
Raja Jaka Birawa terkejut, energi bola apinya bisa tertahan oleh gelombang Energi Dahsyat yang tiba-tiba muncul tanpa diduga.
Dan akhirnya gelombang energi Dahsyat tersebut berhasil mementalkan energi bola api raja jaka birawa, ke udara dan meledak dengan dahsyatnya.
Ternyata gelombang energi itu adalah sebuah kekuatan yang berasal dari sebuah pedang Sakti.
Dan gelombang energi itu adalah gelombang Buana Sakti, yang berasal dari pedang Mustika biru.
Jadi yang menolong ketiga Ksatria tersebut, ialah sang Pangeran Guna Wijaya.
"Selama aku masih hidup, tak akan ku biarkan kau membunuh ketiga Ksatria itu", Pangeran Guna Wijaya dengan begitu gagahnya, menatap Raja Jaka Birawa dengan tajam.
"Ohh... Akhirnya kau muncul juga Guna Wijaya, Tak sabar rasanya aku ingin menghabisimu juga saat ini", ocehan Raja Jaka Birawa.
"Baiklah Tunjukkan kalau memang kau bisa", kata Pangeran Guna Wijaya.
Akhirnya terjadilah pertarungan antara Pangeran Guna Wijaya melawan raja Jaka Birawa.
Pertarungan itu sungguh sangat luar biasa.
Dalam pertarungan tersebut, sepertinya Pangeran Guna Wijaya tak nampak bersungguh-sungguh, tapi lawannya yaitu Raja Jaka Birawa sudah sangat kesulitan melawannya.
Serangan demi serangan dari Raja Jaka Birawa, tak mampu menyentuh ataupun mengenai Pangeran Guna Wijaya sedikitpun.
Sedangkan setiap serangan dari pangeran Guna Wijaya, selalu tepat mengenai lawannya tersebut.
Hingga berkali-kali lawannya itu bolak-balik jatuh tersungkur.
Sedangkan ketiga Ksatria yaitu, Pangeran Guntur Wijaya, Adipati Mahesa Sangkala dan Mandala, mereka bertiga sangat takjub melihat kekuatan dari Pangeran Guna Wijaya.
"Inikah kekuatan Kanda Pangeran Guna Wijaya yang sebenarnya, sungguh sangat luar biasa sekali hebatnya", Pangeran Guntur Wijaya yang kagum melihat kekuatan kakaknya tersebut.
"aku tak menyangka, Raja Jaka Birawa yang sehebat itu, bisa dipermainkan oleh pangeran Guna Wijaya dengan semudah itu", Adipati Mahesa Sangkala berkata.
Kemudian Raja Jaka Birawa yang merasa dirinya dipermainkan oleh lawannya tersebut, dia akhirnya mengeluarkan kekuatan penuh untuk menghancurkan lawannya itu.
Pangeran Guna Wijaya yang menyadari akan hal itu, dia hanya tersenyum saja melihatnya.
Lalu Pangeran Guna Wijaya dengan menggunakan jurus gerak kilatnya, dia memukul dada dari lawannya tersebut.
__ADS_1
Saking cepatnya jurus gerak kilat Pangeran Guna Wijaya, sampai lawannya pun tak menyadarinya.
Ternyata Pangeran Guna Wijaya melakukan hal itu, hanya ingin mengeluarkan Sukma Begawan Sakti Ludoyo, yang telah masuk ke dalam tubuh Raja Jaka Birawa.
Dan setelah Sukma itu keluar dari dalam tubuh Raja tersebut, tiba-tiba Begawan Sakti Ludoyo merasakannya, bahwa ada seorang Sakti yang telah berhasil mengeluarkan salah satu Sukmanya yang telah ia masukkan ke dalam tubuh ketiga raja yang ia pilih.
Ketiga raja tersebut ialah, Raja Jaka Birawa, Raja Dasa Birawa dan Raja Jaya Waskita.
Tapi Raja Jaya Waskita telah musnah, dimusnahkan oleh Prabu silendra wangi, menggunakan ilmu ngelabur Jagad.
"sial, kini pionku tinggal satu orang, sedangkan yang satunya lagi telah berhasil membuka kesadarannya sendiri", Begawan Sakti Ludoyo berkata dalam hatinya.
Yang dimaksud Begawan Ludoyo pionnya tinggal satu, adalah raja Dasa Birawa, yang masih tertanam Sukmanya di dalam tubuh Raja tersebut.
Sedangkan yang berhasil membuka kesadarannya sendiri adalah Pangeran Murad Wijaya, yang sudah tidak terkuasai oleh pengaruh dari Begawan tersebut.
Sebab Pangeran Murad Wijaya pengguna jurus kala Pati, dia bisa menetralkan pengaruh jahat seseorang yang menguasai dirinya.
Oleh karena itu, akhirnya Begawan Ludoyo menggunakan kesaktiannya, untuk mengekang atau menguasai Pangeran Murad Wijaya kembali, agar dia terpengaruh olehnya lagi.
"Putraku cepat lari dari sini, sepertinya Begawan Ludoyo berusaha ingin mengendalikan tubuh Ayah kembali, sekarang Ayah mulai merasakan bahwa tubuh Ayah ini sudah mulai sulit Ayah kendalikan", Pangeran Murad Wijaya berkata kepada putranya yaitu Pangeran Kasim Wijaya.
"Percuma saja, kau suruh ayahmu untuk melawan pengaruhku padanya, meski ayahmu pengguna jurus kala Pati, hal itu tidak akan bisa dia lakukan, karena jurus kala Pati ayahmu saat ini tak sempurna, Sebab Dia adalah mayat hidup yang telah aku bangkitkan", Begawan Sakti Ludoyo berkata.
Lalu Pangeran Murad Wijaya meronta-ronta menahan agar dirinya tidak dikuasai oleh pengaruh pegawai tersebut.
Tapi apa boleh buat, Pangeran Murad Wijaya ternyata tak sanggup untuk menahannya.
Akhirnya ia menyerang putranya sendiri, yaitu Pangeran Kasim Wijaya.
Mata Pangeran Murad Wijaya berubah merah, Itu tandanya dia sedang dalam pengaruh Begawan Sakti Ludoyo.
Saat itu Pangeran Kasim Wijaya tak kuasa untuk melawan ayahnya tersebut.
Tapi jika hal itu ia diamkan, bisa-bisa ia akan terbunuh.
Sebab Pangeran Kasim Wijaya saat ini sedang menghadapi kedua orang sakti, pengguna jurus kala, kala pati dan kala murka.
Pengguna jurus kala Pati adalah ayahnya sendiri, yang sedang dalam pengaruh Begawan Ludoyo.
__ADS_1
Sedangkan pengguna jurus kala murka, adalah Begawan tersebut.
Singkat cerita, di tempat itu pangeran Kasim Wijaya dibantai oleh kedua pengguna jurus kala tersebut.
Tapi untungnya, Pangeran Kasim Wijaya juga pengguna jurus kala, yaitu kala baya.
Jadi saat itu Pangeran Kasim Wijaya, Masih sanggup bertahan di dalam pembantaian tersebut.
Lalu Begawan Sakti Ludoyo mengeluarkan pusakanya, yaitu Trisula Dewa, untuk segera menghabisi Pangeran Kasim Wijaya.
Saat itu Pangeran Kasim Wijaya memang dalam keadaan sudah tidak berdaya, meskipun ia masih Sanggup Bertahan, tapi Pangeran Kasim Wijaya sudah sangat kehabisan cakranya.
Pangeran Kasim Wijaya sudah tidak bisa mengeluarkan kesaktiannya lagi, karena ia sudah tidak memiliki Cakra dalam dirinya.
Lalu tanpa pandang bulu Begawan Ludoyo menghantamkan Trisula dewanya kepada Pangeran Kasim Wijaya.
Begawan Ludoyo sangat paham akan kesaktian yang dimiliki oleh pangeran Kasim Wijaya, maka dari itu Begawan Ludoyo menggunakan pusaka Trisula Dewa untuk membunuhnya.
Sebab Pangeran Kasim Wijaya adalah seorang ksatria pengguna jurus kala baya, dia tidak akan mudah dibunuh hanya dengan senjata biasa.
Jalan satu-satunya untuk membunuhnya harus menggunakan senjata dewa tersebut.
Trisula Dewa yang dihantamkan oleh Begawan Ludoyo kepada Pangeran Kasim Wijaya, menyala merah hingga mengeluarkan api di setiap sisinya.
"tamatlah riwayatku sekarang ini", kata Pangeran Kasim Wijaya dari dalam hatinya.
Tapi saat Trisula Dewa itu hampir mengenai Pangeran Kasim Wijaya, tiba-tiba Trisula tersebut ada yang menangkapnya.
"takkan kubiarkan generasi trah Wijaya gugur di medan perang ini", Pangeran Guna Wijaya berkata dengan lantangnya.
Ternyata yang menangkap Trisula Dewa tersebut, adalah Pangeran Guna Wijaya.
Trisula tersebut langsung meluncur kencang kepada sasaran yang ditujunya.
Tapi tiba-tiba Pangeran Murad Wijaya mengorbankan dirinya demi melindungi Begawan Sakti Ludoyo.
Pangeran Murad Wijaya rela menjadi perisai untuk Begawan tersebut.
Akhirnya Trisula Dewa tersebut menancap mengenai Pangeran Murad Wijaya, tepat di dadanya.
__ADS_1