PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
10. Cara melawan Ki Lodra


__ADS_3

Ajian serap sewu yang dimiliki ki Lodra bisa menyerap tenaga dalam tanpa disadari oleh lawannya jika lawannya terus menerus menyerangnya. Pertarungan ki Lodra melawan senopati Balawarman terus berlangsung, tapi kejanggalan mulai dirasakan oleh senopati Balawarman? Dia merasa padahal serangannya sudah membikin ki Lodra sidukun sakti itu semakin terdesak, tapi kenapa seakan-akan malah dirinya yang merasa semakin lemah, sedangkan ki Lodra meski dia sudah banyak menerima serangan dari senopati Balawarman, tapi ki Lodra tidak terlihat lemah sama sekali, malah semakin kuat dirinya.


"Senopati Balawarman, pakailah akalmu untuk melawan ki Lodra, jika kau terus menyerang seperti itu, seranganmu tidak


akan ada gunanya", kata Pangeran Gunawijaya dari atas kudanya memberikan arahan pada senopati Balawarman karena Pangeran Gunawijaya merasa bahwa ki Lodra menggunakan ajian serap sewu yang terkenal hebat dikalangan para pendekar.


Kemudian disisi lain pertarungan Jatmiko menghadapi murid tertua ki Lodra masih berimbang. Jatmiko yang terkenal dikalangan jagad pendekar dengan julukan pendekar sabit dari timur, dia belum bisa mengalahkan murid tertua ki Lodra yang bernama Sujana pendekar tangan besi dari padepokan samber nyawa, partarungan meraka berdua semakin sengit. Disisi lain Pangeran Jatiwijaya dan senopati Balamarwan sedang menghadapi para murid-murid ki Lodra yang lainnya.


"Apa hanya sebatas ini kekuatanmu sipendekar sabit dari timur, Jatmiko!", Hinaan dari Sujana murid tertua ki Lodra sidukun sakti.


"Andai kau tahu, aku masih belum mengeluarkan semua kemampuanku", jawab Jatmiko yang bertubuh sedang dan tampan, yang masih menjajal sedalam apa kekuatan Sujana murid tertua ki Lodra sidukun sakti.


Suasana disekitar padepokan samber nyawa nampak ricuh oleh pertarungan tersebut.


"Benar apa yang dikatakan Pangeran Gunawijaya, dengan hanya menyerang bertubi-tubi ki Lodra tak akan pernah terkalahkan, jalan satu-satunya aku harus menggunakan kekuatan alam untuk mengalahkannya", kata senopati Balawarman dari dalam hatinya.


Akhirnya senopati Balawarman mengeluarkan kesaktiannya yang bernama ajian amuktiraksa untuk mengalahkan ki Lodra sidukun sakti itu.


Dengan menyatukan kedua telapak tangan didepan muka, senopati Balawarman mulai mengeluarkan kesaktiannya itu.

__ADS_1


Lalu ki Lodra yang mengetahuinya, dia tertawa dan berkata pada senopati Balawarman?


"Hahaha!, sebenarnya aku sudah mengetahui akan maksud kedatangn kalian semua kesini, tujuan kalian datang kepadepokan ini adalah ingin menyelamatkan Kedasih yang telah terkena kutukanku menjadi siluman serigala, Dan kalian semua sebenarnya adalah para anggota kerajaan, tapi bukan termasuk dia, Jatmiko!, Sedangkan yang ada diatas kuda itu adalah Pangeran Gunawijaya yang jadi buruan oleh para pendekar aliran hitam setanah jawa, tapi percuma saja jika kalian beranggapan kalau bisa membunuhku kutukkan Kedasih akan terpatahkan, sebab kutukkan itu tak akan terpatahkan meski aku sudah mati", kata sidukun sakti yaitu ki Lodra.


"Ajiku amuktiraksa!", teriak senopati Balawarman mengeluarkan ajiannya.


Tiba-tiba mendung hitampun datang dan langit tadinya yang cerah kini nampak gelap tertutup awan hitam. Lalu terdengarlah suara gemuruh petir yang berada diatas awan, kekuatan ajian amuktiraksa senopati Balawarman bisa mengendalikan petir yang berada diatas awan hitam. Kemudian menyambarlah petir petir itu yang ada diatas awan kearah ki Lodra, tapi ki Lodra yang jago bela diri bisa menghidari sambaran petir itu dengan mudah, tidak berhenti sampai disitu, petir yang telah dikendalikan oleh senopati Balawarman akan terus menyambar nyambar pada tujuannya Dan tak akan pernah berhenti.


Kemudian ki Lodrapun terus menghidari sambaran petir itu, lalu disaat senopati Balawarman mengendalikan petir dengan ajian amuktiraksa, tiba-tiba datanglah para murid murid ki Lodra menyerang senopati Balawarman untuk menggagalkan serangan ajian amuktiraksanya yang ditujukan pada gurunya tersebut yaitu ki Lodra sidukun sakti. Kemudian Pangeran Gunawijaya yang mengetahuinya berusaha melindungi senopati Balawarman dari serangan para murid murid ki Lodra dengan bertarung menggunakan keahlian bela dirinya melawan para murid murid tersebut.


Lalu disisi lain Jatmiko yang bertarung dengan Sujana, mereka sama-sama saling serang satu sama lain. Jatmiko yang bertarung dengan membawa senjatanya yaitu sebilah sabit terus menyerang Sujana dan sedangkan Sujana yang membawa sebuah pedang dia berusaha menangkis setiap serangan Jatmiko simantan ketua gerombolan penjahat aliran hitam. Kemudian Sujana balik menyerang dengan menggunakan pedangnya tapi Jatmiko berhasil menjatuhkan pedangnya dengan menggunakan senjata sebilah sabitnya. Lalu Sujanapun terdesak oleh serangan Jatmiko, tapi meski Sujana terdesak oleh serangan sabit Jatmiko, dia bisa menangkisnya menggunakan kedua tangannya karena tangan Sujana sekuat besi.


Akhirnya Sujana berhasil memukul Jatmiko menggunakan tangan besinya hingga terpental jatuh. Lalu Sujana mengambil pedangnya yang telah jatuh didekatnya, kemudian dia berlari sambil melompat karena akan menikam Jatmiko dengan pedangnya itu. Lalu Jatmiko yang telah jatuh, dia melihat Sujana yang akan menikamnya, dengan cepat Jatmiko menghantampakan sebilah sabitnya kearah Sujana, lalu sabit itu berputar kencang bagai sebuah cakra yang tak terhentikan. Akhirnya sabit itu tepat mengenai leher Sujana hingga kepalanya terputus dari tubuhnya. Matilah Sujana oleh serangan cepat Jatmiko yang menghantamkan sebilah sabit kearahnya.


Kemudian ki Lodra yang dari tadi terus menghindari sambaran petir dari ajian amuktiraksa milik senopati Balawarman, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi oleh serangan itu, sebab disaat ki Lodra akan mengeluarkan jurus, disaat itu juga sambaran petir dari ajian amuktiraksa milik senopati Balawarman menyambar-nyambar kearah dirinya yaitu ki Lodra. Lalu ki Lodra berusaha segara menyerang balik dengan menghantamkan tongkat naga hitam kearah senopati Balawarman, hantaman tongkat naga hitam ki Lodra yang mengarah pada senopati Balawarman, seketika itu tongkat naga hitam tersebut berubah menjadi seekor naga yang akan memangsa senopati Balawarman, tapi hal itu tak sempat terjadi, sebelum naga jelmaan dari tongkat ki Lodra memangsa senopati Balawarman tiba-tiba Pangeran Gunawijaya menghempaskan kekuatan gelombang buwana sakti dari pedang mustika biru untuk melindungi senopati Balawarman dari serangan naga hitam yang akan memangsanya. Akhirnya naga hitam jelmaan dari tongkat ki Lodra sidukun sakti itu hancur terbakar oleh serangan gelombang buwana sakti milik Pangeran Gunawijaya.


Ki Lodra yang mengetahuinya sempat terkejut oleh serangan cepat Pangeran Gunawijaya yang menghempaskan gelombang buwana sakti kearah naga hitam jelmaan dari tongkatnya itu. Dan sekarang ki Lodra tak bisa berkutik lagi, dia hanya menghindari serangan demi serangan dari ajian amuktiraksa milik senopati Balawarman, tapi meskipun berbadan gemuk ki Lodra sangat lincah, dia bisa menghidari sambaran petir dari ajian amuktiraksa dengan mudah, tak lama kemudian tiba-tiba munculah ular besar milik Pangeran Jatiwijaya dari arah belakang ki Lodra sidukun sakti, dengan cepat ular itu melilit tubuh ki Lodra dengan kencang sehingga ki Lodra tak bisa bergerak sama sekali karena lilitan ular itu, dan tersambarlah ki Lodra oleh petir dari ajian amuktiraksa milik senopati Balawarman, dan akhirnya ki Lodrapun mati terkena sambaran petir tersebut. Lalu ular yang melilit tubuh ki Lodra melepaskan lilitannya, kemudian ular itu berubah kembali kewujudnya yaitu cumeti banas pati milik Pangeran Jatiwijaya, tapi ada satu kendala meski ki Lodra sudah mati dan kejahatan didesa rembang sudah lenyap karena kematiannya, kendala tersebut yaitu belum terpatahkannya kutukkan Kedasih simanusia serigala tersebut.


"Maaf Pangeran, bagaimana dengan kedasih?, meski kita sudah membunuh ki Lodra, tapi kutukkan kedasih tidak akan bisa terpatahkan", Kata senopati Balawarman kepada Pangeran Gunawijaya.

__ADS_1


"Saya sendiri sudah tidak bisa berfikir akan nasib Kedasih dari kutukkannya itu?, Sedangkan kata ki Lodra meski dia mati kutukkannya tak akan bisa terpatahkan", Jawab Pangeran Gunawijaya yang sedang kebingungan oleh hal itu.


"Maaf Pangeran, Kalau diizinkan dengan kemampuan hamba, hamba akan mencoba mencari tahu tentang segala hal yang telah diketahui oleh ki Lodra lewat mayatnya, barang kali saya bisa dapatkan petunjuk dari mayatnya ini?", Kata Jatmiko sipendekar sabit dari timur kepada Pangeran Gunawijaya.


"Baiklah kalau begitu, silahkan kau cari tahu tentang petunjuk dari mayat ki Lodra dengan kemampuanmu", kata Pangeran Gunawijaya kepada Jatmiko.


Kemudian Jatmiko mendekat kemayat ki Lodra dan memegang kepalanya sambil dia memejamkan matanya untuk melihat segala hal yang ki Lodra ketahui. Tak lama kemudian akhirnya ketemulah jawaban akan kutukkan itu dari mayat ki Lodra, Jatmiko kemudian berdiri dan mendekat kepada Pangeran Gunawijaya, lalu Jatmiko berkata?


"Maaf Pangeran Gunawijaya, dari yang hamba lihat dangan kemampuan hamba barusan hanya dengan mata air suci dari sendang kamulyan kutukan ki Lodra yang ada pada Kedasih bisa terpatahkan", kata Jatmiko.


"Lalu dimanakah sendang kamulyan itu berada?", Tanya Pangeran Gunawijaya dengan penasaran pada Jatmiko.


"Sendang kamulyan berada dialas purwo, alas sebelah timur tanah jawa Pangeran", jawab Jatmiko pada Pangeran Gunawijaya.


"Tapi apakah petunjukmu itu bisa dipertanggung jawabkan jatmiko!?", Tanya senopati Balamarwan dengan rasa penasaran.


"Jika belum dicoba mana tahu hasilnya senopati Balamarwan", Tiba-tiba Pangeran Gunawijaya yang menjawabnya.


"Sendiko Pangeran!, Hamba mohon maaf atas kelancangan hamba", kata senopati Balamarwan pada Pangeran Gunawijaya.

__ADS_1


Kemudian berangkatlah Pangeran Gunawijaya kealas purwo dengan menunggangi kuda terbangnya yaitu turonggo yang telah ia panggil dari kahyangan, dan disertai oleh kedua pengawalnya yaitu Jatmiko dan senopati Balamarwan yang menaiki burung raja wali raksasa milik senopati Balamarwan yang dipanggil dari laut kidul. Sedangkan Pangeran Jatiwijaya beserta senopati Balawarman mereka berdua menuju kegoa tempat dimana Kedasih simanusia serigala itu berada untuk menunggu kedatangan Pangeran Gunawijaya yang mengambil air suci dari sendang kamulyan yang berada di alas purwo sebelah timur tanah jawa.


__ADS_2