PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
116. Kebijakan ketiga petinggi kerajaan


__ADS_3

Kemudian dua adipati hebat dari suryaloka sudah datang dengan bala pasukannya.


Kedua adipati itu ialah, adipati Mahesasangkala dari kadipaten karang menjangan, dan adipati Mukasbarada dari kadipaten mayang.


Mereka berdua baru datang, karena masih mempersiapkan segala kebutuhan untuk perang.


Lalu disusul kedatangan adipati adipati yang lainnya, dari wilayah suryaloka maupun wilayah giritunggal dan himalaya.


Memang mereka semua tidak datang bersamaan, tapi mereka punya semangat juang yang sama.


Akhirnya para adipati adipati yang baru datang, mereka semua dikumpulkan dalam suatu aula untuk diberikan arahan oleh ketiga penguasa mereka, yaitu Mahapatih Damarwijaya dari kerajaan suryaloka, lalu Raja Silendrawangi dari kerajaan himalaya, dan Patih Waranggaseta dari kerajaan giritunggal.


Para adipati adipati tersebut sangat antusias dalam mendengarkan arahan dari ketiga penguasa mereka masing-masing.


Setelah para ketiga penguasa tersebut selesai memberikan arahan pada para adipati, kemudian salah satu adipati, yaitu adipati Mukasbarada menemui Pangeran Gunawijaya.


"Mohon ampun pangeran, saat itu waktu pertemuan para adipati suryaloka, hamba berperilaku buruk pada pangeran, dan ternyata apa yang pangeran katakan tentang akan hancurnya tanah Jawa, itu benar nyatanya", adipati Mukasbarada menyesali perilakunya sewaktu dulu pada Pangeran Gunawijaya.


"Sudahlah adipati, saya sudah memaafkanmu sejak dulu, yang penting sekarang kita semua akan berjuang bersama untuk menyelamatkan tanah Jawa dari kehancuran", jawab Pangeran Gunawijaya pada adipati Mukasbarada.


Lalu datanglah seorang adipati lagi menghadap Pangeran Gunawijaya.


Adipati itu ialah adik iparnya sendiri, yaitu adipati Mahesasangkala, suami dari Putri Kumalawijaya.


Adipati Mahesasangkala berkata, bahwa disaat perang nanti, dia akan selalu mendampingi kakak iparnya tersebut, yaitu Pangeran Gunawijaya.


Hidup atau mati, adipati Mahesasangkala akan selalu berjuang bersama dengan kakak iparnya tersebut.


Kemudian adipati Mukasbarada juga ingin mendampingi Pangeran Gunawijaya dalam peperangan itu.


Akhirnya Pangeran Gunawijaya mengizinkan kedua adipati itu, untuk turut serta bersama dirinya dalam peperangan yang akan terjadi suatu saat nanti.


Setelah itu, Pangeran Gunawijaya menemui kedua calon istrinya, yaitu Putri Senjabirawa dan juga sigadis manis Kedasih.

__ADS_1


Sang pangeran berpesan pada kedua calon istrinya tersebut, pesan itu ialah agar kedua calon istrinya itu harus tetap bersatu dan akur didalam suka maupun duka.


Jangan sampai mereka berdua terpisah, meski sang pangeran tidak ada, kuatkan hati kalian berdua meski tanpa kehadiran sang pangeran.


Setelah Pangeran Gunawijaya berpesan seperti itu, tiba-tiba tanpa disadari, Putri Senjabirawa dan Kedasih meneteskan air mata.


Lalu Pangeran Gunawijaya mengusap air mata mereka bedua, yang menetes dipipi merah merona mereka, yaitu Putri Senjabirawa dan juga Kedasih.


Dan sang pangeran pun memeluk mereka berdua, sambil seraya berkata, "Kalian berdua harus tegar, karena kalian berdua adalah calon istri seorang pahlawan".


Lalu Pangeran Gunawijaya menyuruh kedua calon istrinya itu harus selalu siaga, meski sedang berada di istana, sebab perang kali ini bukanlah perang biasa, tapi perang besar penentuan antara kebenaran melawan kejahatan.


Beberapa waktu kemudian, Pangeran Gunawijaya beserta Patih Waranggaseta dan juga Mahapatih Damarwijaya, mereka bertiga melihat keadaan Pangeran Sutabirawa yang telah dipindah penjarakan di kerajaan suryaloka, karena atas permintaan ibunya, yaitu ibu Ratu Setyawati.


Beliau, ibu Ratu Setyawati, sejahat jahatnya putranya tersebut, yaitu Pangeran Sutabirawa, hati seorang ibu tetap tidak tega meninggalkan putranya itu sendirian di kerajaan giritunggal, dalam keadaan dipenjara.


Maka dari itu, Ratu Setyawati, meminta Patih Waranggaseta agar memindahkan Pangeran Sutabirawa kepenjara suryaloka, tempat dimana berkumpulnya aliansi ketiga kerajaan besar.


"Salam Pangeran Sutabirawa, bagaimana keadaanmu saat ini, apa kau baik-baik saja di suryaloka", Pangeran Gunawijaya berkata pada mantan Raja giritunggal yang sedang dalam penjara suryaloka.


Singkat cerita, setelah Pangeran Gunawijaya banyak berbincang bincang dengan Pangeran Sutabirawa, akhirnya Pangeran Sutabirawa menitipkan adiknya yaitu Putri Senjabirawa kepada Pangeran Gunawijaya.


Dan Pangeran Sutabirawa meminta maaf yang sebesar-besarnya, atas perbuatannya dulu pada Pangeran Gunawijaya sewaktu melamar adiknya tersebut.


Pangeran Gunawijaya, tersenyum dan berkata, dia sudah melupakan hal tersebut, dan dia pasti akan selalu menjaga Putri Senjabirawa dengan segenap jiwa raganya.


Lalu Pangeran Sutabirawa meminta izin, agar dirinya diperbolehkan untuk ikut berperang menyelamatkan tanah Jawa dari kejahatan para musuh aliran hitam.


Ketiga petinggi kerajaan tersebut, yaitu Pangeran Gunawijaya, Mahapatih Damarwijaya dan Patih Waranggaseta, mereka merundingkan permintaan izin tersebut dari Pangeran Sutabirawa.


Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dari perundingan itu, ketiga petinggi kerajaan tersebut menyetujui Pangeran Sutabirawa ikut serta dalam peperangan tersebut.


Tapi dengan syarat, jika Pangeran Sutabirawa selamat dari peperangan itu, dia harus bersedia kembali lagi untuk menjalani masa tahannya itu.

__ADS_1


Lalu jika sudah diberikan izin, ternyata Pangeran Sutabirawa, mempunyai niatan yang buruk atau tidak baik, maka dia akan dihabisi dengan cara apapun.


Dengan perjanjian itu, Pangeran Sutabirawa sangat menyetujuinya, dia sebagai kesatria akan selalu memegang Teguh atas janjinya, atas syarat yang diberikan oleh ketiga petinggi kerajaan tersebut.


"Prajurit, segera bebaskan Pangeran Sutabirawa", perintah Mahapatih Damarwijaya pada prajurit penjaga tahanan.


Saking senangnya, saat sudah dibebaskan, Pangeran Sutabirawa segara bersujud didepan Mahapatih Damarwijaya, selaku penguasa suryaloka saat ini.


Kemudian Pangeran Sutabirawa memohon izin, untuk bisa menemui ibunya, yaitu ibu Ratu Setyawati, yang sekarang ini memang berada di suryaloka.


"Salam hormat ibu Ratu Setyawati", Pangeran Sutabirawa menemui ibunya tersebut.


Alangkah terkejutnya Ratu Setyawati, saat beliau melihat putranya tersebut memberikan salam didepan matanya.


Dengan menangis terharu, Ratu Setyawati segera memeluk putranya itu, sampai beliau tak bisa berkata apa-apa.


Dan disitu Pangeran Sutabirawa juga menangis terharu, karena tak menyangka bahwa dia bisa bebas dan bisa memeluk ibunya tercinta.


Lalu ibu Ratu Setyawati menasehati putranya tersebut agar menjadi orang yang berguna.


Kemudian ibu Ratu Setyawati menemukan putranya tersebut dengan istri dan juga anaknya.


Alangkah senangnya istri dan juga anaknya, saat dipertemukan dengan Pangeran Sutabirawa selaku suami dan ayah bagi anak tersebut.


Kemudian sang istri berpesan, agar suaminya itu berjalan pada jalan yang benar.


Karena dalam pernikahan mereka berdua, telah dikaruniai seorang anak, maka dari itu, istri Pangeran Sutabirawa meminta kepada suaminya agar menjadi figur seorang ayah yang baik bagi putranya tersebut.


Sambil memegang erat kedua tangan istrinya, Pangeran Sutabirawa berjanji, dia akan menebus semua kesalahan yang pernah dia buat.


Pangeran Sutabirawa akan ikut berperang untuk menegakkan keadilan demi membela kebenaran.


Dia ingin mengukir namanya dengan tinta emas, agar kelak, putranya bisa membanggakan dirinya sebagai seorang ayah yang baik.

__ADS_1


Kemudian setelah Pangeran Sutabirawa bertemu dengan keluarganya, kini dia harus bergabung dengan para kesatria untuk persiapan berperang.


Saat itu sebelum Pangeran Sutabirawa pergi, istrinya memasangkan sebuah gelang keselamatan untuk suaminya tercinta, yaitu Pangeran Sutabirawa.


__ADS_2