Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - 7


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Ibu dan Anak. Dinda dan Damas segera mendaftar terlebih dahulu.


"Apa sebelumnya kau pernah kemari?" tanya Damas, sambil berjalan bergandengan di koridor rumah sakit, menuju ruang pemeriksaan.


"Iya, pernah seseorang yang menyelamatkanku yang membawaku ke sini," ucap Dinda, kembali mengingat kejadian waktu itu.


"Siapa? Laki-laki tau perempuan?"


"Em ... perempuan. Dia juga bekerja di rumah sakit yang sama denganmu Mas."


"Benarkah? Siapa namanya?"


"Em... nanti deh, aku kenal-in sama kamu, aku juga belum bertemu lagi dengannya. Nanti sepulang dari sini antar aku ke Mall ya Mas, buat beli-in dia hadiah, sebagai tanda terima kasih aku padanya," ujar Dinda sambil mengembangkan senyumannya.


"Hm, baiklah."


Hampir satu jam mereka menunggu giliran untuk dipanggil ke ruang pemeriksaan. Suasana rumah sakit sore ini cukuplah ramai, yang mengantre untuk pemeriksaan kandungan pun cukup banyak.


"Kenapa lama sekali sih!" gerutu Damas yang cukup kesal karena menunggu lama.


"Sabar Mas, hari ini memang cukup banyak karena dokter yang memeriksanya, termasuk dokter terbaik di rumah sakit ini, makanya banyak orang yang memilih jadwal pemeriksaan hari ini, begitu pun denganku," tutur Dinda, sambil duduk menyender di bahu Damas.


"Memang siapa dokternya?"


"Em, namanya Dr. Andre, dia juga yang waktu itu periksa kehamilanku. Orangnya profesional, meskipun sudah lebih dari jadwal praktik, tapi malam itu, dia langsung menolong dan memeriksa keadaanku."


"Andre?" Kening Damas mengernyit, ia seolah familiar dengan nama itu belakangan ini, tapi ia lupa Andre mana.


Tak berapa lama kemudian, seorang suster keluar dari ruang pemeriksaan, memanggil nama Dinda.


Mereka berdua pun segera masuk ke dalam ruangan itu, Dinda langsung di arahkan oleh sang suster untuk naik ke brankar.


Sementara Andre ia masih sibuk dengan layar monitornya membelakangi Damas yang tengah duduk di kursi samping brankar tak jauh dari kursi kerja yang di duduki Andre.

__ADS_1


"Kemari bersama suami Nyonya?" tanya Andre begitu ramah, sambil masih fokus dengan layar monitor.


"Em, iya bersama Ayah dari anakku," jawab Dinda sedikit ragu. Karena bagaimana pun Damas bukanlah suaminya, hanya Ayah dari anaknya saja.


Seketika Andre menoleh ke arah Dinda untuk melakukan prosedur USG. Namun Andre begitu terkejut saat melihat kehadiran Damas di dekatnya.


"Kau!" Damas menatap Andre dengan tatapan tajam seakan tak suka.


Andre mengerutkan keningnya. Pertanyaan ambigu tiba-tiba terbesit di kepalanya. "Kenapa dia bisa di sini? Apa dia Ayah dari anak yang dikandung wanita ini?" batin Andre menduga-duga.


"Sialan, kenapa lelaki ini yang harus memeriksa keadaan Dinda," gumam Damas dalam hati.


"Mas, apa kau mengenal dokter ini?" tanya Dinda yang berbaring di brankar.


"Hm, tidak. Silakan dilanjut pemeriksaannya," ujar Damas dengan nada datar.


Akhirnya Andre pun memilih mengalihkan perhatiannya dan kembali fokus untuk memeriksa kandungan Dinda.


Selama Andre memeriksa sambil berbicara dengan Dinda mengenai kehamilannya. Damas hanya memperhatikannya, dengan perasaan waswas dan sedikit takut.


Setelah selesai pemeriksaan, Damas menyuruh Dinda untuk keluar terlebih dahulu dari ruangan. Awalnya Dinda merasa aneh dan menolaknya, namun pada akhirnya ia pun memilih menuruti perintah kekasihnya itu.


"Kau, yang waktu itu kencan dengan Selly kan?" tanya Damas dengan memasang wajah garang menakutkan.


"Tidak! ... Aku tidak kencan dengan Selly, aku hanya menemani adikku saja, yang memang kebetulan sedang jalan dengan Selly," jawab Andre dengan santai, sambil melepas kacamata yang melekat di kedua matanya.


"Halah... alasan saja! Ku peringatkan ya, jangan berani-berani lagi mendekati Selly! Jauhi dia, dan jangan pernah kau menghubunginya lagi!" seru Damas penuh penekanan.


"Atas hak apa kau melarangku hah?" tanya Andre menatap tak suka.


"Heh! Jangan songong ya! Kau tak tahu siapa aku hah?"


Damas perlahan berjalan mendekati kursi kerja Andre. "Aku tunangannya! Calon suami Selly!" sambungnya dengan kata yang penuh penekanan.

__ADS_1


Andre tersenyum miring, sambil berdecak dan membuang wajah ke sembarang arah. "Calon suami Selly dan calon ayah dari anak yang dikandung wanita tadi," ucap Andre dengan nada bicara yang santai, namun seolah mengejek.


"Hey Tuan, asal kau tahu ya, menyelam sambil meminum air itu sulit dilakukan, kalau kau memaksakan, kau sendiri yang akan mati kewalahan," ujar Andre dengan sedikit sindiran.


"Apa maksudmu berkata seperti itu hah?" sungut Damas, memelototkan kedua matanya, menahan emosi.


"Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya mengingatkan saja. Kalau tak bisa membahagiakan keduanya, jangan sampai kau memberikan penderitaan kepada keduanya pula," ujar Andre dengan santai.


"Kau!" Damas mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras. Emosinya seakan tersulut ketika mendengar ucapan yang dilontarkan Andre padanya.


"Pergilah, pasienku masih banyak mengantri di luar," ujar Andre sambil kembali fokus akan layar monitornya. Dan membelakangi Damas begitu saja.


"Awas kau! Kalau kau sampai berani memberitahukan masalah ini kepada Selly, kupastikan hidupmu tidak akan tenang!" Ancam Damas begitu tegas, kemudian ia segera berlalu keluar meninggalkan ruangan itu.


Sejenak Andre menoleh ke arah pintu, yang baru saja Damas tutup dengan begitu keras penuh emosi.


"Tidak kusangka, dia ternyata bukan lelaki baik-baik. Aku tidak bisa membiarkan Selly menikah dengan lelaki seperti itu. Aku harus membicarakan hal ini kepada Selly. Iya, aku harus memberitahukannya secara langsung kepada Selly," gumam Andre begitu gusar, cemas dan tak tenang.


Ingin rasanya ia langsung memberi tahu kepada Selly, bahwa Damas mempunyai wanita lain. Tapi tentunya ia tak bisa melakukan hal itu sekarang, ia tak punya bukti, pun Selly tak akan mempercayainya begitu saja.


Andre juga takut akan Selly, kalau sampai Selly benar-benar menikah dengan lelaki brengsek tadi, sudah dipastikan kehidupan Selly pasti akan berjalan menyakitkan.


"Aku harus memberi tahunya, tapi bagaimana caranya?" gumamnya dalam hati, terlihat begitu cemas.


Ia pun mengambil ponselnya, hendak menelpon Selly, tapi ia urungkan kembali, karena ia takut Selly akan salah paham padanya, dan malah mengiranya mengatakan yang tidak-tidak.


"Baiklah, semuanya harus direncanakan terlebih dahulu, aku tak bisa jika langsung memberi tahunya seperti ini," gumam Andre dalam hati, penuh tekad.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Pengen di boom vote dong hehe, biar makin semangat nih nulisnya.


Yang tanya kapan ketahuannya, bentar lagi ketahuan kok, tenang aja pasti ketahuan, tapi semua juga butuh proses Kakak zheyeng... alur nya gak mungkin langsung author blak-blak ini tanpa proses. Jadi bersabar saja ya Kakak Zhayang.


__ADS_2