PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
44. Terbukanya kekuatan super Pangeran Gunturwijaya


__ADS_3

Disaat mereka para kesatria kesatria yang masih tersisa tersebut sedang berlega hati karena melihat kekalahan Pangeran Muradwijaya, tapi mereka semua tidak menyadari seberapa kuatnya jurus kala pati milik Pangeran Muradwijaya, yang mereka lihat hanyalah kematiannya saja. Ternyata tidak disangka sangka disaat mereka sedang berlega hati, tiba-tiba terdengar suara Pangeran Muradwijaya yang menggema keseluruh penjuru medan perang, dan dia berkata?


"Janganlah kalian semua berbangga hati melihat kematianku, lihatlah dengan seksama siapakah aku sebenarnya, aku adalah angin, aku adalah air, aku adalah api dan aku adalah tanah, aku ada disekitar kalian, jika kalian mengira aku sudah mati itu kesalahan besar bagi kalian, sekarang lihatlah, aku ada disekeliling kalian!", Suara Pangeran Muradwijaya.


Tiba-tiba munculah wujud-wujud Pangeran Muradwijaya, ada yang keluar dari dalam tanah, ada yang mucul dari hembusan angin, ada juga yang muncul dari semburan air yang keluar dari perut bumi dan ada pula yang muncul dari kobaran api yang tiba-tiba muncul dimedan perang tersebut, jumlah wujud Pangeran Muradwijaya yang muncul dari keempat elemen yaitu tanah, angin, air dan api ada delapan wujud dan dari kedelapan wujud itu masing-masing akan menghadapi para kesatria kesatria yang masih hidup, mereka semua harus menghadapi Pangeran Muradwijaya yang membelah dirinya menjadi delapan bagian dan masing-masing dari para kesatria tersebut harus melawan satu dari delapan wujud Pangeran Muradwijaya.


Tapi apa daya, kedelapan kesatria tersebut bukan tandingan kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya, hanya dengan pertarungan bela diri saja, kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya dapat dengan mudah membuat kedelapan kesatria tersebut kuwalahan, lalu salah satu dari kedelapan kesatria tersebut yaitu Mandala berusaha menggunakan jurus kombinasinya yaitu jurus teleportasi dan jurus belati anginnya, tapi jurus kombinasinya itu sia-sia karena salah satu wujud Pangeran Muradwijaya yang ia hadapi dapat dengan mudah mengetahui setiap kemunculannya dan hingga pada akhirnya hanya dengan satu serangan saja Mandala terpental dan terkalahkan.


Lalu Raden Mahesasangkala ia mencoba meniru jurus kala pati dengan jurus marga sangkala tapi itu semua percuma karena jurus kala pati tidak bisa ditiru dengan menggunakan jurus lain, apa yang telah didapat Raden Mahesasangkala malah dirinya yang termakan oleh jurus yang ditirunya tersebut, ia sesak nafas dan darah mengalir kaluar dari mulut dan hidungnya, tubuhnya lemah tak berdaya hingga salah satu wujud Pangeran Muradwijaya yang ia hadapi dapat dengan mudah mengalahkannya hanya dengan sekali pukulan.


Kemudian Sanjaya yang menyerang menggunakan cambuk kilat sayuto, hasilnyapun juga sia-sia, meski salah satu wujud Pangeran Muradwijaya sudah bertubi-tubi menerima cambukan kilat sayuto dari Sanjaya, dia hanya ketawa karena bagi Pangeran Muradwijaya, cambukkan dari Sanjaya itu bagai kibasan angin saja tak pengaruh sama sekali pada tubuhnya, malah salah satu wujud Pangeran Muradwijaya yang Sanjaya hadapi dapat meniru cambuk kilat sayutonya, dengan hebatnya Pangeran Muradwijaya menghepaskan cambuk itu pada Sanjaya hingga ia terpental dan mengalami luka bakar yang serius padanya hingga ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.


Lanjut ke begawan Winara yang juga bertarung dengan salah satu wujud Pangeran Muradwijaya, Beliau begawan Winara bertarung dengan menggunakan aji gajah mungkurnya, pukulan tendangan diarahkan kepada Pangeran Muradwijaya, tapi Pangeran Muradwijaya tidak bergeming sama sekali, dia tetap berdiam diri menerima setiap serangan bertubi-tubi dari begawan Winara yang menggunakan kesaktiannya tersebut. Begawan Winara sangat terkejut kenapa semua kesaktian tingkat tinggi tak mempan padanya, pada akhirnya kalah juga begawan Winara terkena serangan kekuatan angin dari Pangeran Muradwijaya hingga begawan Winara terpental jauh.


Sedangkan Maha Patih Damarwijaya, ia beradu kekuatan alam dengan salah satu wujud Pangeran Muradwijaya, Maha Patih Damarwijaya menggunakan aji brata untuk mengendalikan alam disekitarnya sedangkan Pangeran Muradwijaya menggunakan jurus kala pati untuk memanipulasi atau merubah kekuatan alam disekitarnya, mereka berdua saling beradu kesaktian tapi apa daya kesatian aji brata tak bisa menandingi jurus kala pati, akhirnya Maha Patih Damarwijaya pun kalah terkena serangan hebat dari Pangeran Muradwijaya yang mengendalikan kekuatan alam disekitarnya dengan memanipulasinya sehingga menjadi suatu kekuatan dahsyat sehingga Maha Patih Damarwijaya tak sanggup menahannya.

__ADS_1


Lalu dilain sisi Pangeran Gunturwijaya kalah dalam adu bela diri dengan salah satu bagian wujud Pangeran Muradwijaya, kaki kiri Pangeran Gunturwijaya telah dipatahkan oleh Pangeran Muradwijaya hingga ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya dengan sekali serkelan Pangeran Gunturwijaya terkalahkan.


Lalu senopati Sandiaga bertarung hebat dengan salah satu bagian wujud Pangeran Muradwijaya juga, tubuh senopati Sandiaga yang berubah menjadi manusia harimau yang kuat bagai besi tak jadi halangan bagi Pangeran Muradwijaya yang telah menggunakan jurus kala pati, serangan Pangeran Muradwijaya dari segala penjuru dengan mengendalikan keempat elemen api, tanah, air dan angin membuat senopati Sandiaga sangat kuwalahan, tubuh besinyapun terluka oleh serangan tersebut hingga pada akhrinya senopati sandiaga pun tewas oleh serangan beruntun dari Pangeran Muradwijaya.


Dan hingga pada akhirnya senopati Barda pun juga tewas karena terkena pukulan api dari salah satu wujud Pangeran Muradwijaya. Akhirnya kedelapan kesatria tersebut mengalami kekalahan oleh Pangeran Muradwijaya yang membelah dirinya menjadi delapan wujud, tapi meski mereka kalah, mereka masih beruntung karena Pangeran Muradwijaya hanya membunuh kedua senopati yaitu senopati Sandiaga dan senopati Barda saja.


Kemudian di istana segoro kidul kedua senopati Balawarman dan Balamarwan yang turut memantau jalannya peperangan dikarang menjangan melalui kaca benggala bersama Kanjeng Ratu Roro Kidul beserta dewi Cundo Manik, kedua senopati tersebut geram melihat kejahatan Pangeran Muradwijaya yang telah mengalahkan kedelapan kesatria tersebut.


"Mohon ampun Kanjeng Ratu, kalau diizinkan hamba turut membantu mereka yang dalam kesulitan melawan Pangeran Muradwijaya, sekarang juga hamba akan berangkat menuju kesana, kemedan perang beserta dimas Balamarwan", kata senopati Balawarman pada Nyi Roro Kidul.


Setelah diberi jawaban oleh Kanjeng Ratu Roro Kidul, kedua senopati Balawarman dan Balamarwan menyadari akan situasi yang sedang berjalan dimedan perang tersebut. Lalu dewi Cundo Manik bertanya pada Kanjeng Ratu Roro Kidul tentang kenapa semua kesaktian tingkat tinggi milik kedelapan kesatria tersebut tak mempan pada diri Pangeran Muradwijaya, sebenarnya sehebat apa jurus kala pasti itu.


Kanjeng Ratu Roro Kidul menjawab pertanyaan dewi Cundo Manik dengan jelas bahwa semua kesaktian tingkat tinggi yang dimiliki kedelapan kesatria itu tidak mempan pada diri Pangeran Muradwijaya karena jurus kala pati milik Pangeran Muradwijaya bisa memanipulasi keadaan dirinya beserta keadaan alam disekitarnya, jadi semua kesaktian tingkat tinggi milik kedelapan kesatria itu sudah di netralisir atau dibuat hampa oleh jurus kala pati, maka dari itu meski Pangeran Muradwijaya diserang dengan kesaktian apapun dirinya tidak akan bergeming sama sekali.


Lalu mendengar perkataan Kanjeng Ratu Roro Kidul tentang kehebatan jurus kala pati milik Pangeran Muradwijaya, kemudian senopati Balamarwan adik dari senopati Balawarman bartanya bagaimana caranya nanti Pangeran Gunawijaya menghadapi Pangeran Muradwijaya yang mempunyai jurus sehebat itu, bisa jadi semua kesaktian Pangeran Gunawijaya tak akan mempan juga padanya.

__ADS_1


Kanjeng Ratu Roro Kidul menjawab bahwa Pangeran Gunawijaya bukanlah seorang kesatria atau manusia biasa, ia adalah seorang titisan Dewa yang ditakdirkan untuk menghancurkan keangkaramurkaan dan ia sekaligus adalah kesatria pelindung tanah jawa ini.


Kemudian disisi lain dimedan perang, salah satu dari kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya, dia menghampiri Maha Patih Damarwijaya yang sedang terkapar, lalu tanpa belas kasihan salah satu wujud Pangeran Muradwijaya menginjak dada Beliau yaitu Maha Patih Damarwijaya dengan salah satu kakinya hingga Beliau muntah darah. Maha Patih Damarwijaya yang tak bisa berkutik ia hanya bisa berdiam diri pasrah akan keadaannya. Kemudian Pangeran Muradwijaya yang menginjaknya seraya berkata kepada Maha Patih Damarwijaya?


"Kau Maha Patih Damarwijaya yang gagah perkasa, lihatlah keadaanmu yang sekarang ini sudah tak berdaya, aku Pangeran Muradwijaya bisa saja membunuhmu sekarang juga, tapi aku masih punya sedikit rasa kasihan padamu, maka dari itu aku mempunyai dua pilihan bagimu, pertama kau akan kubiarkan hidup jika kau menyerahkan tahta kerajaan suryaloka padaku, kedua kua akan mati terpenggal kepalamu jika kau tidak menyerahkan tahta kerajaan suryaloka padaku!", kata Pangeran Muradwijaya sambil menginjak injak dada Maha Patih Damarwijaya.


Lalu Pangeran Gunturwijaya yang melihat pamannya diperlakukan seperti itu oleh Pangeran Muradwijaya, ia murka amarahnya tak terbendung. Akhirnya ajian guntur saketi Pangeran Gunturwijaya terbuka hingga ke level yang paling tertinggi karena amarahnya meluap.


"Hyaaaaa!!!", tiba-tiba Pangeran Gunturwijaya berdiri dan berteriak mengeluarkan seluruh cakra dari ajian guntur saketi nya.


Seketika itu tubuh Pangeran Gunturwijaya bercahaya karena mengeluarkan api cakra dari dalam dirinya, daratan dimedan perangpun bergetar, suasana berubah menjadi gelap, kilat petirpun menyambar-nyambar diatas awan mendung. Semua yang ada dimedan perang termasuk kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya pun terkejut melihat kedahsyatan cakra yang dikeluarkan oleh Pangeran Gunturwijaya.


Tiba tiba dengan sekejap mata salah satu dari kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya yang sedang menginjak dada Maha Patih Damarwijaya, kedua kakinya hancur terkena pukulan super dari Pangeran Gunturwijaya yang telah membuka ajian guntur saketi ke level yang tertinggi. Padahal Pangeran Gunturwijaya sedang terluka karena patah pada bagian kakinya, tapi dengan kekuatan level tertinggi dari ajian guntur saketi, ia mendapatkan kecepatan, kekuatan dan kekebalan hingga berlipat ganda.


Kecepatannya hampir menyamai jurus gerak kilat Pangeran Gunawijaya, kekuatannya melebihi ajian braja musti dan kekebalannya tiga kali lipat lebih hebat dari ilmu tameng wojo milik Pangeran Muradwijaya, tapi sayangnya kehebatan ajian guntur saketi yang membuka level paling tertinggi hanya bertahan tiga menit saja, maka dari itu Pangeran Gunturwijaya harus dengan cepat menghabisi kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya dalam waktu sesingkat itu. Kemudian dengan kekuatan super tersebut Pangeran Gunturwijaya berhasil menghancurkan ke enam wujud Pangeran Muradwijaya. Yang pertama salah satu wujud Pangeran Muradwijaya yang menginjak Maha Patih Damarwijaya sudah dihancurkan kedua kakinya, lalu yang ke empat wujud yang lainnya diremukan kepalanya, dan yang terakhir atau yang ke enam dihancurkan dadanya hingga terbelah.

__ADS_1


Dan disaat batas waktu aji guntur saketi level tertinggi sudah habis, mereka semua nampak panik karena masih tersisa dua wujud Pangeran Muradwijaya yang masih hidup. Tiga menitpun sudah berlalu, kini Pangeran Gunturwijaya tergeletak tak berdaya karena efek samping dari ajian tersebut adalah kelumpuhan seluruh anggota badan yang ia dapatkan.


__ADS_2