
Kini kebahagiaan telah menaungi para kesatria kesatria tersebut, sebab mereka sudah berhasil menyelamatkan sigadis manis Kedasih.
Lalu raden Rangga dan senopati Tejo segera berpamitan pada Pangeran Jatiwijaya beserta rekan-rekannya tersebut, sebab misi yang mereka emban kini telah usai dengan kemenangan tersebut.
Dan kini saatnya mereka berdua yaitu raden Rangga dan senopati Tejo kembali ke kraton segoro kidul.
Lalu singkat cerita akhirnya para rombongan kesatria kesatria tersebut kini sudah tiba ditempat tujuan yang sebenarnya yaitu suryaloka.
Mereka sudah memasuki kawasan kerajaan suryaloka, dan Pangeran Jatiwijaya menyuruh Mandala yang saat ini jadi kusir kereta kuda yang mereka naiki untuk segera menuju ke kerajaan suryaloka.
Beberapa saat kemudian mereka semua sudah tiba di kerajaan tersebut.
Semua pihak keluarga kerajaan tak menduga dengan kedatangan mereka.
Saat itu keluarga kerajaan segera bergegas menemui para rombongan kesatria kesatria tersebut.
Tapi apa daya, mereka para keluarga kerajaan malah tidak melihat putra mahkota suryaloka dalam rombongan tersebut.
"Dimana putraku, Pangeran Gunawijaya, kenapa dia tidak bersama kalian semua", kata Ratu Kencanawangi.
Kemudian Pangeran Jatiwijaya menjelaskan kepada semua keluarga kerajaan tantang pokok persoalan yang menimpa putra mahkota suryaloka yaitu Pangeran Gunawijaya.
Setelah mereka semua tahu tentang persoalan tersebut yang dialami oleh Pangeran Gunawijaya, akhirnya mereka semua keluarga kerajaan bisa berlega hati.
Kemudian Pangeran Jatiwijaya memperkenalkan rekan baru dalam rombongan tersebut kepada pihak keluarga kerajaan.
Rekan baru tersebut yaitu ki Maung beserta muridnya yaitu Harun, dan satu lagi adalah Marlan pemuda hebat yang telah diangkat murid oleh Pangeran Jatiwijaya.
Kemudian Pangeran Jatiwijaya juga menceritakan tentang hal mengenai tujuan mereka kembali ke suryaloka.
Tujuan tersebut ialah untuk mencari kedua anak ki Maung yang telah hilang bertahun-tahun yang lalu, dan menurut dari sumber informasi bahwa kedua anak ki Maung sepertinya berada di suryaloka.
Lalu mahapatih dari kerajaan suryaloka yaitu Mahapatih Damarwijaya bertanya kepada ki Maung tentang seperti apakah ciri-ciri anak-anaknya sewaktu dulu.
__ADS_1
Ki Maung menjawab bahwa anak-anaknya adalah kedua anak laki-laki, dan ciri-cirinya seperti anak-anak pada umumnya, tapi mereka berdua mempunyai keanehan yaitu saat mereka sedang emosi, mereka seketika berubah menjadi manusia harimau.
Lalu sontak Mahapatih Damarwijaya teringat kepada kedua senopati suryaloka yaitu senopati Sandiaga dan senopati Barda, sebab di suryaloka hanya kedua senopati tersebut yang bisa berubah wujud menjadi manusia harimau.
Kemudian Pangeran Gunturwijaya yang juga sedang berada ditempat itu, ia juga teringat akan kemampuan khusus dari kedua senopati tersebut.
"Paman Mahapatih, jangan jangan anak-anak itu adalah....", Pangeran Gunturwijaya yang tak sempat berkata panjang lebar.
"Ya ponakanku, maka dari itu, nanti paman akan temui begawan Winara untuk menanyakan peristiwa ini padanya", jawab Mahapatih Damarwijaya.
Kemudian Ratu Kencanawangi menyuruh para kesatria kesatria tersebut untuk beristirahat terlebih dulu, sebab mereka sehabis melakukan perjalanan jauh.
Kamar untuk peristirahatan sudah disiapkan untuk para kesatria kesatria tersebut.
Sedangkan Pangeran Jatiwijaya, dia akan ikut pergi dengan ayahnya yaitu Mahapatih Damarwijaya untuk menemui begawan Winara yang berada di markas keprajuritan khusus yang dia bina selama ini yaitu pasukan khusus prajaloka.
Beberapa saat kemudian tibalah Mahapatih Damarwijaya beserta Pangeran Jatiwijaya di markas keprajuritan begawan Winara yang jaraknya tidak seberapa jauh dari kerajaan suryaloka.
Lalu salah satu prajurit yang berada di markas itu melaporkan pada begawan Winara bahwa ada tamu Agung yang telah datang mengunjungi markas tersebut.
"Ampun kanjeng begawan, tamu itu ialah Mahapatih Damarwijaya beserta putranya yaitu Pangeran Jatiwijaya", jawab prajurit tersebut.
Mengetahui tamu tersebut adalah Mahapatih Damarwijaya dan juga Pangeran Jatiwijaya, begawan Winara seketika itu langsung menemuinya.
"Salam hormat hamba Mahapatih Damarwijaya dan juga Pangeran Jatiwijaya, saya sangat bangga sekali kedatangan tamu Agung dari keluarga besar Wijaya", begawan Winara saat menjamu tamu Agung tersebut.
Kemudian mereka semua berbincang-bincang tentang banyak hal, terutama tentang kedatangan Pangeran Jatiwijaya dari misinya dan juga tentang Pangeran Gunawijaya yang sedang berada di kahyangan.
Lalu perbincangan itu segera langsung ke pokok persoalan yaitu Mahapatih Damarwijaya menanyakan tentang asal usul kedua senopati yaitu senopati Sandiaga dan juga senopati Barda.
Mendengar pertanyaan tersebut begawan Winara sempat terkejut kenapa Mahapatih Damarwijaya tiba-tiba ingin tahu tentang asal usul kedua senopati tersebut.
Kemudian Pangeran Jatiwijaya menjelaskan masalah tersebut kenapa ayahnya Mahapatih Damarwijaya ingin tahu tentang asal usul dari kedua senopati tersebut.
__ADS_1
Lalu dengan senang hati begawan Winara menceritakan asal usul tersebut tentang kedua senopati yaitu senopati Sandiaga dan senopati Barda.
Setelah mendengar cerita itu, Mahapatih Damarwijaya dan Pangeran Jatiwijaya semakin yakin bahwa kedua senopati itu adalah putra dari ki Maung.
Dan begawan Winara pun juga yakin bahwa ki Maung adalah ayah dari kedua senopati itu.
Maka dari itu ketiga pembesar kerajaan suryaloka tersebut yaitu Mahapatih Damarwijaya, Pangeran Jatiwijaya dan begawan Winara akan mengatur waktu untuk menemukan kedua senopati itu dengan ayahnya yaitu ki Maung.
Kemudian di kerajaan suryaloka, Putri Kumalawijaya menemui Kedasih yang sedang beristirahat didalam kamar.
Tok tok tok... Kemudian Kedasih menjawab ketukan pintu kamarnya itu, "ya siapa itu".
"Saya Putri Kumalawijaya".
"Ohh... Tuan Putri, mari mari silahkan masuk", jawab Kedasih.
Lalu mereka berdua asyik mengobrol didalam kamar tersebut.
Dan Putri Kumalawijaya banyak menanyakan tentang kabar dari Pangeran Gunawaijaya pada Kedasih.
Kedasih pun menceritakan semua kabar tersebut dengan senang hati, sebab apapun yang menyangkut tentang Pangeran Gunawijaya, Kedasih sangat antusias sekali, mungkin itulah yang dinamakan Cinta.
Waktu itu Putri Kumalawijaya memang sedang berkunjung ke kerajaan suryaloka, sebab sebenarnya dia sudah menikah dengan adipati dari kadipaten karang menjangan yaitu raden Mahesasangkala.
Waktu itu Putri Kumalawijaya sudah melahirkan seorang bayi hasil dari pernikahannya dengan adipati Mahesasangkala.
Jadi tak dirasa sudah setahun lebih Pangeran Gunawijaya meninggalkan suryaloka demi mengemban misi dari Nyi Roro Kidul untuk menyatukan para pendekar aliran putih.
Kemudian keesokkan harinya, kedua senopati tersebut yaitu senopati Sandiaga dan juga senopati Barda telah berkumpul di istana suryaloka untuk menghadiri undangan dari Mahapatih Damarwijaya.
Sebelumnya kedua senopati tersebut dijamu makan malam dulu oleh Mahapatih Damarwijaya, mereka berdua makan malam bersama dengan keluarga besar Wijaya.
Tapi dalam benak pikiran senopati Sandiaga, dia merasa tumben sekali dia beserta saudaranya yaitu senopati Barda diundang makan malam bersama oleh keluarga besar Wijaya.
__ADS_1
Dengan begitu senopati Sandiaga pun juga merasa bangga akan undangan tersebut, sebab tidak semua orang bisa makan malam bersama dengan keluarga besar Wijaya.
Bagi nya moment ini adalah moment yang sangat istimewa bagi kedua senopati tersebut yaitu senopati Sandiaga dan juga senopati Barda.