Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage Bab 6


__ADS_3

Bismillah Assalamu'alaikum semuanya.


Maaf baru buka NT lagi, ini aku mau kasih beberapa bonus chapter ya. Sebelum aku lanjutkan kisah anak-anak Fira & Bara aku mau ngasih bonus chapter tentang Selly & Andre. Selamat membaca


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Sayup-sayup suara azan subuh terdengar di telinga Selly. Wanita itu menggeliatkan tubuhnya yang terasa begitu pegal. Ia terbangun sambil mengucek kedua matanya yang masih terpejam lengket itu.


Selly pun beranjak pergi menuju kamar mandi. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan westafel, sambil menatap pantulan dirinya di dalam cermin.


Matanya terlihat sedikit bengkak, karena semalaman ia tak henti-hentinya menangis sampai ketiduran. Ibu jarinya perlahan mengusap bibir bawahnya.


Bayangan kejadian sore kemarin, kembali terlintas di pikirannya. Rasa kesal dan sedih kembali ia rasakan.


"Argh... kenapa harus terjadi seperti ini sih! Benar-benar menjijikkan," gerutu Selly. Ia pun segera membasuh wajahnya sekaligus menggosok bibirnya dengan kasar karena rasa kesal di hatinya yang tak kunjung padam.


***


Selly berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang kerjanya. Dengan perasaan berdebar, karena takut bertemu dengan Damas. Dan hal yang ditakutkan pun benar-benar terjadi.


Di depan pintu ruangannya, sudah berdiri sesosok lelaki berjas putih, lelaki itu tak lain ialah Damas.


Sejenak Selly menghentikan langkahnya. Rasanya ia begitu enggan untuk melanjutkan langkahnya itu, dan ingin rasanya ia berbalik dan pergi dari sana secepat mungkin. Namun hal itu tentu tak bisa ia lakukan, karena bagaimana pun ia harus tetap masuk ke ruang kerjanya.


Sambil mengatur nafas, Selly pun kembali melangkahkan kakinya menghampiri Damas.


Terlihat raut penyesalan di wajah Damas. Wajah tampan itu kini terlihat begitu sendu.


"Selly," panggil Damas pelan, begitu Selly berjalan menghampirinya.


Selly lebih memilih untuk cuek dan tidak memedulikan panggilan kekasihnya itu. Selly hendak membuka pintu ruang kerjanya. Namun tangan Damas terlebih dahulu menahan lengan Selly.


"Selly aku ingin berbicara denganmu, soal kejaβ€”"


"Jangan menyentuhku!" seru Selly sambil menepiskan tangannya dari genggaman tangan Damas sambil membuang muka, tak ingin melihatnya.


"Selly, dengarkan aku. Aku mengaku salah, aku minta maaf atas perlakuanku kemarin," ujar Damas memohon sambil mengatupkan kedua tangannya, berharap Selly bisa memaafkannya.


Selly terdiam tak bergeming sedikit pun. Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


"Biarkan aku sendiri Mas, aku tak ingin di ganggu," ucap Selly pelan, sambil berlalu masuk ke ruangannya tanpa memedulikan Damas.


"Tapi Sell." Akhirnya Damas pun terdiam, ada sedikit rasa penyesalan di dalam hatinya, atas apa yang sudah ia lakukan kepada Selly sore kemarin. Dengan langkah gontai, Damas pun pergi meninggalkan ruangan itu.


***


Satu Minggu sudah sejak kejadian itu, Selly dan Damas masih belum berbaikan. Ada sedikit rasa kesal di hati Damas ketika ia berusaha untuk mengajak Selly mengobrol, namun Selly selalu menolaknya.


"Selly, apa kau akan terus-terusan seperti ini hah? Apa kau benar-benar tak akan memaafkanku? Aku sudah berulang kali meminta maaf kepadamu, aku benar-benar mengaku salah Selly," ujar Damas begitu kesal.


"Aku sudah memaafkanmu," ujar Selly seolah malas. Ia masih fokus akan tumpukan kertas putih di meja kerjanya tanpa menoleh ke arah Damas sedikit pun.


"Kalau kau memang benar-benar memaafkanku, lalu kenapa sikap mu terus menerus seperti ini hah!" seru Damas.


Selly pun berdecak kesal. "Mas! Aku sedang kerja, tak bisakan kau tak menggangguku!" seru Selly yang kini sudah berdiri dari duduknya.


Damas pun mengepalkan tangannya, menahan rasa kesal di dada, rahangnya ikut mengeras, sambil menatap tajam kedua mata Selly. Dan akhirnya Damas pun memilih untuk keluar dari ruangan itu.


"Wanita ini! Argh!" batin Damas mengacak rambutnya frustrasi. Sambil terus berjalan di koridor rumah sakit.


***


"Mas Damas bilang, aku tak boleh diperiksa di rumah sakit tempat ia bekerja, kalau begitu aku akan periksa di rumah sakit yang waktu itu saja," gumam Dinda.


Ia pun mengeluarkan ponselnya, dan mencari jadwal dokter kandungan lewat media sosial khusus rumah sakit.


"Wah... pas sekali, jadwalnya dengan dokter yang waktu itu memeriksaku," gumam Dinda tersenyum, saat melihat jadwal praktik dokter kandungan di rumah sakit yang sempat ia kunjungi beberapa waktu lalu saat Selly menolongnya. Ia pun segera menelepon Damas, untuk mengingatkan kembali jadwal USG-nya hari ini.


***


Damas sedang sibuk merapikan meja kerjanya, ia bersiap untuk segera pulang. Tiba-tiba, ponsel di saku kemejanya terasa bergetar.


Diraih, dan dilihatnya itu ponsel, ternyata ada satu panggilan yang tak lain ialah dari Dinda.


"Apa!" seru Damas ketika menerima panggilan dari Dinda. Dirinya memang sulit untuk mengontrol emosi, sehingga Dinda pun kena imbas amarahnya, karena dirinya masih merasa kesal kepada Selly.


"Mas, apa kau baik-baik saja?" suara Dinda dari balik ponsel.


"Katakan ada apa kau menelponku!"

__ADS_1


"Mas, kau tak melupakan janjimu untuk menemaniku memeriksa kandunganku hari ini kan?"


Damas berdecak, ia baru ingat, bahwa hari ini ia ada janji dengan Dinda. Damas memijit keningnya yang sedikit terasa pusing itu.


"Iya aku tak melupakannya. Baiklah kalau begitu apa kau sudah menentukan rumah sakitnya?" tanya Damas.


"Iya, sudah Mas."


"Baguslah, tunggu aku, aku akan segera menjemputmu," ucap Damas, kemudian ia segera mengakhiri obrolannya dan mematikan kembali ponselnya.


***


Dinda sudah selesai bersiap, ia benar-benar merasa begitu senang dan bersemangat. Ia pun segera keluar dari butique itu, dan tak lupa mengunci terlebih dahulu pintu masuknya.


Namun tiba-tiba ....


"Gerry," ucap Dinda saat berbalik, hendak melangkahkan kakinya untuk pergi.


"Dinda, kau mau ke mana?" tanya Gerry, temannya Dinda, orang yang waktu itu menjemput Dinda dari rumah sakit.


"Em... aku mau ke rumah sakit, untuk memeriksa kandunganku."


"Hm, begitu. Ya sudah ayo aku antar," ujar Gerry penuh semangat.


"Em, tidak perlu. Nanti Mas Damas yang akan menjemputku," jawabnya.


"Damas?" tanya Gerry mengernyitkan dahinya. Dinda pun menganggukkan kepalanya sambil mengembangkan senyuman manisnya itu.


"Apa kau sudah berbaikan dengannya? Dan apa masalah anβ€”" belum sempat Gerry melanjutkan ucapannya Dinda terlebih dahulu mengalihkan perhatiannya.


"Mas Damas," teriak Dinda, sambil melambaikan tangan ke arah mobil Damas yang terparkir di pinggir jalan raya.


Gerry pun sejenak menoleh ke belakang, dan menatap tak suka ke arah Damas yang terlihat di balik kaca jendela mobil.


"Gerry, aku berangkat dulu ya. Sampai jumpa lagi ...." Dinda pun segera berlalu dan masuk ke dalam mobil Damas.


Sementara Gerry ia hanya menatap sendu kepergian teman wanitanya itu.


"Huft, kau ini benar-benar wanita bodoh," gumam Gerry menatap kepergian mereka.

__ADS_1


Jangan lupa beri star, gift dan komen nya ya...


__ADS_2