PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
80. Berujung kekecewaan


__ADS_3

Kemudian Patih Linduaji memerintahkan semua pasukan segera menggempur istana paralayang guna menangkap adipati Ganjarsuroto.


Bergegaslah mereka semua dari hutan paralayang menuju ke istana paralayang.


Sedangkan adipati Ganjarsuroto juga sudah menyiagakan para prajuritnya untuk berjaga-jaga kalau mendadak ada serangan dari pihak luar.


Kemudian para wanita wanita yang telah ditahan oleh adipati Ganjarsuroto, mereka semua dipindahkan ketempat lain di luar istana paralayang, sebab tempat itu sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh adipati Ganjarsuroto untuk menyembunyikan bukti kejahatannya yaitu menahan para wanita wanita untuk dijual belikan pada lelaki hidung belang.


Ratusan wanita wanita itu diangkut menggunakan puluhan kereta kuda secara bergantian melewati jalur rahasia yang tidak pernah diketahui oleh para warga.


Dan sesampainya ditempat rahasia tersebut, wanita wanita itu dijaga ketat oleh para prajurit adipati Ganjarsuroto.


Kemudian Patih Linduaji beserta para pasukannya berhasil mengalahkan senopati dan juga para prajurit utusan dari adipati Ganjarsuroto yang telah menghadang mereka.


Lalu Patih Linduaji beserta pasukannya segera berangkat pergi menuju ke istana paralayang.


Sedangkan di istana tersebut proses pemindahan para wanita wanita itu sudah hampir selesai, dan yang terakhir dipindahkan adalah Sundari beserta para wanita wanita yang lainnya.


Sundari satu kereta kuda bersama para wanita wanita itu, lalu Sundari merencanakan sebuah aksi untuk bisa melarikan diri dari kereta kuda tersebut.


Para wanita wanita itu awalnya tidak setuju dengan rencana Sundari, tapi Sundari sudah banyak memberi omongan pada mereka semua, sehingga mereka setuju untuk melakukan aksi tersebut.


Ketepatan waktu itu tidak ada pengawalan dari para prajurit saat Sundari dan wanita wanita itu dibawa dengan kereta kuda untuk disembunyikan ditempat rahasia yang sudah disiapkan oleh adipati Ganjarsuroto.


Jadi peluang tersebut segera dimanfaatkan oleh Sundari beserta para wanita wanita tersebut untuk kabur atau melarikan diri.


"Kusir... kusir... hentikan sebentar kereta kudanya, didalam sini sedang terjadi perkelahian antar teman-teman kami, kalau kereta kudanya terus berjalan, bisa bisa kereta kudanya akan terguling", teriak Sundari pada kusir kereta kuda tersebut.

__ADS_1


Ternyata benar, didalam kereta kuda itu sedang terjadi perkelahian antar wanita wanita tersebut, dan mengakibatkan laju kereta kuda itu tak stabil, kadang oleng kekanan dan kadang oleng kekiri, sebab karena itu diakibatkan oleh goncangan dari para wanita wanita itu yang sedang berkelahi satu sama lain.


Beberapa saat kemudian berhentilah kereta kuda tersebut.


"Diam semua... hentikan perkelahian kalian ini, kalau tidak, akan kuberi pelajaran kalian satu persatu", ancaman dari sikusir kuda yang turun dan membuka pintu kereta kuda itu sambil meradang atau marah.


Tiba-tiba tanpa diduga-duga Sundari langsung melompati sikusir kuda itu hingga dia terjatuh.


Lalu dengan cepat para wanita wanita itu pada berhamburan keluar dan langsung mengeroyok dan menghajar kusir tersebut hingga dia pingsan.


Ini semua sebenarnya adalah siasat dari Sundari agar mereka semua bisa melarikan diri.


Kemudian Sundari beserta wanita wanita tersebut segera kabur meninggalkan sikusir kuda itu sendirian, sedangkan kereta kudanya dibawa Sundari dan para wanita wanita itu. Untungnya Sundari bisa mengendarai kereta kuda tersebut, jadi bisa mempermudah mereka semua untuk kabur.


"Sundari, kau hebat bisa membebaskan kami semua dari belenggu adipati Ganjarsuroto", kata salah satu para wanita tersebut.


"Ya, makanya didalam kesulitan jika ada peluang atau kesempatan yang menguntungkan bagi kita, kita harus bisa memanfaatkannya", jawab Sundari sambil tersenyum manis.


Mereka mendapat sambutan hangat dari adipati Ganjarsuroto, dan mempersilakan Patih Linduaji untuk segera masuk ke istana tersebut.


Patih Linduaji dengan tegas menolaknya, karena tujuan Beliau datang kesini hanya untuk menangkap adipati Ganjarsuroto atas dasar kejahatannya.


"Jika gusti Patih Linduaji ingin menangkap hamba, semua itu harus ada buktinya, jika hamba tidak terbukti atas kejahatan tersebut, yang jelas gusti Patih tidak bisa seenaknya menangkap hamba begitu saja", kata adipati Ganjarsuroto yang penuh dengan ke picikkan.


"Memang benar apa yang kau katakan adipati Ganjarsuroto, sebab hukum itu harus mematuhi aturan, karena bukti adalah kepentingan dalam menegakkan keadilan didalam hukum tersebut", jawab Patih Linduaji dengan tegas dan lantang.


"Baiklah kalau begitu, prajurit!, segera geledah istana ini, dan dapatkan bukti atas kejahatan adipati Ganjarsuroto yang telah dituduhkan oleh Pangeran Jatiwijaya padanya", perintah Patih Linduaji.

__ADS_1


Dan bergegaslah para prajurit Patih Linduaji menggeledah seluruh pelosok istana paralayang.


Beberapa saat kemudian ternyata aksi penggeledahan itu tak membuahkan hasil apapun, dan para prajurit prajurit itu segera melaporkannya kepada Patih Linduaji atas hasil dari penggeledahan tersebut, ternyata hasilnya nihil tak membuahkan hasil yang mengarah pada bukti kejahatan adipati Ganjarsuroto.


"Ampun gusti Patih Linduaji, kami para prajurit tak menemukan bukti apa apa selama penggeledahan tersebut", laporan dari salah satu prajurit Patih Linduaji.


"Coba geledah sekali lagi, barang kali ada tempat yang belum terjamah oleh kalian para prajurit", perintah Patih Linduaji.


Lalu para prajurit prajurit itu menggeledah kembali istana paralayang tersebut.


Beberapa saat kemudian, prajurit tersebut melaporkan kembali pada Patih Linduaji dengan hasil laporan yang sama yaitu mereka tidak menemukan bukti apa apa tentang kejahatan adipati Ganjarsuroto.


"Maaf paman Patih Linduaji, tidak mungkin prajurit kita tidak menemukan apa apa didalam sana, padahal banyak sekali diruangan bawah tanah tahanan para wanita wanita yang menjadi korban kejahatan adipati Ganjarsuroto", Pangeran Jatiwijaya yang merasa heran dengan aksi penggeledahan tersebut yang tak membuahkan hasil.


"Pangeran Jatiwijaya, buktinya para prajurit tidak menemukan bukti kejahatan tersebut, padahal sudah dua kali mereka menggeledah istana ini", kata Patih Linduaji yang merasa sangat kecewa dengan kejadian ini.


Lalu untuk benar-benar memastikan akan hal tersebut, adipati Ganjarsuroto memberi saran agar Patih Linduaji dan juga para kesepuluh kesatria itu untuk ikut menggeledah lagi istananya kembali, biar tidak menimbulkan rasa penasaran dalam diri mereka.


Lalu saran tersebut diterima oleh Patih Linduaji, dan kemudian Beliau beserta kesepuluh kesatria itu didampingi oleh para prajuritnya, menggeledah kembali istana tersebut untuk yang ketiga kalinya.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya yang diikuti oleh Patih Linduaji beserta para kesatria kesatria tersebut, langsung segera menuju keruangan bawah tanah untuk memastikan bahwa diruangan itu banyak sekali tahanan wanita wanita korban dari kejahatan adipati Ganjarsuroto.


Sesampainya diruangan tersebut, alangkah terkejutnya mereka semua, karena yang mereka lihat adalah para tahanan pria saja yang berada disana.


Tahanan para pria tersebut adalah para penjahat penjahat yaitu begal, rampok, maling dan sebagainya.


Karena tidak membuahkan hasil, mereka semua kembali keluar istana.

__ADS_1


Dan Patih Linduaji akan segera menarik pasukannya untuk kembali ke himalaya, karena tanpa bukti, Patih Linduaji tidak bisa menangkap adipati Ganjarsuroto.


Kemudian raden Bambangsuroto dilepaskan oleh Patih Linduaji, yang sebelumnya dia jadi tahanannya.


__ADS_2