PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
105. Awal dari sebuah revolusi


__ADS_3

Kemudian di hutan giritunggal, Patih Waranggaseta merancang strategi bersama senopati Kuncoro, senopati terbaik yang dimiliki suryaloka.


Mereka berdua ingin secepatnya untuk segera mengambil alih giritunggal dari kekuasaan Raja Sutabirawa.


Apa lagi kini kekuatan pasukan Patih Waranggaseta sudah sangat kuat dengan bergabungnya para prajurit giritunggal yang tertangkap saat kalah perang dengannya.


Patih Waranggaseta berhasil membujuk mereka para prajurit giritunggal yang telah dia tahan.


Para prajurit tersebut siap berjuang dengan Patih Waranggaseta demi kedamaian dan keadilan giritunggal.


Dalam strategi itu, Patih Waranggaseta akan menempatkan Pangeran Kasimwijaya digarda depan untuk menjadi panglima perang dari para pasukan Patih Waranggaseta.


Sedangkan senopati Kuncoro dan Putri Senjabirawa akan berada di barisan belakang sebagai pasukan cadangan.


Karena biar bagaimanapun, giritunggal adalah termasuk kerajaan kuat, maka dari itu tetap harus diwaspadai, meski giritunggal telah kehilangan banyak kekuatan.


Sedangkan di kerajaan giritunggal saat ini Raja Sutabirawa juga sedang menyiapkan kekuatan maksimalnya, karena dia merasa akan mendapatkan serangan dari Patih Waranggaseta secepatnya.


Raja Sutabirawa masih memiliki punggawa punggawa hebat disekitarnya.


Maka dari itu Raja Sutabirawa tak gentar sama sekali dengan apa yang bakal terjadi pada dirinya.


"Lapor yang mulia Raja Sutabirawa, semua kekuatan sudah kami siapkan di kerajaan ini, kami semua akan siap bertempur demi yang mulia Raja", kata salah satu prajurit terbaik giritunggal pada Rajanya tersebut.


Keesokan harinya saat Mentari terbit dari ufuk timur, cuacapun begitu cerah menyambut revolusi yang bakal terjadi di giritunggal.


Hari itu akan menjadi saksi dimana kemungkaran akan hancur oleh kebaikan.


Tidak ada didunia ini kemungkaran akan selalu berjaya, kemungkaran pasti akan terkikis oleh badai kebaikan.


Sebab kebaikan adalah racun bagi kemungkaran tersebut, lambat laun kebaikan itu akan meracuni kemungkaran tersebut hingga hancur lebur tak tersisa.


Maka dari itu siapapun, tanamkanlah kebaikan dalam diri selama kita hidup, sebab hidup tak akan berarti tanpa kebaikan.

__ADS_1


Ada istilah, orang mati meninggalkan nama, gajah mati meninggalkan gading dan harimau mati meninggalkan belang.


Maka dari itu, jika kau mati, jangan meninggalkan nama yang buruk, kau akan rugi.


Buatlah namamu harum disaat kau masih diberi waktu untuk hidup.


Singkat cerita hari itu pada sore hari Patih Waranggaseta menyerang kerajaan giritunggal dengan para pasukannya.


Patih Waranggaseta benar-benar mengerahkan kekuatan penuh untuk bisa menghancurkan Raja Sutabirawa secepat mungkin.


Para warga giritunggal yang melihat barisan para pasukan Patih Waranggaseta yang sedang menuju ke kerajaan giritunggal, mereka semua sangat mendukungan aksi tersebut, karena mereka menanti keadilan dan kedamaian yang sangat lama mereka tidak rasakan.


Hal ini bisa dibilang kudeta atau pemberontakan yang menyalahi hukum tata negara, tapi hal ini memang harus dilakukan demi terciptanya keadilan dan kedamaian disebuah negara atau negri yang penuh dengan tirani kekuasaan.


Disitulah harus ada seseorang yang harus berani menjadi pelopor ulung demi mendongkrak semangat patriotisme bagi para orang orang yang sedang berjalan pada kebenaran untuk sebuah bangsa dan negara, baru dengan begitu akan terciptalah revolusi yang akan merubah sejarah kelam menjadi terang.


Pelopor tersebut ialah Patih Waranggaseta seseorang yang berjiwa kesatria, patriot sejati, harapan bagi bangsa dan negara giritunggal.


Maka dari itu Patih Waranggaseta memilih pergi meninggalkan sang Raja, karena kebijakan kebijakan sang Raja kebanyakan tidak demi warganya atau rakyatnya, tapi kebijakan kebijakan tersebut cenderung untuk pribadinya sendiri dan juga untuk para koloni koloninya.


Sang Raja tidak peduli rakyatnya sengsara, yang penting dia beserta para koloninya kenyang dan hidup mewah.


Itulah alasan kenapa Patih Waranggaseta memilih pergi meninggalkan sang Raja, dan pada akhirnya membentuk kekuatan besar demi terciptanya sebuah revolusi besar yang akan membawa negaranya menuju keadilan dan kedamaian.


Kemudian tibalah Patih Waranggaseta beserta para pasukannya didepan kerajaan giritunggal yang masih berjarak dua ratus meter didepan mereka berhenti.


Para prajurit giritunggal sangat panik melihat situasi tersebut, mereka segera melaporkan kejadian itu pada sang Raja yaitu Raja Sutabirawa.


"Kalian tenanglah, mereka tidak akan tiba-tiba langsung menyerang kita, saya akan mengutus senopati Abas untuk bernegosiasi dengan mereka", Raja Sutabirawa berkata pada para prajurit yang sedang melaporkan situasi tersebut padanya.


Tak lama kemudian datanglah senopati Abas dengan keempat pengawalnya menghadap kepada Patih Waranggaseta yang berada dua ratus meter dari kerajaan giritunggal.


Senopati Abas menyampaikan pesan dari Raja Sutabirawa kepada Patih Waranggaseta.

__ADS_1


Pesan tersebut agar Patih Waranggaseta mengurungkan niatnya untuk menyerang giritunggal.


Sebagai gantinya jika Patih Waranggaseta bersedia mengurungkan niatnya tersebut, maka Raja Sutabirawa akan mengembalikan semua haknya sebagai Patih giritunggal dengan sepenuhnya tanpa terkecuali.


Dengan pesan tersebut tak membuat Patih Waranggaseta luluh oleh rayuan dari pesan itu.


Beliau, Patih Waranggaseta memberikan jawaban bahwa pesan itu ditolaknya.


Dan beliau memperingati bahwa sebentar lagi, beliau dengan para pasukannya akan menghancurkan giritunggal dan merebut kekuasaannya dari sang Raja tersebut.


Mendengar jawaban tersebut, senopati Abas beserta keempat pengawalnya segera kembali ke kerajaan giritunggal dan melaporkan hal tersebut pada sang Raja.


Kemudian saat sang Raja mengetahui jawaban itu dari punggawanya tersebut, sang Raja sangat geram, dia segera memberikan perintah perlawanan jika Patih Waranggaseta dan para pasukannya menyerang giritunggal.


Akhirnya pasukan pemanah disiapkan oleh giritunggal untuk melumpuhkan para pasukan infanteri dari Patih Waranggaseta yang berada digarda terdepan.


Kemudian sesuai dengan perintah dari panglima perang, para pasukan Patih Waranggaseta yang berada di garda terdepan segera menyerang kerajaan giritunggal dengan gagah berani.


Para pasukan Patih Waranggaseta yang berada di garda terdepan segera berlari ke arah kerajaan giritunggal untuk segera menyerang.


Kemudian para pasukan pemanah giritunggal, segera melepaskan anak panah untuk menghujani para pasukan Patih Waranggaseta yang sedang menyerang giritunggal.


Dari hujan panah yang ditembakkan oleh para prajurit pemanah giritunggal mengakibatkan banyak jatuh korban di kubu Patih Waranggaseta.


Raja Sutabirawa yang menyaksikan kejadian tersebut dari atas kerajaannya, dia tertawa terbahak-bahak karena dengan begini, dia yakin bahwa peperangan ini akan dia menangkan dengan mudah.


Senopati Abas yang berada disamping Rajanya juga berkata seperti itu.


"Sungguh sangat mudah sekali untuk memenangkan peperangan ini", kata senopati Abas yang sedang bersama Rajanya diatas kerajaan untuk memantau jalannya perperangan tersebut.


Lalu Raja Sutabirawa berkata jika giritunggal memenangkan peperangan ini, maka dia akan menghukum mati Patih Waranggaseta didepan para warga giritunggal.


Raja Sutabirawa merasa sangat yakin, bahwa kudeta yang dilancarkan oleh Patih Waranggaseta pasti akan gagal, sebab Raja Sutabirawa merasa kekuatan yang dia miliki jauh lebih unggul dari kekuatan yang dimiliki oleh Patih Waranggaseta.

__ADS_1


__ADS_2