istri sang pemilik perusahaan. Tapi mutlak karena keterampilan dan kemampuannya dalam menjalankan tes pekerjaan.
Bahkan kedekatan antara Merry dan Dion pun semakin terjalin dekat. Namun diantara keduanya masih seperti Tom and Jerry, yang terkadang sering cekcok tapi kadang saling membutuhkan bantuan satu sama lain.
"Kenapa hanya dilihat saja? Ambil!" Dion menajamkan kedua matanya ke arah Merry. Merry hanya mendengus kesal.
"Terima kasih!" ucapnya begitu tegas.
***
Malam harinya, Bara yang berdiri di balkon, ia sedang sibuk menelepon dengan seseorang. Sedangkan Fira ia sedang sibuk berdandan, karena malam ini Bara akan mengajaknya keluar untuk makan malam.
Kini mereka berdua sudah ada di dalam mobil di perjalanan. Entah ke mana Bara akan membawa Fira pergi, namun yang pasti Fira merasa sedikit tak enak hati. Karena tak biasanya Bara mengajaknya keluar rumah di atas jam sebelas malam. Bahkan suasana jalanan pun sudah mulai terlihat sepi.
"Mas, sebenarnya kita mau ke mana tengah malam begini?" tanya Fira yang masih penasaran dengan ajakan suaminya itu.
"Em... ke suatu tempat," jawab Bara sambil fokus menyetir.
"Iya, tapi ke mana?" tanya Fira, sambil mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.
"Ini kan masih momen hari wisudamu, jadi aku ingin membawamu ke suatu tempat yang pastinya akan kamu sukai dan tak akan terlupakan," ucap Bara, sambil tersenyum seakan membayangkan sesuatu.
"Tapi aku, ngerasa gak enak hati ya," tutur Fira seakan dag-dig-dug mendengar ucapan Bara. Entah kenapa hatinya terasa begitu berdebar tak karuan.
"Tak enak hati kenapa? Tenang saja lagi pula aku kan suamimu, kamu tenang saja, selama ada aku, kamu akan aman ko sayang," tutur Bara, sejenak sebelah tangannya mengusap pelan kepala Fira.
"Ah... aku sudah tidak sabar dengan semua ini. Mereka pasti sudah menunggu di sana dari tadi," gumam Bara dalam hati.
Dilihatnya jam di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Bara dengan sengaja membawa mobilnya begitu lambat. Karena ia ingin sampai di sana tepat waktu.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa dukungan like, komen dan votenya ya.
~Selamat Hari Raya Iedul Adha 1441H~
__ADS_1