
Kemudian di Surya Loka, Mahapatih Damar Wijaya menyiapkan seluruh pasukan atau prajuritnya, untuk segera menuju ke Gunung Kelud, untuk membantu Pangeran Guna Wijaya yang sedang melawan Begawan Sakti Ludoyo.
Begawan Sakti Ludoyo beserta para pasukannya melewati jalur khusus yang telah mereka siapkan, agar mereka semua cepat sampai di tempat tujuan.
Lalu agar secepatnya sampai, kedua Senopati, bala Warman dan bala Marwan, mereka berdua menaiki burung rajawali raksasa tunggangannya.
Sebab Mahapatih Damar Wijaya memerintahkan kepada para punggawanya, agar sebagian supaya secepatnya bisa sampai di gunung kelud.
Maka dari itu kedua Senopati tersebut, mereka berdua akhirnya memanggil burung rajawali raksasa miliknya.
"Mari Pangeran Guntur Wijaya, ikut bersama kami agar kita secepatnya bisa sampai ke Gunung Kelud", kata Senopati bala Warman yang mengajak Pangeran Guntur Wijaya, agar ikut serta menaiki burung rajawali raksasa miliknya.
Jadi sebenarnya kedua Senopati tersebut memiliki burung peliharaan yang sangat patuh dan setia, burung tersebut ialah burung rajawali raksasa yang berasal dari Segoro Kidul.
Jadi saat itu burung rajawali raksasa, dinaiki tiga orang sekaligus, yaitu kedua Senopati tersebut dan Pangeran Guntur Wijaya.
Sedangkan Pangeran Kasim Wijaya, dia menemani pamannya yaitu Mahapatih Damar Wijaya, yang berangkat bersama para pasukannya.
Kemudian Singkat cerita di Gunung Kelud, Pangeran Guna Wijaya mulai agak serius untuk melawan Begawan Sakti Ludoyo.
Untuk bisa membuat bingung Begawan Sakti Ludoyo, Pangeran Guna Wijaya mengeluarkan jurus gerak kilatnya.
Dia akan menyerang titik buta dari Begawan Sakti Ludoyo, titik buta tersebut berada di belakang lehernya.
Maka diri itu untuk bisa Berada di posisi tersebut, Pangeran Guna Wijaya harus menggunakan jurus gerak kilatnya.
Memang Setiap manusia memiliki titik buta di tubuhnya masing-masing, dan titik buta manusia berada pada belakang lehernya.
Titik buta itu ialah sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh manusia meskipun menggunakan sebuah cermin sekaligus.
Dan titik buta tersebut terletak di belakang leher kita masing-masing.
Lalu saat Pangeran Guna Wijaya berada di belakang titik buta Begawan Sakti Ludoyo, dia mengaliri Cakra di tangannya dan mengkombinasikan dengan elemen petirnya, sehingga dengan kombinasi tersebut, terbentuklah sebuah belati kilat yang berada di tangan Pangeran Guna Wijaya.
__ADS_1
"mati kau Begawan sialan!", Pangeran Guna Wijaya berkata dalam hatinya saat akan menyerang Begawan tersebut yaitu Begawan Sakti Ludoyo.
Ternyata usaha Pangeran Guna Wijaya gagal, sebab salah satu dari kelima bola api yang berputar di belakang punggung Begawan Sakti Ludoyo, tiba-tiba bola tersebut membakar Pangeran Guna Wijaya, sehingga para punggawa dan para prajuritnya sangat panik melihat kejadian itu.
Semakin lama api tersebut semakin besar membakar tubuh Pangeran Guna Wijaya.
"Pangeran Jati Wijaya bagaimana ini, Apa kita hanya diam saja melihat Kanda Pangeran Guna Wijaya akan mati terbakar", tanya Adipati Mahesa Sangkala, adik ipar dari pangeran Guna Wijaya.
"kita semua tenang saja, kanda Pangeran Guna Wijaya, bukanlah orang biasa seperti kita semua, dia tidak akan mungkin bisa mati hanya dengan semudah itu", jawab Pangeran Jati Wijaya.
Kemudian Begawan Sakti Ludoyo, dia tidak menoleh ke belakang meskipun dia tahu bahwa Pangeran Guna Wijaya telah terbakar.
Dia tetap menghadap ke depan, tanpa menoleh kekiri dan kekanan.
Lalu Tanpa diduga-duga, dengan secepat kilat muncullah Pangeran Guna Wijaya di depannya, dan dia menyerang Begawan Sakti Ludoyo menggunakan pedang mustika birunya.
Tapi serangan tersebut bisa di tangkis oleh salah satu dari keempat bola api yang berputar, di belakang punggung Begawan Sakti Ludoyo.
"sungguh hebat sekali kau Begawan Ludoyo, bisa menangkis serangan tercepatku", kata Pangeran Guna Wijaya kepada lawannya tersebut.
"hanya serangan seperti ini saja tak mudah untuk bisa mengalahkanku", jawab Begawan Sakti Ludoyo sambil ketawa.
Ternyata yang terbakar di belakang Begawan Sakti Ludoyo tersebut, bukanlah sosok Pangeran Guna Wijaya yang asli, melainkan kloningnya yang terbentuk dari elemen tanah.
Kemudian Begawan Sakti Ludoyo, memerintahkan kembali untuk bertempur sampai titik darah penghabisan.
Lalu para prajurit dari pangeran Guna Wijaya, udah siap bertempur untuk melawan para musuh-musuhnya, yaitu para pasukan Begawan Sakti Ludoyo.
Dan pada saat itu Pangeran Guna Wijaya, bertarung melawan Begawan Sakti Lodoyo menggunakan kemampuan bela dirinya, sebab Begawan Sakti Ludoyo diserang menggunakan jurus apapun, dia pun pasti tahu dan dapat menangkisnya.
Tapi Pangeran Guna Wijaya tidak menyerah begitu saja, dalam pertarungannya melawan Begawan Sakti Ludoyo, dia juga memikirkan rencana untuk bisa mengalahkannya secepat mungkin.
Lalu singkat cerita, tiba-tiba kloning Pangeran Guna Wijaya muncul di hadapan pangeran jati wijaya yang saat itu sedang bertempur melawan pasukan musuh.
__ADS_1
Hanya dengan sekejap saja, dengan bantuan kloning Pangeran Guna Wijaya, Pangeran Jati Wijaya dapat mengalahkan banyak para musuh.
Kemudian setelah membantu Pangeran Jati Wijaya, kloning Pangeran Guna Wijaya tersebut, tiba-tiba menjadi tanah dan menghilang.
Lalu di sisi lain pertarungan Pangeran Guna Wijaya melawan Begawan Sakti Ludoyo, sangat luar biasa sekali hebatnya.
Ternyata Begawan Sakti Ludoyo mampu mengimbangi kemampuan bela diri seorang jawara se Tanah Jawa, yaitu pangeran Guna Wijaya.
Setiap serangan demi serangan dari mereka berdua, Iya itu Pangeran Guna Wijaya dan Begawan Sakti Ludoyo, setiap serangan tersebut menggetarkan medan perang.
Waktu itu pagi sudah menjelang, pertarungan tersebut mulai tengah malam sampai pagi menjelang masih belum ada titik temu, Siapa yang menang dan siapa yang kalah.
"pagi ini akan menjadi saksi kekalahan dari seorang pangeran besar, yaitu kau Pangeran Guna Wijaya, kau akan mati di tanganku pagi ini juga", omong besar dari Begawan Sakti Ludoyo.
Saat itu Pangeran Guna Wijaya hanya tersenyum saja, tanpa merespon ocehan Begawan Sakti Ludoyo.
Ternyata tanpa disadari pertarungan tersebut menggiring Begawan Sakti Ludoyo menjauh dari medan perang Gunung Kelud.
Itulah rencana Pangeran Guna Wijaya, Agar tidak banyak jatuh korban karena dampak dari pertarungannya melawan Begawan Sakti Ludoyo.
Dan Begawan Sakti Ludoyo tidak merasa karena dia asyik menikmati pertarungan tersebut, melawan pangeran Guna Wijaya.
"Ayo segera serang aku Guna Wijaya, Kenapa kau lebih banyak bertahan daripada menyerang, Apa kau sudah tidak bisa lagi melawanku", Begawan Sakti Ludoyo berkata.
Tapi waktu itu Pangeran Guna Wijaya tetap tidak meresponnya.
Tiba-tiba Saat Begawan Sakti Ludoyo sangat keasyikkan, datanglah ular besar dari belakangnya dan mengikat atau melilit tubuhnya.
Ular besar tersebut adalah ular merah jelmaan dari senjata pusaka Pangeran Jati Wijaya, yaitu cumeti Banaspati.
Ternyata tadi Pangeran Guna Wijaya mengirim kloningannya yang berwujud darinya kepada Pangeran Jati Wijaya, bukan sekedar membantunya ternyata, Tapi dibalik itu semua sebenarnya mereka berdua sedang menyusun rencana untuk bisa mengalahkan Begawan Sakti Ludoyo.
Dan sekarang rencana itu sedang di jalankan dengan matang oleh kedua ksatria tersebut, yaitu Pangeran Guna Wijaya dan Pangeran Jati Wijaya.
__ADS_1