
Beberapa hari kemudian, Pangeran Jatiwijaya bersama pendekar Marlan, mereka berdua pergi kebukit berbatu yang jaraknya lumayan jauh dari kerajaan suryaloka yaitu sekitar sepuluh kilometer dari kerajaan itu.
Mereka berdua pergi dengan menunggangi kuda masing-masing.
Perjalanan mereka menuju bukit tersebut menemui kendala, mereka berdua dihadang oleh seseorang yang tidak mereka kenal.
Seseorang itu berwajah garang, brewokan, bertubuh kekar, berpakaian serba hitam dan memakai sebuah caping.
Lalu seseorang itu memperkenalkan dirinya kepada kedua kesatria tersebut yaitu Pangeran Jatiwijaya dan juga Marlan, dan nama dari seseorang itu adalah Kasim.
"Ada maksud apa kisanak menghadang perjalanan kami berdua", kata Pangeran Jatiwijaya kepeda Kasim.
Kasim menjawab bahwa tujuannya dia hanya ingin bertanya, apakah kalian berdua adalah anggota kerajaan suryaloka.
Pangeran Jatiwijaya terkejut kenapa seseorang yang bernama Kasim bertanya begitu padanya.
Kalau dari segi umur, seseorang yang bernama Kasim itu umurnya kira-kira sebaya dengan Pangeran Gunturwijaya.
Kemudian Pangeran Jatiwijaya menjawab bahwa dia adalah anggota kerajaan suryaloka, dan dia adalah salah satu keturunan dari keluarga Wijaya yang bernama Pangeran Jatiwijaya putra dari Mahapatih Damarwijaya.
Sedangkan yang bersama dirinya adalah muridnya yang bernama Marlan, bukan anggota kerajaan suryaloka.
Setelah mendengar jawaban tersebut, Kasim sangat berlega hati, sebab dia senang sekali bisa bertemu dengan salah satu saudaranya.
Mendengar perkataan tersebut dari Kasim, Pangeran Jatiwijaya sangat terkejut sekali, dia sempat tidak mempercayai perkataan dari Kasim, tapi dalam hatinya, dia ragu juga, antara percaya dan tidak.
Lalu setelah saat, Pangeran Jatiwijaya akan bertanya sesuatu padanya yaitu Kasim, tiba-tiba dengan sekejam mata, Kasim menghilang dari hadapan Pangeran Jatiwijaya dan juga Marlan.
"Ampun Pangeran, kalau hamba boleh tahu, sebenarnya orang itu siapa?", tanya Marlan kepada Pangeran Jatiwijaya.
"Entahlah Marlan, saya sendiri juga bingung mau berkata apa tentang orang itu, yang jelas orang itu tadi bernama Kasim".
Kemudian Pangeran Jatiwijaya dan Marlan segera meneruskan perjalanan tersebut.
Lalu beberapa saat kemudian, kedua kesatria tersebut yaitu Pangeran Jatiwijaya dan juga Marlan, mereka berdua sudah sampai ditempat tujuan yaitu di sebuah bukit berbatu di daerah suryaloka.
Ternyata mereka berdua di bukit itu sedang berlatih kanuragan bersama.
__ADS_1
Murid Pangeran Jatiwijaya yaitu Marlan, dia sangat bersemangat sekali dalam pelatihan tersebut.
Marlan sudah sangat berkembang dengan pelatihan pelatihan khusus yang diajarkan oleh Pangeran Jatiwijaya selama ini.
Dan Pangeran Jatiwijaya pun juga semakin hebat saat ini.
Kemudian Marlan menunjukkan sesuatu pada gurunya tersebut yaitu Pangeran Jatiwijaya.
Ternyata Marlan mengeluarkan jurus naga apinya, dia benar-benar mengerahkan semaksimal mungkin cakranya untuk mengeluarkan jurus tersebut.
Kemudian dengan jurus itu, Marlan bisa menghancurkan sebongkah batu besar di hadapannya.
Pangeran Jatiwijaya bertepuk tangan karena sangat kagum melihat jurus naga api Marlan yang sudah sempurna.
"Hebat sekali kau Marlan, saya tidak menyangka, kau bisa sempurnakan jurus naga api itu dengan cepat", Pangeran Jatiwijaya memuji muridnya tersebut.
"Ini semua berkat bimbingan dari Pangeran Jatiwijaya juga, tanpa bimbingan Pangeran, hamba tak akan seperti ini", kata Marlan pada gurunya tersebut.
Kemudian di kerajaan suryaloka, Pangeran Gunawijaya mengirim pesan kepada ke empat kerajaan yaitu himalaya, banyuasri, giritunggal dan giriseta.
Isi dari pesan tersebut ialah agara setiap kerajaan harus memperkuat lagi daya perangnya dengan memberikan pelatihan khusus kepada para pasukannya secepatnya mungkin, karena Pangeran Gunawijaya diberi tahu oleh Dewa Indra, bahwa para pasukan aliran hitam yang ditunggangi oleh begawan sakti Ludoyo, mereka akan menghancurkan tiap-tiap kerajaan yang ada ditanah Jawa.
Sebab tujuan begawan sakti Ludoyo ingin menjadi penguasa tunggal ditanah Jawa ini.
Dan setelah tiap-tiap kerajaan sudah menjadi semakin kuat, Pangeran Gunawijaya mengajak ke empat kerajaan tersebut untuk bergabung menyatukan kekuatan bersama kerajaan suryaloka.
Itulah isi pesan yang Pangeran Gunawijaya sampaikan kepada ke empat kerajaan tersebut.
Beberapa hari kemudian di kerajaan giritunggal, Pangeran Sutabirawa yang sudah di nobatkan sebagai Raja giritunggal setelah beberapa lama saat ayahnya meninggal dunia yaitu Raja Jakabirawa, Pangeran Sutabirawa memimpin kerajaannya itu dengan semena mena.
Banyak kebijakannya yang selalu menyusahkan warganya.
Sebagian para pembesar kerajaan giritunggal sebenarnya sudah pada jengah dengan gaya kepemimpinan Raja Sutabirawa.
Tapi Raja Sutabirawa masih punya pendukung yang sangat kuat didalam kekuasaannya tersebut sebagai Raja giritunggal.
Jika ada salah satu pembesar kerajaan tersebut yang tidak sepaham dengan Raja Sutabirawa, maka Raja Sutabirawa tak akan segan segan untuk menghukumnya tanpa pertimbangan.
__ADS_1
Sebenarnya Putri Senjabirawa juga sangat kesal dengan sifat kakaknya tersebut yaitu Raja Sutabirawa.
Tapi Putri Senjabirawa tak bisa berbuat apa-apa untuk kebaikan warga giritunggal yang terbelenggu oleh tirani kekuasaan kakaknya tersebut yaitu Raja Sutabirawa.
Lalu datanglah pasukan pengantar pesan dari Pangeran Gunawijaya, pesan itu sudah sampai ke kerajaan giritunggal dengan selamat.
Tapi apa daya, meski pesan itu tiba dengan selamat sampai tujuan, tapi pesan tersebut tidak mendapatkan sambutan yang baik dari Raja Sutabirawa.
"Pesan macam apa ini, seenaknya saja suryaloka memerintah kami giritunggal!, kami giritunggal sudah sangat kuat soal pertempuran, bahkan lebih kuat dari kerajaan lainnya", ujar Raja Sutabirawa dengan kesombongannya.
"Tapi kanda Raja, ada baiknya kan kalau giritunggal lebih memperkuat diri lagi", saran Putri Senjabirawa kepada kakaknya yaitu Raja Sutabirawa.
"Tidak perlu dinda, kau tidak usah khawatir dengan kekuatan giritunggal saat ini", jawab Raja Sutabirawa pada adiknya tersebut.
"Prajurit, bawa kembali pesan itu ke suryaloka, sebab kami giritunggal menolaknya", kata Raja Sutabirawa pada prajurit suryaloka yang mengantar pesan tersebut.
Kemudian prajurit itu segera bergegas kembali ke suryaloka.
Saat prajurit itu dalam perjalanan kembali ke suryaloka, ternyata Putri Senjabirawa diam diam mengikutinya.
Dan saat prajurit itu sudah berada diluar istana giritunggal, tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh Putri Senjabirawa.
Ternyata Putri Senjabirawa menitipkan pesan pada prajurit itu supaya pesan tersebut diberikan kepada Pangeran Gunawijaya, sebab Putri Senjabirawa mengetahuinya dari prajurit itu bahwa Pangeran Gunawijaya sudah kembali ke suryaloka.
Setelah itu berangkatlah para prajurit tersebut kembali ke suryaloka dengan membawa pesan dari Putri Senjabirawa.
Singkat cerita dari ke empat kerajaan yang dikirimkan pesan oleh Pangeran Gunawijaya, hanya kerajaan giritunggal yang menolak mentah-mentah pesan tersebut.
Lalu ke tiga kerajaan yang lainnya yaitu himalaya, banyuasri dan giriseta, ke tiga kerajaan tersebut menerima pesan itu dengan senang hati dan akan segera menjalankan titahnya.
Kemudian Pangeran Gunawijaya yang sudah mengetahui penolakan giritunggal akan pesannya itu, ia sangat mengkhawatirkan nasib kerajaan tersebut.
Lalu Pangeran Gunawijaya juga menerima pesan balasan dari Putri Senjabirawa yang dititipkan kepada para prajurit pengantar pesan itu.
Ternyata dalam pesan itu, Putri Senjabirawa menceritakan semuanya tentang carut-marut nya pemerintahan giritunggal semenjak kakaknya dinobatkan sebagai Raja di kerajaan tersebut.
Dan didalam isi pesan itu, Putri Senjabirawa juga memohon pertolongan kepada suryaloka agar bisa membebaskan warga giritunggal yang terbelenggu oleh tirani kekuasaan kakaknya yaitu Raja Sutabirawa.
__ADS_1