
Brakkk.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan lebar, bahkan terlihat hampir copot dari tempatnya. Pintu itu ditendang sekuat mungkin oleh seseorang yang kini sedang berdiri, tepat di jalan pintu.
Semua mata tertuju ke arah orang itu, dan betapa terkejutnya mereka semua, saat mengetahui siapa orang yang menendang pintu itu. Semua seakan tegang dan takut, melihat raut wajah yang tak ramah dari orang itu. Terutama Raina yang dibuat takut dan menarik baju neneknya, hendak bersembunyi di balik tubuh kecil neneknya itu.
"Beraninya kalian membohongiku!" teriak Bara, matanya memerah, rahangnya mengeras. Rasanya ia ingin menyumpal mulut-mulut para pembohong itu dengan kepalan tangannya.
Mata Bara tertuju ke arah dokter lelaki paruh baya itu. Dokter itu terlihat menundukkan pandangannya. Tangannya terlihat bergetar, pikirannya seakan kacau.
Bara meraih kemeja bagian leher Pak dokter itu. Mencengkeramnya begitu kuat dengan kedua tangannya. Bahkan membuat dokter itu menjinjitkan kakinya, karena tubuhnya yang seakan melayang terangkat dari lantai yang di pijaknya.
"Kau sungguh tidak bermoral menjadi seorang dokter! Bahkan kau tidak pantas di panggil dokter!" seru Bara, berkata penuh penekanan. Dan dengan sekejap ia menghempaskan tubuh lelaki tua itu, melepaskannya dari cengkeraman eratnya. Membuat lelaki itu tersungkur, sempoyongan karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, hingga ia jatuh, terduduk di atas lantai.
"Bersiaplah, lisensimu akan segera dicabut!" tegas Bara kepada sang dokter, sambil membuang muka. Dokter itu seketika memohon ampun, dan memeluk kaki Bara, memohonnya agar tidak mempersulit urusan ini, bahkan dokter itu terus berucap maaf kepada Bara. Namun Bara tak menghiraukannya.
"Lepaskan! Jauhkan tubuhmu dari kakiku!" Bara menarik paksa kakinya, dari pelukan sang dokter yang masih duduk bersimpuh memohon padanya.
Kini mata Bara beralih menatap Raina dan neneknya secara bergantian.
"Sampah!"
"Cara kalian untuk menahanku di sini sungguhlah kuno!"
Raina terlihat mencengkeram erat lengan baju neneknya, ia semakin takut, saat Bara sudah mulai berbicara padanya. Sebelumnya ia tak pernah melihat Bara semarah ini. Raina hanya mampu memejamkan matanya. Sedangkan neneknya, wanita tua itu hanya mampu mencengkeram kuat selimut yang menutupi sebagian tubuh cucunya. Ia pun sama merasakan takut akan amarah Bara.
"Nenek, selama ini kukira kau orang baik, kau peduli kepada siapa pun. Tapi ternyata kau tak sebaik yang aku kira. Bahkan kau sendiri malah mendukung kebodohan yang dilakukan oleh cucumu sendiri. Apa kau tidak pernah berpikir? Bagaimana jika posisi Fira dan Raina yang ditukar? Apa yang akan kau lakukan jika ada wanita lain yang berusaha menahan suami dari cucumu, hanya untuk menemaninya!"
"Apa kau akan diam saja hah? Apa kalian tidak memikirkan perasaan istriku?" Mata Bara terbuka lebar, menatap wanita tua itu, dengan penuh amarah.
"Jauh-jauh aku datang kesini, meninggalkan istriku sendirian di rumah, hanya untuk menyaksikan drama menjijikkan seperti ini? Haha, sungguh aku telah tertipu dengan kebodohan yang kalian buat."
Nenek Raina semakin takut, ia hanya bisa diam tak mampu berkata apa-apa, setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Bara, semuanya adalah kebenaran. Tak seharusnya ia membiarkan cucunya terjerumus ke dalam hal yang salah. Dan seharusnya ia tidak memanjakan cucunya, dengan mengikuti dan mewujudkan semua keinginan cucunya, sekalipun itu keinginan yang salah.
"Nak Bara, maafkan saya, saya tahu saya salah, tapi nenek mohon, jangan kau membenci cucu saya ya...." pinta Nenek.
"Haha" gelegar tawa mengejek keluar begitu saja dari mulut Bara. Lucu Rasanya setelah apa yang dilakukan oleh wanita tua itu kepadanya, lalu Dia memohon agar Bara tak membenci cucu kesayangannya.
"Raina, kau tak perlu berlagak ketakutan seperti itu, kau itu wanita pemberani bukan? ... Berani bertindak demi meraih apa yang kau inginkan meskipun dengan cara yang salah. Jadi tak perlu kau memasang wajah yang menyedihkan seperti itu!"
"Wanita sepertimu tidak akan pernah puas, jika apa yang kau inginkan belum tercapai."
"Tapi, cukuplah! ... Hentikan semua ini, kita sudah berada di jalan yang berbeda. Bukankah kau sudah mempunyai calon suami? ... Dan seharusnya kau sadar, kalau di antara kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi!"
__ADS_1
"Dan kutegaskan padamu! ... Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" seru Bara, sambil mengarahkan telunjuknya ke hadapan Raina. Menegaskan setiap ucapannya agar wanita itu mampu memahaminya.
Bara, berbalik dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu. Namun sebelum pergi, ia kembali menatap ke arah dokter lelaki paruh baya itu.
"Kali ini aku masih bisa mengampunimu! Pergilah, tinggalkan kota ini, dan cari pekerjaan baru di rumah sakit lain!" tegas Bara.
Karena, Bara adalah salah satu penyuntik dana terbesar untuk rumah sakit ini. Bahkan ia bisa dengan mudahnya meminta direktur asosiasi rumah sakit untuk menangguhkan pekerja yang ia rasa tidak pantas bekerja di rumah sakit ini.
Bara pun segera keluar meninggalkan ruangan itu, dan ketika ia keluar dari ruangan itu, terlihat ada beberapa orang yang berdiam di luar, karena mereka mendengar suara kegaduhan dari ruangan Raina.
Bara tak memperdulikan mereka, ia segera berlalu meninggalkan rumah sakit itu, dan kembali ke rumah.
***
Sementara itu di kediaman rumah Papa Hito. Fira sedari tadi tidak bisa tertidur. Ia hanya membolak-balikkan posisi tidurnya ke kanan dan ke kiri.
Dalam hatinya ia masih cemas, karena sedari tadi Bara tak mengabarinya, bahkan Fira mencoba menelepon Bara berkali-kali namun tidak dapat terhubung.
"Apa Mas Bara baik-baik saja? Kenapa dari tadi dia tidak menelponku?" gumam Fira, memasang wajah kecewanya. Ia pun bangun dari tidurnya. Kemudian berjalan mengambil tasnya yang ada di meja rias.
Fira membuka tasnya, dan meraih satu bungkus permen dan selembar obat, yang tak lain ialah obat vitamin miliknya. Ia membuka bungkus permen itu, dan segera melahap permennya.
"Eh... ternyata sudah kadaluwarsa," gumam Fira, saat ia meneliti obatnya itu. Karena ia membeli vitamin itu sudah cukup lama, dan baru beberapa kali saja ia meminumnya.
Fira pun berjalan mendekati tong sampah, yang ada di sudut ruangan dekat lemari pakaian. Ia segera membuang vitamin dan bungkus permen itu ke dalam tong sampah yang terlihat kosong itu.
"Raina," gumam Fira. Bahkan permen yang baru di kunyahnya itu tak sengaja tertelan, karena saking terkejutnya.
"Apa ini foto yang Lisa bilang waktu itu?" tanya Fira.
Kemudian ia membalik kertas foto itu. Dan di balik foto itu terdapat sebuah tulisan.
[ Ragaku memang milik wanita itu, tapi hatiku akan tetap menjadi milikmu selamanya]
[ Bara love Raina ]
Fira terdiam, tak bergeming dari tempatnya. Ia terus memandangi tulisan itu, dan mencoba membacanya kembali.
"Aku tidak salah baca kan?" gumamnya, sambil tersenyum getir menatap foto itu.
Ia menarik nafasnya begitu dalam, dan mengembuskannya dengan pelan. Matanya kini melirik ke arah jarum jam, yang terpajang di salah satu sisi tembok kamarnya.
Matanya kini beralih kembali, menatap tulisan itu. Tiba-tiba rasa sesak di hati harus kembali ia rasakan.
__ADS_1
"Hatimu selamanya milik Raina?" gumamnya.
"Apa namaku tak pernah ada dihatimu Mas?" ucapnya bertanya sendiri.
"Apa sebegitu berkuasanya wanita itu menguasai hatimu?"
"Bahkan sampai saat ini kau tak ada mengabariku," ucapnya pelan dan seakan berat.
Fira kembali melihat ke arah jam, yang sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Pikirannya kini dipenuhi mengenai Raina dan Bara.
"Pantas saja, Mas Bara tadi terlihat cemas saat mendapat kabar mengenai Raina. Bahkan dia tak mengizinkanku untuk ikut bersamanya."
Fira mencoba tersenyum, ingin rasanya ia mengalihkan pikirannya ke hal yang lain. Namun ia tak bisa melakukannya. Karena saat ini, di dalam pikirannya hanya ada nama Bara dan Raina.
Tiba-tiba tetesan demi tetesan lolos begitu saja dari mata Fira, mengalir membasahi pipinya. Hatinya seakan terluka, jika ia harus mengingat ucapan Raina tadi siang yang mengatakan, kalau hati Bara tetaplah milik dia.
Fira mencoba tersenyum, di balik deraian air mata yang terus membasahi pipinya itu, "Benar-benar bodoh!"
"Hey Fira, kau ini siapa? berani-beraninya mengharapkan cinta dari seorang lelaki yang mencintai wanita lain," gumamnya, berbicara sendiri sambil menatapi foto yang ada di tangannya.
Ia mengingat kembali perjanjian pernikahannya dengan Bara. Ia mengingat dengan betul, kalau Bara berkuasa atas segalanya.
"Mas Bara yang berkuasa, bahkan jika kemarin Mas Bara merobek kertas itu, Mas Bara bisa dengan mudahnya membuat kembali perjanjiannya. Lalu apa yang meski aku harapkan setelah kejadian kemarin?"
"Apa aku salah jika mengharapkan rasa cinta dari suamiku sendiri?"
"Apa aku salah, jika aku masih ingin mempertahankan pernikahan ini?"
"Apa yang sebenarnya Mas Bara lakukan? Kenapa semuanya terasa menyakitkan bagiku?" Fira terduduk lemas, sambil menekuk dan memeluk lututnya. Menenggelamkan wajahnya di atas kedua lututnya itu.
Sungguh malang nasib Fira, duduk bersedih di tengah malam, sendirian tanpa ada yang menemani. Andaikan ayahnya ada di sana, ia pasti sudah meminta ayahnya untuk meredakan rasa sedihnya. Bahkan jika ada Bima di sampingnya, ia pasti sudah meminta Bima untuk menghiburnya.
“Apa harus sesakit ini, jika aku mengharapkan cintanya? Apa harus sepilu ini jika aku memilikinya selamanya?”
“Apa yang sebenarnya aku rasakan? Kenapa perasaan ini malah melukai hatiku sendiri,” gumam Fira, sambil sesenggukan.
Ceklek, pintu kamar terbuka. Seseorang yang berdiri di tengah pintu, kini berjalan menghampiri Fira.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
*Buat teman-teman yg punya aplikasi Novel*me aku juga nulis di sana. Barangkali ada yang mau baca karyaku di sana judulnya*. PENJARA PERNIKAHAN nama pena Delia Septiani