
Pertarungan tersebut sampai memicu perhatian dari para Ksatria yang lainnya.
Sebab kekuatan Maharaja Sabda Wijaya, ternyata setara dengan kekuatan keempat ksatria tersebut.
Yaitu Mahapatih Damar Wijaya, Pangeran Guntur Wijaya, Begawan winara dan Senopati bala warman.
Pertarungan itu tak kunjung menemukan titik terang, Siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Karena Maharaja Sabda Wijaya, ternyata adalah lawan yang sangat hebat bagi mereka berempat.
Kemudian saat itu, Pangeran Murad Wijaya yang bertarung melawan Kusuma, tiba-tiba Pangeran Murad Wijaya menghentikan pertarungan tersebut.
Padahal Pangeran Murad Wijaya, termasuk salah satu ksatria yang dibangkitkan oleh Begawan Sakti Ludoyo.
"hentikan Kusuma, kau bantulah keempat ksatria tersebut, yang sedang menghadapi Maharaja Sabda Wijaya", Pangeran Murad Wijaya berkata.
Kusuma yang mengetahui hal tersebut, Dia sangat bingung, Kenapa Pangeran Murad Wijaya, bisa terlepas dari pengaruh Begawan Sakti Ludoyo, Padahal dia adalah mayat hidup yang telah dibangkitkan.
Lalu Pangeran Murad Wijaya menjelaskan, bahwa dirinya adalah pengguna jurus kala pati.
Maka dari itu Pangeran Murad Wijaya, bisa memutuskan pengaruh dari Begawan Sakti Ludoyo, menggunakan jurus tersebut yaitu jurus kala Pati.
Waktu itu pangeran Murad Wijaya, mengambil rambut dari Begawan Sakti Ludoyo yang tertanam di dalam kepalanya.
Kemudian dengan kesaktiannya, Pangeran Murad Wijaya membakar rambut tersebut, sehingga pengaruh dari Begawan tersebut, kini telah sirna.
Akhirnya Pangeran Murad Wijaya memutuskan untuk membantu putranya yaitu Pangeran Kasim Wijaya, yang sedang bertarung melawan Begawan Sakti Ludoyo.
Sedangkan Kusuma ia perintah untuk membantu Mahapatih Damar Wijaya beserta Ksatria yang lainnya, yang sedang bertarung melawan Maharaja Sabda Wijaya.
Singkat cerita, saat Kusuma datang membantu para Ksatria tersebut, kini situasinya berbalik, kekuatan para Ksatria tersebut Kini lebih unggul dari kekuatan Maharaja Sabda Wijaya.
Kedatangan Kusuma menambah daya Serang yang luar biasa, sehingga lawannya yaitu Maharaja Sabda Wijaya berhasil mereka desak.
Yang tadinya empat lawan satu, kini menjadi lima lawan satu.
Di pihak para Ksatria tersebut ada, Mahapatih Damar Wijaya, Pangeran Guntur Wijaya, Begawan winara, Senopati bala Warman dan juga pendekar Kusuma.
Kelima Ksatria tersebut, melawan satu musuh yaitu Maharaja Sabda Wijaya.
Kusuma waktu itu segera mengeluarkan ajian atau jurusnya, yaitu jurus tapak dewa.
Kusuma langsung mengeluarkan jurus tersebut pada tingkatan yang tertinggi, yaitu tingkat kelima.
__ADS_1
Tingkatan tertinggi dari ajian atau jurus tapak dewa Kusuma, memiliki gabungan dari kekuatan besi angin petir dan api.
Dan merubah bentuk fisik atau wujud dari Kusuma, terlihat seperti monster merah yang kekar.
"hati-hati Kusuma, kau jangan brutal menyerang Maharaja Sabda Wijaya sendirian, harus penuh perhitungan untuk bisa menyerangnya, sebab jika tanpa perhitungan, menyerangnya dengan brutal seperti barusan yang kau lakukan, itu sama saja kau memberikan tenagamu cuma-cuma padanya, sebab Maharaja Sabda Wijaya memiliki ajian jala Sewu, sebuah ajian yang bisa menyerap Cakra lawannya jika menyentuh dirinya", Mahapatih Damar Wijaya mencoba menjelaskan kepada pendekar Kusuma, tentang kekuatan dari Maharaja Sabda Wijaya.
"pantas saja, aku hanya sebentar saja menyerangnya, tapi aku merasakan sangat kelelahan sekali, mungkin sebagian cakraku sudah terserap olehnya", Kusuma berkata dalam hatinya.
"lantas Bagaimana cara untuk menghadapinya Gusti Mahapatih", tanya Kusuma.
"jalan satu-satunya kita semua harus menyerang secara bersamaan, sebab ajian jala Sewu Tidak Efektif jika ada kekuatan yang menyerang secara bersamaan, meskipun ajian tersebut masih bisa menyerap Cakra, tapi daya serapnya tidak sebesar seperti saat kita bertarung satu lawan satu dengannya", kata Mahapatih Damar Wijaya.
Akhirnya waktu itu, kelima Ksatria tersebut menyerang Maharaja Sabda Wijaya dengan secara bersamaan.
Dengan serangan dari kelima Ksatria tersebut sekaligus, membuat Maharaja Sabda Wijaya kewalahan.
Tapi meskipun begitu, namanya juga Maharaja Sabda wijaya adalah mayat hidup, otomatis meskipun kewalahan, Maharaja Sabda Wijaya tak pernah mengenal kata lelah ataupun mengalah.
Beliau terus bertarung dengan kekuatan penuhnya.
Sedangkan kelima Ksatria yang melawannya tersebut, mereka harus segera mengalahkannya.
Sebab jika terlalu lama mereka tak bisa mengalahkan Maharaja Sabda Wijaya, bisa-bisa Cakra mereka terserap dikit demi sedikit.
Benar-benar Adu kekuatan fisik yang mereka utamakan, untuk saling mengalahkan.
Jual beli serangan antara mereka semua sudah tidak bisa dibendung lagi.
Saat itu dua dari kelima Ksatria tersebut tersungkur, terkena pukulan telak oleh Maharaja Sabda Wijaya.
Kedua ksatria tersebut ialah, Begawan winara dan Senopati bala warman.
Saat ini tinggal tiga Ksatria yang masih berdiri tegak, yaitu adalah Mahapatih Damar Wijaya, Pangeran Guntur Wijaya dan pendekar Kusuma.
"Paman, aku rasa kakek Maha Raja Sabda Wijaya, semakin lama beliau semakin kuat", Pangeran Guntur Wijaya merasa serangannya sia-sia.
"ya benar ponakanku, sebab itu dikarenakan ajian jala sewu, yang beliau miliki", kata Mahapatih Damar Wijaya.
"Lantas apa kita harus tetap menyerangnya Gusti Mahapatih", tanya Kusuma.
Saat itu Mahapatih Damar Wijaya tidak bisa memberi jawaban, atas pertanyaan tersebut.
Mahapatih Damar Wijaya Baru kali ini, beliau terlihat kebingungan di dalam situasi peperangan.
__ADS_1
Tapi saat itu Maharaja Sabda Wijaya, terus menerus menyerang mereka bertiga.
Tapi saat itu ketiga Ksatria tersebut, hanya berusaha menghindari tiap-tiap serangannya.
Ketiga Ksatria itu berusaha agar mereka, tidak bersentuhan dengan Maharaja Sabda Wijaya, sebab jika sampai mereka bersentuhan otomatis cakranya akan terserap.
Saat ini ketiga Ksatria tersebut benar-benar terlihat bodoh, di hadapan musuhnya yaitu Maharaja Sabda Wijaya.
Padahal mereka bertiga adalah ksatria pilih tanding, Tapi saat ini mereka terlihat tak berguna sama sekali.
Kemudian di saat mereka sudah tidak ada jalan keluar lagi, tiba-tiba Mahapatih Damar Wijaya mendapat petunjuk dari maharesi brata.
Maharesi Brata memberikan petunjuk melalui telepati atau kontak batin, kepada Mahapatih Damar Wijaya.
Petunjuk tersebut agar kelima ksatria, memberikan ajian andalannya kepada salah satu dari mereka berlima.
Sebab jika kelima ajian andalan atau ajian pamungkas bersatu di dalam satu tubuh ksatria, maka akan tercipta sebuah kekuatan maha dahsyat.
Tapi mereka berlima harus menentukan Siapa Yang Pantas, untuk bisa menerima ajian Pamungkas tersebut.
Dalam menyatukan kelima ajian Pamungkas sekaligus, harus membutuhkan Wadak atau tubuh dari seorang Ksatria yang memiliki fisik atau stamina yang prima.
Tapi penyatuan dari ajian Pamungkas tersebut hanya bersifat sementara, jika tujuannya sudah usai, ajian Pamungkas tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing.
Jika tidak dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing, ajian Pamungkas itu akan memakan tubuh dari sang penampung ajian tersebut.
Karena ajian Pamungkas tersebut hanya bersifat meminjamkan sementara, bukan untuk memberikan selamanya.
Akhirnya dari perundingan itu, terpilihlah Pangeran Guntur Wijaya, yang berhak untuk menerima ajian ajian Pamungkas tersebut.
Mahapatih Damar Wijaya dan Begawan winara, mereka berdua sama-sama meminjamkan ajian pamungkasnya yaitu, aji Gajah Mungkur.
Senopati bala warman, meminjamkan Aji Birawa Sakti.
Sedangkan Kusuma, meminjamkan Aji tapak dewa.
Singkat cerita, saat Pangeran Guntur Wijaya menerima ajian-ajian Pamungkas tersebut, dan menyatu bersama ajian miliknya, yaitu Aji Guntur Saketi.
Saat itu juga tubuh dan rambut dari pangeran Guntur Wijaya, tiba-tiba menyala ke emas-emasan.
Sampai pupil matanya pun berubah ke emas-emasan, bukan hitam lagi.
Akankah hal ini akan menjadi akhir riwayat dari Maharaja Sabda Wijaya, ataukah Maharaja Sabda Wijaya masih bisa bertahan.
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya?