
Kemudian setelah Adipati Burhansangkala mendengar perkataan dari senopati kolomonggo tentang hal tersebut, Beliau segera menghentikan serangannya. Lalu Adipati Burhansangkala meminta penawar racun tersebut dari senopati Kolomonggo dengan begitu Beliau akan mengampuni dari kejahatannya pada putrinya tersebut jika setelah penawar racun itu diberikan padanya. Lalu Adipati Burhansangkala berkata pada senopati Kolomonggo bahwa malam ini juga ia akan mengumumkan pembatalan aksi pemberontakkannya dan menyerah pada suryaloka.
Tapi senopati kolomonggo yang mendengar perkataan itu, dia sangat tidak terima jika aksi pemberontakkan tersebut sampai dibatalkan, sebab rencana aksi tersebut memang sudah jadi bagian tujuannya. Pada akhirnya senopati Kolomonggo memberikan suatu pilihan pada Adipati Burhansangkala, jika aksi pemberontakkan itu sampai dibatalkan, penawar racun itu tidak akan dia berikan untuk kesembuhan Putri Galuhsangkala. Lalu pada akhirnya Adipati Burhansangkala tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menuruti saran licik dari senopati Kolomonggo, tapi penawar racun itu tidak langsung segera diberikan oleh senopati Kolomonggo pada waktu itu, dia akan memberikannya tepat pada waktu peperangan esok akan dimulai.
Kemudian setelah Adipati Burhansangkala selasai berdebat masalahan penawar racun itu bersama senopati Kolomonggo, Beliau segera bergegas menemui putranya yaitu Raden Mahesasangkala yang sekarang ini sedang bersama Sanjaya dan Mandala menunggu Putri Galuhsangkala yang sedang tak sadarkan diri akibat terkena senjata jarum beracun senopati Kolomonggo. Sesampainya Adipati Burhansangkala ditempat dimana putranya yaitu Raden Mehesasangkala berada, lalu Beliau menceritakan semua hal pada putranya itu tentang hal tersebut. Kemudian setelah Beliau menceritakan semua hal tersebut pada putranya, lalu Beliau berpesan?
"Putraku Mahesasangkala, segeralah kau pergi dari sini dan bergabunglah bersama suryaloka, disaat peperangan meletus esok hari, hancurkanlah karang menjangan putraku, kau jangan memandang Ayah sebagai orang tuamu, tapi pandanglah Ayah sebagai musuhmu yang harus dihancurkan, dan Ayah berpesan bunuhlah senopati Kolomonggo untuk membalaskan dendam Ayah beserta Adikmu Putri Galuhsangkala, karena suatu saat setelah hancurnya kekuasaan Ayah sebagai penguasa karang menjangan, kaulah yang akan menggantikan kedudukkan Ayah sebagai Adipati, maka dari itu jadilah penguasa yang selalu setia pada daerah atasannya yaitu kerajaan suryaloka, junjunglah tinggi suryaloka selayaknya kau menjunjung tinggi harga diri keluargamu, dan jadilah Adipati yang selalu mencintai rakyatnya karena seorang pemimpin itu harus adil dan bijaksana, satu hal lagi janganlah kau jadi seorang pemimpin seperti Ayahmu ini yang mudah termakan hasutan orang lain, jadilah seorang pemimpin yang berjiwa kesatria, mempunyai jiwa yang teguh, pemikiran yang luas, pemberani, tegas dan bertanggung jawab, putraku, Ayah percaya padamu", kata Adipati Burhansangkala sambil meneteskan air mata yang telah berpesan pada putranya yaitu Raden Mehesasangkala.
Setelah itu Raden Mahesasangkala segera bergegas kembali bergabung dengan suryaloka bersama Sanjaya dan Mandala. Kemudian ditenda peristirahatan pasukan suryaloka yang berada diperbatasan medan perang karang menjangan, Maha Patih Damarwijaya yang sedang berdiskusi dengan para punggawa-punggawanya, Beliau sudah memutuskan untuk menghancurkan karang menjangan karena sampai larut malam masih belum ada tanda-tanda keputusan menyerahnya karang menjangan, maka dari itu esok hari karang menjangan resmi dihancurkan sebagai daerah yang membangkang pada kekuasaan suryaloka.
Lalu tak terasa matahari mulai terbit dari timur, itu menunjukkan bahwa haripun sudah menjalang pagi, kedua belah pihak yang akan berperang sudah bersiap dimedan perang, suryaloka yang dipimpin oleh begawan Winara sebagai panglima perang sudah bersiap akan menghancurkan karang menjangan, sedangkan karang menjangan yang dipimpin oleh Adipati Burhansangkala sudah siap berperang melawan kekuatan besar suryaloka. Hari itu karang menjangan suasananya nampak hening, kicauan burungpun sampai tak terdengar, suasana pagi yang sejuk seakan berubah menjadi panas akan dampak peperangan yang akan terjadi pagi itu juga. Sedangkan dipuri kadipaten karang menjangan, Putri Galuhsangkala yang ditemani oleh Ibundanya yaitu kanjeng Permaisuri Sekarsari, ia sudah siuman sejak tak sadarkan diri akibat terkena jarum be tersebut, sebab senopati Kolomonggo telah menepati janjinya memberikan penawar racun yang dia punya disaat menjelang peperangan antara karang menjangan dan suryaloka.
__ADS_1
Pagi itu suasana dimedan perang karang menjangan nampak mencekam, kedua belah pihak karang menjangan dan suryaloka saling berhadapan satu sama lain. Detik-detik peperanganpun akan segera dimulai, selang beberapa saat terlihatlah seekor burung raja wali yang terbang mengitari medan perang tersebut dan disaat raja wali itu mengeluarkan suaranya dan saat itu juga genderang perangpun segera ditabuh atau dibunyikan. Bunyi genderang perangpun saling bersahutan dari kedua kubu yang akan saling berperang yaitu karang menjangan dan suryaloka.
Akhirnya dengan lantang tiba saat begawan Winara memberi perintah penyerangan pada bala pasukannya yaitu pasukan suryaloka?
"Pasukan seraaaaang!".
Dan dari kubu karang menjangan Adipati Burhansangkala juga memberi perintah penyerangan juga?
"Pasukan seraaaaang!".
Perangpun terus berlangsung, dari kubu karang menjangan seakan akan mereka terdesak oleh kubu suryaloka yang sangat kuat didalam peperangan. Kemudian senopati Kolomonggo yang melihat situasi tersebut, dia segera maju kemedan perang bersama para punggawa-punggawa yang lainnya untuk membantu peperangan tersebut. Lalu dari kubu suryaloka Raden Mahesasangkala, Sanjaya dan Mandala juga segera maju kemedan perang guna untuk melawan senopati Kolomonggo sesuai dengan rencana yang sudah dirancang, mereka bertiga memang ditugaskan Maha Patih Damarwijaya untuk membunuh senopati Kolomonggo yang terkenal sakti mandraguna.
__ADS_1
Dengan turunnya senopati Kolomonggo beserta bala punggawa karang menjangan, membuat kekuatan pasukan karang menjangan menjadi tangguh dan kubu suryaloka pun menjadi kesulitan untuk menekan kubu karang menjangan. Senopati Kolomonggo nampak beringas menghancurkan para pasukan suryaloka dan hingga pada akhirnya dia berhadapan oleh ketiga punggawa hebat suryaloka yaitu Raden Mahesasangkala, Sanjaya dan juga Mandala.
"Senopati Kolomonggo, akulah lawanmu!", kata Raden Mahesasangkala yang nampak gagah dan garang menggunakan pakaian perang suryaloka.
"Oh akhirnya kau datang juga Raden Mahesasangkala, maafkan saya jika hari ini saya akan menjadi dewa kematianmu!", jawab senopati Kolomonggo dengan keyakinan yang tinggi dan dengan tatapan yang picik pada Raden Mahesasangkala.
Kemudian disisi lain Pangeran Gunawijaya bersama para pengawalnya sudah memasuki kawasan suryaloka, mereka semua dengan kencang memacu kuda tunggangannya agar segera sampai kekerajaan suryaloka.
Lalu dengan situasi yang seperti itu akhirnya pasukan khusus prajaloka yang dipimpin oleh senopati Sandiaga, diturunkan kemedan perang. Dan Adipati Burhansangkala yang melihatnya segera memerintahkan pasukan garda sura yang dipimpin oleh senopati Barda untuk segera turun kemedan perang untuk melawan pasukan khusus prajaloka. Kedua pasukan khusus tersebut bertarung habis habisan, sedangkan kedua senopati dari kedua kubu saling berhadapan yaitu senopati Sandiaga dan senopati Barda.
Setelah itu dimedan perang karang menjangan, saat peperangan makin sengit dan memanas sampai siang hari tiba-tiba kabut tebalpun menyelimuti medan perang tersebut dan membuat semua pasukan dari kedua kubu kebingungan, tapi disaat kabut itu lenyap dari pandangan semua orang, munculah sesosok misterius ditengah medan perangan tersebut. Di dalam kemunculannya, sesosok misterius yang wujudnya masih tertutup kabut hitam dengan garangnya dia banyak membantai pasukan suryaloka karena dia berada dipihak karang menjangan, kemudian Maha Patih Damarwijaya dan Pangeran Gunturwijaya yang melihatnya, mereka berdua segera turun kemedan perang untuk menghadapi sesosok misterius itu. Sedangkan begawan Winara beserta bala punggawa suryaloka yang lainnya masih berada diatas kudanya, mereka belum turun kemedan perang karena mereka masih menunggu turunnya Adipati Burhansangkala kemedan perang, sebab lawan dari Adipati Burhansangkala adalah begawan Winara karena mereka berdua sama-sama sebagai panglima perang dari kubu masing-masing.
__ADS_1