
Merry dan Dion kini sudah duduk menunggu di sebuah restoran privat, yang terkenal di daerah Jakarta. Mereka berdua menunggu kedatangan mama dan papanya Dion. Dengan sedikit hati yang berdebar, karena takut kejadian buruk seperti kemarin terulang lagi, tapi Merry mencoba untuk tidak menunjukkannya di hadapan Dion.
"Dion, apa papa kamu juga sama galaknya dengan mamamu?" tanya Merry, yang entah sejak kapan mereka berdua sering saling memanggil nama tanpa ada kata Tuan atau Nona lagi.
"Enggak, papaku kebalikan dari mamaku. Yang penting nanti kamu harus bisa menjaga sikap aja. Awas jangan sampai bicara yang enggak-enggak," tutur Dion menjelaskan. Di iringi dengan kepala Merry yang mangut-mangut, menandakan mengerti.
"Sudah cepat habiskan kuenya, kalau nanti mama sudah datang, kamu gak bakalan bisa makan dengan tenang," ujar Dion, Merry pun mengiyakan dan segera menghabiskan satu potong cheese cake, yang tersisa setengahnya itu.
Hingga kini jam di dinding sudah menunjukkan pukul 20.30 malam. Namun kehadiran kedua orang tua Dion tak kunjung datang juga. Bahkan Merry sedari tadi, sudah kekenyangan mencicipi makanan yang sudah tersaji di atas meja.
"Jadi enggak nih?" tanya Merry. Dion tetap fokus menatap layar ponselnya, mencoba menghubungi papanya berkali-kali namun tetap tidak ada jawaban.
Dan tiba-tiba terbukalah pintu ruang makan mereka. Kehadiran Papa dan Mamanya Dion, sontak membuat Merry yang sedang duduk bersantai, langsung sigap berdiri, sambil melebarkan senyumannya. Begitu pun dengan Dion, yang segera menyambut kedatangan orang tuanya.
"Kuat juga perempuan ini bertahan di samping anakku," gumam Mama Dion, yang kini sudah mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang melingkari meja makan.
Mereka pun saling menyapa satu sama lain. Dan segera melanjutkan makan malam. Di sela-sela makan, Papanya Dion juga memberikan beberapa pertanyaan kepada Merry.
"Sudah lama menjalin hubungan dengan anak saya?" tanya Papa Dion dengan nada suaranya yang cukup ketus. Merry mengangguk mengiyakan.
"Sejak kapan?" Mendengar pertanyaan itu, Merry sedikit gugup, dan sejenak melirik ke arah Dion, karena ia tak tahu harus menjawab apa.
"Sudah satu tahun Pa," jawab Dion. Padahal mereka kenal saja baru sekitar 5 bulanan.
"Apa yang kamu suka dari anak saya?" tanya Papa Dion kembali.
Perasaan nervouse semakin mencekam dalam dirinya. Merry pun mencoba menenangkan diri, agar tidak terlalu kaku.
"Di-Dion orangnya baik, pekerja keras ...." Merry sejenak menatap ekspresi Papanya Dion yang terlihat biasa-biasa saja, ketika mendengar ia memuji anaknya. "Terus... Dion agak sedikit gila, cerewet, dan menyebalkan. Tapi itu yang membuat saya suka padanya," ujar Merry, berbohong. Tapi kalau mengutarakan sifat asli Dion itu memang benar.
Dion yang mendengarnya, seolah tak terima, ia menatap tajam ke arah Merry, seakan ingin menerkam perempuan yang ada di sampingnya itu.
"Dia ini, malah menjelekkanku di hadapan Mama dan Papa," gumam Dion dalam hati.
Namun tidak dengan Papanya Dion, yang justru malah tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Merry. Padahal Merry bukan sedang ngelawak, dan tidak ada hal yang lucu juga.
"Kamu benar, anak saya ini memang sedikit gila, sama seperti saya, kalau kita sudah ada di rumah bersama, pasti sifat asli saya dan Dion keluar, gak beda jauh lah. Meskipun saya tidak cerewet. Tapi memang benar Dion sedikit cerewet sama seperti Mamanya," ujar Papa sambil terkekeh. Tak sadar, bahwa istrinya yang duduk di sampingnya, sudah memasang wajah penuh amarah.
"Kamu ini wanita pertama yang bisa jujur seperti ini kepada saya. Jika wanita lain menyukai anak saya karena kelebihannya, kamu justru tak sungkan menyukai dan menerima kekurangan anak saya," sambung Papa Dion yang masih memasang wajah bahagianya.
"Papa, Papa ini bagaimana sih!" gerutu Mama Dion, yang seolah tak suka suaminya bersikap baik kepada Merry. Padahal sejak tadi masuk, auranya sungguh sangat menakutkan, namun berbeda dengan sekarang yang terlihat lebih asyik dan menyenangkan.
Mereka semua pun kembali melanjutkan makan-makannya. Hingga di detik-detik terakhir, sebuah pertanyaan mengejutkan terlontar begitu saja dari mulut sang Papa.
"Jadi, kapan kalian akan bertunangan?" tanya Papa.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Merry yang tengah menikmati secangkir jus, ia langsung tersedak. Dan segera dibantu oleh Dion, untuk menenangkannya.
Sejenak Merry menatap Dion, seolah penuh tanda tanya. "Kenapa bisa jadi bergini?" batinnya.
"Em... untuk masalah itu, kami belum memikirkannya Pa," jawab Dion, dengan keringat panas dingin yang menyerangnya. Ia sungguh tidak menyangka bahwa Papanya akan memberikan lampu hijau secepat itu. Bahkan ini sudah berada di luar nalarnya. Tak pernah sekalipun ia membayangkan semua ini.
"Jangan kelamaan, Papa juga tahu, wanita tak suka jika di suruh menunggu lama-lama," ucap Papa sambil tersenyum ke arah Merry. Merry hanya mampu mengangguk, sambil memaksakan bibirnya agar tersenyum.
"Tenang saja, pertunangan kalian biar Papa dan Mama yang mengurusnya, kalian hanya perlu menunggu waktunya tiba saja," ujar Papa. Sontak membuat kedua mata Mama Dion, membulat dengan sempurna.
"Papa! Tidak perlu secepat itu. Lagi pula kita belum mengenal Dia dengan baik," ujarnya sambil melirik tak suka ke arah Merry. "Asal usul keluarganya pun kita belum tahu!"
"Aih... Mama ini, sudah tenang saja, kapan-kapan kita adakan pertemuan orang tua, sekaligus melamar Merry untuk Dion," tambah Papah, membuat hati Merry dan Dion seolah sedang bergendang begitu keras. Dag dig dug ser ....
^
__ADS_1
Seusai acara makan malam tadi, Dion mengantarkan Merry untuk pulang. Bahkan di sepanjang perjalanan, Merry terlihat begitu gelisah. Hingga akhrinya kini mereka sudah sampai tepat di halaman rumah Tantenya Merry.
"Terima kasih, sudah mau membantuku lagi," ujar Dion. Yang kini sudah berdiri berhadapan di depan pintu rumah.
Merry hanya menganggukkan kepalanya, sambil memasang wajah sendunya, yang seolah sedang di hujam ribuan pertanyaan di kepalanya.
"Dion, apa Papamu itu benar-benar serius?" tanya Merry. Dion sejenak menghela nafas, lalu menghembuskannya pelan.
"Maaf, a-aku juga tidak tahu kalau keadaannya bakalan seserius ini. Tapi, papaku kalau sudah setuju dan ada niat, pasti dia benar-benar serius dengan apa yang di ucapkannya."
"Termasuk menemui keluargaku?" tanya Merry, semakin tak menyangka. Dion pun menganggukkan kepalanya.
"Ya Tuhan... bagaimana ini. Aku bingung, kita kan tidak serius. Kenapa semuanya malah jadi seperti ini." Merry memegang kepalanya seolah pusing.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka lebar, di ambang pintu terlihat Tantenya Merry yang sudah berdiri menatap heran kedua oranf yang ada di hadapannya.
"Ada apa? Kau kenapa Mer?" tanya Tante. Merry menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa," jawab Merry.
"Malam Tante," sapa Dion, Tante Merry pun mengangguk tersenyum membalas sapaan Dion.
"Dion, kau pulanglah saja, terima kasih sudah mengantarkanku pulang," ucap Merry, yang langsung berlalu masuk melewati Tantenya begitu saja.
Sejenak sang Tante merasa bingung dan curiga, seperti ada hal lain yang di sembunyikan mereka berdua.
"Apa yang terjadi? Kenapa keponakan saya terlihat lesu seperti itu?" tanya Tante. Dion merasa gugup dan bingung harus menjawab apa.
"Em... sa-saya tidak tahu tante."
"Apa kalian ada masalah?" Sang Tante mautkan kedua alisnya menatap tajam ke arah Dion. Dion pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Saya pulang dulu ya Tante, sudah malam. Mari." Dion dengan cepat segera berlalu menjauh dari rumah itu. Dan segera masuk ke dalam mobilnya, untuk segera pulang kembali ke apartemennya.
***
Siang itu, Fira sengaja datang ke kantor Bara, untuk mengantar makan siang. Entah kenapa tiba-tiba hari ini Fira ingin sekali makan dengan suaminya. Mungkin kedua anaknya yang masih di dalam perut, ikutan kangen kepada Bara.
"Merry...." Fira berteriak memanggil Merry, yang baru saja keluar dari ruang kerjanya. Dan kebetulan sekali berpapasan dengannya.
"Fira," pekik Merry, yang sedikit terkejut melihat kehadiran sahabatnya yang ada di sana.
"Hey, sudah istirahat belum?" tanya Fira. Merry mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah, ayo kita makan siang bersama saja," ajak Fira. "Ini, lihatlah aku membawa banyak makanan."
Sejenak Merry melihat paper bag cukup besar yang di jinjing oleh Fira. Namun ia menolak, karena Merry tahu, Fira membawa makanan sebanyak itu pasti untuk suaminya.
"Aku gak enak sama suami kamu," lirih Merry. Namun Fira tetap memaksanya. Membuat Merry tak bisa menolak, apalagi kini Fira sudah menyeretnya masuk ke dalam ruang kerja Bara. Tak perlu mendapatkan janji, karena orang-orang kantor kini sudah mengetahui bahwa Fira adalah istri dari presdir mereka. Jadi Fira bebas, mau kapan saja masuk ke ruang Bara.
Dan ketika Fira membuka pintu ruang kerja suaminya itu, di sana terlihat ada Dion yang sedang memeriksa beberapa berkas yang lumayan berserakan di atas meja.
"Sayang," panggil Fira kepada Bara. Bara yang tengah fokus akan laptopnya ia langsung mengalihkan perhatiannya kepada sang pemilik suara yang memanggilnya.
"Sayang, kamu kesini?" Bara segera menghampiri Fira, sambil sejenak memeluk dan mencium kening istrinya itu dengan begitu romantis. Meskipun di sana ada Merry dan Dion, tapi tak membuat Bara segan. Malah tak ada malu.
"Ini aku bawakan makanan untuk makan siang." Fira segera menyimpan paper bag yang berisi berbagai macam makanan di dalamnya itu di atas meja yang di pakai Dion untuk memeriksa berkas.
"Kebetulan Kak Dion ada di sini, ayo kita makan bersama." Dion pun segera merapikan kertas-kertas itu. Dan menyimpannya di atas meja kerja Bara.
"Merry cepat duduklah." Fira menarik lengan Merry, hingga membuat Merry duduk tepat di sampingnya.
__ADS_1
Namun, Bara protes dan menyuruh Fira agar duduk di sampingnya. Dan ketika Dion kembali, tempat duduk yang tersisa lumayan luas, ya hanya di samping Merry.
"Aduh, kenapa dia malah duduk disini lagi," batin Merry.
Fira pun dengan semangat mengeluarkan beberapa box makanan dari paper bag itu, dan membaginya kepada Bara, Merry dan Dion.
Selagi menikmati makanan, Fira terus memperhatikan Merry dan Dion, yang terlihat seperti ada sesuatu yang mencurigakan.
"Kak Dion, Merry kalian kenapa? Tak biasanya kalian bersikap seperti ini?" tanya Fira, yang merasa curiga.
Merry dan Dion pun sejenak beradu pandang, sebelum mereka alihkan tatapannya kepada Fira.
"Tidak ada apa-apa," ucapnya bersamaan. Sontak membuat Fira merasa heran.
"Wah, bisa kompak gitu ya."
"Jodoh mungkin," ucap Bara sembarangan, yang masih fokus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ih amit-amit!" Lagi-lagi Dion dan Merry berucap bersamaan dan begitu kompak.
"Wah sayang, lihat ... Dion dan temanmu ini benar-benar kompak. Berarti kalian benar-benar jodoh!" tutur Bara. Fira hanya terkekeh, mendengarnya.
Kini Dion dan Merry saling menatap tajam, kejadian semalam seolah teringat kembali. Dan membuat Merry tak bisa menahan unek-unek yang ada di hatinya.
"Semua ini gara-gara kamu!" gerutu Merry kepada Dion.
"Kenapa jadi aku? Kau sendiri yang menerima tawarannya!" protes Dion.
"Ya mana kutahu kalau masalahnya akan seserius ini!"
"Ya emang apa masalahnya kalau orang tuaku melamarmu! Lagi pula aku tidak terlalu buruk." tegas Dion, keceplosan.
"Apa melamar?" Fira tercengang.
"Aduh... bisa gak sih jaga rahasia! Jadi ketahuan kan!" Merry terus menggerutu kesal. Dion hanya memalingkan pandangannya begitu ia menyadari kalau dirinya keceplosan.
"Jadi orang tua Kak Dion mau melamar Merry?" tanya Fira. Bara pun ikut menghentikan aktivitasnya, dan ikut menanyai sekretaris sekaligus sahabatnya itu. Memintai penjelasan kenapa semua bisa seperti itu.
Dan akhirnya dengan berat hati Merry pun menceritakan semua kejadiannya dari awal mereka berpura-pura, hingga pada cerita semalam, yang mendadak mendapat lampu hijau menuju keseriusan.
Bara dan Fira, sesekali terbahak mendengar cerita dari Merry dan Dion. Bahkan dua sejoli ini malah ikut menimpali keadaan yang sudah terjadi.
"Kenapa gak pacaran beneran aja, kalian juga cocok kok," tutur Fira.
"Ogah!" ucap Dion dan Merry bersamaan, lagi-lagi membuat Fira terkikik mendengarnya. Sungguh Merry dan Dion ini kalau di lihat-lihat cocok juga, bahkan mereka berdua itu lucu, apalagi dengan sifat Merry yang sembrono. Cocok deh dengan Dion yang gampang baperan.
.
.
.
Bersambung
Maaf slow update ya.
Jangan lupa kunjungi juga novel terbaru author yang berjudul MY ANNOYING WIFE seru juga kok ceritanya. Mampir aja dulu siapa tahu suka hehe.
Oke jangan lupa like, komen dan votenya.
Kalian berharap gak sih Merry sama Dion berjodoh? hehe
__ADS_1