Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Tespek


__ADS_3

Bara kembali menemani Fira di kamar. Dan tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar, Bara bergegas membukakan pintu kamarnya. Dan seorang dokter lelaki yang masih terlihat muda, bahkan hampir seusia dengannya, berdiri mematung sambil melebarkan senyumannya.


"Tuan Bara, ini dokter yang akan memeriksa Nyonya Fira," ucap Pak Dori, yang berdiri satu langkah di belakang dokter itu.


Sejenak Bara memperhatikan penampilan dokter itu. Mulai dari tampangnya, pakaian, postur tubuh bahkan Bara sejenak memperhatikan kedua bola mata dokter itu.


"Kenapa harus dokter ini yang menangani Fira. Dia bahkan terlihat cukup tampan, ah ... tapi tetap saja lebih tampan diriku," batin Bara, menyombongkan dirinya sendiri.


"Pak ... hallo." Dokter yang bernama Andre itu melambaikan sebelah tangannya, membuyarkan lamunan Bara.


"Hah? Oh iya, silakan masuk." Dokter itu pun segera masuk, mengikuti langkah kaki Bara.


Dan ketika Bara duduk tepat di samping Fira, dokter itu seakan kebingungan. Karena seharusnya ia yang duduk di samping pasien, bukan Bara.


Sang dokter pun berdehem, mengisyaratkan sesuatu. Namun Bara, masih duduk memandangi Fira, memberitahukan Fira bahwa dokter sudah datang untuk mengecek kondisinya.


"Maaf Pak Bara, bolehkah saya duduk di dekat pasien," pinta dokter Andre, begitu sopan.


Bara sejenak melirik ke arah dokter Andre dan Fira secara bergantian, sebelum ia benar-benar bangkit dan mempersilahkan dokter itu untuk duduk di dekat Fira.


"Haih, kenapa harus duduk sedekat itu pula," gumam Bara dalam hati.


Dokter itu pun segera mengecek keadaan Fira. Dan tak sungkan sang dokter menyentuh tangan Fira untuk memasangkan alat pengecek tekanan darah. Bara yang melihatnya seakan tak suka, apalagi saat dokter itu mulai. Mengecek bagian atas perut Fira menggunakan stetoskop yang mengait ditelinganya.


"Maaf dok, apakah bisa, tidak memeriksanya seperti itu," celetuk Bara, keberatan melihat lelaki lain menyentuh tubuh istrinya.


Sang dokter pun segera menjauhkan tangannya dari tubuh Fira. Sementara Fira ia hanya berdiam, karena rasa pusing yang masih menyerang dikepalanya.


Kemudian dokter itu pun menanyai Fira, mengenai keluhannya, dan apa saja yang dirasakan oleh Fira belakangan ini. Namun dengan sigap, Bara yang menjawab semua pertanyaan dari dokter itu, sehingga membuat sang dokter sedikit menggelengkan kepalanya.


"Apa Nyonya merasakan mual dan pusing di waktu-waktu tertentu saja?" tanya Dokter. Fira menganggukkan kepalanya.


"Iya dok, istri saya akhir-akhir ini sering muntah, tapi tidak tentu waktunya. Kadang pagi, kadang sore," ujar Bara, menjawab.


"Apa Nyonya sedang telat haid?" tanya Dokter.


Mungkin untuk satu pertanyaan itu, Bara baru terdiam tak bisa menjawabnya. Karena untuk masalah haid, ia sama sekali tidak mengerti dan tidak mengetahuinya.


Fira sejenak terdiam, ia kembali menghitung dan mengingat-ingat kapan terakhir ia haid. Dan seketika ia melebarkan kedua matanya.


"Iya dok, saya sudah 5 minggu telat haid, soalnya, bulan kemarin pun saya tidak haid," ucap Fira.


"Apa nafsu makan Nyonya ada sedikit gangguan atau perubahan?" tanya dokter. Fira kembali menganggukkan kepalanya.


"Benar dok, istri saya akhir-akhir ini jadi sering makan," timpal Bara.


Sang dokter pun menganggukkan kepalanya, ia kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya.


"Karena Nyonya sudah telat haid, coba di cek dulu. Ini." Dokter Andre memberikan selembar tespek kepada Fira.


"Dokter, apa berbahaya jika istri saya telat haid?" tanya Bara memasang wajahnya yang begitu polos.


Sang dokter tersenyum dan sedikit terkekeh mendengar pertanyaan Bara. Begitu pun Pak Dori yang ikut menahan tawanya, seraya menundukkan kepalanya ke lantai.


"Em ... ada dua kemungkinan, bisa jadi ada gangguan masalah dan bisa jadi ada kabar bahagia," jawab sang dokter menoleh ke arah Bara.


"Kabar bahagia?" gumamnya.


"Ya sudah, lebih baik sekarang Nyonya cek terlebih dahulu untuk memastikan semuanya," perintah dokter. Fira pun mengiyakannya.


Sebetulnya hati Fira sedikit berdebar, karena ia baru sadar kalau dirinya sudah telat haid selama itu. Bayangan indah mulai merasuki dirinya. Tapi tentunya ia tak boleh berharap terlalu banyak, takutnya malah akan membuat kecewa dihatinya sendiri.


"Bismillah," batin Fira. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan tes urine.


Bara terlihat sedikit cemas, ia mondar mandir di dekat pintu kamar mandi, menunggu Fira keluar.


Pikirannya masih dipenuhi dengan perkataan dokter tadi.


"Bisa jadi masalah, bisa jadi kabar bahagia. Apa maksudnya?" pikir Bara, mencoba mencerna perkataan itu.

__ADS_1


^


Fira memejamkan kedua matanya, rasanya hatinya kini begitu berdebar, menunggu waktu satu menit untuk melihat hasil tespeknya.


"Bismillah, bismillah, bismillah, semoga positif," batin Fira.


Dan perlahan Fira membuka matanya, ia tak langsung melihat tespeknya. Tespek yang di pegangnya sengaja ia sembunyikan terlebih dahulu di balik punggungnya. Dan Fira meraih bungkus tespek yang ada di atas wastafel, ia kembali membaca cara mengetahui hasil tespeknya.


"Bismillah." Fira kembali meyakinkan hatinya, untuk segera melihat hasil tespek yang di pegangnya.


Dan kedua matanya terbelalak, ketika dua garis merah terang yang muncul di tespek itu. Tangannya sedikit bergetar. Ia menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya.


"Benar, ini benar, aku tidak salah lihat ... Aku hamil," gumamnya. Dan cairan bening lolos begitu saja dari kedua sudut mata Fira.


Tenang saja, itu bukanlah air mata kesedihan. Namun itu adalah air mata kebahagiaan. Sungguh bahagia luar biasa yang dirasakan oleh Fira saat ini. Ia segera membuka pintu kamar mandi. Terlihat Bara yang mematung tepat di hadapannya.


"Fira, kau kenapa?" tanya Bara.


Hap, Fira langsung memeluk tubuh Bara dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.


"Sayang, kau kenapa? Kenapa kau menangis?" tanya Bara, yang masih heran.


Pak Dori, dan Dokter Andre pun masih memandang heran ke arah Fira yang sedang memeluk Bara.


Fira melepaskan pelukannya, ia segera menghapus air mata di pipinya, dan sebelah lengannya menyodorkan tespek itu kepada Bara.


"Apa? Apa ini hasilnya?" tanya Bara, yang masih tak mengerti dengan benda asing yang kini ada di tangannya.


"Mas."


"Aku hamil," ucap Fira pelan, seraya melebarkan senyum kebahagiaannya.


"Apa? ... Hamil?" Bara melebarkan kedua matanya. Fira menganggukkan kepalanya pelan.


"Bagaimana Nyonya Fira, apa hasilnya garis dua?" tanya Dokter Andre dari kejauhan. Fira menganggukkan kepalanya.


Bara segera berbalik menengok ke arah dokter Andre. "Lalu apa maksudnya kalau garis dua dok?" tanya Bara, yang masih penasaran.


Bara semakin tercengang mendengar perkataan sang dokter. Ia kembali menghadap Fira.


"Sayang, kamu hamil!" ucapnya begitu semangat. Fira menganggukkan kepalanya. Dan dengan cepat, Bara memeluk Fira dengan begitu erat.


Ia tak menyangka, bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah. Air mata bahagia pun lolos begitu saja di kedua sudut mata Bara. Sungguh ini adalah sebuah kejutan terindah dalam hidupnya.


Pak Dori dan dokter Andre pun tersenyum melihat Bara dan Fira, mereka seakan ikut merasakan kebahagiaan kedua pasangan itu.


"Sayang, sebentar lagi kita akan punya anak," ucap Bara, sambil mengelus perut Fira.


"Tapi dokter, bagaimana dengan keadaan istri saya, Istri saya kan sedang sakit, apa bayi di dalam perut istri saya akan baik-baik saja?" tanya Bara, yang kembali mencemaskan keadaan Fira.


"Untuk perihal itu, lebih baik Tuan dan Nyonya langsung datang saja ke rumah sakit, untuk memastikan kesehatan dan kondisi kehamilannya juga," ucap dokter Andre.


"Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit sekarang," ucap Bara.


"Tapi rumah sakit, di sini cukup jauh Tuan, kalau mau biar di USG di puskesmas terdekat saja dulu, untuk memastikan kondisi Ibu dan bayinya."


"Baiklah, kalau begitu sekarang kita ke puskesmas, saya tidak mau ada hal-hal yang tak di inginkan terjadi kepada istri dan calon anak saya," ucap Bara, sambil kembali merangkul Fira dalam pelukannya.


Dokter Andre hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, melihat kecemasan berlebih yang di tunjukkan oleh Bara kepadanya.


"Baiklah, nanti Tuan dan Nyonya bisa langsung datang ke puskesmas saja," ucap dokter Andre. Kemudian ia berpamitan untuk pulang. Pak Dori pun ikut pamit untuk mengantarkan dokter Andre ke depan villa.


***


Selly dan Merry yang melihat kepergian dokter itu, mereka segera naik ke lantai atas, untuk menemui Fira.


"Fira," panggil Merry dan Selly bersamaan, berdiri di ambang pintu kamar Fira yang masih terbuka lebar.


"Selly... Merry," ucap Fira, merentangkan kedua tangannya, sedikit berlari menghampiri kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


"Fira, apa kau baik-baik saja?" tanya Selly, yang berada di dalam rangkulan sahabatnya itu.


"Coba tebak, aku punya kabar bahagia," ucap Fira dengan semangat sambil melepaskan pelukannya.


Selly dan Merry sejenak beradu pandang, sambil melebarkan kedua mata mereka.


"Kau hamil!" ucap Selly dan Merry bersemangat dengan begitu semangat.


"Kenapa kalian bisa tahu?" tanya Fira.


"A... Fira, selamat ya, sebentar lagi kita bakalan punya ponakan yang menggemaskan," ucap Merry sambil memeluk dan mencium sebelah pipi Fira.


Bara yang berdiri tak jauh dari mereka, ia melihatnya seakan tak suka, ketika Merry mencium pipi istrinya itu.


Begitu pun dengan Selly yang memberikan ucapan dan do'a untuk calon anak sahabatnya itu. Ia pun sama ikut memeluk dan mencium sebelah pipi Fira. Dan mereka bertiga pun saling berpelukan, dengan perasaan yang bahagia, dan haru.


"Eh... sudah lepaskan, jangan memeluk dan menciumi Fira seperti itu, kayak teletubies saja!" seru Bara, menarik tubuh Fira dan pelukan kedua sahabatnya. Dan perkataan Bara itu, sedikit membuat telinga mereka sakit mendengarnya.


Bukan karena suara besarnya, tapi karena Bara yang mengganggu momen pelukan hangat mereka.


"Kenapa? Kita kan sedang berbahagia, a... aku benar-benar tidak menyangka, sahabat kita yang satu ini sebentar lagi akan menjadi Ibu," ucap Merry. Fira hanya tersenyum mendengarnya.


"Sekali lagi selamat ya Fira, dan Tuan Bara, hati-hati harus bisa jaga diri, sekarang ini tuh bukan tubuh kamu saja, tapi ada malaikat kecil di dalam rahim kamu Fir," ujar Selly.


"Dedek utun, sehat-sehat ya di dalam," ucap Selly, menirukan suara anak kecil, sambil mengelus-elus perut Fira.


"Kalian ini, sudah biarkan Fira istirahat," ucap Bara.


Selly dan Merry pun berdecak kesal, akhirnya mereka pun memutuskan untuk turun ke bawah. Namun sebelum itu, Selly dan Merry meminta Fira dan Bara untuk ikut sarapan pagi bersama mereka. Dan akhirnya mereka semua pun turun ke bawah untuk sarapan bersama.


Dion pun ikut senang mendengar kabar kehamilan Fira. Ia pun memberikan ucapan selamat dan doa untuk Fira dan calon bayi yang di kandungnya.


"Wah... bentar lagi kau akan menjadi Ayah, aku jadi tidak sabar, melihat anak dari bos ku ini," ujar Dion seraya melahap sarapannya.


"Yang pasti, kalau laki-laki akan tampan sepertiku, dan kalau perempuan akan cantik seperti istriku ini," ucap Bara, mengelus puncak kepala Fira.


"Ya tuhan, aku sudah tidak tahan melihat keromantisan di hadapanku ini. Kalian ini terlalu sweet bagiku," ucap Merry, yang melihat keromantisan Bara terhadap Fira. Bahkan untuk sarapan saja, Bara melarang Fira untuk makan sendiri. Ia lebih memilih untuk menyuapi istrinya, karena Bara tidak mau kalau Fira sampai ke-capek-an.


"Kapan, masa jombloku akan berakhir," ucapnya lagi. Selly dan Fira sontak terkekeh, mendengar keluhan Merry.


"Sabar Mer... mungkin jodohmu nyasar dulu di hati orang," ucap Selly, terkekeh.


"Kau ini!"


"Eh... sudah, sudah, ayo lanjutkan lagi makannya," ucap Fira.


"Huft... seandainya saja, jodohku ada di sini," gumam Merry, berucap tak sadar. Dion seketika melirik ke arah Merry yang duduk di kursi sebelahnya.


.


.


.


Bersambung.


Udah sampai sini, belum juga nge vote?


Gak kasian apa sama author, yang berjam-jam nulis satu chapter ini.


Please... vote yang banyak dong, bair author makin semangat. Terus jangan lupa like dan komennya juga ya😘


Love you para readers ku....


Ig : @dela_delia25


Baca karya baru author yg berjudul


BOS-KU SUAMIKU

__ADS_1



__ADS_2