PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
68. Keris pusaka naga sasra


__ADS_3

Dalam penginapan tersebut, Jatmiko meminta bantuan pada Sanjaya agar mau mengobati Marlan dari kondisinya yang sedang kritis karena efek dari menggunakan jurusnya yang belum sempurna tersebut.


Sanjaya adalah ahli pengobatan, maka dari itu, Pangeran Jatiwijaya menyuruh Jatmiko agar meminta bantuan padanya yaitu Sanjaya, untuk menyelamatkan Marlan dari keadaan kritisnya.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya bersama pasukannya sedang menuju kerumah pak Ujang sikepala desa biadab. Setelah mereka sampai disana, Pangeran Jatiwijaya beserta pasukannya langsung disambut oleh Ruslan dengan para anak buahnya.


"Hebat juga kalian bisa sampai kesini, tapi jangan harap kalian bisa selamat jika sudah sampai disini", kata Ruslan pada pasukan Pangeran Jatiwijaya.


Lalu tanpa banyak perkataan, Pangeran Jatiwijaya langsung memerintahkan pasukannya untuk segera menyerang, terjadilah pertempuran dikedua kubu tersebut.


Pertempuran itu sangat luar biasa, Pangeran Jatiwijaya berusaha mendekat kerumah untuk mencari pak Ujang, tapi Ruslan menghadangnya.


"Apakah kau yang membunuh adikku Marlan, sampi kau bisa datang kemari", kata Ruslan pada Pangeran Jatiwijaya.


"Oh ternyata kau saudaranya, tapi sayang sekali, pemuda hebat seperti adikmu harus kalah karena menggunakan jurus yang belum sempurna", jawab Pangeran Jatiwijaya.


Akhirnya bertarunglah mereka berdua, Ruslan melawan Pangeran Jatiwijaya.


Kemudian di tempat berkumpulnya para warga, tiba-tiba datanglah para anak buah Ruslan yang diperintahkan untuk menghabisi mereka semua yaitu para warga.


Tapi tak semudah itu untuk menghabisi para warga, para anak buah Ruslan harus menghadapi pasukan yang telah disiapkan oleh Pangeran Jatiwijaya untuk melindungi para warga tersebut.


Suwono yang memimpin para anak buah Ruslan, dia terkejut, ternyata pihak lawan sudah mempersiapkan strategi yang sangat matang untuk membendung aksinya tersebut.


Tapi Suwono tetap harus mematuhi perintah Ruslan agar segera menghabisi para warga tersebut secepatnya.


Akhirnya pertempuran ditempat tersebutpun pecah, ki Maung yang memimpin pasukan dari kubu Pangeran Jatiwijaya sangat antusias menghadapi mereka yaitu Suwono bersama para anak buahnya.

__ADS_1


Ternyata Suwono tidak bisa diremehkan, dia sangat lihai dalam menggunakan senjata tombak, ki Maung sangat kewalahan menghadapinya dengan kondisinya yang masih belum pulih sepenuhnya.


Maka dari itu Kedasih membantu ki Maung saat menghadapi Suwono.


Sedangkan kedua murid ki Maung yaitu Harun dan Untung, mereka melawan para anak buah Suwono yang rata-rata sangat jago dalam ilmu bela diri.


Kemudian di penginapan, Sanjaya sudah mengobati Marlan yang sedang sekarat sampai tak sadarkan diri karena terluka sangat parah. Dan pengobatan tersebut membutuhkan waktu perawatan yang panjang, maka dari itu setelah ditangani, Marlan oleh kedua kesatria tersebut yaitu Jatmiko dan Sanjaya untuk sementara ditinggalkan dulu di penginapan, karena mereka berdua harus segera bergegas kembali ke pertempuran.


Jatmiko segera menyusul Pangeran Jatiwijaya yang sedang berada di rumah pak Ujang, sedangkan Jatmiko harus kembali ke posisi semula yaitu sebagai pasukan cadangan.


Lalu Pangeran Jatiwijaya yang bertarung melawan Ruslan sangat bersemangat sekali, karena baginya sudah lama tidak pernah bertarung melawan pendekar hebat seperti Ruslan.


Pangeran Jatiwijaya merasakan bahwa Ruslan ternyata lebih hebat dari Marlan, maka dari itu ia sangat berhati-hati dan serius saat melawannya.


Segala jurus jurus bela diri hebat mereka keluarkan, Pangeran Jatiwijaya sesekali ia bisa mendesak Ruslan dengan kemampuan bela dirinya, tapi Ruslan bisa dengan cepat membalikkan keadaan.


Dan akhirnya Pangeran Jatiwijaya terkena serangan dari Ruslan sampai ia terpental.


Pertarungan tersebut diluar dugaan, Pangeran Jatiwijaya sampai harus mengeluarkan pusakanya lebih dini yaitu pusaka cumeti banas pati, sebab Ruslan sangat susah sekali ditundukkan. Maka dari itu, Pangeran Jatiwijaya secepatnya akan menghabisinya menggunakan pusakanya tersebut.


Ruslan yang menyadari bahwa Pangeran Jatiwijaya akan menghabisinya dengan cepat, dia segera mengeluarkan golok naga nya untuk mengimbangi Pangeran Jatiwijaya yang telah mengeluarkan senjatanya tersebut.


Tapi itu semua sia sia, karena Pangeran Jatiwijaya sudah mengetahui banyak tentang pola jurus golok naga tersebut dari pertarungan nya dengan Marlan waktu itu.


Ruslan tak habis pikir, kenapa setiap serangan jurus golok naga nya selalu bisa dipatahkan oleh Pangeran Jatiwijaya, padahal selama ini siapapun lawannya tak pernah ada yang bisa mematahkan jurusnya tersebut.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya merubah cumeti banas pati nya menjadi seekor ular merah besar untuk menyerang Ruslan, Dan Ruslan pun terkejut melihat ular tersebut.

__ADS_1


Ular merah itu terus menyerang Ruslan, terkadang ular tersebut menyemburkan sebuah api padanya, tapi Ruslan bisa selalu menghindarinya.


Tak disangka saat Ruslan terdesak oleh serangan ular tersebut, tiba-tiba keluarlah pak Ujang dari dalam rumahnya untuk membantu Ruslan.


Dengan hebatnya pak Ujang bisa membuat ular jelmaan dari cumeti banas pati bisa kembali kewujud semula, karena ternyata pak Ujang memiliki senjata pusaka yaitu keris naga sasra.


Keris pusaka naga sasra adalah termasuk salah satu pusaka Nyi Roro Kidul, tak ada pusaka lainnya yang bisa menandingi kekuatan keris naga sasra kecuali pedang mustika biru.


Maka dari itu sehebat cumeti banas pati pun tak berdaya melawan kekuatan dari keris naga sasra.


"Kenapa cumetiku tidak mempan beradu kekuatan dengan keris tersebut, keris apa sebenarnya itu", Pangeran Jatiwijaya yang sangat penasaran.


"Hati hati Pangeran, itu adalah keris naga sasra, salah satu pusaka milik Nyi Roro Kidul", jawab senopati Balawarman kepada Pangeran Jatiwijaya.


"Tapi kenapa keris itu bisa ada padanya", Pangeran Jatiwijaya bertanya.


"Sebenarnya keris naga sasra telah dicuri oleh Ratu buto ijo yang bernama nyi Rongkeh, dia berhasil mendapatkan keris itu saat berhasil menyusup ke keraton segoro kidul saat Kanjeng Ratu Kidul tidak ada disana", kata senopati Balawarman.


"Dan saya yakin bahwa orang pemilik keris naga sasra itu pasti ada hubungannya dengan nyi Rongkeh Ratu buto ijo", senopati Balawarman menjelaskan pada Pangeran Jatiwijaya.


Kemudian Pangeran jatiwijaya menyuruh untuk memanggil bala bantuan, karena ia merasa bahwa kondisi dirinya sangat terdesak.


Lalu salah satu pasukannya meniupkan sangka kala dengan kencang untuk memberi tahu kepada para pasukan cadangan untuk segera datang membantu.


Setelah terdengar suara dari tiupan sangka kala tersebut, akhirnya Sanjaya yang sudah bergabung dengan pasukan cadangan, dia dan juga Mandala segera bergegas menuju ketempat Pangeran Jatiwijaya berada.


"Ayo Mandala kita segera berangkat kesana, tapi kita tinggalkan sebagian dari pasukan kita untuk mengantisipasi kalau dari pihak pasukan penjaga warga membutuhkan bantuan juga", kata Sanjaya.

__ADS_1


"Baiklah Sanjaya, karena ini semua sesuai dengan perintah Pangeran Jatiwijaya dalam mengatur strategi perangnya", jawab Mandala.


Kemudian dengan rasa bersemangat, kedua kesatria tersebut Sanjaya dan juga Mandala dengan membawa sebagian pasukannya segera meluncur ketempat Pangeran Jatiwijaya untuk membantunya.


__ADS_2