
Kemudian Saka yang sangat terdesak sudah tak bisa apa apa lagi, dia dihajar habis-habisan oleh senopati Kuncoro.
Akhirnya Saka mencabut keris pusaka mahasura dari tempatnya, dia mencoba melawan senopati Kuncoro menggunakan keris tersebut.
Keluarlah api yang menyambar nyambar dari keris itu.
Seketika itu, senopati Kuncoro langsung menjaga jarak dari Saka, karena tubuh Saka sekarang ini diselubungi oleh api besar dari keris mahasura.
Sekarang Saka dapat membalikkan keadaan, yang tadinya dia terdesak, saat ini Saka lebih unggul dari senopati Kuncoro.
"Hahaha tidak mudah untuk mengalahkanku, senopati, justru kaulah yang akan mati ditanganku", Saka yang sangat percaya diri saat melawan senopati Kuncoro.
Saka menyerang senopati Kuncoro dengan membabi buta, dia menyerang menggunakan keris pusaka mahasura, yang bisa menyemburkan api.
Senopati Kuncoro sangat terdesak sekali dengan situasi yang seperti ini, dia hampir tidak bisa mendekati Saka lagi.
Semburan demi semburan mengarah kepada senopati Kuncoro, api yang berkobar-kobar seakan ingin membakar tubuh senopati Kuncoro.
Sedangkan senopati Kumara tidak bisa membantu, karena dia sangat kelelahan sekali akibat kehabisan banyak cakra, waktu mengeluarkan jurus bola api raksasa.
Lalu tak lama kemudian, senopati Kuncoro terkena sambaran api dari keris mahasura.
Api itu menyambar senopati Kuncoro bagaikan cambuk api yang sangat panas, seketika itu senopati Kuncoro berteriak kepanasan, sebab dia terkena sambaran api itu dibagian dadanya.
Senopati Kuncoro memegang dadanya yang terbakar, sambil menghindari setiap serangan Saka, yang menyerang menggunakan keris sakti mahasura.
Kemudian senopati Kumara mencoba membantu senopati Kuncoro, yang sedang terdesak saat ini.
Senopati Kumara mendapatkan sedikit bantuan cakra, dari senopati yang lainnya.
Senopati tersebut menyalurkan sedikit cakranya, agar senopati Kumara bisa bertarung kembali dan membantu senopati Kuncoro, yang saat ini sedang terdesak oleh Saka.
Kemudian saat Saka akan menghempaskan cabuk api dari keris mahasura, kepada senopati Kuncoro, tiba-tiba senopati Kumara datang dan menghadang serangan itu dengan menggunakan aji wisanggeni nya.
Akhirnya terjadi adu dua kekuatan api besar, yaitu api dari keris mahasura melawan api dari aji wisanggeni.
Senopati Kumara mati matian menahan semburan api dari keris pusaka mahasura, sedangkan Saka juga begitu, dia juga menahan semburan api dari aji wisanggeni.
Dua kekuatan api besar tersebut masih sama sama kuat.
Diantara mereka berdua, yaitu Saka dan Senopati Kumara, masih belum menunjukkan tanda-tanda melemahnya dari kekuatan api mereka masing-masing.
Mereka berdua masih beradu kekuatan api dengan sangat hebatnya, dan masih sanggup menahan serangan api tersebut.
Tapi tanpa diduga, ternyata ada salah satu pasukan musuh yang membidikkan panah kearah senopati Kumara, dan hal itu diketahui oleh senopati Kuncoro.
Pada saat itu juga senopati Kuncoro segera berlari untuk menyelamatkan senopati Kumara, dari bidikan panah tersebut.
Panah itu melesat kencang kearah senopati Kumara, tapi senopati Kumara selamat dari bidikan panah itu, sebab senopati Kuncoro telah melindunginya.
__ADS_1
Lesatan panah itu tak mempan terhadap tubuh senopati Kuncoro, yang telah menggunakan aji prajawesi.
Anak panah yang melesat dan mengenai senopati Kuncoro, serasa seekor semut yang menggigit.
Dengan aji prajawesi, kini tubuh senopati Kuncoro kebal terhadap senjata apapun, apalagi cuma panah, sebesar kapak saja tidak bisa melukainya.
Kemudian senopati Kuncoro menghajar pasukan pemanah tersebut, hingga tewas.
Sebenarnya banyak pasukan dari pihak musuh yang akan menyerang senopati Kuncoro, tapi bala prajurit dari kubu aliansi kerajaan, menghadang para pasukan musuh tersebut.
Setelah itu, senopati Kuncoro mendekati senopati Kumara yang masih beradu kekuatan api dengan Saka.
Saat itu senopati Kumara sudah mulai kelelahan, karena cakranya sangat tidak memenuhi akan ajian yang dia gunakan tersebut, yaitu aji wisanggeni.
Lalu saat senopati Kumara sudah hampir kalah beradu kekuatan api dengan Saka, akhirnya senopati Kuncoro menyalurkan semua sisa cakra yang dia miliki pada senopati Kumara.
Dengan kedua tangannya, senopati Kuncoro menyalurkan cakranya, lewat belakang punggung senopati Kumara.
Tiba-tiba senopati Kumara yang tadinya sudah lelah, akibat kehabisan cakra, kini dia segar kembali, karena mendapatkan saluran cakra dari senopati Kuncoro.
Mereka berdua bekerja sama untuk mengalahkan Saka, sebab Saka memiliki keris sakti mahasura.
Keris itu memiliki sumber kekuatan api, jika sekali digunakan, api itu akan melahap sasarannya.
Tapi untung saja, senopati Kumara mengimbanginya dengan aji wisanggeni, karena ajian itu juga bersumber dari kekuatan api yang sangat dahsyat.
Kedua senopati tersebut, yaitu senopati Kumara dan senopati Kuncoro, mereka harus mengalahkan Saka segera mungkin, sebab jika Saka tidak dikalahkan, Saka akan membuat repot para kesatria, dengan kekuatan jurus mata dewanya.
Dengan menyalurkan cakranya kepada senopati Kumara, kini senopati Kuncoro yakin, bahwa Saka akan segera mereka binasakan.
"Hyaaaaa.... Hyaaaaa.... ", kedua senopati tersebut berteriak kencang guna meningkatkan kekuatannya.
Saka yang tadinya sudah diatas angin atau unggul, kini dia merasakan dampak dari kedua kekuatan senopati, Kumara dan Kuncoro.
Aji wisanggeni senopati Kumara kekuatan jadi berlipat ganda, dengan bantuan cakra dari senopati Kuncoro.
Saat beradu kekuatan api dahsyat, antara aji wisanggeni senopati Kumara melawan keris sakti mahasura Saka, akhirnya Saka pun terdorong mundur perlahan-lahan, akibat kekuatan dari aji wisanggeni yang berlipat ganda.
"Apa apaan ini, kenapa kekuatan api dari keris mahasuraku jadi melemah", saka yang berkata dalam hatinya, sambil menahan semburan api dari keris mahasura yang sedang beradu kekuatan semburan api dengan aji wisanggeni senopati Kumara.
Sebenarnya kekuatan semburan api dari keris mahasura tidak melemah, tapi itu karena kekuatan aji wisanggenilah yang semakin kuat.
Jadi dengan bertambah kuatnya aji wisanggeni, keris mahasura seperti tak sanggup menahan kekuatan dari ajian tersebut.
Kemudian Saka berteriak kepada para pasukannya, agar mereka segera ikut membantu menghabisi kedua senopati, Kumara dan Kuncoro.
Tapi ternyata hal itu sia sia, karena bala prajurit dari aliansi kerajaan sudah menghadang para pasukan Saka.
Maka dari itu, Saka hanya tinggal menunggu detik detik kematiannya saat ini.
__ADS_1
Lalu kedua senopati tersebut, Kumara dan Kuncoro, benar-benar menyalurkan seluruh cakranya pada aji wisanggeni.
Seketika itu aji wisanggeni bertambah besar semburan apinya, hingga semburan api keris mahasura pun tertelan oleh semburan api aji wisanggeni.
Saka sudah tidak kuat menahan adu semburan api tersebut, meski dia menggunakan keris mahasura, karena semburan api dari aji wisanggeni senopati Kumara, telah bertambah besar dan hebat.
Akhirnya dengan kehebatan aji wisanggeni yang bertambah kekuatannya, Saka pun tertelan oleh semburan api dari ajian tersebut.
Tapi saat Saka menyadari bahwa dirinya akan kalah dan tewas oleh serangan ajian wisanggeni senopati Kumara, Saka dengan sekuat tenaga yang tersisa, dia melesatkan keris mahasura kearah senopati Kumara.
Dan Saka pun berkata, "aku tidak akan pernah mati sia-sia, salah satu dari kalian berdua harus ada yang ikut mati denganku!".
Akhirnya Saka pun tewas terkena sambaran api, dari ajian wisanggeni senopati Kumara.
Tubuh Saka langsung lebur jadi abu.
Kemudian alangkah senangnya senopati Kuncoro, karena sudah bisa memenangkan pertempuran melawan Saka sipendekar mata dewa.
Tapi kesenangan tersendiri berubah menjadi duka, karena tanpa senopati Kuncoro sadari, ternyata senopati Kumara pemilik aji wisanggeni, tiba-tiba terbaring lemas tak berdaya didepan senopati Kuncoro.
Alangkah terkejutnya senopati Kuncoro mengetahui hal tersebut.
"Ada apa denganmu senopati Kumara", kepanikan senopati Kuncoro yang melihat senopati Kumara sedang sekarat.
Ternyata saat senopati Kuncoro lihat, diperut senopati Kumara tertancap keris sakti mahasura.
Keris tersebut sengaja dilesatkan oleh Saka, agar kematiannya tidak sia sia, sebab jika dia mati, salah satu lawannya harus ada yang mati juga.
Dan itu ternyata adalah senopati Kumara yang jadi korbannya.
Seketika itu, senopati Kuncoro segera memanggil prajurit medis, yang bertugas dibagian kesehatan atau regu penyelamat.
"Prajuriiiiittt...", cepat panggil tim penyelamat.
Lalu tindakan senopati Kuncoro dicegah olah senopati Kumara.
Senopati Kumara memberikan isyarat dengan menggelengkan kepala, karena dia sedang dalam keadaan sekarat.
Lalu senopati Kumara yang berada dipangkuan senopati Kuncoro, dia mencoba mencabut keris mahasura yang menancap diperutnya.
Saat keris itu tercabut dari perutnya, lalu senopati Kumara memberikan keris tersebut kepada senopati Kuncoro.
Dengan nada terbata bata, senopati Kumara berpesan, agar senopati Kuncoro meneruskan perjuangannya, yaitu menyelamatkan tanah Jawa dari kehancuran yang bakal terjadi.
Setelah itu senopati Kumara menyalurkan ajian wisanggeni nya kepada senopati Kuncoro.
Dengan begitu senopati Kumara akan tetap hidup, didalam ajian tersebut yang berada didalam diri senopati Kuncoro.
Intinya, ajian wisanggeni oleh senopati Kumara diwariskan kepada senopati Kuncoro.
__ADS_1
Setelah itu, senopati Kumara telah menghembuskan nafas terakhirnya, dan diapun meninggal dipangkuan senopati Kuncoro.
Rasa sedih pun menyelimuti senopati Kuncoro ditengah medan perang.