PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
50. Terhadang masalah yang tak terduga


__ADS_3

Kemudian setelah kekalahan Pangeran Muradwijaya, suryaloka mendapat kemenangannya atas peperangan pemberontakkan yang dilakukan oleh Adipati Burhansangkala. Lalu para kesatria-kesatria yang masih hidup mereka akan segera bergegas dari medan perang, tapi Pangeran Gunawijaya meminta agar Pangeran Muradwijaya dibawa ke kerajaan suryaloka untuk di kremasi atau pembakaran jenazah dengan cara terhormat karena biar bagaimanapun Pangeran Muradwijaya adalah pahlawan Suryaloka.


Dan para prajurit dari kedua kubu suryaloka dan kurang menjangan yang telah jadi batu karena terkena ilmu kabut siluman oleh Pangeran Muradwijaya atau sesosok misterius, kini mereka semua hidup kembali karena Pangeran Muradwijaya telah menghidupkan nya menggunakan jurus kala pati sebelum ia meninggal, dan ia juga menghidupkan kedua senopati tangguh yaitu senopati Sandiaga dan juga senopati Barda.


Sedangkan dari pihak musuh yaitu para pendekar aliran hitam yang masih tersisa mereka semua kabur dari medan perang karena bagi mereka tidak mungkin untuk melawan kekuatan suryaloka karena disana masih banyak kesatria kesatria tangguh nan hebat terutama Pangeran Gunawijaya yang telah mengalahkan ketua mereka yaitu Pangeran Muradwijaya atau sesosok misterius.


Akhirnya perangpun usai dengan kemenangan suryaloka dari karang menjangan. Kini suryaloka kembali aman dan tentram tapi misi menyelamatkan tanah jawa dari kehancuran masih tetap berjalan. Perjuangan Pangeran Gunawijaya belum usai begitu saja karena peperangan yang maha dahsyat akan segera ia hadapi suatu saat nanti sebab musuh utama yang sebenarnya masih hidup, dialah selama ini yang berambisi untuk menghancurkan tanah jawa dan menjadi penguasa tunggal yang sebenarnya, dia adalah begawan Ludoyo.


Seorang begawan sakti yang memiliki kekuatan maha tinggi, dia adalah pemuja Dewi Durga. Begawan Ludoyo berumur lima ratus tahun karena dia dianugrahi ilmu keabadian oleh Dewi Durga. Meski umur begawan Ludoyo sudah terbilang melampaui batas umur manusia biasa tetapi dia masih terlihat muda.


Kemudian setelah perang tersebut para punggawa-punggawa suryaloka mulai menata kesetabilan suryaloka kembali dan kadipaten karang menjangan pun juga sudah mulai setabil dibawah kekuasaan kerajaan suryaloka.

__ADS_1


Lalu setelah meninggalnya Adipati Burhansangkala, kini kadipaten karang menjangan dipimpin oleh putranya yaitu Raden Mahesasangkala yang menempati tahta sebagai Adipati karang menjangan.


Beberapa hari kemudian Ratu Kencanawangi, ibu dari Pangeran Gunawijaya menceritakan sesuatu kepada putranya tersebut tentang perihal hubungan adiknya yaitu Putri Kumalawijaya bersama kekasihnya yaitu Raden Mahesasangkala. Setelah Pangeran Gunawijaya mendengar semua cerita tersebut, ia sempat bingung akan situasi tersebut karena adiknya yaitu Putri Kumalawijaya telah mengandung anak dari Raden Mahesasangkala sedangkan Putri Kumalawijaya sudah dijodohkan dengan putra mahkota giritunggal yaitu Pangeran Sutabirawa.


Lalu didalam situasi tersebut Ratu Kencanawangi ingin merubah tentang perjodohan putrinya tersebut, Beliau akan membatalkan perjodohan antara Putri Kumalawijaya beserta Pangeran Sutabirawa dengan syarat akan digantikannya perjodohan itu dengan menjodohkan Pangeran Gunawijaya bersama Putri Senjabirawa yaitu adik dari Pangeran Sutabirawa, demi tetap menjaga nama baik keluarga Wijaya dan demi keharmonisan hubungan kedua belah kerajaan suryaloka bersama giritunggal.


Mahapatih Damarwijaya yang mengetahui niatan Ratu Kencanawangi sangat setuju akan niatannya tersebut, sebab ini semua demi kebaikkan semua, dan akhirnya Pangeran Gunawijaya menyetujui niatan ibu nya tersebut.


"Baiklah Bunda Ratu, hamba bersedia jika engkau ingin menjodohkan hamba dengan Putri Senjabirawa, tapi yang hamba pikirkan apakah niatan Bunda Ratu bisa ditrima oleh kluarga Birawa dan apakah Putri Senjabirawa juga bisa menerima perjodohan ini?", kata Pangeran Gunawijaya pada ibunda Ratu Kencanawangi.


Tapi Pangeran Gunawijaya tidak bisa terlalu lama menyelesaikan masalah ini karena ia ada masalah yang lebih penting dari itu semua yaitu masalah menyatukan para pendekar aliran putih guna untuk melawan kekuatan jahat yang akan menghancurkan tanah jawa, maka dari itu setelah perundingan tentang perjodohan tersebut usai, Pangeran Gunawijaya akan segera meneruskan perjalanan mengemban misinya tersebut.

__ADS_1


Kemudian semua keluarga besar Wijaya selain Putri Kumalawijaya dan Pangeran Gunturwijaya yang masih mengalami kelumpuhan karena efek samping setelah menggunakan ajian guntur saketi, mereka semua pergi ke giritunggal untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mereka yaitu keluarga besar Wijaya pergi dengan pengawalan ketat menuju ke giritunggal, yang ikut dalam rombongan tersebut ialah Ratu Kencanawangi, Pangeran Gunawijaya, Maha Patih Damarwijaya berserta istri dan anaknya yaitu Dewi Puspasari dan Pangeran Jatiwijaya.


Perjalanan ke giritunggal sangat jauh, butuh waktu kurang lebih seminggu untuk sampai kesana. Rombongan keluarga Wijaya yang sedang dalam perjalanan menuju giritunggal, mereka semua beristirahat ditengah perjalanan karna hari sudah semakin gelap, para prajurit pengawal dan para punggawa punggawa yang turut serta sedang sibuk menata tempat peristirahatan untuk keluarga tersebut.


Sedangkan Ratu Kencanawangi, Beliau sedang sibuk berdiskusi dengan Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunawijaya tentang masalah perjodohan tersebut. Akhirnya malampun tiba, disaat para keluarga krajaan tersebut sedang berbincang bincang tiba tiba ada salah satu prajurit mengamuk tanpa terkendali dan sorot matanya sangat tajam seolah olah ingin menghabisi tiap seseorang yang berada di dekatnya. Kemudian mereka semua kluar dari tenda peristirahatan karena mendengar keributan tersebut.


"Ada apa ini prajurit, kenapa terjadi keributan seperti ini?", Maha Patih Damarwijaya yang sangat penasaran dengan kejadian tersebut.


Lalu salah satu prajurit menjawab bahwa ada salah satu prajurit diantara mereka ada yang sedang kerasukan mahluk halus. Kemudian Maha Patih Damarwijaya dan Pangeran Gunawijaya mencoba mendekati prajurit yang sedang kerasukan itu, tapi apa yang di dapat malah kedua keluarga Wijaya tersebut malah diserang oleh prajurit yang sedang kerasukan itu.


Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunawijaya hanya menghindari serangan dari prajurit itu yang sedang kerasukan, karena biar bagaimanapun prajurit itu sebenarnya tak sadarkan diri, jadi meski dia menyerang, kedua keluarga Wijaya tersebut tidak membalasnya, mereka berdua hanya menghindari serangannya saja.

__ADS_1


"Paman, bagaimana ini, apakah kita hanya menghindari serangannya terus, kalau kita tidak bertindak, prajurit ini akan tetap seperti ini keadaannya", kata Pangeran Gunawijaya pada paman nya yaitu Maha Patih Damarwijaya.


Lalu Maha Patih Damarwijaya menyuruh Pangeran Gunawijaya mencabut pedang mustika biru miliknya dan mengarahkannya ke pada prajurit yang sedang kerasukan tersebut, sebab sinar dari pedang mustika biru milik Pangeran Gunawijaya bisa menetralkan hawa jahat, karena pedang mustika biru terbentuk dari kekuatan alam, maka dari itu Maha Patih Damarwijaya menyuruh melakukan tindakan tersebut agar prajurit yang dalam pengaruh mahluk halus itu bisa segera sadarkan diri. Lalu tanpa banyak pikir Pangeran Gunawijaya segera melakukan hal tersebut sesuai arahan dari pamannya yaitu Maha Patih Damarwijaya, dan ternyata itu semua sia sia.


__ADS_2