
Hans berjalan kembali masuk ke dalam kamar, ia membawa makanan yang telah dimasak Tiara sebelum kejadian tadi. Dirinya sudah sangat lapar dan kebetulan pun ia mengingat makanan itu, karena tidak ingin makan sendiri Hans memutuskan membawa makanan itu masuk ke dalam kamar. Mana tahu Tiara juga ingin memakannya, dengan kondisi seperti ini memang lebih baik banyak makan agar cepat sembuh.
"Kamu membawa makanan?"
"Iya aku membawa makanan kamu masak tadi, kamu mau makan juga? Aku suapin ya.." Hans duduk di samping Tiara.
"Apa masih enak? Aku masaknya pagi tadi sekarang sudah mau sore, rasanya pasti sudah tidak seenak tadi pagi," ucap Tiara.
"Mau bagaimana lagi, tadi aku suruh kamu mengambil makanan ini malah kamu bertengkar dengan mereka berdua, mana kamu sempat tidak sadarkan diri beberapa jam," kata Hans.
"Kamu sudah berbicara dengan mereka? Apa kata mereka?"
__ADS_1
"Apa penting berbicara dengan orang bodoh seperti mereka? Setelah apa yang aku berikan, setelah mereka menikmati semua fasilitas yang aku berikan, mereka masih seperti ini bukannya mereka sangat bodoh. Aku tidak suka ada orang bodoh di rumah ini," ucap Hans.
Tiara mengerutkan dahinya, dirinya mendadak mengerti apa yang Hans maksud.
"Kamu mengusir mereka dari rumah ini karena aku," tanya Tiara.
"Aku mentalak mereka berdua, kami hanya menikahi tidak ada buku pernikahan, tidak ada halangan bagiku untuk langsung dengan mereka berdua, aku tidak bisa memaafkan apa yang mereka lakukan padamu," jawab Hans.
"Karena kelakuan mereka sudah sangat keterlaluan, sudah jangan kamu pikirkan, mereka mempunyai orang tua dan sebelum kami menikah mereka berdua sudah tahu jika aku bisa membuang mereka sewaktu-waktu kapanpun aku mau, sekarang sudah waktunya," ucap Hans.
"Sayang kamu begitu kejam, mereka pasti sakit hati yang aku takutnya mereka balas dendam pula padaku," kata Tiara sambil mengusap wajah Hans, pria ini sudah sangat berbeda dari pertama kali mereka bertemu.
__ADS_1
"Selagi kamu bersama aku tidak akan ada yang bisa balas dendam pada kamu," ucap Hans.
Selain pelayan sekarang Tiara satu-satunya wanita yang ada di rumah ini, ibarat kata Tiara sudah menjadi ratu di rumah ini, dan sang raja Hans baru saja memberikan gelar itu padanya. Tiara masih tidak percaya semua ini datang begitu cepat padanya, padahal bayangannya dirinya akan sangat tersiksa di rumah. Sampai sekarang ia tidak merasakan hal itu, malahan ia jauh lebih bahagia dari sebelumnya.
"Kenapa kamu diam seperti ini, apa kamu tidak suka satu-satunya wanita yang hadir dalam hidupku," tanya Hans.
"Tidak tidak bukan begitu, aku sangat suka bisa menjadi satu-satunya wanita yang ada di dalam hidup kamu, tetapi aku sangat takut kalau mereka berdua malah dendam pada kita berdua, karena sakit hati semua orang bisa melakukan hal apa saja demi membalaskan rasa sakit hati itu," ucap Tiara.
"Jangan takut, kamu selalu aman bersama denganku. Tidak ada yang bisa melukaimu, bahkan menyentuhmu selain aku, sedendam apapun mereka pada kamu mereka pasti akan berpikir dua kali untuk melampiaskan dendam itu," kata Hans.
Tiara menganggukkan kepalanya, ia berharap apa yang Hans katakan benar. Ia ingin kedepannya rumah tangga mereka berdua selalu bahagia tanpa ada gangguan dari manapun.
__ADS_1