PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
85. Hutan larangan


__ADS_3

Lalu adipati Ganjarsuroto tak berkutik melawan senopati Balawarman, dia sudah kelelahan dan sudah kehabisan cakra.


Kemudian dengan mudahnya senopati Balawarman mengalahkan adipati tersebut.


Tapi dalam pertarungan itu senopati Balawarman tidak membunuh adipati Ganjarsuroto, karena misi dalam peperangan tersebut adalah untuk menangkapnya bukan membunuhnya.


Lalu beberapa saat kemudian datanglah Patih Linduaji beserta para kesatria yang lainnya yaitu Pangeran Jatiwijaya, Sanjaya dan juga Mandala.


"Bagus kerjamu senopati, kau berhasil menangkap adipati laknat ini", kata Patih Linduaji kepada senopati Balawarman.


Adipati Ganjarsuroto sangat menyesal atas kejahatannya, tapi itu semua percuma karena yang namanya kejahatan harus ada hukumnya, ibarat barang siapa yang menanam buah pasti dia akan menuainya, sesuai dengan apa yang ditanamkan.


Lalu Patih Linduaji memerintahkan untuk mengikat kedua tangan adipati Ganjarsuroto dan segera membawanya keluar dari istana tersebut melalui jalur depan agar para prajuritnya tahu bahwa junjungannya sudah di taklukkan.


Saat para prajuritnya tahu bahwa junjungannya yaitu adipati Ganjarsuroto sudah di taklukkan, mereka semua segera meletakkan senjata guna tanda menyerah pada lawannya.


Kemudian setelah pertempuran itu selesai, para kesatria segera berkumpul semua dan akan segera membawa adipati Ganjarsuroto dan putranya yaitu raden Bambangsuroto ke kerajaan himalaya untuk di adili atas kejahatannya.


Tapi sebelum para kesatria itu pergi ke kerajaan himalaya, mereka akan membebaskan dulu para wanita wanita yang telah di sekap dan di sembunyikan di tempat khusus oleh adipati Ganjarsuroto.


Kemudian setelah Patih Linduaji dan para kesatria itu berhasil membebaskan para wanita-wanita tersebut yang telah disandra, kemudian Patih Linduaji dan para kesatria itu segera membawa adipati Ganjarsuroto beserta putranya tersebut ke kerajaan himalaya.


Lalu beberapa waktu kemudian Patih Linduaji dan para kesatria kesatria tersebut tiba di kerajaan himalaya dengan membawa tahanannya yang telah mereka tangkap.


Kedatangan para kesatria itu disambut dengan baik oleh Prabu Silendrawangi.


Dan tidak lupa Prabu Silendrawangi mengucapkan banyak terimakasih kepada Pangeran Jatiwijaya beserta para kesatria yang lainnya, sebab berkat mereka kejahatan adipati Ganjarsuroto bisa terbongkar dan tertangkap.


Kemudian olah Prabu Silendrawangi setelah disidang atau diadili, adipati Ganjarsuroto beserta putranya yaitu raden Bambangsuroto dijatuhi hukuman penjara selama lima belas tahun.


Lalu saat adipati Ganjarsuroto mendengar bahwa dia divonis hukuman penjara selama itu, dia mencoba mengakhiri hidupnya dengan mengambil pedang dari salah satu prajurit penjaga, tapi tindakannya itu dicegah dan digagalkan oleh Pangeran Jatiwijaya.

__ADS_1


"Sebagai seorang adipati jika mempunyai kesalahan apa harus melakukan tindakan hina seperti ini, dimana letak jiwa kesatriamu, jika kau merasa sebagai seorang kesatria, kau harus berani mempertanggung jawabkan semua kesalahan dan kejahatanmu adipati Ganjarsuroto", kata Pangeran Jatiwijaya yang telah menggagalkan aksi bunuh diri adipati tersebut.


Kemudian adipati Ganjarsuroto sambil menangis dia meminta maaf kepada Pangeran Jatiwijaya atas tindakan yang akan dia lakukan itu.


Dan adipati Ganjarsuroto berjanji akan menebus semua kejahatannya di balik jeruji penjara selama itu.


Lalu untuk saat ini pemerintahan di kadipaten paralayang diambil alih oleh kerajaan himalaya secara langsung sampai masa hukuman adipati Ganjarsuroto habis, setelah itu kekuasaannya akan di kembalikan lagi padanya.


Singkat cerita kini Pangeran Jatiwijaya beserta para rekannya yaitu Jatmiko, Kedasih, senopati Balawarman dan senopati Balamarwan, Sanjaya, Mandala, Marlan, ki Maung dan juga Harun, mereka semua berangkat menuju ke suryaloka dengan menaiki kereta kuda yang diberi oleh Prabu Silendrawangi sebagai tanda hadiah trimakasih nya pada mereka semua.


Kereta kuda itu sangat besar dan megah, dan sangat cukup kalau hanya untuk menampung mereka semua, sedangkan Sanjaya dan Mandala mereka berdua berada didepan karena tugas mereka saling bergantian menjadi kusir dari kereta kuda tersebut.


"Wahhh... dengan begini kita bisa cepat sampai di suryaloka", kata Kedasih sigadis manis itu.


"Iya sihhh... tapi kita sebagai pendekar, rasanya kalau pergi menaiki kereta kuda itu kesannya seperti bukan pendekar", kata Jatmiko si pendekar sabit dari timur.


"Kalau bukan seperti pendekar, lalu kita seperti apa Jatmiko", ki Maung yang ikut berbincang dalam obrolan tersebut.


Lalu beberapa saat kemudian mereka para kesatria kesatria itu tak sengaja melewati hutan larangan.


Mereka merasa jalan yang mereka lewati itu benar, tapi kenapa mereka bisa sampai ketempat tersebut.


Hal itu membuat mereka bingung atas situasi yang seperti ini.


Lalu Sanjaya menghentikan laju kereta kuda tersebut, karena dia merasa ada yang aneh disekitarnya, didalam hutan larangan.


"Ada apa Sanjaya, kenapa kau tiba-tiba menghentikan laju kereta kuda kita", tanya Pangeran Jatiwijaya.


"Ampun Pangeran, hamba merasa ada yang aneh disekitar kita", jawab Sanjaya.


Lalu para kesatria kesatria itu turun dari kereta kudanya.

__ADS_1


Kedasih memberi tahu kepada Pangeran Jatiwijaya bahwa akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi pada mereka, sebab dengan kemampuan khususnya, Kedasih bisa merasakan hawa jahat.


"Ampun Pangeran, lebih baik kita balik arah saja, sebab sepertinya kita tersesat karena salah jalan", saran Jatmiko pada Pangeran Jatiwijaya.


"Baiklah kalau gitu, Sanjaya mari kita berangkat dan putar balik laju kereta kuda kita", perintah Pangeran Jatiwijaya.


Ternyata benar apa yang dibilang oleh Sanjaya dan juga Kedasih, saat mereka akan berangkat dengan berputar balik arah dari hutan tersebut, tiba-tiba muncul lah sekumpulan para gandaruwa atau gondoruwo disekeliling mereka.


Waktu itu suasana dihutan tersebut semakin gelap karena hari sudah mulai malam.


Hutan itu nampak sunyi sekali seperti tak ada kehidupan didalamnya.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya segera menyuruh Kedasih untuk masuk kedalam kereta luda, sebab saat ini yang mereka hadapi bukanlah manusia melainkan bangsa siluman gandaruwa.


Para kesatria kesatria itu tak punya pilihan lain selain harus melawan sekumpulan para gandaruwa itu yang menghadangnya.


Akhirnya terjadilah pertarungan antara para kesatria kesatria itu melawan sekumpulan para gandaruwa.


Tapi dengan kehebatan dari para kesatria kesatria itu, sekumpulan gandaruwa yang menyerangnya bisa mereka kalahkan.


Tapi apa daya, yang mereka lawan bukanlah sekumpulan manusia melainkan bangsa siluman gandaruwa.


Meski sekumpulan gandaruwa itu telah dikalahkan, tapi tak disangka sekumpulan gandaruwa itu tiba-tiba bangkit lagi dan lalu menyerang para kesatria kesatria tersebut.


"Bagaimana ini Pangeran, kita sudah mengerahkan banyak tenaga untuk mengalahkannya, tapi mereka malah bangkit kembali", kata Jatmiko pada Pangeran Jatiwijaya.


Pangeran Jatiwijaya juga sangat bingung dengan keadaan saat ini.


Dan tiba-tiba senopati Balawarman meminta izin pada Pangeran Jatiwijaya agar dia di izinkan pergi sebentar ke segoro kidul untuk meminta bantuan pada Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul.


Akhirnya Pangeran Jatiwijaya mengizinkan senopati Balawarman pergi ke segoro kidul guna untuk meminta bantuan.

__ADS_1


__ADS_2