
Hans berjalan mengikuti langkah kaki Tiara, ia baru pertama kali menemani seorang wanita melakukan belanja bulanan, dua istri nya tidak pernah memintanya untuk menemani mereka belanja bulanan, mereka berdua hanya ia gunakan untuk memuaskan hasratnya saja. Keduanya juga tidak pernah menjalankan kewajiban mereka selain kewajiban di atas ranjang, itu sebabnya saat Tiara melakukan kewajibannya dengan baik dirinya merasa cukup aneh, aneh dalam tanda kutip hal yang belum pernah Hans rasakan sebelumnya.
"Terbuat tidak buruk juga, aku jadi tahu banyak hal. Kenapa aku jadi ingin dia menjadi istri ku satu satunya, ah sial bagaimana rencana ku sebelumnya, seharusnya aku menyiksanya, menjadikan dunia ini neraka untuk nya, bukan malah membuat wanita ini bahagia," batin Hans.
"Mas kamu suka sayur ini tidak," tanya Tiara.
Hans mengerutkan dahinya, ia tidak begitu mengerti sayur sayuran, kalau rasanya enak pasti ia makan tanpa harus tau sayur apa itu.
"Kamu tidak tahu," tanya Tiara.
Hans menggelengkan kepala nya.
"Ah dia sangat menggemaskan, wajah tampan dan polosnya sangat lucu," batin Tiara.
"Nanti aku masakin deh. Kamu pasti suka." Tiara memasukan sayur itu ke dalam keranjang mereka.
"Mas kamu dorong dong, ini sudah berat tau," ucap Tiara.
"Kamu belanja terlalu banyak. Dasar wanita, tidak pernah kalau tidak merepotkan." Walaupun sempat ngomel Hans tetap mengambil keranjang dorong itu dari tangan Tiara.
Setelah mengambil sayur dan buah, mereka berdua menuju daging dan ikan segar. Tiara memutuskan untuk mengambil daging sapi, ikan segar, udang,dan juga cumi, ia ingin mengambil kerang tetapi takut jika menyulitkan Hans ketika memakannya nanti.
"Kamu ada Alergi mas," tanya Tiara.
"Tidak tau, aku sering makan seafood tetapi tidak papa," jawab Hans.
"Berarti kamu aman," ucap Tiara.
Setelah semuanya lengkap mereka berdua berjalan ke kasir untuk membayar semuanya. Tiara terkejut dengan total belanjaannya, ia hampir tidak pernah belanja di mall, ia lebih suka belanja di pasar karena harganya jauh lebih murah. Ia bukan tidak memiliki uang, abangnya selalu memberikan uang bulanan yang sangat banyak, tetapi Tiara tidak pernah menyiayiakan.
__ADS_1
"Sudah selesai kan ayo pulang," ucap Hans.
Mereka berjalan kembali ke mobil, mereka juga sekaligus membawa barang belanjaan yang jumlahnya tidak main main. Dalam sekejap mobil itu sudah penuh, dari bahan makanan sampai dengan keperluan lainnya. Hari ini Hans menghabiskan uang yang sangat banyak, tetapi Hans tidak pernah khawatir kehabisan uang, ia mempunyai perusahaan sang setiap hari nya mempunyai penghasilan yang besar.
Sesampainya di rumah, Hans meminta pelayan di rumah ini membawa semua barang belanjaan mereka, awalnya Tiara ingin membantu tetapi Hans melarang nya dan langsung menarik Tiara masuk ke dalam rumah.
"Dia lagi," ucap Ayu.
"Hans tidak pernah perhatikan seperti ini pada kita, tetapi liat dengan Tiara dia sangat berbeda," kata Siska.
"Posisi kita terancam, bagaimana kalau dia malah menyingkirkan kita, Hans tidak pernah mau mempunyai anak dari kita, kalau sampai wanita itu hamil sudah tidak dan ada lagi alasan Hans untuk mempertahankan kita," ucap Ayu.
"Nanti kita bahas, sekarang kita mendekati mereka dulu."
Sebelum Hans dan Tiara masuk ke dalam Lift, mereka berdua berjalan menghampiri keduanya, walaupun perasaan mereka sedang kesal Ayu dan Siksa berusaha untuk menyembunyikan nya.
"Iya sayang, ayo makan," ucap Ayu.
"Makan sendiri, aku sedang tidak ingin." Hans menarik Tiara masuk ke dalam Lift.
Siska dan Ayu menatap tajam ke arah Tiara, ingin sekali mereka berdua menyeret Tiara dari rumah ini.
"Mas kamu tidak boleh seperti itu," ucap Tiara.
"Jadi boleh nya seperti apa." Hans mendekati wajah Tiara, hal itu membuat Tiara sedikit salah tingkah, terkadang perlakuan Hans yang seperti ini terasa cukup manis.
"Mas." Tiara memalingkan wajahnya.
"Ada apa dengan mu," ucap Hans.
__ADS_1
"Tidak ada," jawab Tiara.
Baru 24 jam mereka menikah Tiara sudah seperti ini, rasanya sangat malu sekali. Ternyata Hans mempunyai pesona yang luar biasa.
"Sesuai janji mu. Masak yang enak." Hans mengeluarkan Tiara di lantai tempat dapur berada, sedangkan Hans terus naik ke atas sampai ke kamarnya.
Tanpa tekanan Tiara membuat makanan yang spesial untuk suaminya, beruntung saat di sedang di dapur bahan belanjaan nya tadi datang menghampiri nya, ia meminta tolong pada para pelayan itu untuk meletakkan semuanya ke tempat semestinya.
Sedangkan ia langsung mengeksekusi beberapa bahan yang sudah ia pilih, Tiara ingin membuat makanan yang begitu spesial untuk suaminya, makanannya sebagai ucapan terima kasihnya pada Hans yang telah menemaninya belanja dan membelikannya banyak pakaian mewah.
Sedangkan di dalam kamar Hans sedang berbaring sambil memikirkan semua rencana yang sudah ia buat, ia heran kenapa sampai sekarang sangat sulit menjalankan rencana itu. Padahal seharusnya ia bisa saja langsung menjalankan rencana itu saat pertama kali Tiara masuk ke rumah ini, dirinya ingin melakukannya tetapi hatinya melarangnya.
"Bagaimana bisa seperti ini ya, aku jadi gila sendiri kalau begini. Dia baik sekali, dia menyiapkan semua kebutuhanku, dia pandai memasak, perkataannya begitu lembut. Bagaimana mungkin bisa aku melakukan hal buruk padanya, sedangkan dua istriku sebelumnya yang jauh di bawahnya tidak pernah aku perlakukan begitu buruk, ya kecuali kalau mereka membuatku marah," ucap Hans.
Tanpa sadar Hans tertidur karena terlalu pusing memikirkan masalah itu, sampai sekarang ia belum menemukan solusinya. Entah bagaimana nanti ke depannya, Hans tidak tahu, bisa saja ia malah hidup bahagia bersama dengan wanita yang sebenarnya ingin ia siksa.
Pukul 7 malam Tiara berjalan masuk dalam kamar dengan membawa makanan yang sudah ia buat, dirinya tidak sabar melihat ekspresi hanya mencoba makanan itu, ia sangat yakin Hans pasti akan sangat suka, ia sudah mencobanya dan rasanya begitu enak. Apalagi yang menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi, yang jarang ia gunakan sebelumnya.
Tiara meletakkan makanan itu di atas meja yang ada di dalam kamar, ia berjalan mendekati Hans yang tengah tertidur dengan lelap. Tangannya bergerak mengusap wajah Hans yang sangat tampan, yang tidak pernah bosan memandang wajah tampan itu, apalagi saat Hans tengah tersenyum rasanya begitu tampan sekali.
"Mas bangun, karena sudah matang Nanti kalau sudah dingin tidak enak lagi," ucap Tiara.
Tiara sandar jika Hans bukan tipe orang yang mudah untuk dibangunkan, yang mencari cara bagaimana caranya agar Hans bisa bangun dari tidurnya.
"Mas bangun dong." Tiara menggoyangkan tubuh Hans sambil mengusap wajahnya.
"Hmmmm." Keajaiban terjadi Hans mulai membuka matanya, ia terbangun karena sentuhan lembut di wajahnya yang membuatnya merinding.
"Ada apa," tanya Hans
__ADS_1