
Kemudian disuryaloka, Maha Patih Damarwijaya yang telah sampai dikerajaan setelah berkunjung ketempat Begawan Winara, Beliau segera mengumpulkan semua para punggawa-punggawanya, Beliau memerintahkan untuk persiapan penyerangan karang menjangan esok hari. Karena sudah tidak bisa ditunda lagi, semakin lama masalah ini dibiarkan akan semakin berbahaya bagi kedamaian suryaloka. Lalu segeralah punggawa-punggawa tersebut melaksanakan perintah Maha Patih Damarwijaya untuk persiapan penyerangan esok hari, mereka semua bergegas mempersiapkan segala hal untuk peperangan, tak hanya itu saja, Maha Patih Damarwijaya juga menyampaikan kabar tersebut pada Begawan Winara, agar Begawan Winara bisa segera mempersiapkan pasukan khususnya yaitu prajurit prajaloka.
Sambil tersenyum Kajeng Abdi Pranata Suryaloka atau biasa disebut Begawan Winara berkata?
"Akhirnya Maha Patih Damarwijaya memberi perintah penyerangan juga, baguslah kalau bagitu, prajurit!, segera persiapkan diri kalian semua untuk berperang esok hari demi kejayaan suryaloka", perintah Begawan Winara.
"Sendiko kanjeng!", Jawab para pasukan khususnya yaitu para prajurit prajaloka.
Kemudian Raden Mahesasangkala yang mengetahui bahwa Maha Patih Damarwijaya telah memberi perintah penyerangan pada karang menjangan esok hari, ia merasa sedih akan terjadinya peperangan yang ditimbulkan oleh ayahndanya tersebut yaitu Adipati Burhansangkala, dan ia khawatir akan banyak korban yang bakal terjadi dan korban itu semua adalah sesama bangsa suryaloka dari kedua belah pihak yang akan saling berperang. Tapi Raden Mahesasangkala tak bisa berbuat apa-apa lagi selain ikut berperang membela suryaloka, ia akan menghadapi bala pasukan Ayahndanya sendiri yaitu para prajurit karang menjangan. Kemudian dilain sisi, Pangeran Gunawijaya yang telah terkepung oleh bala pendekar aliran hitam yang akan membunuhnya, ia sedikitpun tak merasa gentar olehnya.
"Oh!, ternyata ini yang namanya Pangeran Gunawijaya, yang terkenal dengan sebutan pendekar kilat sakti, sebenarnya sesosok misterius tidak perlu memerintahkan begitu banyak anak buahnya untuk sekedar membunuhnya, cukup aku saja yang akan membunuhnya", ocehan Prayoga ketua dari bala pendekar aliran hitam yang sedang mengepung dan siap membunuh Pangeran Gunawijaya.
Tapi tidak mudah untuk membunuh seorang Pangeran Gunawijaya dengan begitu saja karena Pangeran Gunawijaya selain ia adalah kesatria yang sangat tangguh, ia juga dilindungi oleh para pengawal-pengawal hebatnya tersebut yaitu Pangeran Jatiwijaya, Jatmiko, Kedasih, kedua senopati Balawarman dan Balamarwan, beserta kedua pendekar hebat Sanjaya dan Mandala yang sekarang ini posisi mereka berdua sedang melaksanakan perintah Pangeran Gunawijaya untuk menjadi bala bantuan suryaloka terlebih dulu.
__ADS_1
"Pasukan seraaaaang!", perintah Prayoga pada para anak buahnya untuk menyerang Pangeran Gunawijaya.
Pertarunganpun terjadi, para pengawal Pangeran Gunawijaya sangat hebat dalam urusan melindungi Beliau, banyak dari pihak pendekar aliran hitam tak sanggup melawan kemampuan bela diri para pengawal Pangeran Gunawijaya. Sebanyak-banyaknya para pedekar aliran hitam yang akan membunuh Pangeran Gunawijaya, mereka semua dibuat kocar-kacir oleh para pengawal Pangeran Gunawijaya. Dan sedangkan Pangeran Gunawijaya, ia hanya berdiam diri diatas kudanya sambil melihat situasi pertarungan tersebut.
"Jatmiko, Kedasih, lindungi Pangeran Gunawijaya, jangan sampai terbawa suasana pertarungan, tetap konsentrasi pada misi kita yaitu untuk melindungi Beliau", arahan dari senopati Balawarman dengan sikap yang tegas.
"Daulat kanjeng senopati Balawarman!", jawab mereka berdua Jatmiko dan Kedasih.
Senopati Balawarman sangat hebat, ia bisa mendesak ketua dari para pendekar aliran hitam itu, mereka berdua bertarung habis-habisan dengan segala jurus bela diri yang mereka punya. Sedangkan senopati Balamarwan dan Pangeran Jatiwijaya mereka sedikit kesulitan menghadapi ketiga pendekar kembar, mereka berdua tetap berjuang melawan ketiga pendekar kembar itu dengan berbagai jurus. Kemudian Jatmiko dan Kedasih berhasil menghabisi banyak musuh yaitu para pendekar aliran hitam yang lainnya. Pertarung makin sengit, tapi sejauh itu Pangeran Gunawijaya belum turun tangan dalam pertarungan hebat itu, ia sekedar membaca situasi pertarungan tersebut. Kemudian disuryaloka Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya, mereka berdua pergi menemui Ratu Kencanawangi untuk membicarakan tentang masalah Putri Kumalawijaya yang mempunyai hubungan asmara dengan Raden Mahesasangkala yaitu putra mahkota kadipaten karang menjangan. Maha Patih Damarwijaya hanya ingin memenuhi janjinya pada Raden Mahesasangkala untuk membantu menyelesaikan masalahnya tersebut.
"Tidak dimas Maha Patih, Saya sebagai ibu dari Putri Kumalawijaya tidak menyetujui hubungannya dengan Raden Mahesasangkala", kata Ratu Kencanawangi dengan lantang.
"Maaf yunda Ratu, Sebenarnya apa yang membuat yunda Ratu sangat tidak setuju dengan hubungan mereka, apa karena Putri Kumalawijaya sudah dijodohkan dengan Pangeran Sutabirawa sampai ia harus menanggung masalah ini, coba yunda Ratu pikirkan, sekarang masalahnya Putri Kumalawijaya sedang mengandung anak dari Raden Mahesasangkala, jika yunda Ratu tetap bersikeras tidak merestui hubungan mereka bedua, apa Pangeran Sutabirawa bisa menerima Putri Kumalawijaya dengan keadaannya yang seperti ini, tolong hal ini perlu dipertimbangkan yunda Ratu Kencanawangi?", saran dari Maha Patih Damarwijaya pada kakak iparnya yaitu Ratu Kencanawangi dengan sikap tegas dan bijak.
__ADS_1
Kemudian Ratu Kancanawangi menjawab saran Maha Patih Damarwijaya dengan sedikit emosi?
"Sebenarnya saya sendiri sudah memikirkannya dimas Maha Patih, tapi selama ini saya bingung akan keadaan ini, jika saya memutuskan perjodohan putri saya dengan Pangeran Sutabirawa, yang saya takutkan akan jadi masalah besar bagi kita semua karena pihak dari keluarga Birawa yang jelas tidak akan terima dengan pemutusan perjodohan ini, dan sebanarnya untuk mengatasi masalah ini sayapun sudah punya rencana, tapi untuk menjalankan rencana itu, saya masih pikir-pikir?".
"Maaf kalau boleh tahu rencana apa yang akan yunda Ratu lakukan?", tanya Maha Patih Damarwijaya dengan sangat penasaran.
"Saya menyuruh Putri Kumalawijaya untuk segera menggugurkan kandungannya", jawab Ratu Kencanawangi.
Serentak Pangeran Gunturwijaya yang mendengar pembicaraan itu, ia langsung memotong percakapan Ibunya dengan Maha Patih Damarwijaya?
"Jangan kanjeng Ibu Ratu, jangan sampai kanjeng Ibu Ratu menyuruh dinda Kumalawijaya untuk menggugurkan kandungannya, saya sangat tidak setuju dengan rencana kanjeng Ibu Ratu, itu sama dengan kanjeng Ibu Ratu menyuruh membunuh cucu kanjeng Ibu Ratu sendiri".
Dengan protesnya Pangeran Gunturwijaya terhadap rencana Ibunya yaitu Ratu Kencanawangi, akhirnya Ratu Kencanawangi mengurungkan niatan rencananya itu, Beliau sadar tindakkannya itu sangat diluar batas pikirannya. Dengan begitu akhirnya Ratu Kencanawangi merestui hubungan putrinya bersama Raden Mahesasangkala. Ia akan segera melaksanakan acara pernikahan putrinya itu bersama Raden Mahesasangkala setelah masalah pemberontakkan karang menjangan terselesaikan. Kemudian disisi lain Pangeran Jatiwijaya beserta senopati Balamarwan sangat terdesak oleh ketiga pendekar kembar tersebut, akhirnya Pangeran Jatiwijaya mengeluarkan pusakanya yaitu cumeti banas pati, sedangkan senopati Balamarwan mengeluarkan trisula kembarnya untuk menghadapi ketiga pendekar kembar yang bersenjatakan tombak sakti. Ketiga pendekar kembar sangat ahli dalam menggunakan sejata tombak, mereka bertiga dijuluki sebagai pendekar Tombak Bayangan, sebab saking ahlinya mereka bertiga memainkan senjata tombaknya, serangan tombaknyapun sampai tak terlihat, hanya pendekar yang hebat nan jeli yang bisa melihat serangan tombak tersebut.
__ADS_1