
"Selly tenanglah," ucap Andre sambil memegang salah satu bahu wanita itu.
Selly masih tercengang, menatap Andre dengan penuh keheranan.
Tapi, tiba-tiba ....
"Selly!" Gelegar suara seorang lelaki yang tak asing terdengar jelas di telinga Selly.
"Bapak," ucap Selly saat melihat kehadiran kedua orang tuanya yang sudah ada di ambang pintu kamar.
Setyo yang tak bisa mengendalikan amarahnya, ia langsung menghampiri Andre dan ....
Bugh ....
Satu pukulan melayang tepat di sebelah pipi Andre. Membuat lelaki itu jatuh tersungkur di atas lantai. Ningsih yang melihatnya, ia langsung menarik suaminya itu menjauhkannya dari Andre.
"Pak sabar... jangan main pukul begitu." Setyo sedikit memundurkan langkah kakinya saat Ningsih mencoba menenangkannya.
Andre pun segera berdiri kembali, sambil mengusap sebelah sudut bibirnya yang terasa perih dan sedikit berdarah itu.
"Kamu apakan anak saya hah!" seru Setyo dengan nada bicara yang penuh emosi.
"Pak, ini salah paham. Saya bisa jelaskan semuanya Pak," ujar Andre memohon.
"Nak Andre," ucap Dori, begitu ia datang memasuki kamar, yang di rasa sedang ada keributan.
"Siapa dia?" tanya Setyo pada Dori.
"Di-dia kerabat saya Pak," jawabnya.
Selly yang masih sedikit merasa pusing, ia pun akahirnya ikut bersuara. "Pak, ini salah paham, dia temanku," jawabnya.
"Teman?" Setyo mengernyit heran.
"Pak, itu lelaki yang waktu itu pernah jengukin Bapak ke rumah sakit," ucap Ningsih menjelaskan.
Keadaan pun seketika menjadi hening. Semuanya berada dalam situasi yang tidak menyenangkan.
***
Kini Setyo, Ningsih, Andre, Selly dan juga Dori sedang duduk melingkar di atas sofa di ruang tamu. Dengan suasana yang masih terasa ambigu.
__ADS_1
"Jelaskan, kenapa kalian bisa berduaan di dalam kamar yang gelap hah?" Suara Setyo terdengar begitu tegas penuh selidik.
"A-aku tidak tahu, tadi kejadiannya tidak se-" Belum selesai Selly menjelaskan, Setyo terlebih dahulu memotong pembicaraannya.
"Tidak tahu bagaimana? Jelas-jelas kalian berduaan di kamar. Dan kau juga Selly, kenapa kamu melepaskan jilbabmu di depan lelaki yang bukan mahram kamu!"
Selly masih menunduk takut akan amarah Bapaknya yang sepertinya sedang meluap-luap itu.
"Pak, biar saya jelaskan terlebih dahulu semuanya Pak," ujar Andre sedikit takut.
"Kalau begitu cepat jelaskan! Kenapa semua ini bisa terjadi!" seru Setyo menatap tajam kedua bola mata Andre.
Andre pun mulai menjelaskan kronologi kejadian itu bisa terjadi, mulai dari ia yang mengikuti lelaki misterius itu, sampai pada akhirnya ia datang untuk menolong Selly.
"Lalu, kenapa kamu membawa anak saya ke kamar hah? Kau ingin bermacam-macam kepada anak saya!"
"Tidak Pak, tidak seperti itu, saya membawanya ke kamar karena saya ingin meminta pertolongan," ucap Andre mencoba menjelaskan, tapi ia sedikit kesulitan menjelaskannya.
Setyo tertawa sinis. "Meminta pertolongan kok sampai membawanya masuk ke kamar, gelap-gelapan pula!"
Dori yang berada di situ, ia pun merasa tak percaya kenapa Andre bisa sampai membawa Selly masuk ke kamar, yang sudah jelas itu akan menimbulkan fitnah.
Andre cukup terkesiap mendengar pertanyaan lelaki itu. Ia merasa dirinya sedang di tuduh. "Paman, kalau Paman percaya kepadaku, kenapa paman sampai bertanya seperti itu? Aku tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh kepada Selly," ujar Andre sedikit emosi.
"Kalau begitu apa alasanmu membawa anak saya masuk ke dalam kamar?"
"Karena saya ingin mencari pertolongan, tapi saya juga tidak tega membiarkan Selly begitu saja di ruang tamu, makanya saya membawa Selly ke kamarnya. Saya juga tidak tahu kalau listriknya akan mati."
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak membawa anak saya ke rumah Pak Dori untuk meminta pertolongan. Aneh, alasan macam apa itu." Setyo menyilangkan kedua tangannya di atas perut, sambil menatap Selly dan Andre secara bergantian.
"Pak, aku bisa menjamin, Dr. Andre tidak melakukan apa pun kepadaku, dia hanya membantuku saja Pak," seloroh Selly mencoba meyakinkan Bapaknya, bahwa semua itu tidak sama dengan apa yang dipikirkan oleh Bapaknya itu.
"Tetap saja, perbuatannya itu tidak bisa dibenarkan. Yang pertama, salah karena telah berani membawamu ke kamar dalam keadaan kamu masih pingsan. Dan jelas, itu tidak sopan! ... Yang kedua, ini sudah hampir tengah malam, dan kalian berada di dalam kamar yang sama, gelap-gelapan pula. Dan yang ketiga, Bapak melihat dengan jelas saat tadi masuk ke dalam kamar, kamu dan lelaki itu saling bertatap-tatapan dalam jarak wajah yang cukup dekat!" jelas Setyo begitu rinci.
"Kalau sudah seperti ini, kau harus bertanggung jawab," ujar Setyo kepada Andre.
Hening ...
"Kamu harus menikahi anak saya!" sambungnya, membuat semua orang terkejut.
"Apa!" Semua orang begitu tercengang, termasuk dengan Andre dan Selly, yang begitu tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh lelaki paruh baya tersebut.
__ADS_1
"Saya tidak ingin nama baik keluarga saya maupun nama baik anak saya, tercoreng akibat kejadian malam ini," lanjut Setyo masih dengan memasang wajah yang tak ramah.
"Bapak, Pak dokter hanya menolongku, bukan memperkosaku! Tak perlu harus sampai bertanggung jawab menikahi aku Pak!" bantah Selly yang tak terima dengan ucapan Bapaknya itu.
Ningsih sejenak terdiam, menatap raut wajah antara Selly dan Andre secara bergantian.
"Apa ini, apa yang harus aku lakukan? Kenapa semuanya malah jadi salah paham seperti ini," gumam Andre menatap kosong ke arah meja yang berada di tengah-tengah mereka.
"Benar kata Bapakmu Nak, kejadian malam ini Ibu takut akan menjadi fitnah dan bahan gunjingan orang-orang di sini. Lebih baik kalian mempertanggung jawab kan semua ini," ucap Ningsih menengahi.
"Tapi Bu, ini bukanlah masalah serius! Dr. Andre juga tidak mungkin menikahiku. Pak, Bu, percayalah aku dan Dr. Andre tidak melakukan apa pun. Aku bisa menjaminnya, bahkan aku bersumpah Bu," tutur Selly dengan wajah memelas, berharap orang tuanya itu bisa merubah keputusan.
Keadaan pun terasa semakin rumit. Akhirnya Setyo memilih untuk mengakhiri obrolannya dan meminta Andre untuk pulang. Dori pun ikut pulang menemani Andre.
"Cepat masuk ke kamarmu!" ujar Setyo begitu semua Andre dan Dori sudah pergi.
"Bapak!" Selly masih merengek, berharap Bapaknya kali ini tak akan memaksanya kembali.
Sementara itu, Andre dan Dori kini tengah berjalan beriringan. Tak ada yang bersuara sedikit pun di antara keduanya. Andre masih saja tak percaya bahwa kejadian tadi akan berbuntut panjang hingga menimbulkan hal yang begitu serius.
"Ndre, tenangkanlah pikiranmu. Ini memang tidak mudah, tapi alangkah baiknya kamu mempertanggung jawab kan perlakuanmu itu."
Andre seketika menoleh ke arah Dori menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. "Paman, apa Paman benar-benar tidak mempercayaiku? Aku hanya menolongnya saja Paman, tidak ada niatan lain!" Andre seakan kecewa kepada lelaki paruh baya itu.
"Iya, Paman mengertii, tapi perbuatanmu yang membawa Non Selly ke kamarnya itu memang tidak bisa dibenarkan. Itu sudah melebihi batas dari seseorang yang berniat ingin menolong, seharusnya kamu juga kalau tahu begitu, datang saja bawa Non Selly ke rumah Paman, bukan membawanya ke dalam kamar."
Andre terdiam, ia tak bisa menyangkal, karena memang yang dilakukannya itu hal yang bisa di bilang salah juga.
"Pikirkan baik-baik, dan datanglah besok menemui Pak Setyono bersama Paman." Dori menepuk sebelah bahu Andre, lalu ia pun berlalu untuk belok pulang ke rumahnya.
Sementara Andre, kini ia melangkahkan kakinya terus berjalan melewati jalanan berpasir itu, langkahnya terasa begitu lemas, anatara menapak dan tidak, seolah-olah dirinya melayang. "Kenapa harus seperti ini? Kalau pun aku harus bertanggung jawab dan menikah dengan Selly, tapi kenapa harus dengan kesalah pahaman seperti ini?" Andre mengusap wajahnya dengan kasar.
"Nenek? ... Obat nenek?" Ia baru tersadar kalau obat miliknya yang sempat tadi ia beli, tertinggal di vila mawar. Akhirnya mau tak mau Andre pun harus pergi lagi ke Apotek untuk membeli obat neneknya itu. Karena kalau dirinya kembali lagi ke vila itu, rasanya tidak memungkinkan.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1