
Ternyata tujuan Pangeran Murad Wijaya mengorbankan dirinya bukan untuk sebagai perisai dari Begawan tersebut.
Pangeran Murad Wijaya sengaja mengorbankan dirinya, agar dirinya bisa terbebas dari belenggu Begawan tersebut, yang telah mengendalikan dirinya.
Dengan menjadikan dirinya sebagai sasaran pusaka Trisula Dewa, maka tubuh dari pangeran Murad Wijaya akan hancur lebur, dan sehingga terbebaslah jiwanya yang telah terbelenggu di dalam tubuh buatan tersebut.
Karena sejatinya Pangeran Murad Wijaya sudah lama mati, dia hidup kembali karena dibangkitkan oleh Begawan Sakti Ludoyo.
Maka dari itu Pangeran Murad Wijaya ingin mengakhiri itu semua dengan cara mengorbankan dirinya.
Dan satu hal lagi, tujuan Pangeran Murad Wijaya mengorbankan dirinya, agar Pangeran Guna Wijaya dapat dengan mudah mengalahkan Begawan tersebut.
Jika dirinya yaitu Pangeran Murad Wijaya, masih berada dalam pengaruh Begawan Ludoyo, bukan tidak mungkin Pangeran Guna Wijaya juga akan menghadapi dirinya sebagai lawannya.
Saat itu Pangeran Kasim Wijaya sangat sedih melihat ayahnya yaitu Pangeran Murad Wijaya, telah mengorbankan dirinya.
Tapi Pangeran Kasim Wijaya mencoba Tegar dengan keadaan itu semua, karena dia telah menyadari, bahwa sesungguhnya yang telah dilakukan ayahnya tersebut, demi kebaikan perjuangan Pangeran Guna Wijaya, yang akan menghadapi musuh terberatnya yaitu Begawan Sakti Ludoyo.
"Putraku Kasim Wijaya, Berjuanglah sampai titik darah penghabisan bersama Kanda Guna Wijaya, hancurkan ke Angkara murkaan yang akan mengancam kedamaian tanah Jawa ini, Ayah percaya pada kalian semua, bahwa Kalian pasti akan memenangkan pertempuran ini secepatnya", Pesan Terakhir dari pangeran Murad Wijaya sebelum tubuhnya hancur terkena senjata pusaka Trisula Dewa tersebut.
Lalu saat beliau yaitu Pangeran Murad Wijaya, usai menyampaikan pesannya tersebut, saat itu juga tubuhnya langsung hancur menjadi debu.
Pangeran Kasim Wijaya tak kuasa melihatnya, tanpa ia sadari air matanya telah menetes.
Tapi Begawan Ludoyo malah ketawa terbahak-bahak melihat kejadian tersebut.
Menurut dia hal tersebut adalah lelucon sesaat, yang tidak ada gunanya.
Ada maupun tidak ada pangeran Murad Wijaya, Begawan Ludoyo memastikan bahwa dirinya tidak akan mungkin terkalahkan.
Dan Begawan Ludoyo pun tahu, bahwa kedua raja yaitu Raja Jaka Birawa dan Raja Dasa Birawa, sudah dikalahkan juga oleh pangeran Guna Wijaya.
Jadi semua raja-raja yang telah dibangkitkan oleh Begawan tersebut, kini telah binasa.
"ternyata kanda Pangeran Guna Wijaya, juga sudah mengalahkan Raja Jaka Birawa dan raja Dasa Birawa, pantas saja beliau terlihat tenang saat beliau hadir ke sini, tidak tahunya ternyata sudah membereskan kedua raja tersebut", Pangeran Kasim Wijaya berkata dalam hatinya.
Lalu tiba-tiba Begawan Sakti Ludoyo mengeluarkan kesaktiannya yang berasal dari jurus kala murka.
__ADS_1
Tanpa diduga Begawan Ludoyo merubah siang menjadi malam.
Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut sangat terkejut dan terheran-heran, Kenapa bisa waktu siang hari begitu singkat berubah menjadi waktu malam hari.
Dan mentari pun juga ikut terbenam saat itu juga, pertanda bergantinya siang ke malam.
Hal itu membuat tidak kestabilan ekosistem yang ada di muka bumi ini, sehingga banyak sekali menimbulkan bencana alam di muka bumi ini.
Semua para dewa yang berada di Kahyangan juga nampak panik akan kejadian tersebut.
Lalu Raja dewa yaitu Dewa Indra segera memanggil Dewa Surya, untuk mempertanggungjawabkan atas tindakannya tersebut.
Karena hal ini sangat menyalahi aturan kodrat alam.
Jika hal ini tidak segera dihentikan dan tidak dikembalikan seperti semula, maka kiamat pun akan segera tiba pada waktu itu juga.
Bukan hanya bumi tapi alam semesta pun akan ikut lenyap juga.
Dulu hal ini juga pernah dilakukan oleh Begawan Sakti Ludoyo.
Itu pun dia lakukan hanya untuk menguji coba jurus yang telah dia kuasai, yaitu jurus kala murka.
Dan pada waktu itu Begawan Ludoyo segera secepatnya, mengembalikan situasi tersebut seperti semula, karena dia tahu dampak yang akan terjadi jika hal itu didiamkan begitu lama.
Tapi ternyata pengetahuan dari Begawan Ludoyo, akibat dari dampak hal tersebut masih minim.
Dia hanya mengetahui jika sampai hal itu dibiarkan terlalu lama, maka bumi akan hancur.
Begawan Sakti Ludoyo tidak menyadari bahwa bukan cuma bumi saja yang hancur, tapi alam semesta pun juga akan lenyap.
Ternyata sesakti apapun Begawan Ludoyo, dia masih terhalang oleh kebodohannya tersebut.
Dia mengira jika bumi ini hancur, dia masih bisa tinggal di kahyangan bersama para dewa, karena dia memiliki jurus kala murka.
Sebuah jurus yang melebihi kekuatan para dewa.
"Dewa Surya Bagaimana dengan tugasmu, Kenapa kau tidak bisa menahan ulah dari Begawan tersebut, seharusnya dengan kemampuanmu kau bisa menahan sesuatu yang akan dilakukan oleh Begawan tersebut, jangan malah kau loloskan tujuannya itu", Kemarahan Dewa Indra.
__ADS_1
"Hamba mohon ampun Yang Mulia Raja Dewa Indra, hamba benar-benar dibuat tidak berdaya oleh kekuatan dari jurus kala murka, yang dimiliki oleh Begawan tersebut, sehingga membuat malam harus tiba sebelum waktunya", Dewa Surya yang memohon ampun kepada Rajanya, yaitu Raja para Dewa, ialah Dewa Indra.
"sungguh sangat keterlaluan, hal ini sudah tidak bisa dimaafkan, aku Dewa Indra, akan turun tangan untuk menghancurkan Begawan Ludoyo", Dewa Indra yang sudah kehabisan kesabaran.
Saat itu dengan senjata pusaka Bajra, Dewa Indra akan turun ke bumi untuk menghancurkan Begawan Sakti Ludoyo dengan tangannya sendiri.
Tapi pada saat itu juga, Mahadewa atau Dewa Siwa mencegah tindakan yang akan dilakukan oleh Dewa Indra tersebut.
Tiba-tiba Dewa Siwa datang dan berkata," hentikan tindakanmu itu Dewa Indra, itu sama saja kau juga menyalahi takdir Yang Maha Kuasa, sebab Begawan tersebut sudah ditakdirkan, dia harus mati di tangan Ksatria Tanah Jawa".
Setelah mendengar perkataan tersebut dari Mahadewa atau Dewa Siwa, Raja dewa yaitu Dewa Indra segera mengurungkan niatnya tersebut.
Kemudian Dewa Indra dengan kemampuan telepati memberitahu kepada Pangeran Guna Wijaya, agar secepatnya menyelesaikan pertempuran tersebut melawan Begawan Sakti Ludoyo.
Karena dengan kejadian Begawan Ludoyo merubah siang menjadi malam, maka alam semesta akan hancur tidak lebih dari setengah hari.
Mendengar penjelasan tersebut dari Dewa Indra, Pangeran Guna Wijaya murka, ia segera mencabut pedang Mustika biru, dan akan menggunakan pedang tersebut untuk menghabisi Begawan Sakti Ludoyo dengan secepatnya.
Tapi pada dasarnya untuk membunuh Begawan Sakti Ludoyo, hal itu tidak semudah seperti membalikan telapak tangan.
Meskipun ada beberapa Ksatria yang masih bisa bertarung untuk membantu Pangeran Guna Wijaya, tapi untuk melawan Begawan Sakti Ludoyo, itu tidak mudah.
Di situ ada Mahapatih Damar Wijaya, Pangeran Jati Wijaya, Pangeran Guntur Wijaya, Pangeran Kasim Wijaya, Begawan winara, Senopati bala warman dan juga Mandala.
Tapi dari semua ksatria tersebut sudah banyak kehabisan Cakra.
Meski mereka semua masih bisa membantu dalam pertarungan tersebut, yang jelas kekuatan mereka tidak akan maksimal.
"keponakanku Guna Wijaya, kami semua yang berada di sini Siap membantumu meski nyawa sebagai taruhannya", kata Mahapatih Damar Wijaya.
"ya pangeran, setidaknya kami semua ada gunanya di dalam hidup kita saat ini", Begawan winara yang penuh semangat.
"Kanda Guna Wijaya, kami semua sadar meski kami malah akan menjadi bebanmu dalam pertempuran ini, tapi kamu semua akan berusaha untuk tidak menjadi beban tersebut", Pangeran Jati Wijaya yang berusaha meyakinkan Kakak sepupunya tersebut.
"yang dikatakan oleh dinda jati wijaya itu benar Kanda, maka dari itu jangan melarang kami untuk berjuang bersama menghancurkan Begawan tersebut", Pangeran Guntur Wijaya mencoba lebih meyakinkan kakaknya tersebut yaitu Pangeran Guna Wijaya.
Kemudian Pangeran Guna Wijaya menceritakan apa yang telah Dewa Indra sampaikan padanya, dan Pangeran Guna Wijaya juga mengizinkan para Ksatria tersebut untuk ikut bertempur bersama.
__ADS_1