
"Kalau begitu, mengenai pernikahan itu, saya juga meminta maaf. Saya semalam terlalu terbawa emosi hingga memutuskan suatu hal tanpa dipikir terlebih dahulu," ujar Setyo yang sedikit membuat Andre mengerutkan dahinya tak mengerti maksud dari perkataan lelaki paruh baya itu.
"Maksudnya bagaimana Pak?" tanya Andre.
Setyo menghela nafasnya pelan. "Maksud saya, perihal ucapan saya yang menyuruh kamu untuk menikahi Selly, saya tarik kembali. Saya sadar saya tak bisa memutuskan keputusan begitu saja, apalagi hanya sebelah pihak."
Andre dan Mayang cukup terkejut mendengar penuturannya. "Tapi Pak."
"Saya juga tak bisa memaksakan Nak Andre untuk menikahi putri saya. Hal itu tentunya akan sangat berat buat Nak Andre dan keluarga," sambung Setyo seolah berat, tapi itulah keputusan yang harus ia ambil demi kebaikan putri kesayangannya itu.
"Pak Setyo, apa boleh saya menyela dulu?" tanya Dori. Setyo mengangguk mempersilakan.
"Pak Setyo, Anda juga bukannya tahu kala Nak Andre ini adalah temannya Non Selly," ujar Dori. Setyo dan Ningsih mengiyakan.
"Ayo Ndre, bilang," bisik Dori menyikut sikut Andre pelan.
"Pak, Bu ... jadi sebenarnya kedatangan saya kemari, selain ingin mengklarifikasi hal semalam, saya juga ingin mempersunting putri Bapak dan Ibu," ujar Andre seengah gugup.
Ningsih dan Setyo saling bertatap muka heran. "Maksudnya?" tanya Ningsih tak mengerti.
"Saya akan menikahi Selly atas dasar saya yang memang sejak lama menyukai Selly, bukan karena keterpaksaan akibat keputusan semalam. Dan saya pun siap untuk menikahi Selly dalam waktu dekat," ucap Andre begitu lantang, dengan diiringi perasaan plong dihatinya setelah mengungkapkan semua yang selam ini membelenggu di hatinya.
"Ka-kamu serius ingin menikahi putri kami?" tanya Ningsih tak percaya. Andre pun mengangguk mengiyakan.
"Maa Syaa Allah, kalau begitu saya terima kamu jadi calon mantu saya," ucap Ningsih kegirangan dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru.
"Bagaimana Pak?" tanya Ningsih kepada Setyo.
"Kamu tidak terpaksa kan mempersunting putri kami?" tanya Setyo.
"Tidak Pak, saya tidak terpaksa sedikit pun," jawab Andre.
"Kalau begitu saya terima kamu jadi calon mantu saya," tuturnya dengan senyuman yang mengembang di wajah garangnya itu. Semua orang pun ikut tersenyum sambil mengucapkan 'Alhamdulillah' bersama-sama.
Mayang masih celingukan, mencari-cari sosok wanita yang dinantikannya.
"Oh ya Om, Tante, Kak Selly-nya ada di mana? Kenapa tidak kelihatan sedari tadi?" tanya Mayang.
"Oh iya, lupa ... tadi Selly pergi, karena sempat berdebat dengan kami, jadi sepertinya dia sekarang sedang menenangkan dirinya di pantai," jawab Ningsih.
Namun, tak berapa lama, sosok yang ditunggu pun akhirnya datang. Siapa lagi kalau bukan, Selly Estheria wanita cantik yang diidamkan oleh seorang dokter bernama Andre Dirgantara.
"Assalamualaikum...." Selly berjalan sambil menundukkan kepalanya, seolah malas melihat orang-orang di sekitarnya.
Namun, sepertinya suasana rumah sekarang sangat jauh berbeda, ia pun mengangka wajahnya, dan kedua matanya cukup terbeliak begitu melihat banyak orang di ruang tamu.
"Ada apa ini?" tanya Selly heran, yang ternyata ia pun mendapati Mayang di sana.
"Sayang kemarilah, duduk." Perintah Ningsih. Namun, Selly masih diam mematung di tengah-tengah ruangan.
__ADS_1
"Apa Bapak dan Ibu masih tetap akan keputusan kalian untuk menikahkan aku dengan Dr. Andre?" tanya Selly. Matanya terlihat memerah, karena tadi ia habis menangis.
"Iya, Nak Andre setuju menikahi kamu," ucap Ningsih sambil mengembangkan senyuman bahagia di wajahnya.
Kening Selly mengerut. Ia begitu tak percaya, sampai pada akhirnya kedua orang tuanya itu masih memaksa dia untuk menikah dengan Andre.
"Apa!" pekik Selly. Hatinya seakan kecewa dengan keputusan kedua orang tuanya itu. Ia benar-benar tak tahu bagaimana jalan pemokiran Ibu dan Bapaknya itu yang masih kukuh, untuk menikahkannya secara paksa.
"Selly," panggil Andre sambil mengembangkan senyumannya. Selly semakin heran dengan mimik wajah yang ditampilkan Andre.
Selly tak membalas senyuman Andre, ia masih merasa begitu kesal dan dongkol kepada Ibu dan Bapaknya itu. Ingin rasanya ia mengamuk tapi tak bisa.
"Selly kecewa sama Bapak dan Ibu!" tegasnya, lalu Selly pun kembali berlalu keluar meninggalkan semua orang yang ada di rumah.
"Selly dengarkan dulu!" teriak Setyo, tapi Selly tak memedulikan teriakkan kedua orang tuanya itu.
Andre yang merasa tidak enak hati, ia pun berpamitan untuk mengejar Selly, yang sudah berjalan jauh menuju pesisir pantai. Dan Mayang si cewek kepo, tentunya ia pun berpamitan untuk mengusul Abang dan calon Kakak iparnya itu.
Selly berlari menuju sebuah gazebo di pesisir pantai. Andre terus meneriakinya, tapi Selly tak juga memedulikannya.
Selly pun mendaratkan tubuhnya di dalam gazebo itu. Air matanya kembali berderai, karena rasa kekesalan yang tertahan di hatinya.
"Selly," panggil Andre dengan nafas yang tengah-engah, ia ikut mendudukkan tubuhnya di samping Selly, dengan kedua kaki yang menjuntai di atas pasir.
Selly segera menghapus air matanya menggunakan telapak tangannya, ia tak ingin jika ada orang lain yang melihat dirinya menangis.
"Kenapa mengikutiku?" tanya Selly dengan badan sedikit miring, membelakangi Andre.
"Aku khawatir padamu," jawab Andre dengan suaranya yang lembut.
Akhirnya Selly pun merubah posisi duduknya, lurus ke depan, menatap pantai. "Pak dokter, kenapa kamu menerima keputusan bapak untuk menikahiku? Kamu tahu kan kalau pernikahan itu bukan suatu hal yang bisa dipermainkan?" ujar Selly to the point, sambil menatap kedua bola mata Andre dalam-dalam.
"Iya Selly, aku tahu itu. Makanya aku serius untuk menikahimu."
"Pak dokter! Kamu jangan asal mengambil keputusan begitu saja, hanya karena kesalah pahaman, nanti akibatnya bisa fatal."
"Selly kita sudah lama berteman, panggil aku Andre, jangan memanggilku dengan sebutan Pak dokter lagi." Andre memprotes, karena untuk ke sekian kalinya Selly lagi-lagi memanggilnya dengan sebutan yang tak Andre sukai.
"Dan, dengarlah ... aku mengambil keputusan yang benar, bukan yang salah. Memangnya kenapa kalau aku menikahimu?"
Selly mendengus pelan. "Pak dok- ... em, Andre aku tak ingin kita menikah karena terpaksa, apalagi penyebab dari semua itu adalah kesalah pahaman. Aku tak ingin jika pada akhirnya kita menyesal dengan pernikahan kita nanti!"
"Tidak akan ada yang menyesal Selly," sanggah Andre.
"Bagaimana kau tahu jika di antara kita nanti, tidak akan ada yang menyesal hah? ... Bagiku, pernikahan juga membutuhkan landasan cinta, atau minimal rasa suka. Dan hal itu ... di antara kita ... jangankan rasa cinta, rasa suka saja tidak ada. Aku dan kamu, masing-masing hanya mempunyai perasaan sebatas teman, tidak lebih," ujar Selly penuh emosional.
Dan deg ... hati Andre seakan tersayat, begitu mendengar penuturan Selly. Secara tidak langsung, itu menunjukkan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Gadis yang diincarnya selama ini, ternyata tak mempunyai sedikit perasaan lebih padanya.
"Abang... yang kuat Abang. Abang sudah sampai sini, jangan terpengaruh dengan perkataan Kak Selly Bang," gumam Mayang dalam hati, ia sedari tadi terus mendengarkan percakapan mereka. Ia berdoa penuh harap, semoga Abangnya itu tetap teguh akan keputusannya untuk menikahi Selly.
__ADS_1
Andre tersenyum getir, memandang wajah sembab wanita yang ada di hadapannya kini. "Mungkin seperti ini rasanya sakit tapi tak berdarah," batin Andre.
"Selly, kau tahu? Aku adalah orang yang tidak pernah menyesali semua keputusan yang pernah aku buat, walaupun hal itu keputusan paling berat sekalipun. Dan ... masalah perasaan, tak ada salahnya kan, setelah menikah kita bisa membangun perasaan di antara kita masing-masing."
Selly kembali menatap dalam kedua bola mata Andre. Wanita itu masih belum bisa melihat cinta yang terpancar di kedua manik mata lelaki yang ada di hadapannya. Ia terlalu dibutakan dengan perasaan sedih dan kekecewaannya kepada kedua orang tuanya.
"Tapi Andre... aku tidak siap dengan semua keputusan yang terlalu cepat seperti ini."
"Lantas, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membatalkan keputusanku juga. Nenek, Mayang, paman Dori, ibumu, dan bapakmu, mereka semua sudah menyetujui keputusanku untuk menikahimu," ujar Andre menjelaskan.
Selly menghela nafasnya begitu berat. Pikirannya benar-benar terasa begitu kacau. Ia tak tahu, apakah keputusan yang Andre ambil itu akan baik untuk dirinya atau tidak.
"A-aku bingung. Aku harus memikirkannya kembali," ucap Selly begitu pelan nyaris tak terdengar.
Andre mengangguk, dengan senyuman getir yang terlihat sekilas di wajahnya. "Baiklah, kalau begitu ayo, kita bicarakan baik-baik masalah ini dengan orang tua kita."
Andre dan Selly pun akhirnya kembali lagi menuju vila mawar. Sementara Mayang, keberadaannya yang bersembunyi di balik belakang gazebo, masih tak Selly ketahui.
Mayang terlihat sedikit khawatir akan perasaan Abangnya. Ia tahu, Abangnya itu pasti sedikit kecewa mendengar perkataan Selly tadi.
"Abang, bersabarlah... semesta pasti akan berpihak kepadamu, dan aku akan menjadi orang pertama yang selalu mendukungmu Bang!" Mayang bergumam dalam hati penuh semangat, sambil melihat punggung Selly dan Andre dari kejauhan.
Mayang pun segera berdiri, tapi tiba-tiba ....
Bugh ... sebuah bola voli melayang tepat ke belakang kepala Mayang. Memuat wanita itu meringis kesakitan, sambil menoleh menggerutu tidak jelas.
"Argh... kepalaku, sudah pusing jadi tambah pusing!" Ia pun menoleh ke belakang, dan terlihat ada dua orang lelaki yang sedang berlari ke arahnya.
Dua orang lelaki itu tak lain ialah Ardi, si lelaki yang sempat ikut travel bareng Selly waktu itu. Ardi dan satu temannya yang sedang asyik berlatih main voli, tak sengaja malah memukul bola ke arah Mayang. Bahkan sampai menimpuk kepala gadis itu.
"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya salah seorang lelaki itu.
"Tidak apa-apa apanya! Sudah jelas sakit!" gerutu Mayang, sambil menatap kesal kepada dua lelaki itu.
"Kau! Bukannya kau gadis kerang itu ya?" tanya Ardi sesaat setelah mengingat wajah Mayang.
Mayang langsung memelototkan kedua matanya. "Gadis kerang, gadis kerang! Aku Mayang! Bukan gadis kerang!" protesnya.
Ardi hanya menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, saat melihat Mayang yang menggerutu padanya.
"Oh ya maaf, boleh ambilkan bolanya," ujar temannya Ardi.
Mayang melihat ke arah bola voli, yang berada tepat di bawah, samping kakinya itu. Mayang mengambilnya, tapi bukannya di berikan kepada lelaki itu, Mayang malah melemparkannya jauh sekali ke sembarang arah. Membuat kedua lelaki itu melongo melihat tindakan Mayang.
"Ambil saja sendiri wle!" Mayang menjulurkan lidahnya kemudian dengan cepat ia berlari meninggalkan mereka berdua.
"Hih, dasar aneh!" umpat teman Ardi. Sedangkan Ardi lelaki itu, hanya memandang kagum melihat Mayang yang sedang berlari semakin jauh dari pandangannya.
"Mayang? Nama yang sesuai dengan orangnya," gumam Ardi.
__ADS_1
Bersambung.....