PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
18. Pencarian pendekar mata dewa


__ADS_3

Lalu bertarunglah mereka berdua antara Mandala dengan Sanjaya, adu kemampuan bela diripun terjadi dengan hebat, saling tendang, saling pukul antara mereka berdua. Kemudian dipihak Pangeran Gunawijaya dan para anak buah Mandala hanya menyaksikan pertarungan kedua pendekar hebat tersebut. Malam itu adalah puncak dari permusuhan mereka berdua antara Mandala dan Sanjaya. Lalu terpentalah Mandala terkena pukulan maut Sanjaya tepat mengenai bahunya, kemudian mandalapun segera berdiri dan menyerang Sanjaya dengan bertubi-tubi dan akhirnya tersungkurlah Sanjaya terkena tendangan hebat Mandala tepat mengenai perut Sanjaya. Pertarungan terus berlanjut sampai mereka berdua mengeluarkan senjatanya yaitu dari pihak Mandala mengeluarkan belati kembar dan dari pihak Sanjaya juga mengeluarkan kujang kembarnya. Lalu adu senjata kembarpun sangat sengit, mereka berdua sama-sama mahir dalam menggunakan senjata kembarnya itu. Kemudian lengahlah pertahanan Sanjaya hingga dia hampir tertusuk oleh belati Mandala, untungnya Sanjaya memiliki kesaktian aji Anjan Kumayan yang bisa menepis serangan fatal dari lawannya secara tak terlihat yang dilakukan oleh para keempat pelindung ghoib nya. Mandalapun tak kehabisan akal, lalu dia memadukan serangan belati kembarnya dengan jurus teleportasinya, akhirnya Sanjaya sangat bingung dibuatnya, dia tak bisa menyerang Mandala karena disaat Sanjaya akan menyerang tiba-tiba Mandala menghilang dan berpindah kesisi lain.


"Berkonsentrasilah Sanjaya, rasakan gerak lawanmu menggunakan mata batinmu!", Teriak Pangeran Gunawijaya memberi tahu kepada Sanjaya akan cara mengatasi jurus teleportasi Mandala.


Setelah Sanjaya mendapat petunjuk dari Pangeran Gunawijaya, akhirnya dia melakukan apa yang telah Pangeran Gunawijaya sampaikan. Akhirnya Sanjaya bisa menangkis semua serangan belati kembar Mandala dengan menggunakan kujang kembarnya. Lalu disaat Mandala tidak bisa mengalahkan Sanjaya dengan jurus teleportasinya itu, kemudian Mandala menggunakan jurus belati anginnya yang juga akan dipadukan atau dikombinasikan dengan jurus teleportasinya tersebut. Kemudian Sanjaya memikirkan sebuah cara untuk melawan jurus belati angin milik Mandala. Lalu dengan cepat Mandala menyerang Sanjaya menggunakan jurus belati anginnya, tapi apa daya, Mandalapun masih sulit untuk mengalahkan Sanjaya meski menggunakan jurus belati anginnya.


"Sudah kuduga pasti Mandala akan sangat cepat menyerangku menggunakan jurus belati anginnya", Kata Sanjaya dari dalam hatinya.


Sanjaya menyadari bahwa melawan Mandala sangat tidak mudah, jalan satu-satu hanya terus bertarung dengannya. Dan terjadilah pertarungan habis-habisan antara Sanjaya melawan Mandala. Mereka berdua saling menyerang dan saling terkena serangan masing masing. Tapi tiba-tiba saat mereka berdua akan saling menyerang, Mandala merunduk kesakitan sambil memegang dadanya dan muntah darah dari mulutnya.


Lalu seketika itu juga Sanjaya menghentikan serangannya dan berkata?


"Pertarungan ini tidak seimbang, sepertinya kau luka dalam Mandala, apa yang terjadi padamu sebenarnya, padahal seranganku tidak terlalu fatal mengenaimu Mandala, tapi kenapa kau sangat kesakitan sekali sampai kau muntah darah?".


"Halahh!, Kau tidak usah pikirkan tentang kondisiku Sanjaya, mari kita teruskan pertarungan ini!", Jawab Mandala sambil nafasnya terengah-engah karena menahan sakit didadanya.


Kemudian Pangeran Gunawijaya berkata?

__ADS_1


"Hentikan pertarungan ini Sanjaya, kondisi Mandala luka dalam karena terkena serangan pukulan api dariku sewaktu kami bertarung".


Luka dalam mandala semakin parah karena dia memaksakan diri untuk bertarung melawan Sanjaya. Tak lama kemudian disaat pertarungan itu dihentikan, Mandalapun tergolek lemas karena menahan rasa sakit yang luar biasa dari dalam tubuhnya. Dia menjerit kesakitan dan akhirnya diapun jatuh dan pingsan. Kemudian anak buahnya yang melihat ketuanya yaitu Mandala pingsan segera mereka semua berlari menghampirinya, Paijo dan Dudung berusaha memeganggi tubuh Mandala, dan mereka semua bingung harus gimana. Akhirnya dengan lapang dada Sanjaya menawarkan diri supaya Mandala dibawa kepadepokannya saja untuk segera diobati luka dalamnya.


"Mari kita bawa Mandala kepadepokanku untuk segera diobati luka dalamnya, karena berhubung padepokanku tidak jauh jaraknya dari tempat ini", kata Sanjaya sambil mendekati Paijo dan Dudung yang sedang kebingungan karena Mandala ketua mereka sedang terluka parah.


Akhirnya dibawalah Mandala kepadepokan lawang sewu milik Sanjaya dengan dikawal oleh Pangeran Gunawijaya, sedangkan senopati Balawarman disuruh membawa kedasih pergi kepenginapan untuk beristirahat. Kemudian pagipun tiba, didaerah giritunggal dibuat gempar oleh kabar kematian Rajanya yaitu Prabu Jakabirawa yang telah meninggal waktu Beliau akan menghadiri undangan para Raja-Raja disuryaloka.


"Siapa yang telah membunuh Ayahku, cepat katakan senopati Kumaraaa!", Kata Pangeran Sutabirawa dengan nada tinggi penuh amarah, ia adalah putra pertama dari Prabu Jakabirawa dan ia juga kakak kandung dari putri Senjabirawa murid dari Sanjaya guru besar padepokan lawang sewu.


Kemudian dipadepokan lawang sewu, Mandala yang telah sadar dari pingsannya dia kaget kenapa dia bisa ada dipadepokan Sanjaya? Akhirnya Paijo dan Dudung menceritakan akan kejadian semalam pada ketuanya itu. Lalu Mandala bertanya kemana Sanjaya dan para murid-murid padepokannya, Paijo menjawab bahwa Sanjaya beserta para murid muridnya sedang keistana giritunggal untuk menghadiri upacara pembakaran mayat Raja Jakabirawa yang telah meninggal dunia. Lalu Mandala yang kondisinya masih lemah dia tak bisa kemana-mana, dia hanya bisa beristirahat dipadepokan Sanjaya untuk beberapa waktu.


Disisi lain Pangeran Gunawijaya yang semalam telah kembali kepenginapan setelah mengawal perjalanan Sanjaya yang membawa mandala kepadepokannya, ia juga telah mendengar kabar kematian Raja Jakabirawa dari pemilik penginapan pagi hari itu.


Lalu Pangeran Jatiwijaya berkata pada Pangeran Gunawijaya?


"Maaf Kanda Pangeran, apa tidak sebaiknya kita turut berduka cita atas meninggalnya Raja Jakabirawa dengan menghadiri upacara pembakaran mayatnya?".

__ADS_1


Kemudian Pangeran Gunawijaya menjawab?


"Baiklah, kita semua akan menghadiri upacara pembakaran mayat Raja Jakabirawa sekarang juga, tapi kita harus tetap dalam kondisi penyamaran, jangan tunjukkan bahwa kita adalah para anggota kerajaan".


"Daulat Kanda Pangeran!", Jawab Pangeran Jatiwijaya kepada Pangeran Gunawijaya.


Kemudian mereka semua bergegas berangkat keistana giritunggal untuk menghadiri upacara pembakaran mayat Raja Jakabirawa. Lalu diistana giritunggal, Putri Senjabirawa masih menangisi kematian Ayahndanya yaitu Raja Jakabirawa, ia menangis didekat mayat Ayahndanya tersebut. Putri Senjabirawa yang memakai pakaian serba putih nampak sangat terpukul dengan kematian Ayahndanya itu, ia menangis dipelukan Ibundanya yaitu Ratu Setyawati yang juga memakai pakaian serba putih khusus pakaian upacara kematian.


Lalu Ratu Setyawati istri dari Raja Jakabirawa yang telah meninggal dunia itu berkata pada putrinya yaitu Putri Senjabirawa yang bersifat manja dengan nada penuh kesedihan?


"Sudahlah putriku, Ayahndamu pergi itu semua atas kehendak Dewata, relakanlah kepergian Ayahndamu agar arwahnya bisa tenang disana".


"Tapi Bunda Ratu, kenapa Ayahnda bisa mati seperti ini, apa salah Ayahnda Raja, kenapa Beliau sampai dibunuh seperti ini?", Kata Putri Senjabirawa dengan isak tangis kesedihan.


"Ayahnda Raja memang tidak ada salah apa-apa, tapi bukan cuma Ayahnda Raja saja yang terancam keselamatannya ditanah Jawa ini, karena semua para Raja-Raja tanah jawa nyawanya terancam juga oleh sesosok misterius yang akan menghancurkan jawa dwipa ini", jawab Ratu Setyawati kepada putrinya yaitu Putri Senjabirawa yang bersifat manja.


Kemudian setelah selesainya upacara pembakaran mayat Raja jakabirawa, para pasukan dari giritunggal dan dari giriseta sudah bersiap akan berangkat mencari pembunuh Raja Jakabirawa. Dari kedua kerajaan itu giritunggal dan giriseta sudah duluan menyebarkan telik sandi atau mata-mata untuk mencari informasi dimana posisi pembunuh Raja Jakabirawa itu berada yaitu seorang pendekar yang mempunyai kekuatan mata dewa, dialah pembunuhnya. Dari giritunggal, Pangeran Sutabirawa menyiapkan seribu pasukan pencari pembunuh Ayahndanya dengan dipimpin langsung oleh ia sendiri dan sedangkan dari giriseta, Raja Dasabirawa menyiapkan seribu pasukan juga untuk mencari pembunuh kakaknya yaitu Raja Jakabirawa dengan dipimpin olehnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2