Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Ujungnya Aku Juga


__ADS_3

Setelah selesai meeting, Bara segera kembali menuju ruang kerjanya, di ikuti oleh Dion yang berjalan di belakangnya.


Bara menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk ruang kerjanya. Ia menoleh ke arah Dion, yang berdiri di belakangnya.


"Apa perlu kau membuntutiku seperti ini." Tatapan Bara, seakan menyelidik tak suka. Dion hanya diam, menautkan kedua alisnya, bingung dan tak mengerti.


"Siapa yang membuntutimu," kilah Dion, tak terima.


"Kau tahu di dalam ada siapa? Apa perlu aku memperjelas semuanya?" ucap Bara.


"Siapa memangnya?" tanya Dion, dengan polosnya. Bara menaikkan sebelah alisnya, dan memberi menatap tajam kedua bola mata Dion, seakan menusuknya.


"Ah. Ya ampun aku lupa ... baiklah, a-aku akan pergi," ucap Dion, menyengir kuda, sambil membalikkan badannya, berjalan menjauhi Bara.


"Pergilah langsung ke rumahmu," teriak Bara, melihat punggung sahabtnya, yang sudah pergi menjauh dari pandangannya.


Bara segera masuk ke dalam ruangan kerjanya, dilihatnya beberapa kotak makanan yang berjajar tak teratur di atas meja. Matanya menyapu ke segala arah. Namun tak mendapati Fira.


"Fira," teriak Bara, memanggil nama istrinya. Namun tak ada sahutan terdengar sedikit pun. Ia kemudian berjalan mendekati kamar, dan ketika ia membuka pintu kamar itu, dilihatnya Fira yang tengah berbaring, tertidur begitu pulas.


Kedua sudut bibir Bara terlihat melengkung ke atas, menciptakan sebuah senyuman manis. Ia berjalan mendekati Fira, dan duduk di tepi ranjang. Sambil mengelus pelan kepala Fira, yang tak mengenakan hijab. Ia melirik ke ponsel Fira yang tergeletak di dekatnya. Mendengar lantunan ayat suci al-qur’an dari ponsel itu.


"Istri Solihah," gumamnya. Bara mematikan rekaman murotal qur'an itu, dan menyimpan ponsel Fira di atas nakas yang ada di sekitarnya.


Bara menyibakkan sebagian rambut Fira, ke belakang telinga. Dan memandang wajah istrinya itu dengan tatapan penuh cinta.


"Pasti kekenyangan," gumamnya, mengelus pipi Fira pelan. Namun hal ini, justru membuat Fira mengejat, dan sedikit menggulir tubuhnya, berbalik membelakangi Bara.


Bara tersenyum, ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Fira, dan memeluk tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Sontak hal ini, membuat Fira terbangun dari tidurnya.


Fira melihat, ke bawah, di mana tangan suaminya sudah melingkah di bagian perutnya.


"Mas," panggil Fira.


"Eh, kenapa bangun?" tanya Bara. Fira membalikkan tubuhnya, menghadap Bara.


"Ayo tidur lagi," ajak Bara. Namun Fira menolak, akhirnya ia bangun, dan duduk di atas tempat tidur, sambil mengucek kedua matanya.


"Eh, dimana ponselku?" tanya Fira, mencari ponselnya di atas ranjang.


Bara akhirnya bangun, dan segera mengambil ponsel milik Fira.


"Ini." Bara menyodorkan ponsel itu kepada Fira. Ia langsung mengaktifkan layar ponselnya dan betapa terkejutnya Fira, saat ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 16.30 sore.


"Mas! Kenapa kamu gak bangunin aku?" gerutu Fira.


"Memangnya kenapa? Aku saja baru selesai meeting," jawab Bara.


"Lihat sudah jam segini," ucap Fira, memperlihatkan jam yang ada di ponselnya.


"Ayo, kita solat dulu," ajak Fira. Bara pun mengiyakan dan mereka berdua pun segera mengambil wudhu.


Fira, berdiri kebingungan karena di kamar ini, ia tak menemukan mukena untuk solat.


"Mas, apa di sini ada mukena?" tanya Fira kepada Bara, yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Oh iya, tunggu sebentar." Bara segera berlalu keluar dari kamarnya.


"Huh, kantor sebagus ini, tapi tidak menyediakan mukena untuk solat, keterlaluan sekali." gumam Fira, sendirian.


"Eh, tapi buat apa juga menyediakan mukena, ini kan kamar khusus Mas Bara. Mana ada perempuan yang akan solat di sini, kecuali aku," gumamnya lagi, tersenyum miring.


15 menit kemudian Bara, kembali dengan membawa tas yang berisi mukena. Dan segera memberikannya kepada Fira.


"Kenapa lama sekali," ucap Fira, sambil menyahut mukena itu dari tangan Bara.


"Ya beli dulu lah, makanya lama," jawab Bara.


"Beli? Jadi ini baru? Kamu yang beli?" tanya Fira, sambil mengeluarkan mukena itu dari tas nya.


"Tadi aku menyuruh OB untuk membelinya. Sudah ayo kita solat," ucap Bara. Dan mereka pun segera solat asar berjamaah.


***

__ADS_1


Malam harinya, jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Namun Fira masih tidak bisa tidur, ia terus menggulingkan tubuhnya, ke kanan dan ke kiri.


Dilihatnya Bara, yang baru saja mulai tertidur, sambil memeluknya.


"Mas," panggil Fira.


"Mas, apa kau sudah tidur?" tanyanya.


"Kenapa?" tanya Bara, dengan suara lemahnya, seperti orang mengantuk berat, dan matanya yang tetap terpejam.


"Mas ... aku lapar," ucap Fira.


"Bukankah, tadi sesudah isya kau sudah makan?" ucap Bara, masih memejamkan matanya.


"Tapi perutku masih lapar Mas," rengek Fira.


Bara menarik nafasnya perlahan, dan menghembuskannya. Ia terpaksa harus membuka kedua matanya yang dirasa sudah lima watt itu.


"Ya sudah, kau mau makan apa?" tanya Bara.


"Em... aku mau makan kebab," jawabnya.


"Tapi di kulkas tidak ada kebab, adanya spageti mau?" tanya Bara, bangun dan duduk di dekat Fira. Fira pun ikut bangun dan duduk berhadapan dengan Bara.


"Tapi aku maunya kebab, gak mau spageti," rengek Fira.


Bara mendengus pelan, sambil melesukan kedua bahunya, seakan sudah tahu, apa yang harus di lakukannya.


Dilihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 23.40 malam.


"Ya sudah, aku pergi keluar untuk mencari kebab." Bara turun dari ranjang, berjalan membuka pintu kamarnya.


"Lagi pula, jam segini mana ada yang jualan kebab, pastinya juga sudah tutup," gerutu Bara, sambil berjalan dengan malas, dan segera mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja di ruang TV.


Dan ketika, Bara hendak membuka pintu apartemennya, Fira memanggilnya ia pun menoleh, dan sudah mendapati Fira, yang seakan siap pergi keluar.


"Kau mau ke mana?" tanya Bara, heran sambil memegang gagang pintu.


"Ikut," jawab Fira, melebarkan senyumannya.


Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil, mengitari jalanan, di tengah malam. Berharap ada pedagang kebab yang masih buka.


"Penjual kebabnya juga sudah tutup semu, tidak ada lagi. Kau makan saja yang lain ya," ucap Bara, sambil fokus menyetir.


Fira mengerucutkan bibirnya, ia seakan kesal, karena memang sepanjang jalan ia tak menemui penjual kebab, sekalipun ada, tinggal stand nya yang sudah tutup.


"Kau mau makan apa?" tanya Bara. Namun Fira masih diam, tak menjawab.


"Fira...."


"Mas, aku mau nya kebab. Kita cari terus ya, sampai lampu merah di depan, kalau gak ada baru deh, pilih makanan lain," ucap Fira memohon. Mau tidak mau Bara harus menuruti permintaan istrinya itu.


"Mas, lihatlah di sana ada restoran arab," ucap Fira menunjuk ke sebuah restoran kecil. Bara pun melajukan mobilnya ke halaman parkir restoran itu.


Mereka berdua turun dari mobil, dan segera masuk ke dalam restoran.


"Permisi," panggil Bara, di depan meja kasir.


Seorang pria paruh baya, terlihat keluar dari balik pintu dapur restoran ini.


"Maaf, apa masih bisa pesan?" tanya Bara.


Pria paruh baya itu, melebarkan senyumannya. "Mau pesan makanan apa?" tanyanya.


"Apa di sini ada kebab?" tanya Bara.


"Oh, ada, ada, tapi tinggal paket kebab beef jumbo saja," ujarnya.


"Bagaimana mau?" tanya Bara, melirik ke arah Fira. Fira segera menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Ya sudah, saya pesan 1 saja."


"Fira, apa mau sama minumannya?" tanya Bara.

__ADS_1


"Mau ... minumnya ice lemon tea saja," ucap Fira, kepada pria itu.


"Baiklah, saya buatkan dulu pesanannya ya." Pria itu segera berlalu ke dapurnya, untuk menyiapkan pesanan Bara.


Bara dan Fira, duduk menunggu di atas kursi yang tersedia di sana. Terlihat sekali wajah mengantuk dari pria beristri manja ini.


"Mas."


"Mas," panggil Fira, menggerakkan tangan Bara.


Bara segera mengangkat, kepalanya yang menunduk di atas meja.


"Apa? ... Apa pesanannya sudah selesai?" tanyanya, setengah sadar, karena baru saja terlelap.


"Kau mengantuk?" tanya Fira, memasang wajah sendunya.


"Maafkan aku ya Mas, mengganggu tidurmu," ucap Fira, merasa bersalah.


"Sudah tidak apa, aku akan merasa lebih bersalah, jika tak bisa mewujudkan keinginan istriku," ucap Bara, tersenyum menatap Fira.


Tak lama kemudian pria paruh baya itu keluar, dengan membawa 2 kantung kecil yang berisi ice lemon tea, dan 1 kantung lagi berisi kebab.


Setelah selesai, membayar, Fira dan Bara, segera berlalu, pulang ke apartemen mereka. Dan sesampainya di apartemen, Fira terlihat begitu senang, karena yang di inginkannya akhirnya ada di depan matanya. Begitu pun Bara, ia pun terlihat senang ketika melihat sang istri menampilkan ekspresi bahagianya.


"Melihatnya tersenyum bahagia seperti ini saja, sudah membuat aku begitu senang," batin Bara, memandang Fira yang hendak melahap kebabnya.


Satu gigit, dua gigit, dan ketika Fira menggigit kebab untuk yang ketiga kalinya, tiba-tiba, ia membungkam mulutnya, dan segera berlari menuju dapur, ia kembali memuntahkan makanan yang ada di mulutnya, dan segera membersihkan mulutnya dengan air yang mengalir di atas westafel.


Bara menghampirinya. Dan mengelus-elus leher pundak Fira.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Bara, khawatir.


"Iya, tidak apa-apa," ucapnya, sambil mengelap bibirnya menggunakan tisu.


Mereka berdua pun kembali mendudukkan tubuh mereka di atas sofa, di ruang TV.


"Kenapa tadi memuntahkannya?" tanya Bara.


"Tadi, pas aku menggigit dagingnya, terasa aneh sekali. Rasanya benar-benar aneh," ucap Fira, sambil meraih ice lemon tea miliknya, dan meminumnya.


"Aneh?" gumam Bara. Ia meraih kebab yang sudah di gigit oleh Fira. Ia menarik sedikit daging, yang ada di isian kebab itu, dan mencicipinya.


"Ah, biasa saja ko, enak," ucap Bara.


"Mas, ini itu rasanya tidak enak," sangkal Fira.


Bara kembali melahap kebab itu, dan ia masih merasakan rasa yang sama.


"Tetap enak," ucap Bara.


"Ya sudah, kau saja yang habiskan. Aku sudah kenyang," ucap Fira, sambil menyeruput minumannya.


"Kenapa jadi aku? Kamu baru memakannya sedikit Fira," ujar Bara, menyodorkan kebab itu kepada Fira. Namun Fira bersikeras menolaknya, dan malah pergi ke kamar untuk tidur terlebih dahulu.


Sedangkan Bara, ia terpaksa harus memakan makanan berat seperti ini di malam hari.


"Huft, ujung-ujungnya aku... juga." Bara melahapnya dengan kesal.


.


.


.


Bersambung.


**Maaf ya, Dela baru bisa upload lagi.


Sambil nunggu updatean cerita ini, kalian bisa baca juga karya aku yang lain.


Pernikahan Aisyah (Romance, Islami bikin baper)


Batur Gaib (Horor, Misteri, Tragedi)

__ADS_1


Jangan lupa juga buat vote pake poin atau koin ya kalo ada. Hehe...


Di tunggu komentar menggemaskan kalian😘**


__ADS_2